- 8 -

2217 Words
Motor satrya Regal keluar dari parkiran sekolah untuk menuju pintu gerbang. Di SMK Negeri, memiliki motor satrya terlihat sangat luar biasa. Sebagian besar para siswa menggunakan angkot atau metromini ataupun alat transportasi masa yang lain. Belum banyak yang menggunakan kendaraan pribadi. Meski beberapa siswa ada yang membawa motor, dan itupun hanya motor matic atau bebek milik Bapaknya. Yang memiliki motor satrya tentu saja tidak banyak, motor itu dianggap paling keren di SMKN 1998. Dalam setiap angkatan, hanya ada 4 sampai 5 orang yang mengendarai satrya. Dan Regal termasuk salah satunya. Para pemilik satrya biasanya cowok yang dikenal seantreo sekolah saking hitsnya. Tapi, Regal, masuk ke dalam cowok paling available untuk dimintai tebengan. Banyak para siswi yang meminta untuk diantar pulang oleh Regal, tentu saja bukan karena mereka menyukai Regal, tapi karena kerennya terlihat dibonceng dengan satrya. Serta tampang Regal kan lumayan, meski tidak setampan Satrya. Regal tidak mengelak bahwa ia menyukai banyak cewek. Bahkan, motor satrya sebenarnya menjadi aset yang sangat berharga dalam operasinya memikat cewek. Orang tuanya memang bukan CEO di grup perusahaan super besar, tapi yang pasti pekerjaan orang tuanya lebih berkecukupan dibanding orang tua siswa lainnya di sekolah ini. Ayahnya seorang PNS yang bertugas di Balai Kota, sedang Ibunya mengelola toko baju di Tanah Abang. Gaji PNS memang lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga, terlebih Ayahnya malah mendapatkan rumah dan mobil dinas. Mungkin jika Regal bersekolah di SMA Swasta nan elite, atau di SMA 70 atau SMA 6 Jakarta, mungkin uang jajan Regal tidak seberapa dibandingkan mereka. "Regal! Balik bareng doongg." Suara keras tiba-tiba memanggilnya, diikuti suara sepatu berlari menuju kearah motor Regal. Regal menghentikan motornya yang hampir sampai gerbang dan menoleh pada suara cewek yang memanggilnya. Ternyata Ririn, teman sekelasnya sejak kelas sepuluh. Regal tidak langsung menjawab, ia menggaruk tengguknya yang tidak gatal, lalu matanya menoleh ke jalan raya seperti mencari seseorang. "Yah, sori, Rin. Gue mau jemput cewek gue." "Hm, okedeh." Ririn cemberut, tapi kemudian tersenyum dan berjalan melewati gerbang lebih dulu. Regal berbohong. Dia tidak menjemput Febi. Hanya saja, ada tujuan lain, dan tidak enak untuk memberitahu Ririn. Regal cukup mengenal Ririn, maka jika Regal memberitahu alasan yang sesungguhnya, Ririn mungkin tidak terlalu suka. Motor Regal lanjut berjalan, ia melihat Ririn sudah naik ke metro mini yang melintas tepat di depan gerbang sekolahnya. Lalu ia mengarahkan motornya ke halte di seberang. Dan menghentikan motornya di depan cewek yang sedang menunggu angkot, serta tidak kebagian tempat duduk di halte tersebut. "Mau bareng gak, Ay?" Ajak Regal, sambil mengulurkan helm untuk Ayla. Dengan senang hati Ayla menyambutnya. "Yuk, angkot lama banget. Lumayan ngirit dua ribu, bisa beli teh sisri." Lalu Ayla naik ke boncengan Regal. Regal tertawa kecil. Ia tau hari ini Ayla pulang dengan angkot karena Azrial tidak masuk, dan Satrya ataupun Fahlan tidak mau mengantarnya karena rumah mereka sama sekali tidak searah. Mengantar Ayla pulang kemudian ke rumah mereka, itu benar-benar membuang bensin, lebih efisien Ayla naik angkot dan bayar dua ribu. Dengan catatan lama menunggu lalu kepanasan di dalam angkot. "Kalo pulang bareng gue aja, Ay. Rumah gue gak terlalu jauh dari Azrial, searah juga ke rumah lo." Kata Regal, sambil memgemudikan motornya. "Emang lo gak ngojek?" Regal berdecak. Istilah Fahlan jadi tertular pada Ayla. Regal tau, Ayla gak buta, setiap hari Regal pulang dengan cewek yang bahkan tidak Ayla kenal, saking seringnya berganti. Berdasarkan info dari Chica -Ayla sama sekali tidak minta diceritakan- mereka bukan pacar Regal. Tapi Regal emang hobi jadi tukang ojek. Apalagi jika cewek-cewek yang dibeberapa bagian tubuhnya berisi, lumayan kan naek satrya duduknya jadi merosot. "Kalo lo mau pulang sama gue, gue pensiun ngojek dong." "Okesih. Seenggaknya sama lo dikasih pinjem helm, gak panik kalo ketemu polisi. Gak kaya sama Azrial." "Mampir ke tukang es pisang ijo yuk, Ay. Enak kayaknya panas-panas gini makan pisang ijo." "Di traktir ga? Duit gue abis." Regal tersenyum dibalik helmnya. Perkataan Azrial memang benar, Ayla tidak menolak sesuatu yang menguntungkan baginya. Regal tidak menganggap Ayla matre, karena sikap Ayla jelas terang-terangan, sama sekali tidak tersirat. Dan Regal sama sekali tidak merasa di rugikan. "Iya, gue yang bayar." "Makasih. Pasti jajan lo banyak." Tidak lupa, Ayla akan mengatakan makasih tanpa ekspresi. Tidak pernah ada cewek yang membahas uang sakunya saat ditraktir. Biasanya mereka hanya akan mengatakan makasih dan tersenyum malu-malu, lalu mengatakan tidak enak atau apalah. Respon Ayla selalu berbeda dengan cewek kebanyakan. Tidak salah lagi, Regal memang menyukai Ayla dengan segala kepribadiannya yang unik. *** Bel pulang sekolah baru saja berbunyi beberapa menit yang lalu, Ayla masih merapikan buku buku pelajarannya ke dalam tas. Cewek itu tampak kerepotan, karena tak hanya memasukan buku pelajarannya saja, melainkan juga memasukan buku mewarnai beserta pensil warnanya. Guru yang tadi mengajar memang tidak begitu memperhatikan murid murid, metode menerangkan guru itu juga lebih sering bercerita pengalaman hidupnya yang Ayla tidak ingin tahu juga. Dari pada ngantuk, dan mendengarkan ocehan guru tersebut yang semakin tidak jelas, Ayla memilih mengisi waktu dengan mewarnai.   Azrial sudah melintasi meja Ayla, untuk pulang duluan. Sementara Regal, kini justru malah berpindah tempat duduk di sebelah Ayla.   Hal tersebut, kontan membuat cewek itu menoleh, lalu menatapnya galak. “Apaan?”   “Pulang bareng lagi yuk, Ay?” ajak Regal, seraya tersenyum pelan.   Ayla berpikir sebentar, sambil melihat jam di ponselnya. Atas beberapa pertimbangan, serta merasa tidak di rugikan sama sekali, akhirnya Ayla berkata. “Yuk.” Kata cewek itu seraya berdiri dari duduknya. Regal tersenyum lebar. Ia sungguh menyukai sikap Ayla yang tidak banyak basa basi, dan tidak ribet seperti cewek cewek pada umumnya. Ayla menyetujui suatu hal dengan beberapa pertimbangan, tapi tidak terkesan gampangan. Mungkin jika Regal menjabarkan sekian banyak hal hal yang ia sukai dari Ayla, tidak akan ada habisnya. “Langsung pulang kan, Ay?” tanya Regal, ketika merasa sudah berjalan di koridor sekolah, untuk menuruni tangga karena kelas mereka yang ada di lantai atas. Ayla mendengus pelan, dengan pertanyaan Regal. “Iya lah, emang lo mau ke mana?” “Yah, siapa tau mau jalan jalan dulu. Atau makan gitu.” Regal menyahut dengan jawaban sekadarnya. “Gak, nyokap gue tadi pagi masak.” “Gue ikut makan di rumah lo aja kali yaa?” Regal bertanya dengan iseng. “Gak!” Ayla menjawab singkat, tanpa menjelaskan apa apa. Oke, harusnya Regal tidak terkejut dengan jawaban itu. Tentu saja tidak boleh, Ayla hanya mengizinkan Regal melakukan sesuatu yang mana menguntungkan cewek itu dan tidak merugikannya. Numpang makan di rumah Ayla, jelas merugikan cewek itu lantaran harus mencuci piring bekas makan Regal. Sepanjang sisa perjalanan menuju tempat motor Regal terparkir, Ayla tak banyak bicara dan hanya mengikut Regal saja. Berbeda dengan Regal yang beberapa kali menyapa siswa dari kelas lain yang ia kenal, Ayla hanya berjalan tanpa menyapa siapa pun karena merasa tidak ada yang di kenalnya. Cewek itu memang sepertinya hanya mengenal Chica dan teman temannya, tidak lebih. “Nih.” Regal menyodorkan helm kepada Ayla. Ayla menatap helm itu beberapa saat. Regal sungguh menyiapkan helm lain untuk mengajak cewek yang entah siapa saja untuk pulang bersamanya. Cewek itu pun menyambut uluran helm yang di berikan Regal, lalu memasangnya. “Makasih.” Ucapnya singkat, lalu naik ke atas boncengan motor Regal. Regal tersenyum tipis, salah satu kata yang jarang di lupakan Ayla. Mengucapkan terima kasih, meski wajahnya tidak seperti mengatakan demikian. Motor Regal keluar dari sekolah, lalu bergabung dengan kendaraan lainnya yang berada di jalan besar. Tangan Ayla terasa memegangi tas ransel yang di gunakan Regal, berpaya agar tidak menyentuh pinggang cowok itu. Tiba tiba Ayla teringat sesuatu, bahwa ia kehabisan buku mewarnai yang masih kosong. Minggu lalu ia berniat membelinya, tapi di toko buku yang berada di dekat rumahnya sedang kosong, sehingga Ayla belum membelinya lagi. hal tersebut membuatnya ingin membelinya saat ini, mumpung ada Regal yang akan mengantarnya. “Re!” panggil Ayla, seraya memajukan tubuhnya sedikit agar Regal bisa mendengar panggilannya. Regal menoleh pelan, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya. “Kenapa, Ay?” sahut cowok itu. “Jadi mau makan di luar?” Ayla berdecak. “Bukan!” tegasnya. “Buku mewarnai gue habis, mampir dulu ke toko buku, gue mau beli.” Kata Ayla menjelaskan tujuannya yang ingin pergi ke toko buku untuk membeli kebutuhan mewarnainya itu. “Oh, oke.” Regal menyahut dengan senang hati, karena memang ia masih ingin bersama Ayla. Terlebih, saat cewek itu kini tanpa ragu meminta ditemani untuk membeli kebutuhan pokoknya. Ya, sepertinya mewarnai itu merupakan kebutuhan pokok yang tidak bisa Ayla tinggalkan. Jika sehari saja tidka mewarnai, seolah cewek itu tidak tahan. Nyaris di setiap jam pelajaran kosong, Ayla mewarnai di buku gambarnya itu. Jika saat jam kosong para siswa lebih memilih untuk memainkan ponselnya, Ayla justru malah sibuk tenggelam bersama buku gambarnya yang memiliki gambar seperti anak TK. Regal juga tidak habis pikir, bahwa ada anak SMA yang masih melakukan rutinitas seperti itu, ketika remaja seusianya kebanyakan bermain gadget atau hal hal lain yang lebih menyenangkan. Ayla justru malah melakukan hal yang di kerjakan anak berusia 5 tahun. “Lo biasanya ke toko buku mana, Ay?” tanya Regal, sambil terus mengemudikan motornya, meski tidak tahu mau ke arah mana. “Mana aja, yang penting ada buku mewarnai.” Ayla menjawab seadanya. Regal pun berpikir untuk beberapa saat, mencari toko buku yang tidak perlu masuk ke dalam mall karena ia malas parkir. Hingga akhirnya terpikir ada satu toko buku yang tak jauh dari tempat mereka saat ini, dan tidak perlu masuk ke dalam mall. Merasa Ayla tak banyak protes dan membebaskan Regal memilih mau ke toko buku mana saja, maka Regal pun mengemudikan motornya ke arah sana. Jalanan hari ini tidak begitu macet, karena belum memasuki jam kerja. Hanya ada beberapa kendaraan besar yang terkadang membuat macet jika salah parkir atau pun lampu merah, selebihnya tidak begitu banyak. Regal jadi bisa memgemudikan motornya dengan kecepatan normal, tanpa harus bermacet macetan. Motor tersebut berbelok ke sebuah jalan di pemukiman warga, berniat untuk memotong jalan agar cepat sampai. Tak sampai lima belas menit perjalanan, motor tersebut sudah sampai di halaman depan toko buku itu, yang juga merupakan tempat parkir liarnya. Regal mendapatkan tempat parkir yang agak jauh dari pintu masuk, tapi ia tetap memarkirkan motornya dan memilih jalan saja untuk sampai ke depan pintu. Ayla turun terlebih dahulu, di susul Regal yang juga melepaskan helm miliknya untuk di sangkutkan pada sepeda motornya. Hal yang sama juga turut di lakukan Ayla. Ayla bejalan lebih dulu, dengan Regal yang kemudian mengikuti di samping cewek itu. Tanpa basa basi untuk berkeliling melihat sesuatu yang tidak penting, Ayla justru segera berjalan ke bagian buku mewarnai sebagai tujuan utamanya datang ke tempat ini. Regal yang jengah hanya berdiam diri saja, akhirnya berusaha mencairkan suasana dengan berusaha mengajak cewek itu ngobrol. “Kenapa suka mewarnai, Ay?” tanya Regal, merasa penasaran juga dengan hobi cewek itu yang bisa di katakan tidak biasa untuk anak seumuran Ayla yang sudah menginjak bangku SMA. Ayla tak langsung menjawab, ia tampak sibuk dengan aktivitasnya itu. Baru beberapa detik kemudian, cewek itu menyahut. “Kenapa pengen tahu?” Jawaban telak Ayla, sukses membungkan Regal. Ia tidak percaya, Ayla memberikan jawaban seperti itu, setelah ia susah payah mencari topik untuk mereka. Wah, Regal semakin penasaran dengan cewek ini, yang selalu memoiliki jawaban jawaban jutek dan telak dalam setiap ucapannya yang sarat akan menggoda. Alih alih ramah seperti kebanyakan cewek yang Regal dekati pada umumnya, atau jutek dan menolak mentah mentah jika cewek tersebut memang tidak menyukai Regal. Ayla justru bersikap semuanya. Atau tidak bersikap semuanya. Entahlah, mana yang lebih tepat. Ayla tidak ramah, sangat jauh dari kata ramah malahan. Hanya orang aneh yang akan menilai bahwa Ayla ramah. Cewek itu terkesan dingin, galak, cuek. Namun, Regal masih bisa mengajaknya berbicara, atau mengajak jalan seperti saat ini. Oke, ini sebenarnya tidak masuk ke dalam hitungan kencan karena hanya sekadar mengantarkan Ayla ke toko buku. Bahkan, tadi cewek itu mau langsung pulang saja, tanpa mereka melakukan apa apa yang padahal Regal tidak merasa keberatan sama sekali jika Ayla ingin pergi ke tempat yang jauh sekali pun. “Lo gak mau ada acara ke mana mana atau punya janji sama siapa siapa, kan?” Ayla berusaha memastikan, seraya melihat ke arah cowok yang tiba tiba mengajaknya pulang bareng itu. Ia jelas tidak menolak, karena lumayan irit ongkos. Namun, ia juga tahu Regal itu sosok yang seperti apa, siapa yang tau jika Regal ternyata setelah ini memiliki janji lain dengan pacar atau cewek cewek incarannya yang menurut sumber – tentu saja Chica, memang siapa lagi yang akan suka rela memberitahu Ayla selain cewek itu – pacar dan gebetan Regal itu tersebar di mana mana. “Enggak kok, waktu gue saat ini Cuma buat lo!” Regal menjawab dengan nada sok keren, yang membuat Ayla segera bergidik saat mendengarnya. “Oke, pegangin ini.” Ayla menyodorkan beberapa buku yang ia pilih untuk di beli pada Regal, sementara cewek itu masih tampak memilih buku buku lainnya untuk ia beli. Regal yang memang tadi menawarkan terlebih dahulu untuk mengantarkan Ayla, kini sedikit menyesal jika ternyata dirinya di jadikan pemegang buku buku yang cewek itu beli. Yah, setidaknya bukan di suruh pegangin kantong kantong baju berisi barang barang bermerek itu. Ayla hanya memberinya beberapa buku mewarnai yang bahkan tebalnya pun tidak seberapa di bandingkan buku novel. Sisa hari itu, Regal terus menemani Ayla dalam memilih buku buku mewarnainya itu. Berkeliling toko buku, bukan untuk membeli novel atau sejenisnya, melainkan membeli buku mewarnai seperti anak TK. ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD