Langit malam berwarna gelap kemerahan, disertai reriuh angin yang menerbangkan daun daun di pepohonan. Bulan atau pun bintang sama sekali tidak menampakkan dirinya, hanya awan tebal yang seolah membungkus langkt malam yang terlihat mencekam, diiringi suara suara guntur yang saling bergantian dengan cahaya kilat dan petir yang saling menyambar.
Cuaca malam yang tidak bersahabat, di tambah waktu sudah menunjukan pukul 23:30 yang mana nyaris tengah malam. Dalam lingkungan yang tampak sepi itu, nyaris semua pintu dan gerbang rumah warga tertutup rapat, seolah menyembunyikan semua warga yang ada di dalamnya.
Kawasan tersebut tampak sepi, sebab memang daerah tersebut bukan merupakan pusat kota, yang mana justru merupakan kawasan yang jauh dari perkotaan. Kawasan yang tampak asri, karena biasa di jadikan tempat liburan warga ibu kota, yang terkenal sejuk dan menenangkan, pada malam itu tak ubah seperti kawasan paling menyeramkan yang pernah sang gadis kecil itu lewati.
Kaki kecil Ayla berusaha berlari. Langkah langkah pendek yang di ambilnya, membuat langkah anak lelaki di depannya turut melambat karena mengikuti ritme gadis kecil itu.
Peluh sudah bercucuran di pelipis anak lelaki itu, hingga berkali kali berusaha menoleh ke belakang, yang mana ada sekelompok orang mengejar mereka berdua.
“Garin, kaki Aila sakit.” Ayla mengeluh, merasakan kakinya yang mulai kesakitan karena sudah berlari sejauh ini, yang mana lebih sering di seret oleh sang kakak yang berlari di depannya seraya menggenggam telapak tangannya.
Garin mengatur napasnya yang tidak beraturan, ia menoleh ke belakang, lalu melihat gerombolan kawanan berbaju hitam itu semakin mendekat. Hingga membuatnya ketakutan setengah mati.
“Aila gak mau lari, kaki Aila sakit.” Ayla menangis keras, merasakan jari jari kakinya yang mulai lecet, karena berusaha terus berlari.
“Aira, denger Garin.” Anak lelaki itu berusaha menenangkan sang adik yang kini menangis semakin histeris. “Kita mau di culik Aira, Mama sama Papa udah meninggal, dan orang orang itu juga bakal bunuh kita kalo kita diem aja kayak gini.”
Gadis kecil yang baru berumur lima tahun itu seolah melupakan rasa sakit yang beberapa saat lalu dirasakannya, saat harus mencerna kata “dibunuh” dan “diculik” yang terdengar menyeramkan namun begitu nyata.
“Ayok, kita harus sama sama.”
Ayla mengikuti anak lelaki itu, yang mana membuatnya kembali berlari. Tubuh kecil itu memasuki g**g g**g sempit yang tampak gelap dan menakutkan, Ayla sampai bergidik ketakutan, tapi ia lebih takut dengan orang orang yang mengejarnya di belakang.
Garin berusaha memastikan komplotan orang yang mengejarnya itu, hingga tak begitu terlihat karena mereka tak berhasil mengikuti Garin dan Ayla yang memasuki jalanan sempit dan gelap ini.
Garin menghentikan langkahnya sejenak, diikuti Ayla yang juga tampak kelelahan. Ia kembali memastikan bahwa posisinya saat ini aman.
Lalu, ia mengajak Ayla memasuki sebuah bangunan tua yang gelap dan tidak terawat, berupaya mencari tempat persembunyian paling aman dari para penculik yang membunuh orang tuanya.
“Aira, dengerin Garin.” Garin berusaha bicara dengan sang adik, yang kini tampak meremat bajunya sendiri saking ketakutan. “Aira tunggu di sini, Garin mau ke luar cari bantuan buat nolong kita. Aira jangan ke mana mana, di sini aja, kunci pintu ini dan jangan di buka kecuali Aira denger suara Garin.”
Ayla menelan ludahnya yang terasa keras, mata gadis itu berlinang, berusaha menahan tangis karena tak mau ditinggal sendirian di tempat yang menakutkan ini.
Garin menggenggam kedua tangan sang adik, berusaha menenangkan tangan yang kian gemetar itu. “Garin janji bakal balik lagi, Aira tunggu di sini ya. Jangan kemana mana. Jangan nangis. Jangan teriak. Kalo Aira nangis dan teriak, nanti bakal ketahuan.”
Ayla menggeleng keras. “Aila gak mau ditinggal, Aila takut.”
“Kalo Garin gak cari pertolongan, kita gak akan bisa pulang.”
“Aila mau ikut Galin.”
“Kaki Aira lecet, Aira gak bisa lari.”
“Aila takut Galin.” Gadis itu kembali menangis, dengan tubuh yang semakin gemetar ketakutan, karena takut ditinggal sendirian oleh sang kakak.
“Garin janji akan cari bantuan, Garin bakal balik lagi ke sini buat jemput Aira, kita bakal pulang.”
Setelah berusaha untuk meyakinkan Ayla, akhirnya anak lelaki itu keluar dari bangunan tua yang gelap dan tidak terawat itu. Meninggalkan sang adik sendirian di sana.
Gadis kecil itu meringkuk sendirian, di dalam bangunan yang berdebu dan usang, dengan pencahayaan minim yang nyaris tidak ada. Tubuhnya terus gemetar ketakutan, tangisnya ingin sekali terlepas, tapi ia teringat perkataan sang kakak bahwa ia tidak boleh menangis. Alhasil, gadis itu hanya meringkuk dan membungkus rasa takutnya seorang diri.
Suara suara yang ia dengar di dalam bangunan tersebut, membuatnya semakin ketakutan. Bayangan bayangan hal menyeramkan seolah berkumpul di kepalanya, juga ketakutan akan gerombolan berbaju hitam yang tadi mengejar mereka.
Ayla menghabiskan waktu sepanjang malam dengan meringkuk ketakutan, ia bahkan berkali kali menahan napasnya saat mendengar suara kasak kusuk dari luar, yang ia khawatirkan adalah penculik tadi.
Hingga pagi menyambut, dan sinar matahari menelusup memasuki celah bangunan ini, Ayla masih meringkuk di sana. Menantikan Garin kembali untuk menjemputnya.
Hingga hari kembali malam, Ayla sama sekali tak bergerak dari posisinya. Gadis kecil itu bahkan tak bersuara sedikit pun, ia tidak menangis sama sekali, sesuai dengan perintah Garin. Ia hanya menunggu sang kakak datang dengan bantuan yang dijanjikan itu, yang mana hingga berhari hari tak kunjung datang.
Tubuh kecil yang tidak diisi asupan makanan itu pun terbaring lemah di lantai kayu yang penuh debu. Ayla tak lagi mengharapkan kedatangan Garin untuk membawanya pulang, ia hanya berharap ada seseorang yang akan menolongnya keluar dari ruangan pemgap ini.
•••
Chill
Sebuah caption tertulis pada sebuah postingan yang menampilkan beberapa anak berseragam SMA, di depan papan karambol. Gerombolan siswa itu tampak tercoreng tepung yang nyaris menyerupai bedak, yang mana menandakan mereka kalah dalam permainan.
Ayla berdecak pelan, melihat salah seorang yang berdiri di sana. Seorang siswa yang tampak tersenyum tipis, tapi menyiratkan bahwa ia menikmati hidupnya yang terlampau mudah itu. Bahkan dalam unggahan sosial medianya, tak jarang ia membagikan berbagai kegiatan yang tengah di jalaninya. Singkat kata, kegiatan yang memperlihatkan bahwa cowok tersebut tampak bahagia tanpa ada beban sama sekali.
“Chill.” Ayla membaca caption tersebut untuk kesekian kalinya, diiringi tawa sinis yang kini terbit di bibirnya.
Ayla berdecak lagi. Siapa yang dulu pernah percaya pada orang t***l yang ada di foto ini. Yang terlihat begitu menikmati hidup sebagai cucu konglomerat yang terkenal seantero jagat raya. Ayla harusnya sadar, sejak dulu ia memang tidak pernah diterima. Garin tidak suka diikuti, maka saat ada kesempatan untuk meninggalkannya, tentu saja tidak di sia siakan.
