- 19 -

1646 Words
Regal pun memarkirkan motornya di dekat bus sekolahnya, mengatakan pada satpam bahwa ia salah satu siswa yang tertinggal bus dan akhirnya menyusul, kemudian mereka berjalan menuju ballroom hotel, tempat acara table manner berlangsung.  Sarung yang tadi di pakai untuk mengikat tubuh Ayla agar tidak terjatuh pun sudah di buka sejak memasuki kawasan Bandung, karena Ayla tidak mau sampai terlihat mengenakan sarung tersebut oleh anak anak sekolahnya, yang mana pasti terlihat aneh banget. Meski Regal sudah mengatakan, tidak mungkin ada anak sekolahnya yang berkeliaran di luar hotel, sementara saat ini tengah berlangsung acara table manner. Dan Ayla tetap mengotot, sebab khawatir siapa tau aja ada yang bolos dari acara dan memilih untuk jalan jalan di kawasan Bandung ini. Mungkin Ayla juga akan lebih memilih jalan jalan ketimbang mengikuti serangkaian acara yang sebenarnya tidak penting itu, tapi ia tak serebel itu sih. Itu jelas hanya fantasinya saja, yang ingin menikmati liburan di Bandung, sebab Ayla dapat di katakan nyaris tidak pernah pergi liburan. Jaket yang tadi dipakai Regal dan Ayla sudah berganti dengan blazer formal berwarna hitam. Acara table manner ini dirancang seperti pertemuan bisnis yang formal. Sekolah mereka yang memiliki jurusan bisnis dan manajemen, membuat para siswa harus menggunakan pakaian bisnis formal dengan ketentuan yang sudah ditetapkan. Ayla juga sudah mengganti sepatu tepleknya dengan pantofel. Dalam balutan blouse biru muda serta blazer hitam yang mengikuti lekuk pinggang Ayla, dan rok sepan beberapa centi diatas lutut, kaki jenjang Ayla tanpa stocking memakai sepatu pantofel hitamnya, Ayla benar-benar terlihat.. sexy.  Begitu komentar Regal dalam hati. Bahkan meski rambut cewek itu acak-acakan karena tertutup helm berjam-jam, dan wajahnya yang agak kucel karena terkena debu selama di perjalanan. Ayla terlihat seperti wanita metropolitan yang smart dan sexy. Regal benar-benar menyukainya. Ballroom hotel sudah dipenuhi meja-meja berbentuk lingkarang yang dikeliling bangku berisi siswa-siswa sekolahnya. Ayla dan Regal berjalan mencari keberadaan teman-temannya. Tentu saja mereka sudah menyiapkan dua bangku kosong untuk Regal dan Ayla agar tidak ditempati oleh yang lain. "Duh, Ayla! Gue kira lo gak bakal sampe, tau. Lo di jalan gak di apa-apain Regal, kan?" Chica segera menyambut Ayla yang kini duduk di sebelahnya. Cewek itu menatap sahabat karibnya dengan khawatir, karena menghabiskan perjalanan dari Jakarta ke Bandung yang mana jaraknya tidak dekat bersama Regal, yang terkenal buaya dan tidak ada obatnya. "Yaampun, Ca, emang gue mau ngapain? Seudzon mulu ya sama gue." Regal menyahuti ucapan Chica, dengan mengelak ucapan cewek itu yang menuduhnya melakukan hal yang tidak tidak, tentu saja dalam konotasi negatif. Yang mana tidak mungkin Regal melakukannya, tepatnya mana berani. Apa lagi sama Ayla, yang segitu galaknya. Ayla tidak menanggapi pertanyaan Chica yang membahas perihal perjalanannya dengan Regal. Sebab, memangnya apa yang mau di bahas? Perjalanan itu sudah sangat melelahkan tanpa harus di ceritakan kembali, dan Ayla tidak memiliki banyak energi untuk melakukan hal tersebut – bercerita panjang lebar tentang perjalanannya sampai ke Bandung. Maka, Ayla pun mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan hal lainnya. "Bagi pembersih muka lo dong, Ca. Tebel nih muka gue dibedakin debu,” kata Ayla, seraya mengambil sebuah tisu yang ada di meja makan tersebut, lalu menempelkan ke wajahnya yang mana langsung di penuhi oleh debu, seolah debu dari wajahnya berpindah pada tisu tersebut. “Ih, gila! Debu semua itu ya!” Chica bergidik ngeri, sampai bulu kuduknya