"Mau kemana, La?" tanya Chica yang melihat Ayla tampak tengah bergegas untuk pergi ke luar, karena sejak tadi sudah berdiri dan terlihat mencari sesuatu.
Lalu cewek itu pun menemukan sesuatu yang di carinya.
Ayla memakai cardigan yang tadi dicarinya dalam tas. Tidak berada di kasur seperti Chica, Maura, atau teman sekamarnya, Ayla bergegas untuk keluar.
Satu kamar terdiri dari enam orang, dengan dua kasur double yang mana seharusnya di tempati dua orang, tapi di paksakan muat tiga orang. Sehingga Ayla harus bergabung dengan teman sebangku Chica di kelasnya, yaitu Maura, yang satu kasur dengan mereka.
Ayla tidak terlalu mengenal Maura, tapi berkat Chica yang gemar untuk memaksa orang saling mengenal, ia pun mengenal sosok Maura yang selama di Bandung ini memang bergabung dengan genk nya itu. Maura juga tampaknya lumayan akrab dengan Satrya dan Fahlan, karena memang mereka satu kelas.
"Cari makan. Lo gak mau ke depan? Satrya sama yang laen kan di tukang gorengan. Gue juga mau kesana." Ayla mengorek bawah bantalnya, juga bantal Chica karena mereka berbagi kasur, mencari ponselnya yang tadi ia geletakan asal.
Ayla menyuruh Chica untuk bergeser karena kesulitan mencari benda tersebut selagi Chica masih diam di tempatnya. Ia mengeluh pelan, lantaran kebiasaannya yang memang sering asal dalam menaruh barang barang, sehingga sering kali kesulitan dalam mencarinya.
"Duh, ribet ih." Chica pun menyingkir karena terganggu dengan ulah Ayla. Ia kini berdiri, memgambil jaketnya yang digantung. Mendengar ajakan Ayla dab informasi bahwa teman temannya juaga tengah berada di depan, maka Chica pun ingin bergabung dengan mereka dari pada hanya berdiam diri di dalam kamar seperti ini tanpa melakukan apa pun. Lebih baik ia menikmati suasana Bandung di malam hari kan, sambil menonton aksi kekonyolan teman temannya yang selalu bisa menghibur dirinya.
"Ke depan yuk, Ra. Mintain gorengan anak-anak." Ajak Chica pada Maura yang tiduran di sebelahnya dan tidak di ganggu oleh Ayla, tidak seperti Chica yang tadi malah di suruh suruh geser oleh Ayla. Ayla ini memang hanya berani mengusik Chica, ia tidak akan berani mengusik orang lain yang tidak terlalu di kenalnya.
"Yuk, gue juga pengen tau suasana malem di Bandung." Maura ikut beranjak dari tempat tidurnya, turut mengambil jaket yang ia gantungkan di lemari kamar hotel ini dan bergegas mengikuti Chica yang sudah berjalan menuju keluar kamar.
Mereka pun keluar bersama menuju tukang gorengan yang tak jauh dari hotel tempat mereka bermalam. Selama di perjalanan, mereka juga turut melihat para siswa lain yang tengah menikmati wisata yang dekat dengan area hotel, sehingga tidak perlu naik kendaraan atau apa pun.
Beberapa tukang dagang yang ada di area sekitar pun menjadi ramai oleh para siswa di sekolahnya, beberapa cowok bahkan ada yang terang terangan merokok karena memang tidak ada guru yang memperhatikan kegiatan tersebut, sehingga mereka bebas melakukannya.
Ayla, Chica, dan Maura menyusuri area di sekitar hotel tersebut. Mencari keberadaan tukang gorengan yang di maksud Regal saat mengirimkan pesan pada Ayla itu. Sekitar beberapa menit mereka menyusuri jalan tersebut, hingga akhirnya menemukan tukang gorengan yang di maksud Regal menjadi tempat berkumpul teman temannya. Ternyata tukang gorengan yang dimaksud bukan tukang gorengan gerobak, melainkan kedai bertenda seperti warung kopi.
Di sana juga terdapat siswa lain dari sekolahnya, yang sama sama tengah menikmati angin malam di luar, tidak hanya sekadar berada di dalam hotel setelah seharian mengikuti serangkaian acara yang sudah di gariskan oleh pihak sekolah. Belum lagi keesokan harinya mereka masih harus menjalani aktivitas dalam serangkaian acara ini, hanya malam ini mereka bisa bebas melakukan kegiatan apa pun termasuk berjalan jalan di sekitar area hotel seperti ini.
Chica yang baru datang sudah mencomot bala-bala yang ada di piring teman-temannya. Sedang Ayla hanya berdiri, tidak berniat duduk di bangku plastik yang masih kosong di sebelah Fahlan.
“Bagi tahu dong, Lan.” Ayla menunjuk tahu goreng yang ada di piring depan Fahlan.
“Yaampun, La. Ini tahu tinggal ambil. Sok malu-malu banget. Apa mau gue jejelin?” Fahlan menyahut seraya mengambilkan tahu yang di minta Ayla itu, lalu menyodorkannya pada cewek itu, sesuai dengan permintaannya yang menginginkan tahu isi yang sudah mereka pesan sembari di nikmati bersama kopi panas.
“Bukan malu-malu, itu etika, tau. Guekan anak manis yang menerapkan nilai sopan santun.” Ayla membalas ucapan Fahlan dengan cibiran telak, tak ayal cewek itu menerima uluran tahu goreng yang di berikan Fahlan.
Mereka yang mendengar ucapan Ayla hanya berdecak.
Ayla memang sering berkata kelewat jujur, dan menerapkan norma norma yang kerap kali berlakuk di masyarakat. Hanya saja cara pengucapannya tidak terdengar tulus, seolah hanya formalitas belaka. Saat Ayla mengatakan terima kasih, itu seolah hanya terdengar datar, tanpa ada perasaan bahwa cewek itu benar benar merasa terbantu oleh seseorang. Pun ketika Ayla mengucapkan permintaan maaf, jelas tak ada bedanya, cewek itu tidak terlalu merasa bersalah untuk hal hal yang ia lakukan. Hanya saja ia merasa mengucapkan maaf adalah sebuah kewajiban.
“Itu sebenernya Ayla kode keras minta disuapin sama gue. Halah, gitu aja pada gak paham.” Regal berdiri dan berjalan menghampiri Ayla. Ia yang melihat kehadiran cewek itu untuk menghampirinya, sesuai dengan pesan yang ia kirimkan tadi bahwa Regal tengah bersama Azrial dan kawan kawan, sembari menunggu Ayla keluar dari kamar hotel untuk mencari makan malam.
“Yuk, Ay.” Lalu ia menggandeng tangan Ayla untuk keluar dari kedai itu.
“Kok gue kesel dengernya ya.” Satrya yang bersuara lebih dulu. Mendengar ucapan Regal yang penuh percaya diri serta sikapnya yang tampak santai saat menggandeng pergelangan tangan Ayla, seolah hal tersebut merupakan hal yang wajar di lakukan cowok itu pada Ayla.
“Gue juga.” Sambung Azrial, menyetujui ucapan Satrya yang rupanya tidak kesal sendirian. Mereka tidak menyangka Regal benar benar berhasil mendekati Ayla yang terkenal galak dan ketus tersebut, meski Ayla tidak secara terang terangan mengatakan bahwa ia menerima Regal sih.
Yang terlihat memang Ayla hanya menikmati hal hal mudah atau pun benefit yang bisa ia peroleh selagi bersama Regal.
“Gue malah pengen numpahin kopi panas ke muka si Regal.” Fahlan turut bersuara, mengomentari sikap Ayla dan Regal yang mengganggu pandangan mereka, yang sialnya berlangsung di depan mereka hingga tak bisa di hindari.
“Makanya, Bapak-bapak. Kalo punya anak perawan, jangan dibiarin maen ke Sungai. Kalo udah digigit buaya, bisa apa?” kini Chica mengambil gelas kopi di hadapan Azrial, menenggaknya tanpa ijin, dihabisin pula.
Hal tersebut karena kopi milik Azrial bukan kopi hitam seperti milik Satrya dan Fahlan, Azrial memesan kopi good day yang masih bisa ia nikmati karena tidak terlalu pekat, dan tidak terlalu membuat jantungnya berdetak tidak karuan setelah minum kopi. Maka Chica merasa minum kopi milik Azrial merupakan pilihan paling aman.
“Emang mereka pacaran, ya?” Maura yang tidak tau apa-apa tentang hubungan mereka, bertanya kebingungan. Ia memang tau Regal seperti apa, karena saat kelas sepuluh cowok itu duduk di depan bangkunya.
Namun, kini Maura tak lagi sekelas dengan Regal, dan tak pernah sekelas juga dengan Ayla makanya ia tak terlalu mengenal Ayla. Maura hanya akrab dengan Chica, pada Satrya dan Fahlan saja Cuma di akrab akrabin karena merasa mereka teman Chica, dan duduk di bangku tepat belakangnya saat di sekolah.
“Enggak kok, Ra. Mereka Cuma maenan Kadal vs Buaya. Liat aja nanti siapa menang, siapa yang menangis.” Satrya yang duduk di sebelah Maura menjawab, memberikan perumpaan yang rada ekstrem.
Maura mengangguk pelan, berusaha menafsirkan terkait kadal vs buaya yang di ucapkan Satrya dalam hubungan Regal dan Ayla. Seperti ucapannya tadi, Maura memang tidak terlalu mengenal Ayla hingga ia tidak terlalu mengetahui kepribadian Ayla seperti apa. Tapi yang ia tangkap, berarti di sini Ayla juga tak jauh berbeda dengan Regal, atau sama bahayanya dengan Regal.
Dalam hati, mereka sama-sama berharap, bukan Ayla yang akan berakhir menangis. Karena Regal terlalu b******k dan tidak pantas untuk ditangisi. Akan lebih seru melihat Regal yang menangis. Menangis frustasi karena hati Ayla yang sekeras batu.
Ayla hanya menjalani hidupnya dengan sikap alamiah manusia. Egois. Selama tidak merugikannya, kenapa harus ditolak. Dia juga perlu bertahan hidup. Begitulah caranya hidup sampai saat ini.
***