Adam melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat, wajahnya penuh emosi. Ia langsung berteriak memanggil, "Jesika! Di mana kamu?!" Suaranya bergema memenuhi ruang tamu yang luas. Tidak ada jawaban. Adam menoleh ke kiri dan kanan, matanya tajam mencari sosok Jesika. Ia melempar jasnya ke sofa dengan kasar dan berjalan menuju ruang makan. Meja makan kosong, hanya tersisa cangkir kopi yang masih setengah penuh. "Jesika! Jangan buat aku tambah marah!" teriak Adam lagi, kali ini lebih keras, suaranya bercampur antara kemarahan dan kekecewaan. Beberapa saat kemudian, langkah kaki terdengar mendekat. Jesika muncul di tangga atas, mengenakan gaun tidur sutra berwarna merah, dengan ekspresi yang santai. Ia menatap Adam dari atas sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. "Ada apa lag

