Arya tak mau melepaskan pelukannya, ia masih puas meluapkan rasa rindunya. Setelah perdebatan semalam akhirnya mereka tidak jadi mengundurkan hari pernikahan mereka. "Kamu yakin tidak mau ikut denganku?" tanya Arya sekali kali. "Hm, aku membutuhkan pikiran yang jernih saat menulis. Jika aku ikut denganmu mungkin yang ada di otakku hanya ada kekhawatiran yang berlebih." Arya mengerenyitkan dahinya lalu berucap, "Khawatir?" "Iya, pasti aku khawatir jika kamu tidak pulang tepat waktu, aku akan khawatir masakanku tidak sesuai dengan seleramu dan aku khawatir jika aku di sana kamu malah ke enakan lembur karena bosan melihatku." Arya menyentil dahi Seina, lalu mengecup singkat bibir yang menjadi candu baginya. "Aku mencintaimu Seina." Seina tersenyum kemudian memberanikan diri untu