Di dalam kamarnya, di depan meja belajar, tangan Ayla kini mencoret coret halaman belakang buku tugasnya. Lalu menuliskan sebuah nama yang sudah ditinggalkannya sejak lama.
Ghaira.
Ayla tersenyum sinis membaca nama tersebut. Lalu cewek itu kembali menggerakkan penanya, untuk menambahkan kata kata di buku tulisnya.
Is dead.
Maka, tulisan itu lengkap menjadi sebuah kalimat yang berisi : Ghaira is dead.
Saat itu, umurnya memang baru lima tahun. Tapi ia sudah bisa menulis dan membaca. Hanya saja dalam pelafalan menyebut namanya begitu sulit, sehingga ia tak mampu menyebut namnya sendiri.
Ternyata, nama tersebut memang bukan untuknya. Nama tersebut memang ditakdirkan mati. Hingga lahirlah kembali sosoknya yang tumbuh hingga detik ini.
Ayla. Namanya Ayla. Bukan Ghaira.
Kehdiupannya saat ini bagaikan kehidupan kedua bagi Ayla. Ia terlahir sebagai anak dari keluarga pemilik grup bisnis besar di negara ini. Selintas, memang terdengar seperti khayalan.
Jika dalam negeri khayalan, sang putri dari kerajaan mewah itu berusaha untuk kembali pada singgasananya, maka dalam kenyataan ini Ayla tidak pernah mau kembali ke tempat itu. Ia menikmati kehidupannya saat ini, sebagai anak dari ibu yang merawatnya dari kecil. Masa kecilnya justru lebih banyak terjadi di tempat ini, ketimbang di istana megah yang mengurungnya.
Hal-hal mengerikan lainnya seolah berdatangan, fakta paling menakutkan yang Ayla jalani, alasan mengapa ia lebih memilih dianggap mati ketimbang mengembalikan namanya. Kakeknya menginginkannya mati. Ia sudah di anggap mati, sang kakek yang begitu memikirkan reputasi bisnis dan segala macamnya itu, justru mendukung aksi tersebut hingga turut berusaha mencarinya - untuk ditiadakan.
Tubuh Ayla kembali gemetar ketakutan, mengingat masa kecilnya yang kelam dan menakutkan.
Ayla hanya perlu hidup. Hidup dalam diam seperti ini, tanpa menarik perhatian, tanpa menjadi sorotan. Ia menikmati kehidupan heningnya seperti sekarang, memiliki ibu angkat yang menyayanginya dengan sepenuh hati, menciptakan memori masa kecilnya yang baru - meski tidak terlalu membahagiakan juga, karena hilangnya sosok ayah dalam hidup mereka, serta teman teman yang jumlahnya dirasa lebih dari cukup.
Dalam lamunannya, sembari menatap sosial media milik Garin - sang kakak yang tampak bersahaja dan bahagia - tiba tiba ponselnya bergetar dan menampilkan pop up untuk pesan masuk. Nama Regal muncul di sana.
Regal : Ay
Regal : Udah tidur blm?
Ayla mendengus, mengingat sosok cowok ini yang berusaha keras untuk mendekatinya.
Ayla : Udah
Ayla menutup aplikasi tersebut, lalu menyamgungkan pengisi daya ke ponselnya. Ia tak peduli lagi saat ada pesan masuk ke ponselnya, yang sudah bisa di tebak pasti dari Regal. Dibiarkannya saja pesan tersebut hingga pagi menjelang, sebab Ayla tahu pasti isi pesannya tidak mungkin penting. Regal hanya basa basi busuk yang Ayla sendiri tidak tertarik dengan hal tersebut.
Ayla kembali ke tempat tidurnya. Hari sudah semakin gelap, jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia tak memiliki kegiatan apa pun lagi, maka lebih baik terlelap di saat seperti ini, dari pada memainkan ponsel sampai malam dan melihat lihat hal yang tidak jelas.
Ia juga sudah selesai mewarnai buku yang tadi siang dibeli bersama Regal. Ayla tak mau buru buru menghabiskannya, karena uang jajannya semakin menipis dan tak mampu beli buku mewarnai baru dalam waktu dekat ini.
***