Bab 10. Kejadian Mengerikan

1132 Words
Adam memasuki rumahnya dengan langkah tegas, pintu utama tertutup perlahan di belakangnya. Ia baru saja kembali dari hotel, masih teringat akan pertemuannya dengan Mira beberapa jam lalu. Matanya yang tajam menyapu sekeliling ruang tamu, memastikan tidak ada yang mengganggunya saat ini. Adam melirik sekilas ke jam tangan di pergelangan kirinya. Jarum menunjukkan pukul 9 pagi. Ia mengernyit heran. "Tumben Jesika sudah nggak ada," gumamnya pelan. Biasanya, pada jam segini, Jesika masih berada di rumah, sibuk dengan rutinitas paginya atau mempersiapkan jadwal untuk ke butik tempatnya bekerja. Adam baru saja akan melangkah ke arah anak tangga ketika tiba-tiba terdengar suara lembut namun tegas dari belakangnya. "Berhenti di situ, Adam," suara itu tegas, dingin, dan membuat tubuh Adam membeku di tempatnya. Ia mengenali suara itu. Ada sesuatu yang tajam dan penuh tekanan dalam nada bicara tersebut, membuat bulu kuduknya meremang. Dengan perlahan, Adam berbalik, matanya melebar saat melihat siapa yang berdiri di belakangnya. Sosok itu berdiri tegap, wajahnya datar namun matanya menyimpan sorot tajam yang menusuk. "Aku pikir kita perlu bicara," ujar sosok itu sambil melangkah mendekat, tatapannya tidak pernah lepas dari Adam. Jantung Adam berdebar kencang. Ia merasa tubuhnya seakan membeku, tidak mampu bergerak ataupun mengeluarkan suara. Sesuatu memberitahunya bahwa pembicaraan ini akan mengubah segalanya. Adam terdiam, matanya menatap sosok Shofia, ibunya, yang kini berdiri di hadapannya. Wanita paruh baya itu mengenakan gaun rumah berwarna pastel yang anggun, tetapi raut wajahnya tidak menunjukkan kelembutan seperti biasanya. Tatapannya tajam, penuh amarah yang seolah siap meledak kapan saja. "Mama tanya, Adam. Apa benar akhir-akhir ini kamu sering pulang pagi?" suara Shofia tegas, nyaris seperti perintah untuk menjawab. Adam menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri meskipun ia tahu, percakapan ini tidak akan berakhir baik. "Mama dengar dari siapa?" tanyanya, mencoba mengulur waktu. Shofia menyipitkan mata, langkahnya maju lebih dekat ke arah Adam. "Itu nggak penting. Yang penting adalah Mama ingin mendengar langsung dari mulutmu," katanya dengan nada penuh penekanan. "Apa benar kamu sering ke luar rumah sampai larut malam dan nggak pulang?" Adam merasa seperti tertangkap basah, tetapi ia berusaha tetap tenang. "Aku hanya mengurus pekerjaan, Ma. Kadang butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikannya," jawabnya, meskipun nada suaranya tidak sekuat biasanya. Shofia mendengus kecil, ekspresinya tidak berubah. "Jangan berbohong, Adam. Mama tahu kamu bukan hanya mengurus pekerjaan. Apa benar kamu sudah memiliki wanita lain?" Pertanyaan itu menghantam Adam seperti palu besar. Mata Adam melebar, tubuhnya tegang seketika. “Wanita lain?" ulangnya dengan suara rendah, seolah mencoba memastikan ia tidak salah dengar. Adam terdiam sesaat, membiarkan suasana hening yang penuh ketegangan menggantung di ruang tamu itu. Pandangannya menatap lantai, seolah mencari kekuatan untuk menghadapi ibunya. Namun, akhirnya ia menghela napas panjang, menegakkan tubuhnya, dan berkata dengan nada datar, "Aku lelah, Ma. Aku mau masuk ke kamar dulu." Tanpa menunggu jawaban, Adam memutar tubuhnya dan melangkah pergi menuju tangga, meninggalkan ibunya yang masih berdiri dengan tatapan penuh amarah. "Adam! Jangan pergi begitu saja! Mama belum selesai bicara!" suara Shofia menggema, memanggil Adam yang terus berjalan tanpa menoleh. Langkah Adam tetap mantap, tangannya menggenggam erat pegangan tangga. Ia tidak ingin memulai perdebatan yang panjang, apalagi di tengah kelelahan yang menghantamnya. Pikirannya sudah cukup kacau tanpa harus menghadapi amarah ibunya. Setelah mencapai lantai atas, Adam membuka pintu kamarnya dan menutupnya dengan perlahan. Di dalam, ia menghela napas berat, mencoba menenangkan pikirannya. Pandangannya terarah ke jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota yang ramai. "Semua ini nggak pernah mudah," gumamnya pelan, seolah berbicara kepada dirinya sendiri. Di ruang tamu, Shofia masih berdiri dengan wajah yang memerah karena kesal. Bibirnya bergerak, ingin memanggil nama Adam sekali lagi, tetapi ia memilih untuk tidak melakukannya. Dengan napas yang memburu, ia melangkah ke sofa dan duduk, mencoba meredam emosinya. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan anak itu?" batinnya, sambil menggenggam kedua tangannya erat. *** Di sebuah rumah sederhana yang dikelilingi oleh pepohonan rindang, Mira dan Nurul duduk di ruang tamu bersama Hanum, ibu mereka, yang baru saja keluar dari rumah sakit. Wajah Hanum terlihat lebih segar dibandingkan beberapa hari sebelumnya, meski tubuhnya masih tampak lemah. Mira tersenyum lembut, menuangkan teh hangat ke dalam cangkir untuk ibunya. "Ibu, sekarang harus istirahat yang cukup, ya. Jangan terlalu memikirkan pekerjaan atau hal-hal lain," katanya sambil menyerahkan cangkir itu ke Hanum. Hanum mengangguk, matanya berbinar penuh rasa syukur. "Alhamdulillah, ibu masih bisa pulang ke rumah dan berkumpul dengan kalian. Ini semua berkat doa kalian dan bantuan dari seseorang yang ibu tidak tahu siapa," ucapnya lirih, suaranya sedikit bergetar. Nurul yang duduk di samping ibunya, langsung meraih tangan Hanum. "Yang penting sekarang ibu sehat, Bu. Urusan siapa yang membantu, biarkan jadi tanggung jawab kami," jawabnya cepat, sambil melirik sekilas ke arah Mira. Mira hanya menunduk, memandangi teh di cangkirnya yang masih mengepul. Pikirannya melayang ke sosok Adam dan semua yang terjadi selama beberapa hari terakhir. Rasa bersalah, takut, dan bingung bercampur menjadi satu. Namun, ia tahu, untuk saat ini, yang terpenting adalah kebahagiaan dan kesehatan ibunya. "Iya, Bu," Mira akhirnya bersuara, mencoba menghilangkan kecanggungan yang mungkin dirasakan Nurul. "Yang penting sekarang ibu ada di sini bersama kami. Jangan khawatir soal biaya atau apa pun. Kami akan urus semuanya." Hanum tersenyum penuh kasih, matanya berkaca-kaca. Ia mengusap kepala kedua putrinya dengan lembut. "Ibu beruntung punya kalian berdua. Kalian adalah kekuatan ibu." Suasana menjadi hangat, dipenuhi canda tawa dan cerita sederhana tentang hari-hari mereka. Namun, di tengah kebersamaan itu, Nurul yang sejak tadi memerhatikan Mira merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Wajah kakaknya itu tampak lebih murung, meskipun ia berusaha menutupi dengan senyuman. Hanum mengingat kembali kejadian beberapa minggu lalu dengan jelas, meskipun ia berharap bisa melupakannya. Hari itu, ia baru saja menyelesaikan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah mewah. Langit sore mulai meredup, dan ia berjalan pulang seperti biasa menyusuri jalan kecil yang sepi. "Hari itu ibu ingat, semuanya terasa biasa saja. Tapi begitu ibu menyeberang jalan, tiba-tiba ada cahaya lampu yang sangat terang dan suara klakson keras. Mobil itu melaju begitu cepat, dan ibu bahkan tidak sempat bergerak," ujar Hanum, suaranya serak menahan emosi. Mira dan Nurul mendengarkan dengan wajah serius. Mereka sudah tahu sebagian cerita dari saksi mata, tetapi mendengar langsung dari ibunya membuat hati mereka teriris. "Lalu, ibu hanya ingat rasa sakit yang luar biasa di seluruh tubuh. Setelah itu, semuanya gelap," lanjut Hanum, menahan air mata yang hampir tumpah. Mira mengepalkan tangannya, mencoba menahan rasa marah yang membara dalam dadanya. "Orang yang melakukan ini benar-benar nggak punya hati. Melukai ibu seperti itu, lalu melarikan diri begitu saja." Nurul mengangguk setuju. "Kita harus melaporkan ini ke polisi, Mbak Mira. Orang itu tidak boleh lolos begitu saja." Namun, Hanum menggeleng pelan. "Sudahlah, Nak. Ibu tidak mau membuat kalian semakin pusing. Yang penting sekarang ibu masih hidup dan bisa bersama kalian." Mira tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Ia tahu ibunya hanya ingin menghindari masalah lebih besar, tetapi ia merasa tidak adil jika orang yang telah mencelakai ibunya dibiarkan begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD