Bab 9. Mulai Terbuka

1084 Words
Mira berhenti, menoleh ke belakang dengan ragu. Adam keluar dari mobil, berjalan ke arahnya dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Ia memasukkan tangan ke dalam sakunya, mengeluarkan beberapa lembar uang tunai yang sudah disiapkannya. Tanpa berkata apa-apa, Adam menyodorkan uang itu ke arah Mira. "Ini," katanya singkat, nadanya datar. "Sebagai bayaran untuk semalam." Mira membeku. Matanya tertuju pada uang itu, lalu beralih ke wajah Adam yang terlihat dingin dan tak terbaca. Napasnya tertahan, dadanya terasa sesak. "Mas ...." gumamnya, nyaris tak terdengar. "Ambil saja," potong Adam cepat, nadanya sedikit lebih keras. "Aku tahu kamu membutuhkannya." Mira menelan ludah, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya. Dengan tangan gemetar, ia menerima uang itu, bukan karena ia ingin, tetapi karena ia tahu ibunya membutuhkan setiap sen untuk perawatan. "Terima kasih," ucapnya pelan, hampir seperti bisikan. Adam menyeringai tipis, tetapi senyum itu lebih terlihat seperti ejekan daripada rasa terima kasih. "Pastikan kamu menggunakannya dengan bijak," katanya, lalu berbalik menuju mobilnya tanpa menunggu respons Mira. Mira berdiri di sana, memandang uang di tangannya dengan perasaan campur aduk. Ia tahu bahwa menerima uang itu hanya akan membuatnya terlihat rendah di mata Adam, tetapi apa pilihan lain yang ia miliki? Ketika suara mesin mobil Adam terdengar dan mobil itu mulai menjauh, Mira menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan kekuatannya. Ia menghapus air matanya yang hampir jatuh, lalu melangkah masuk ke rumah sakit dengan hati yang masih terasa berat. Mira melangkah masuk ke rumah sakit dengan langkah berat, hatinya masih dipenuhi perasaan tak menentu. Tangannya menggenggam erat tas kecilnya, seolah itu bisa memberinya sedikit rasa aman di tengah situasi yang begitu kacau. Tanpa ia sadari, dari sudut tempat parkir, sepasang mata tajam memperhatikannya dengan seksama Mira sudah duduk di kursi kecil di samping tempat tidur ibunya. Tangannya menggenggam tangan sang ibu yang terbaring lemah dengan selang infus terpasang di lengannya. Udara di ruangan VVIP itu terasa sunyi, hanya terdengar suara lembut dari mesin monitor yang menunjukkan detak jantung ibunya. Wajah ibunya terlihat pucat, tetapi napasnya teratur. Melihat kondisi itu, Mira merasa sedikit lega. Namun, hatinya masih berat memikirkan apa yang telah ia lakukan demi memastikan perawatan ibunya berjalan lancar. "Bu, maafkan Mira," bisiknya dengan suara lirih, suaranya hampir bergetar menahan emosi. Ia menatap wajah ibunya dengan penuh rasa bersalah. Semua yang ia lakukan, termasuk menyerahkan dirinya pada Adam, terasa seperti beban yang semakin sulit ia pikul. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Kesehatan ibunya adalah segalanya. Tangannya perlahan mengusap punggung tangan ibunya, berharap sentuhan itu bisa memberikan kekuatan. Tiba-tiba pintu ruang perawatan terbuka pelan. Mira menoleh dan melihat Nurul masuk dengan membawa sebotol air mineral. "Mbak, Ibu masih tidur?" tanya Nurul dengan suara lembut. Mira mengangguk sambil memberi isyarat agar Nurul berbicara pelan. "Iya, dia baru saja tenang. Jangan terlalu berisik." Nurul meletakkan botol air di meja kecil dekat tempat tidur ibunya. Ia lalu duduk di kursi di seberang Mira, menatap kakaknya dengan tatapan penuh kekhawatiran. "Mbak, kamu nggak apa-apa? Wajahmu kelihatan capek banget," ujar Nurul pelan. Mira tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan segala beban di hatinya. "Aku baik-baik saja. Yang penting sekarang kita fokus ke Ibu, ya." mendapatkan perawatan terbaik, meskipun itu berarti ia harus terus menghadapi Adam dan segala tuntutannya. Mira menatap Nurul dengan bingung ketika adiknya itu tiba-tiba menggenggam tangannya. “Mbak, kita bicara di luar sebentar, ya," ujar Nurul dengan suara pelan, sambil melirik sekilas ke arah ibu mereka yang masih terlelap. Mira mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia mengikuti Nurul keluar dari ruang perawatan menuju lorong rumah sakit yang sepi. Saat mereka sampai di sudut lorong, Nurul berhenti dan menatap Mira dengan sorot mata penuh tanya. "Mbak, tadi aku lihat kamu turun dari mobil mewah," ucap Nurul dengan nada hati-hati. "Itu mobil siapa? Apa itu mobilnya Mas Adam?" Mira tertegun, dadanya berdebar kencang. Ia tidak menyangka Nurul memperhatikannya saat ia tiba. Ia mencoba tetap tenang meskipun hatinya gelisah. "Nurul, aku minta kamu nggak usah terlalu memikirkan itu," jawab Mira dengan nada menghindar. "Yang penting sekarang Ibu mendapatkan perawatan terbaik, itu saja yang perlu kita fokuskan." Namun, Nurul tidak menyerah. "Tapi, Mbak, kenapa Mas Adam ada di sini? Apa dia yang bantuin kita?" tanyanya lagi, suaranya sedikit lebih mendesak. "Aku cuma khawatir, Mbak. Aku tahu kita butuh bantuan, tapi kalau sampai ada sesuatu yang Mbak sembunyikan, aku juga punya hak untuk tahu." Mira menggigit bibirnya, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab. Ia tidak ingin Nurul tahu kenyataan sebenarnya, terutama tentang kesepakatannya dengan Adam. "Mas Adam ... dia hanya membantu sedikit soal biaya rumah sakit," ujar Mira akhirnya, dengan suara lirih. "Aku minta tolong padanya karena aku nggak punya pilihan lain." "Mbak, apa Mbak lupa bagaimana orang tua Mas Adam memperlakukan Mbak dulu?" Nurul bertanya lagi, suaranya sedikit gemetar. "Apa Mbak lupa apa yang mereka lakukan untuk memisahkan kalian?" Mira menggigit bibirnya, berusaha menahan emosi yang mulai bergejolak di dalam dirinya. Ia tahu Nurul masih menyimpan dendam terhadap perlakuan keluarga Adam di masa lalu, tetapi Mira tidak ingin membahasnya lagi, terutama di saat seperti ini. "Nurul, aku nggak lupa," jawab Mira akhirnya, suaranya pelan tetapi tegas. "Aku ingat semuanya. Tapi apa yang sudah terjadi, biarlah tetap di masa lalu." Namun, Nurul tidak puas dengan jawaban itu. "Mbak, mereka menghancurkan hidup Mbak! Mereka memaksa Mbak meninggalkan Mas Adam dengan alasan yang kejam. Mereka bahkan mempermalukan keluarga kita!" Mira menunduk, air mata mulai menggenang di sudut matanya. Ia tahu Nurul benar, tetapi ia tidak ingin mengingat kembali semua rasa sakit itu. "Nurul, aku tahu apa yang mereka lakukan, tapi aku nggak punya pilihan lain saat itu. Aku hanya ingin Mas Adam selamat." Nurul menatap kakaknya dengan tatapan terluka. "Tapi Mbak, kenapa sekarang Mbak malah minta tolong sama Adam? Bukannya dia sama saja seperti keluarganya? Apa Mbak Mira nggak takut mereka menyakiti kita lagi?" Mira menggeleng pelan. "Mas Adam mungkin sudah berubah, Nurul. Atau setidaknya, aku harus percaya itu untuk sekarang. Aku nggak punya banyak pilihan, terutama untuk Ibu." "Tapi, Mbak ...." Mira memotong Nurul sebelum adiknya itu bisa melanjutkan. "Nurul, aku tahu kamu khawatir. Tapi tolong percayakan ini sama aku. Aku akan berhati-hati. Yang penting sekarang, kita fokus ke Ibu." Nurul menghela napas panjang, masih tampak tidak puas, tetapi ia memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh. "Baiklah. Tapi aku nggak akan diam kalau sampai mereka menyakiti Mbak Mira lagi." Mira tersenyum tipis, meskipun hatinya terasa berat. "Terima kasih, Nurul. Aku tahu kamu selalu ada buat aku." Mereka berdua akhirnya kembali ke ruang perawatan dengan perasaan masing-masing yang masih diliputi kekhawatiran. Sementara itu, Mira tahu bahwa hubungannya dengan Adam, meskipun sementara, akan menjadi ujian berat yang harus ia hadapi sendirian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD