"Ibu, kalau orang itu tidak bertanggung jawab, bagaimana kalau dia melukai orang lain lagi? Kita harus melakukan sesuatu," ujar Mira dengan nada memohon.
Hanum menggenggam tangan Mira, memberikan tatapan lembut yang penuh pengertian. "Nak, kadang-kadang, memaafkan itu lebih baik daripada terus membawa beban amarah. Ibu hanya ingin kita bisa menjalani hidup dengan tenang."
Mira terdiam, hatinya terasa berat. Ia mengerti maksud ibunya, tetapi sulit baginya untuk menerima kenyataan bahwa pelaku tabrak lari itu masih bebas berkeliaran.
Nurul memeluk ibunya dengan erat. "Kami janji, Bu, kami akan selalu menjaga ibu. Apa pun yang terjadi."
Hanum tersenyum kecil, meskipun luka batinnya masih terasa. Di satu sisi, Mira tidak bisa berhenti memikirkan kejadian itu. Ada sesuatu yang terasa janggal, seolah ada lebih banyak hal yang tersembunyi di balik kecelakaan itu.
Hanum dan Nurul saling bertatapan dengan cemas saat melihat Mira tiba-tiba berdiri dan berlari ke arah kamar mandi tanpa mengatakan apa pun.
"Mbak Mira, ada apa?" panggil Nurul dengan nada panik.
Namun, Mira tidak menjawab. Hanya suara pintu kamar mandi yang tertutup dengan cepat yang terdengar.
Hanum berusaha berdiri dari kursinya, meskipun tubuhnya masih terasa lemah. "Nurul, lihat mbakmu. Jangan biarkan dia sendirian kalau ada apa-apa."
Nurul mengangguk cepat dan berjalan mendekati pintu kamar mandi. Ia mengetuk pintu dengan lembut. "Mbak Mira, kamu kenapa? Apa kamu sakit? Tolong buka pintunya."
Di dalam kamar mandi, Mira bersandar di wastafel. Wajahnya pucat, dan keringat dingin membasahi dahinya. Ia mencoba menenangkan diri, tetapi rasa mual yang tiba-tiba menyerangnya tidak kunjung hilang.
"Aku baik-baik saja, Nurul. Tunggu sebentar," jawab Mira, meskipun suaranya terdengar lemah.
***
Pagi itu, Mira keluar dari kamarnya dengan langkah yang tampak terhuyung. Wajahnya semakin pucat, dan tubuhnya tampak semakin lemah. Nurul yang sedang berada di ruang tamu, segera berdiri dan mendekat, merasa cemas melihat kondisi kakaknya. "Mbak, kamu kenapa? Kamu nggak kelihatan sehat," tanya Nurul dengan penuh kekhawatiran.
Hanum, yang sedang berada di dapur, ikut keluar dan terkejut melihat kondisi Mira. "Mira, kamu harus istirahat. Kenapa nggak bilang kalau kamu merasa tidak enak badan?" ujar Hanum, suaranya terdengar khawatir. Dia berjalan cepat menuju Mira, ingin memastikan apakah Mira membutuhkan pertolongan.
Mira hanya tersenyum lemah, meskipun rasa sakit di dalam dirinya tak bisa ia sembunyikan. "Aku ... aku cuma merasa sedikit lelah," jawab Mira pelan, berusaha menenangkan mereka. Tapi Nurul dan Hanum bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar kelelahan.
Nurul meraih lengan Mira dengan lembut, mencoba menatap mata kakaknya yang tampak buram.” Mbak, kamu nggak bisa terus seperti ini. Kalau kamu nggak merasa baik, lebih baik kita bawa ke dokter atau rumah sakit," kata Nurul dengan nada serius. Ia tahu Mira sedang menanggung beban yang berat, tapi dia tidak ingin melihat kakaknya semakin terpuruk.
Hanum menatap Mira dengan mata penuh kekhawatiran. “Mira, apa yang dikatakan Nurul itu benar. Kamu harus segera ke dokter untuk memastikan kondisi tubuhmu. Ibu nggak mau kamu makin parah karena nggak perhatian dengan kesehatan,” ujar Hanum dengan nada lembut namun tegas.
Mira hanya diam, menundukkan kepala. Ia tahu ibunya benar, tapi rasa enggan untuk pergi ke dokter membuatnya merasa tertekan. “Aku nggak apa-apa, Bu. Sungguh,” jawab Mira pelan, suaranya terasa lemah. Dia merasa bingung dengan kondisinya, dan merasa semakin terhimpit oleh masalah yang terus menghantuinya.
Namun, Hanum tidak bergeming. Ia mendekat dan meraih tangan Mira dengan lembut, mencoba memberikan rasa tenang. “Mira, jangan ragu. Kita nggak bisa asal-asalan dalam hal kesehatan. Kamu harus cek, setidaknya untuk memastikan semuanya baik-baik saja,” ujar Hanum lagi, wajahnya penuh kasih sayang.
Nurul yang sejak tadi diam, akhirnya mengangguk setuju. “Mbak, ini demi kebaikanmu juga. Kalau nanti ternyata nggak ada masalah, kamu bisa lega. Tapi kalau ada, kita bisa segera cari pengobatan,” tambahnya, berharap Mira bisa mengerti kekhawatiran mereka.
Mira menatap wajah ibu dan adiknya yang penuh harap. Perlahan, hatinya mulai luluh. Dia tidak bisa terus mengabaikan kesehatan dirinya, apalagi setelah melihat betapa cemasnya mereka berdua. Akhirnya, dengan berat hati, Mira menghela napas panjang. “Oke, aku akan pergi ke dokter,” jawabnya, suara lelah tapi sudah lebih pasti.
Hanum tersenyum lega mendengar jawaban Mira. “Terima kasih, Nak. Kami hanya ingin yang terbaik untukmu,” kata Hanum sambil mengelus lembut punggung Mira. Ia tahu, meski Mira tak mengungkapkan semuanya, terkadang masalah bisa diselesaikan dengan sedikit perhatian dan dukungan dari keluarga.
Nurul segera mengambil jaket dan kunci motor, bersiap mengantar Mira ke dokter. “Ayo, Mbak. Kita berangkat sekarang. Semakin cepat semakin baik,” ujar Nurul sambil tersenyum, meskipun ia juga masih khawatir tentang kondisi Mira.
Mira mengangguk pelan dan mengikuti langkah Nurul. Ketika mereka keluar dari rumah, Hanum berdiri di ambang pintu, mengawasi mereka dengan penuh perhatian. Ia berharap semua ini akan berakhir dengan kabar baik, dan Mira akan segera merasa lebih baik.
Sesampainya di dokter, Mira merasa sedikit cemas, namun ia tahu ini adalah langkah yang perlu diambil. Semoga, dengan pemeriksaan ini, semua ketakutannya bisa terjawab, dan ia bisa menemukan jalan keluar dari semua masalah yang kini menjeratnya.
Mira dan Nurul duduk terdiam di ruang dokter setelah pemeriksaan selesai. Wajah mereka pucat dan penuh tanda tanya. Mira menggenggam erat tangan adiknya, merasa kebingungan. Nurul pun terlihat tak kalah terkejut, matanya menatap Mira dengan ekspresi tercengang.
Dokter yang berdiri di depan mereka akhirnya membuka mulut. “Hasil pemeriksaannya menunjukkan bahwa Anda sedang hamil, Bu Mira. Saya sarankan untuk segera melakukan pemeriksaan lanjutan dan memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik,” ujar dokter dengan suara tenang, berusaha menenangkan mereka.
Mira merasa dunia seolah berhenti berputar. Kehamilan? Bagaimana bisa? Dia hampir tak bisa mengolah kata-kata itu dalam pikirannya. Selama ini, dia hanya sibuk memikirkan masalah-masalah lain, tanpa menyadari tanda-tanda yang ada. Kini, kenyataan itu datang begitu mendalam, membuat Mira terperangah.
Mira mengangguk perlahan, namun hatinya terasa berat. Ia masih bingung dengan perasaannya. Kehamilan ini datang dengan begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang akan terjadi dengan masa depannya? Apa yang akan terjadi dengan Adam, yang bahkan tak pernah benar-benar peduli?
Nurul berjalan di samping Mira, matanya penuh dengan kebingungan. Ia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang baru saja didengarnya. Kehamilan kakaknya itu begitu mengejutkan, terlebih setelah mendengar cerita-cerita tentang Adam yang terus mengganggu Mira.
"Mbak, aku nggak salah dengar ‘kan? Apa benar kamu hamil?" tanya Nurul, suaranya penuh dengan ketegangan.