Mira melangkah dengan pelan, merasa lelah dan cemas. Ia menundukkan kepala, menghindari tatapan adiknya. "Aku ... aku nggak tahu. Aku nggak bisa menjelaskan semuanya, Nurul. Aku takut, aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan," jawab Mira dengan suara pelan, hampir seperti berbisik.
Nurul menghentikan langkahnya dan segera meraih tangan Mira, hingga membuat Mira menghentikan langkahnya. ”Mbak, Apa ayah dari anak ini Mas Adam?” tanyanya dengan hati-hati.
Mira terdiam sejenak mendengar pertanyaan Nurul. Ia merasa hatinya berdebar-debar, mulutnya terasa kering. Pertanyaan itu, meskipun sederhana, seperti pisau yang menusuk dalam, mengingatkan Mira pada kenyataan yang begitu rumit dan menakutkan.
"A ... a ... ya," jawab Mira dengan suara pelan, suaranya bergetar. Ia merasa malu dan bingung, tak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya tentang Adam, tentang hubungan mereka yang penuh manipulasi dan ketidakpastian.
Nurul menatap Mira dengan ekspresi campuran antara keterkejutan dan rasa khawatir. "Mbak, kenapa bisa sampai begini?" tanya Nurul dengan nada yang lebih lembut, mencoba mengerti meskipun dirinya merasa bingung dan kecewa. "Sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Mas Adam?” tanya Nurul dengan rasa penasaran.
Mira menarik napas panjang, merasa berat untuk menjawab. "Aku ... aku nggak tahu harus mulai dari mana. Segalanya begitu rumit. Mas Adam ... dia nggak seperti yang orang lihat. Semua yang terjadi, aku rasa dia cuma ingin mengendalikan semuanya. Aku takut, dan aku nggak tahu bagaimana cara keluar dari situasi ini," jawab Mira dengan suara yang hampir tak terdengar.
Nurul merasakan hati kakaknya yang terluka. "Kak, kamu nggak sendirian. Kamu bisa ceritakan semuanya padaku. Aku janji nggak akan menceritakan semua ini dari Ibu,” kata Nurul dengan penuh tekad.
Mira menghela napas panjang, seolah mencari kekuatan untuk berbicara. Ia menatap Nurul dengan wajah penuh rasa bersalah. "Nurul, aku harus cerita sesuatu ... tentang Mas Adam dan kenapa dia terlibat dalam kehidupan kita sekarang."
Nurul menatap kakaknya dengan penuh perhatian, sedikit ragu namun penasaran. "Apa maksud Mbak? Apa yang sebenarnya terjadi antara Mbak dan Mas Adam?"
Mira menundukkan kepala, suaranya bergetar saat ia mulai bercerita. "Waktu itu, aku benar-benar nggak tahu harus bagaimana. Biaya perawatan Ibu sangat mahal, dan aku nggak punya uang sebanyak itu. Aku mencoba segala cara, tapi tetap nggak cukup. Lalu, aku menemui Mas Adam di kantornya untuk meminta bantuan, karena saat itu hanya dia yang bisa membantu kita ...." Mira berhenti sejenak, suaranya tercekat.
"Dia bersedia membantu membayar semua biaya rumah sakit dan perawatan Ibu, tapi dengan satu syarat." Mira mengangkat wajahnya, menatap Nurul dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Dia bilang ... aku harus melayaninya."
Nurul terkejut, matanya melebar, namun ia mencoba menahan emosinya. "Melayani? Apa maksud Mbak Mira?" tanyanya dengan suara rendah. Namun, penuh amarah yang terpendam.
Mira mengangguk lemah, air mata mulai mengalir di pipinya. "Dia meminta aku untuk ... menjadi miliknya. Dia bilang semua ini nggak ada yang gratis. Aku nggak punya pilihan lain. Demi Ibu, aku rela melakukan apa yang dia minta."
Nurul terdiam, hatinya terasa berat mendengar pengakuan kakaknya. Ia merasa marah, sedih, dan bingung pada saat yang bersamaan. "Mbak, kenapa? Kenapa Mbak harus mengorbankan harga diri Mbak? Kita bisa cari cara lain! Kita pasti bisa melewati ini tanpa harus—" Nurul menghentikan ucapannya, tak sanggup melanjutkan.
"Aku nggak punya cara lain, Nurul," Mira menjawab sambil terisak. "Aku hanya ingin Ibu sembuh, aku ingin dia mendapatkan perawatan terbaik. Aku tahu caraku salah, tapi aku nggak tahu lagi harus bagaimana."
Nurul meraih tangan Mira. Wajahnya tampak serius, bahkan sedikit gusar. “Mbak, apa Mbak sudah kasih tahu Mas Adam tentang ini?" tanyanya dengan suara rendah, hampir berbisik, namun penuh tekanan.
Mira terdiam, menundukkan wajahnya untuk menghindari tatapan adiknya. "Belum," jawabnya pelan, hampir tak terdengar.
"Kenapa belum?" Nurul balas bertanya, suaranya sedikit meninggi. "Dia harus tahu, Mbak! Ini anaknya!"
Mira menghela napas panjang, masih menunduk. "Aku nggak tahu bagaimana harus bilang. Mas Adam itu bukan tipe orang yang peduli. Kalau dia tahu aku hamil, aku takut dia cuma akan memanfaatkan situasi ini untuk lebih mempermainkan aku."
Nurul mendesah, mencoba menahan kekesalannya. "Tapi Mbak Mira nggak bisa terus seperti ini. Mas Adam punya tanggung jawab, Mbak. Kalau Mbak nggak kasih tahu dia, bagaimana dia bisa tahu?"
Mira mendongak, matanya berkaca-kaca. "Aku takut, Nurul. Aku takut kalau dia marah ... atau lebih buruk lagi, dia menyuruh aku pergi dan mengabaikan semuanya. Aku nggak mau anak ini tumbuh tanpa pengakuan."
Nurul menggenggam tangan Mira erat, mencoba memberikan dukungan. "Mbak, aku ngerti perasaan Mbak Mira. Tapi diam aja juga bukan solusi. Mbak harus hadapi dia, biar semuanya jelas. Kalau dia benar-benar nggak mau tanggung jawab, setidaknya kita tahu harus bagaimana ke depannya."
Mira terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Aku ... aku akan cari waktu untuk bicara dengan dia. Tapi tolong beri aku waktu. Aku butuh keberanian untuk melakukannya."
Nurul menarik napas panjang, lalu memeluk Mira erat. "Aku akan selalu ada buat Mbak. Apa pun yang terjadi, kita hadapi ini sama-sama. Tapi jangan lama-lama, ya. Anak ini butuh masa depan, Mbak, dan itu dimulai dari kejelasan sekarang."
Mira menutup matanya sambil memeluk Nurul lebih erat. Dalam hatinya, ia tahu adiknya benar. Ia hanya perlu mencari kekuatan untuk melangkah dan menghadapi Adam.
***
Di ruangan kantornya yang megah, Adam tengah sibuk memeriksa beberapa dokumen penting. Ketukan pintu yang tiba-tiba membuatnya mengangkat kepala. Sebelum ia sempat menjawab, pintu itu terbuka, dan sosok yang sangat ia kenal melangkah masuk tanpa permisi.
"Mama?" Adam langsung berdiri dari kursinya, ekspresi terkejut terpancar jelas di wajahnya.
Sofia, ibunya, melangkah masuk dengan anggun, namun tatapan tajamnya membuat suasana ruangan terasa tegang. Ia meletakkan tas tangannya di meja Adam, lalu duduk di kursi tamu tanpa menunggu dipersilakan.
"Kenapa Mama ada di sini?" tanya Adam, mencoba menyembunyikan kegugupannya.
Sofia menyilangkan tangan di depan d**a, menatap putranya lekat. "Mama datang untuk memastikan sesuatu, Adam."
Adam mengernyitkan dahi. "Memastikan apa, Ma?"
Sofia membuka tasnya dengan gerakan tegas, mengambil selembar kertas, lalu melemparkannya ke meja kerja Adam. Suara kertas yang menyentuh meja membuat ruangan terasa semakin sunyi.
"Apa maksud semua ini, Adam?" Sofia bertanya dengan nada tajam, matanya menatap Adam tanpa berkedip.
Adam melirik kertas itu dan mendapati dokumen yang sudah tidak asing baginya. Itu adalah tanda terima transfer besar-besaran ke rumah sakit tempat Mira merawat ibunya. Nama Adam tercantum jelas sebagai pihak yang mengirimkan uang tersebut.
Adam menghela napas, mencoba tetap tenang. "Itu bukan urusan Mama."