Kabar Duka
Suatu sore di sebuah kamar kos kecil di tengah kota, seorang pemuda bernama Laskar dijekutkan oleh suara dering smartphone-nya sendiri. Ia yang barusaja hendak merebahkan badannya ke kasur, setelah seharian penuh mengikuti kelas di kampus, terpaksa harus merentangkan tangannya untuk meraih smartphone di atas meja belajarnya. Dari layar smartphone itu terlihat bahwa panggilan itu berasal dari Ningsih, pacarnya. Seketika mood Laskar berubah, dengan penuh semangat ia mengangkat telepon tersebut. Namun ketika Laskar mengangkatnya, ia justru semakin terkejut.
Lawan bicaranya disana bukanlah Ningsih, melainkan orang lain yang tidak ia kenal, seorang dokter dari suatu Rumah sakit di pesisir kota. Dokter itu mengabarkan padanya bahwa, Ningsih mengalami kecelakaan dan nyawanya tidak tertolong. Badan Laskar yang tinggi tegap itu seketika bergemetar. Kengerian seakan menerkam, menyambar seperti listrik yang menjalar ke seluruh tubuh. Jantungnya berdegup kencang tidak karuan. Seolah tidak percaya, dengan terbata-bata, Laskar kembali menkonfirmasi ucapan Dokter itu. Tentu saja.. fakta tidak lagi bisa dirubah, dengan nada penyesalan, Dokter itu kembali mengucapkan.
“..Mohon maaf, temanmu nyawanya tidak tertolong lagi..”
Lutut Laskar langsung jatuh lemas dan menyentuh lantai. Air langsung menetes deras dari kedua matanya. Wanita cantik yang barusaja dipacarinya beberapa bulan ini, meninggal. Kepalanya berdenyut tidak karuan, terkejut, bingung, dan rasa penolakan bercampur aduk jadi satu. Laskar membenamkan wajahnya di selimut kasur, sambil beusaha menahan isak tangis. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang, Ningsih sudah gak ada lagi di dunia ini.
Belum selesai kesedihannya teratasi, telepon lain datang dari nomor yang tidak dikenali. Tanpa banyak pertimbangan Laskar segera mengangkat telepon kedua itu. Kembali, seseorang yang tidak ia kenal menghubunginya, wanita itu memperkenalkan diri sebagai ibu Wati, Ibunda dari Ningsih yang ada di desa. Entah bagaimana Ibu Wati mengetahui nomornya, Laskar langsung berusaha membalas sapaan lawan bicaranya itu. Mendengar suara Laskar yang berusaha menahan tangis, seketika Ibu Wati menangis tersedu-sedu. Beliau sepertinya sudah mengetahui kabar buruk itu lebih dulu. Untuk beberapa saat, mereka berdua saling menangis dalam telepo. Dua orang yang sebelumya tidak saling kenal, kini menangisi seseorang yang sama-sama mereka cintai. Bagaimana bisa kejadian ini terjadi, bagaimana bisa ajal menjemputnya begitu cepat?
Laskar kemudian berusaha menahan dirinya, ia tidak bisa terus menangis. Tentu saja Ibu Wati lah yang paling bersedih akan peristiwa ini, ia kehilangan anak perempuan kesayangannya. Laskar kemudian berusaha membuka pembicaraan dengan agak kaku. Tentu saja, sebenarnya ia belum pernah berkomunikasi sama sekali dengan Ibu Wati sejak mulai pacaran dengan Ningsih.
"Assalamualaikum Bu.. Saya Laskar, Teman Ningsih… Mohon maaf bu..”
Seketika tangis Laskar kembali pecah. Secara tidak langsung ia menyalahkan dirinya sendiri, karena tidak mengantar Ningsih pulang ke desa pagi tadi.
Ningsih, siang tadi berpamitan pada Laskar untuk pulang ke desa. Ia bilang tidak akan ikut kelas siang dan sore, serta menitipkan absen kuliah pada Laskar. Ningsih selalu pulang menggunakan motor scoopy kesayangannya, meski jarak dari kota ke desa tempat tinggalnya hampir seratus kilometer. Sekali dalam sebulan, Ningsih akan pulang di akhir minggu. Berangkat pada jumat siang atau sore, dan kembali ke kota pada minggu malamnya. Rutinitas ini sudah menjadi kebiasaan Ningsih sejak berkuliah di kota, bahkan jauh sebelum mengenal Laskar.
Ada sedikit rasa khawatir di hati Laskar kala menerima chat dari Ningsih tadi siang. Ia sebenarnya ingin sekali ikut mengantar Ningsih ke desa saat itu, sembari mengenal lebih jauh keluarga Ningsih dan mempererat hubungan mereka. Tetapi Laskar malu, karena baru berpacaran tiga bulan, ia merasa tidak etis untuk langsung menemui orang tua pacar. Ditambah jadwal kuliah yang sangat padat, Laskar akhirnya hanya bisa mendoakan Ningsih agar selamat di perjalanan nanti, dan membantunya “titip absen” kuliah. Toh, Ningsih sudah sering menempuh perjalanan jauh seperti itu, kan? Gumamnya saat itu. Laskar tentu tidak akan menyangka, bahwa chat w******p siang itu, adalah chat terakhir dari Ningsih untuk selama-lamanya.
“Iya Nak, Ibu… Ibu tidak apa-apa… terimakasih sudah menjadi teman dekat Ningsih…”
Ibu Wati langsung membalas sapaan Laskar dengan santun, meski sedikit terisak. Namun ia sesekali berhenti, dan kemudian melanjutkan ucapannya.
"Ningsih cerita kalau sekarang dekat dengan Nak Laskar.. Ibu justru minta maaf kalau selama ini Ningsih merepotkan..”
“E-Engga Bu, justru… justru saya yang menyesal tadi pagi nggak ikut mengantar Ningsih ke desa…”
Seketika suara Ibu Wati hilang, ia seperti menarik nafas dalam-dalam.
“Sudahlah nak, apa yang sudah terjadi… semua ketetapan Allah… Ibu… Ibu berusaha ikhlas..” ucap Ibu Wati lirih.
Laskar tidak bisa menjawab apa-apa, ia hanya bisa diam sambil terus menutup matanya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya sebenarnya bergemetar dan berkeringat hebat menahan smartphone di telinganya.
“Ibu menelepon karena mau minta tolong.. Ibu dapat nomor nak Laskar dari nomor kontak Handphone Ningsih… tadi Dokter Rumah Sakit yang membantu mencarikan nomor nak Laskar” lanjutnya.
“Iya bu, apa yang bisa Laskar bantu bu” jawab Laskar dengan penuh perhatian.
“Ibu minta tolong, karena ibu jauh di desa dan kami tidak ada saudara dekat lagi yang ada di kota… Ibu minta tolong nak… Apakah bisa membantu Ibu untuk menguruskan jenazah Ningsih?”
Laskar menelan ludahnya dalam-dalam, wajahnya menjadi tegang mendengar permintaan itu. Tetapi sejurus kemudian ia langsung mengiyakan permohonan Ibu Wati. Karena posisi Laskar saat ini jauh lebih mungkin untuk segera menuju Rumah sakit. Laskar tau, setakut apapun dia saat ini, tetap ia harus kesana dan membantu sebisanya. Sebagai seorang pacar, dan sebagai seorang teman. Ibu Wati kemudian mengakhiri pembicaraan dengan kembali berterimakasih pada Laskar.
Setelah menutup telepon, tanpa banyak berfikir, Laskar segera bangkit meraih jaket kulit hitam pemberian ayahnya yang tergantung di balik pintu kamar dan bergegas turun ke lantai bawah. Laskar meraih kunci motor yang tergantung, dan segera melaju kencang motornya, membelah keramaian kota sore itu. Jarak dari kompleks kos Laskar ke rumah sakit yang menelepon itu cukup jauh. Kira-kira perlu sekitar satu setengah jam ia tempuh hingga sampai di rumah sakit kecil di pinggiran kota itu. Matahari telah tenggelam, dan pentang mulai menyelimut.
Laskar sepertinya dapat memperkirakan dimana rumah sakit itu berada, meski ia belum pernah benar-benar kesana. Lebih tepatnya, sejak kematian ibunya beberapa tahun yang lalu, Laskar sudah tidak berani lagi mengunjungi rumah sakit manapun. Karena itulah saat ditelepon tadi, ekspresinya berubah menjadi tegang dan ia menelan ludahnya dalam-dalam. Tetapi, untuk Ningsih, Laskar harus melawan rasa takutnya. Ia harus bergegas sampai, supaya bisa segera mengurus jenazah Ningsih. Bagaimanapun, Ningsih harus sesegera mungkin dimakamkan.
Dalam perjalanan, Laskar kembali teringat momen saat hatinya begitu hancur sore tadi.
"Mohon maaf, bapak Ningsih nyawanya tidak tertolong..”
Kata-kata dokter itu terus terngiang di telinganya. Bagaimana bisa Ningsih kecelakaan? Siapa yang menabraknya? Tabrak lari? Apakah penabraknya tertangkap?
Pikirannya menjelajah liar kesana kemari. ia bahkan mencoba membayangkan wajah Ningsih yang pucat pasi tidak bernyawa. Sesekali ia menggelengkan kepalanya, agar tetap fokus melihat jalanan. Ia yang tadinya sangat lelah setelah seharian menjalani kuliah, seketika kembali terjaga dengan begitu tegang. Namun meski lelah, ia tetap melaju motor sport andalanya itu cukup kencang, meliuk-liuk kemacetan jalanan antar provinsi di pesisir kota.