- 18 -

1347 Words
Setelah tiga kali berhenti untuk beristirahat dan makan, akhirnya motor Regal sudah memasuki kawasan Bandung. Angan-angannya yang ingin tidur di bus selama perjalanan sirna sudah, tergantikan dengan kelelahan karena mengendarai motor sampai Bandung. Tapi ini bukan pengalaman pertama Regal berkendara keluar kota, berbeda dengan Ayla, yang pertama kali ke Bandung naik motor. Pantatnya benar-benar sudah mati rasa. Punggungnya juga pegal-pegal. Udara Bandung masih terasa sejuk meski siang hari. Lalu lintas di Bandung pun tidak jauh berbeda dengan Jakarta, sama-sama macet. Tapi kota ini terlihat lebih teratur, serta memiliki banyak keindahan yang menjadi daya tariknya.  Banyak kafe kafe unik yang terus bermunculan di kota ini, serta kawasan kawasan yang kerap kali memancing perhatian kaum milenial untuk berkunjung ke kota ini. Terlebih lagi, pesona di sekitar kota Bandung, seperti di Lembang atau pun Ciwidey yang menjadi surga wisatawan untuk pemandangan alam. Hamparan pemandangan dari ketinggian, gunung tangkuban perahu, warna hijan dan barisan awan yang tampak memanjakan mata, serta udara dingin nan sejuk yang membuat para wisatawan begitu mencintai pesona kota kembang ini. Kota ini juga terkenal dengan ramainya kampus yang kerap kali di jadikan kiblat oleh mahasiswa di luar pulau untuk menimba ilmu di sini, karena memang kampus di sini banyak sekali. Perguruan tinggi negeri paling bergengsi juga ada di kota ini, belum lagi perguruan tinggi swasta yang tak kalah terkenal pun di sini bertebaran. Mungkin jika di petakan, empat puluh persen warga di kota ini di isi oleh mahasiswa yang merantau untuk menimba ilmu. "Kayaknya yang depan itu deh, Re hotelnya. Kalo gak salah. Coba kesitu." Ayla menunjuk sebuah hotel yang berada tidak jauh dari posisinya saat itu. Tangannya tampak memegangi ponsel, untuk melihat petunjuk jalan yang ia dapatkan dari aplikasi peta yang menjadi pedomannya untuk bisa sampai ke tempat ini. Ayla berusaha mencocokan foto di ponselnya dengan sebuah gedung yang berada tak jauh dari tempatnya. Ia mendapatkan foto gedung itu dari google, dan sepertinya memang gedung di depanya itu adalah hotel tempat di adakannya acara untuk sekolah mereka. Regal yang melihatnya menuruti ucapan Ayla. Cowok itu mengembuskan napas lega karena sebentar lagi akan sampai, perjalanan panjang dan melelahkan ini akan berakhir juga. Setidaknya ia bisa menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di acara table manner itu. “Lagi, ngapain sih, Cuma segala table manner aja harus ke Bandung. Emang di Jakarta gak ada hotel ya?” Ayla mengeluh, mempertanyakan soal keputusan dan peraturan sekolahnya itu yang sampai jauh jauh ke Bandung hanya untuk mengadakan acara pelatihan makan yang sesuai dengan manner yang berlaku itu. Yang terpenting itu kan ilmunya, dan sesuai dengan namanya ‘ table manner ‘ bukan kah tandanya yang terpenting ada meja? Memangnya di Jakarta gak ada meja yang bisa di jadikan untuk pelatihan table manner apa? “Ya, biar bisa ngumpulin dana aja sih, demi guru guru bisa liburan gratis ke Bandung.” Regal menyahut, menanggapi ucapan Ayla dengan tak kalah sinis, menganggap fenomena jalan jalan sekolah ini memang di jadikan sebagai ajang untuk refreshing para guru yang ingin ke luar kota. “Nanggung banget sih Bandung, bukan Bali aja sekalian.” Ayla memprotes lagi. Regal tertawa mendengar ucapan Ayla. “Tar lo protes, harganya kemahalan,” kata Regal yang mulai memahami sifat Ayla yang lumayan perhitungan jika berhubungan dengan uang. Ayla berdecak. “Yaa, pake uang anggaran pendidikan lah. Tiap tahun anggaran buat sekolah negeri kan gede, harusnya gak perlu mintain uang dari siswa lagi dong. Toh, gedung sekolah kita juga gak di renovasi tiap tahun, pasti dana anggarannya numpuk kan tuh?” Regal berdecak takjub mendengar jawaban Ayla. Rasanya, ia belum pernah bertemu dengan cewek yang sampai memperhitungkan uang anggaran pendiidikan untuk sekolah negeri, hingga berpikir harus di alokasikan pada kegiatan lain. Bukannya biasanya para siswa hanya sibuk nurut saja, dan gak ada yang mencari tahu hal hal seperti itu? “Tapi repot, Ay kalo ke Bali.” Regal memilih menanggapi ucapan Ayla yang sinis itu dengan santai. “Repot apaan, tinggal naek pesawat. Gak sampe dua jam, udah sampe. Lamaan ke Bandung naek motor gini.” “Nah itu! Bayangin kalo kita ketinggalan pesawat, nyusul ke Bali naik motor pegel banget.” Ayla menatap punggung di hadapannya itu dengan horor. “Hih! Siapa juga yang mau telat lagi, kapok gue telat gini malah bikin sengsara sendiri.” Regal tertawa pelan mendengar Ayla mengeluh karena kejadian hari ini yang memang di sebabkan karena pencarian rok sepan cewek itu hingga larut malam. Nada suaranya yang ketus justru membuat hal tersebut terdengar menarik. Yaah, Regal keseringan di tanggapi manis oleh cewek cewek yang ia dekati sih. Jadi, melihat sikap Ayla yang ketus dan dingin itu ia malah menyukainya. Terasa lebih natural dan menggemaskan saja, serta seperti menjalani nuansa baru yang berbeda dengan hal hal lain yang ia jalani sebelumnya. Sudah berapa kali Regal mengatakannya, bahwa Ayla memang luar biasa, dan Regal seolah tak bisa untuk tidak berdecak kagum dengan segala sikap cewek itu yang kelewat tidak biasa. Justru itu lah yang membuat Ayla terlihat sangat menarik di matanya. "Rasanya gue gak mau ikut acaranya, Ay. Pengen langsung tidur aja di kamar hotel." Regal kini mengeluh lagi, merasakan punggungnya yang siap remuk lantaran terus menegak sejak tadi. Belum lagi ia harus menanggung beban tubuh Ayla yang bersandar di punggungnya, meski memang ia yang menyuruh sih, tapi kan ya lelah juga. Ayla yang mendengarnya jadi merasa tidak enak, ia dapat memahami betapa lelahnya Regal melakukan perjalanan ini. Meski tadi memang sempat gantian, yang mana Cuma sebentar sih, sehingga lebih banyak Regal yang membawa motor. Ayla pun kembali meminta maaf perihal kesalahannya itu. "sori ya, Re. Gara-gara gue kita jadi ketinggalan bis gini." Katanya, teringat dengan penyebab mereka tertinggal bus pagi ini. "Emang. Gara-gara lo teledor. Makanya apa-apa tuh disiapin. Perasaan Chica udah ingetin berkali-kali kalo lo belom beli rok sepan." Regal menanggapinya dengan membenarkan ucapan Ayla, dengan nada suaranya yang terdengar ramah, alias cowok itu tidak terlalu serius dengan ucapannya. Ayla hanya cemberut. Ia memang tidak pernah berharap Regal jadi cowok yang manis sih, alih-alih menjawab 'Iya, gapapa, Ay' malah semangat ikut nyalahin.  "Manusia kan tempatnya salah, dosa, dan lupa. Kecuali kalo gue titisan dewa. Malah di drama korea, dewa aja bisa khilaf." Ayla berkilah, dengan membawa bawa perihal kehidupan di drama korea yang terkadang tidak masuk akal itu, dengan membandingkannya dengan dirinya sendiri. Yaa, di drama korea rasanya apa pun bisa terjadi. Bahkan insiden penculikan dan pembunuhan yang menimpanya saat kecil pun sudah banyak terjadi di drama korea. Ayla tertawa pelan, sepertinya asal usul kehidupannya ini bisa di jual pada penulis drama korea, pasti sangat seru. Belum lagi upaya upaya yang di lakukan kakeknya untuk melenyapkannya, lantaran secara resmi dirinya sudah dinyatakan tiada. Ayla pikir, yang akan berbuat jahat kepadanya hanya dari pihak lawan bisnis keluarganya, yang ingin melenyapkan mereka sekeluarga. Ternyata, demi menjaga nama baik keluarganya, dan tidak memperpanjang masalah penculikan yang di samarkan menjadi kecelakaan agar tidak ramai dan membuat harga saham perusahaan keluarganya itu menjadi tidak stabil, kakeknya memilih jalan untuk menetapkan bahwa Ghaira dinyatakan meninggal. Entah siapa yang mengisi liang kubur yang bertuliskan nama dirinya itu. Ayla bahkan tidak mau peduli, dan hanya menginginkan hidup damai dengan identitasnya saat ini. Yang jauh dari huru hara persaingan bisnis dan keluarga besar yang hanya mengagungkan sosok anak lelaki. Pantas saja Garin tidak pernah mencarinya, cowok itu pasti menikmati perannya sebagai cucu lelaki satu satunya dari pak tua kaya raya itu. Sejak dulu, Garin kan memang tidak suka jika Ayla mengikutinya. "Eh, lo nonton drama korea juga, Ay? Gue kira lo gak suka sama cerita romantic clise gitu." Ayla segera tersadar dari lamunannya saat Regal justru lebih tertarik dengan ucapan Ayla yang membahas drama korea. Cowok itu berpikir, Ayla tidak akan menonton drama yang memang sedang di gandrungi anak muda itu. Rupanya, yaa Ayla masih seperti cewek pada umumnya. "Buat selingan sambil ngewarnain." Ayla menjawab singkat, tanpa perlu memperjelas soal hobinya yang lain itu. Ia memang menyukai kok ragam cerita yang ada di drama korea yang memang menarik itu. Motor Regal sampai di depan hotel tempat acara sekolahnya berlangsung. Di halaman hotel, terlihat ada tiga bus dari sekolahnya terparkir disana. Masing-masing jurusan menempati satu bus, karena ukuran bus yang dipesan dapat menampung tujuh puluh orang. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD