TOGETHER
Rania Larasati menatap lesu pada Surat Administrasi yang kembali memintanya melunasi biaya semester dan Uang SKS kuliahnya. Dia harus segera melunasinya atau dia tidak akan bisa ikut Ujian Akhir Semester 2 bulan depan.
Dia berpikir, apa dia harus cuti kuliah dulu atau dia menambah jam ekstra untuk bekerja. Uang hasil kerja part time di Cafe tidak cukup, uang hasil joki tugas juga berkurang dan begitu memberatkan dengan hasil sedikit. Mungkin dia harus mencari kerja jam malam hingga pagi.
Tapi, dia mau kerja apa?
"Hei, kau Rania Larasati kan?" sebuah suara membuat Rania menoleh dan menemukan pria muda tadi, dia adalah dosen Dava.
Dava tertawa dengan lesung pipi yang dalam, membuat Rania menunduk malu. "Kamu butuh pekerjaan? Aku ada rekomendasi pekerjaan tapi ini akan berat dan melelahkan."
Rania memandangnya dengan mata berbinar. "Apa saja!"
"Jam kerjanya mulai dari malam jam 10 hingga subuh pagi. bekerja di Bar, apa kau mau? Kebetulan ada temanku yang memiliki Bar, dia sedang butuh karyawan."
"Aku mau!" Rania begitu bersemangat hingga Dava tertawa lagi. Kemudian dia memberikan nomor ponsel temannya. Setelah mengatakan dimana Barnya dan jam berapa Rania harus datang, Dosen muda itu berlalu.
"Halo, Azka" Dava menelpon seseorang sambil berjalan menuju arah berlawanan dengan posisi Rania yang kini tersenyum lebar.
"Aih, aku butuh bantuan. Bisakah kau memberikan pekerjaan di Bar milikmu? Ada mahasiswaku yang kesulitan keuangan."
Dava mengernyit. "Tidak, bekerja di kantor tidak bisa sambil kuliah. Dia memiliki jurusan lain. Uhm, dia lumayan cantik, kau pasti menyukainya." Dava kini tersenyum geli. "Iya, terima kasih. "
***
Selesai dengan urusan administrasi, kini Rania melangkah menuju Cafe tempatnya bekerja sambilan. Dia mengambil seluruh jadwal kelas pagi, jadi dia bisa melakukan kerja part time dari pukul 1 siang hingga jam 8 malam.
Namun setelah bekerja, dia kembali melajukan langkahnya untuk pergi ke Bar yang disebutkan oleh Dava. Bar tersebut masih tutup dan sepi. Dia masuk ke dalam dan melihat jika ada beberapa orang di meja Bartender.
Sesosok pria muda berdiri sambil melihat sebuah laporan dan pria muda lain di meja Bartender menegurnya saat melihat dia.
"Permisi, saya Rania Larasati. "
Pria muda itu melihat ke arah Rania dan mengangguk dengan senyum ramah. "Kau murid dari Dava?"
Rania mengangguk dengan wajah polosnya. "Benar. Saya ingin bekerja."
"Saya Azka. Ini Tama, bartender kami. Nah, ayo ikut aku ke dalam." Azka masuk ke ruangan yang sempit, ada pintu lain, namun koridor menuju pintu belakang itu memiliki sebuah lemari besi. "Ini ruangan untuk berganti pakaian dan ini seragam pelayan. Jam kerjanya pukul 9 sampai pukul 3 pagi. Jika sudah waktunya pulang, kamu bisa izin pada Brian dan Nikko, atau Dina. Aku tidak pernah lama ada di bar ini."
Rania menerima seragamnya, kemudian dia berganti pakaian setelah Azka keluar ruangan. Dia bersyukur menerima Boss yang baik seperti Azka. Kemudian dia menerima penjelasan Azka bagaimana sistem bekerja di Bar miliknya. Pria itu berkata jika dia memiliki pekerjaan yang lain jadi menitipkan Rania pada Dina.
Dina tersenyum pada Rania dan mengajaknya berbincang sementara Rania membantunya merapihkan meja Bar. Lalu Dina menjelaskan bagaimana caranya meracik minuman, mengajarkan Rania bagaimana menjadi Bartender jika dia tidak ada.
Meski pun ia sudah lelah seharian, hari ini Rania begitu antusias untuk bekerja di Bar. Ketika jam 10 datang, Bar mulai di masuki beberapa tamu yang memperhatikan Rania.
Rania mulai fokus dan kewalahan saat jam mulai melewati tengah malam karena Club Malam mulai ramai dan dia bekerja bersama Tama melayani setiap customer yang datang.
Saat itu datang seorang pria bersama Azka, terlihat wajah Azka tidak senang dan terlibat perdebatan dengan pria tampan tersebut. Ketika Rania menghampiri kedua orang itu menanyakan pesanan, Azka hanya meminta Rania membawakan botol bir ke sebuah ruangan private.
Dengan Tray, Rania memasuki ruangan private tersebut dan meletakan dua botol Bir.
Pria yang bersama Azka terlihat lebih muda dari Azka, wajahnya sangat tampan, mata phoenix dengan hidung mancung dan tajam. Rahangnya juga tegas, bibirnya tipis dan ada mole di bawah bibir bagian kanan. Alisnya tajam dan dia mengenakan turtle neck serta jas. Sekali lihat Rania yakin dia seorang model terkenal.
"Gilang, kau harus berhenti mencampuri urusan Vira, tidak perlu terlalu memikirkan dia. "
Ujaran Azka terdengar setelah Rania meletakkan gelas. Dengan cepat dia berbalik setelah berdiri.
"Rania, bawakan cemilan ke sini."
Rania mengangguk dan segera keluar. Dia kembali ke kitchen dan menyiapkan beberapa cemilan kembali ke ruangan Private nomor 1, ketika masuk dia melihat pria yang begitu tampan dan mempesona itu sedang menenggak botol bir.
Dengan menundukan pandangan, tidak berani memandang keduanya, Rania meletakkan piring berisi cemilan.
Setelahnya dia berlalu keluar. Malam itu pekerjaan malam Rania berlalu dengan lancar.
***
Seorang wanita kini berjalan anggun memasuki sebuah gedung pencakar langit tertinggi di Jakarta. Wanita berumur 23 tahun itu melangkah menuju lift menuju lantai paling atas. Wajahnya begitu cantik dan imut di saat bersamaan.
Dia melihat Azka berdiri di depan Sekretaris yang ada disana dan mendiskusikan sesuatu. Wanita bernama Dea itu menjelaskan beberapa hal yang membuatnya bingung.
"Kak Azka." panggil nya.
Azka menoleh dan tersenyum padanya. "Vira, aku menjelaskan jika Gilang akan terlambat untuk rapat bulanan hari ini."
"Apa shella membuat ulah lagi?" tanya Vira.
"Ah, begitulah, dia membuat skandal."
Azka mengangkat bahu, Vira mendekatinya dan berkacak pinggang. "Biar aku yang memimpin rapat, siapkan saja ruangannya seperti biasa."
"Baiklah, aku berencana mengurusnya, namun melihat kehadiranmu, sepertinya aku bisa tenang kalau begitu."
Ketiganya menuju ruang rapat. Tidak lama seorang pria tinggi dengan ketampanan yang begitu memikat, memasuki gedung dengan tergesa. Dia mengenakan earplugs di telinga kanannya.
"Baiklah! Aku akan ke sana."
Dia masuk ke lift dan naik ke lantai atas, kemudian menuju ruang rapat, di sana semua orang sudah memulai rapat bulanan. Pria tinggi berahang tegas dan bibir tipis dengan lekukan hidung yang sempurna itu masuk dan duduk di bangku paling ujung.
Azka sedang membahas pemasukan dan saham perusahaan bulan ini dengan senyum tampan di wajahnya.
"Selamat datang tuan Gilang Mahendra."
Gilang hanya mengangguk dan tersenyum dingin.
Rambutnya agak berantakan, namun dia masih mengenakan kemeja biru muda dan jas biru gelap dengan dasi yang rapih. Dia tahu sekali jika Azka sedang mengejeknya.
Dia membuka file di depannya yang di bagikan pada seluruh orang yang ada di ruangan ini.
"Oh ya, aku hari ini memutuskan untuk mengganti brand ambassador perusahaan, ganti Shella dengan artis lain."
Perkataan Gilang membuat seluruh orang yang ada di sana terkejut. Bahkan Vira mengangkat alisnya.
"Presdir Gilang, apa anda yakin?" tanya Vira ragu.
"Ya, dia terlibat skandal, itu akan buruk untuk citra perusahaan. Bayar uang putus kontrak dan cari artis baru dengan reputasi yang bersih."
Setelah rapat selesai, Gilang kembali ke ruangannya bersama Vira dan Azka. Gilang duduk dengan santai di Sofa dan membuka macbook miliknya, melihat skandal dari artis Brand Ambassador perusahaan mereka.
"Apa kau sudah menemuinya?"
Gilang mengerutkan alisnya. "Tidak, kalau kamu bisa menemuinya, aku akan memberikan kamu apapun yang kamu mau!" serunya menunjuk Vira dengan senyum lebar.
Vira memutar bola matanya melihat kelakuan kekanakan pria berumur 24 tahun tersebut. "Dia pasti mengamuk saat tahu kau akan mendepaknya! Itu akan berdampak buruk untuk pamornya, apa kau sudah memikirkannya!?"
"Apa dia memikirkan pamor perusahaan?" Gilang mulai mengerutkan alisnya tidak suka. Dia memijit pelipisnya dan mulai memeriksa file yang harus dia kerjakan dan memonitor seluruh proyek bernilai milyaran di mejanya.
Vira tahu dia tidak bisa mengubah keputusan kakaknya, jadi dia memilih bangkit dan menuju ruangannya yang ada di bawah lantai Gilang. Azka memandang keduanya dengan pasrah.
"Apa kau sudah menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi?"
Azka menggeleng. "Aku sudah meminta orang untuk menyelidikinya, mungkin besok baru ada kabar paling cepat."
"Baiklah kau bisa pergi." ujar Gilang dengan datar.
"Tenanglah, semua akan baik baik saja."
Setelahnya Azka keluar dari ruangannya. Kembali Gilang mengerjakan pekerjaannya dengan wajah dingin.
***