merinding, melihat bagaimana tisu yang Ayla gunakan itu di penuhi oleh debu yang di transfer dari wajah Ayla. "Tapi masih cantik kok, Ay." Regal memberikan komentarnya, menanggapi ucapan Ayla yang tengah membahas debu di wajahnya yang sudah segitu tebal. "Yeuuu, geli banget gue dengernya." Fahlan segera berkomentar saat mendengar ucapan Regal, yang mana sarat akan rayuan murahan yang di lontarkan cowok itu pada Ayla, yang mereka semua ketahui dengan jelas bahwa Regal memang mengincar Ayla. Hal tersebut segera disambut tawa teman-temannya di meja itu. "Masih gak puas aja perjalanan Jakarta - Bandung dipeluk-peluk Ayla." Satrya ikut berbicara, sesekali mendengarkan instruksi pengisi acara yang menjelaskan tentang manner saat makan di pertemuan bisnis. Yang lainnya pun turut melakukan hal yang sama, sambil sesekali balas membalas ucapan, tapi tetap berusaha untuk memperhatikan public speaker tersebut. Bukan karena mereka begitu taat dan memperhatikan, hanya saja karena banyak guru yang memantau apa bila mereka tidak memperhatikan dengan benar, bisa di hampiri untuk di tegur dan kembali untuk memperhatikan materi dengan baik. "Gue klarifikasi yaa teman-teman, sepanjang gue ngebonceng Ayla, itu tangan belom pernah nyangkut di pinggang gue." Yah, kecuali saat Ayla tertidur tadi sih. Tapi ia tidak perlu mengatakannya, sebab hal tersebut terjadi dalam keadaan Ayla yang tidak sadar, yang artinya Ayla tidak ada consent ke arah sana karena terlalu mengantuk dan terlelap di punggungnya. Yang menyelipkan tangan Ayla ke pinggangnya juga Regal sendiri, bukan atas dasar keinginan Ayla sendiri. Jadi, hal tersebut jelas tidak masuk ke dalam hitungan Regal, meski ia sendiri menyukai hal tersebut karena terkesan manis meski bukan atas dasar keinginan Ayla. Dan hal itu jelas tidak perlu di ceritakan pada teman temannya, biarkan hanya ia saja yang mengetahui hal tersebut, Ayla juga tahu sih sebab saat ia terbangun, tangannya masih berada di dalam sweater aku. Dan ia sempt bertanya juga kenapa bisa ke sana, sebab seingatnya ia sama sekali tidak mengarahkan tangannya melingkar di pinggang Regal. Regal pun akhirnya menjelaskan bahwa itu memang ulahnya, lantaran tangan Ayla yang menggantung begitu saja dan di khawatirkan Ayla akan jatuh. Jadi Ayla tidak memprotes dan hanya menerimanya saja, meski ia juga tahu Regal memang sengaja cari cari kesempatan. Chica dan yang lainnya jelas tertawa. Ternyata kedekatan Regal dan Ayla belum sampai tahap Ayla mau pegangan saat naik motor. Berasa Regal tukang ojek beneran. "Coba nanti malem ajak Ayla keliling Bandung, Re. Kan dingin tuh di Bandung malem-malem, siapa tau hati Ayla tergugah buat meluk lo." Seorang cewek yang tidak biasanya bergabung dengan mereka ikut berkomentar tentang pembicaraan mereka. Regal mengenalnya karena cewek itu teman sekelasnya saat kelas sepuluh, dan saat ini menjadi teman sebangku Chica, namanya Maura "Thanks banget sarannya, Ra. Bakal gue coba deh." Lalu Regal menoleh pada Ayla. "Yuk, Ay cari jajanan malem di Bandung." Regal pun kembali mengalihkan perhatiannya pada Ayla, mengajak cewek itu untuk melakukan agenda di malam hari, mumpung lagi Bandung. Kebetulan sudah lama jug aia tidak menghabiskan waktu untuk liburan, meski kali ini bukan liburan tapi kan sekalian, anggap aja liburan yang di bayar. "Males. Mending tidur. Capek, tau." Ayla menyahut dengan singkat dan padat, menjelaskan bahwa dirinya sudah lelah dan mengantuk. Sebaiknya mereka memang tidur, bukan malah main main di malam hari. "Gue juga capek sih, gue nemenin lo tidur aja deh. Sekalian di hotel kan." Kata Regal yang habis di tolak untuk ajak main Ayla, malah segera menyesuaikan jawaban Ayla dengan jadwalnya. "Pulang ke Jakarta bawa oleh-oleh dong." Cetus Azrial geli. Membayangkan perihal Regal yang mengatakan tidur dan hotel dengan santainya, dan mengerti arah pembicaraan tersebut untuk hal hal yang lebih seru. "j*****m mulu ya otak lo pada!" Chica melotot pada Regal dan Azrial. Mengomel karena bayangan Azrial dan Regal yang sudah menyimpang ke arah yang tidak tidak. Sementara Ayla kini sudah berdiri, setelah menerima sabun cuci muka mikik Chica dan bersiap untuk pergi ke toilet dan membersihkan wajahnya dari debu yang menempel dengan tebalnya di wajah cewek itu. Ia tidak bisa beraktifitas dengan tenang ika wajahnya sekotor ini, maka ia perlu membersihkan wajahnya terlebih dahulu agar lebih fresh dan santai di bawa bekerja. “Lo mau cuci muka gak, debu di muka lo kayaknya lebih tebel.” Ayla menawarkan Regal, mengingat cowok itu yang lebih banyak membawa motor hingga sampai ke Bandung ini, yang mana berarti wajah cowok itu lebih tebal di bedakkan debu di bandingkan dirinya. Regal pun menoleh pada Ayla, untuk menyahuti cewek itu. Ia berpikir sebentar, hingga akhirnya ikut sendiri. “Ayuk deh, muka gue juga udah tebel banget ya sama Debu?” Regal meminta pendapat Ayla terkait wajahnya itu. Dengan menunjukan wajahnya yang memang berwarna kecoklatan lantaran habis panas panasan. Jika wajahnya saja sampai berwarna kecoklatan, apa kabar kondisi kulit kami yang lain yang juga terkena debu di jalanan, yang bisa jadi menempel di kulit mereka. Oke, rasanya tidak mungkin bisa di selesaikan dengan cuci muka dan hal tersebut harus mandi untuk memberishkan diri. Yang mana tentu saja tidak akan mandi berdua. Mungkin Regal sempat berpikir seperti itu, tapi Ayla pasti akan membantahnya dan melotot pada cowok itu yang otaknya memang kelewat aktif dalam urusan atau hal hal yang berbau dewasa. Mereka berdua pun memutuskan untuk ke toilet sejenak dan membersihkan wajah mereka dari debu debu yang sangat tebal menempel di wajahnya, karena memang kendaraan kendaraan yang mereka temui di d******i oeh truck truck barang yang mengerikan. Acara table manner terus berlangsung selama dua jam ke depan. Wakti sudah menunjukan pukul lima sore, yang berarti mereka bisa meninggalkan ballroom hotel dan menuju kamar yang sudah dipesan oleh pihak sekolahnya. Ketika Ayla dan yang lain hendak beranjak, seorang siswi akuntansi menghampiri mejanya. "Regal!" Teriaknya dengan nada suara kesal saat menemukan Regal yang sedang menghabiskan dessertnya. Teman-temannya menoleh ke asal suara, begitupun Regal. Rupanya itu Meylita, siswi akuntansi yang Regal katakan sebagai pacarnya. "Aku chat kamu gak ada yang dibales, ditelponin juga gak diangkat, aku cari-cari kamu diantara temen-temen kamu juga gak ada, terus sekarang kamu udah ada disini. Kamu kemana ajaaa?" Lita mengomel dengan penuh emosi karena merasa tidak dikabari sama sekali oleh Regal. Mendengar penuturan Lita, teman-temannya pun dengan malas langsung meninggalkan Regal. Males banget nonton drama Regal dan pacarnya. Meskipun Fahlan, Satrya, dan Azrial seneng bisa deket-deket Lita. Tapi mendadak kesenangannya hilang saat sadar bahwa dia pacarnya Regal. Regal yang beberapa menit lalu masih merayu Ayla.  "Sori, Lit. Aku ketinggalan bis tadi. Hape ditaro tas, dan aku nyusul kesini naik motor. Jadi gak sempet buka hape." "Terus kamu naik motor kesini sendirian." "Iya." Ayla belum berjalan jauh dari meja yang tadi mereka tempati. Ia masih mendengar percakapan Regal dan Lita. Ayla tertawa kecil saat mendengar Lita yang sepertinya percaya dengan kebohongan Regal. Ia benar-benar heran kenapa cewek secantik dan sepintar Lita bisa jatuh ke pelukan Regal. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD