Episode 1

1279 Words
"Saya terima nikah dan kawinnya Adhara Putri Prayoga binti Hardana Prayoga dengan mas kawin seperangkat alat sholat beserta emas dua puluh lima gram dibayar tunai.." " Sah... ". Ucap para saksi yang menghadiri acara pernikahan dua sejoli yang terlihat kaku bersamaan. Semua orang yang hadir menadahkan tangan dengan hikmat saat penghulu membacakan doa pernikahan, kecuali Ryan--pengantin lelaki yang baru saja menikahi wanita tepat disebelahnya. Adhara Putri Prayoga wanita yang merenggut nyawa kekasihnya itu justru ia nikahi untuk membalas dendam. Setelah dua tahun lebih Ryan mencari keberadaan Adhara sejak kecelakaan itu terjadi, kini Ryan berhasil mendapatkannya. Ryan bertekad akan membuat Adhara menanggung semua rasa kehilangan yang ia alami. Maya--gadis yatim piatu yang ia lamar untuk menjadi istri, kini telah pergi selama-lamanya. Cintanya musnah, separuh jiwanya hilang terkubur bersama kekasihnya. Selama hampir enam tahun Ryan dan Maya menjalani hubungan, kini harus terpisah dunia akibat kecerobohan wanita bernama Adhara. 'Adhara, mulai hari ini hidupmu tak akan mudah. Bersiaplah engkau menjalani hari seperti dineraka'. Batin Ryan Ryan menyeringai sambil meliriknya dalam doa. Baginya pernikahan ini bukanlah pernikahan sesungguhnya. Ini hanya permainan untuk memudahkannya membalas kematian kekasihnya. "Aamiin... ". Ucap para hadirin serempak "Ayo Adhara salam suami mu". Adhara terperanjat saat penghulu memberikan perintah padanya. Ia tak menyangka bahwa statusnya kini telah berubah. Adhara mengulurkan tangan kanannya pada suaminya. Namun, dibalas dengan enggan karena sebenarnya Ryan jijik bersentuhan dengannya. Apalagi menatap wajahnya, yang jika dilihat sekilas ada garis wajah Maya disana. Entah karena benci yang begitu kian mengakar, terkadang Ryan menganggap mereka punya kemiripan. Hal itu membuat dendam Ryan semakin membara. "Nak Ryan silahkan pegang kepalanya dan bacakan doa untuk istrimu". Perintah penghulu kemudian Ryan bingung antara mau atau tidak. Bukan karena dia tak hafal doa itu. Tapi karena doa itu, dahulu ia siapkan untuk Maya seorang. Ryan tak sudi memanjatkan doa untuk wanita yang membunuh kekasihnya, namun demikian tetap ia lakukan apa yang penghulu itu perintahkan. Meskipun dengan sangat terpaksa. Ia menuruti. Setengah berdiri, Ryan meletakan tangan kirinya diatas ubun-ubun kepala sang mempelai wanita sedangkan tangan kanan menadah berdoa. Bibir bergumam mengucap doa dengan enggan. Sambil melirik kebawah, Ryan menatap Adhara yang menadahkan tangan dan memejamkan mata. Ada bulir kecil disudut mata wanita itu. Cih! "Dia berharap apa? Pernikahan bahagia? Mungkinkah doa yang dengan enggan dibaca akan di ijabah?". Batin Ryan mengejek "Cium..cium..cium..". Sorak hadirin setelah sesi berdoa selesai Apa-apaan ini? Menatapnya saja Ryan tak sudi, apalagi menciumnya. Ia abaikan semua sorak para hadirin dengan kembali duduk menghadap ke depan di pelaminan. Namun kemudian, seseorang dari sebelah kanan menyenggol lengannya. Terlihat jelas seorang wanita paruh baya yang kecantikannya tak luntur termakan usia, sedang melotot dengan bibir tersenyum memaksa. Hania--Ibunya Ryan memberi kode untuk melakukan apa yang para hadirin ucapkan. Ryan sendiri paham kode ini, tapi ia abaikan saja. Acara membosankan yang tak kunjung usai, banyaknya keluarga dan pelanggan bengkel dari usaha bengkel ayah mertua Ryan membuat acara ini semakin malam semakin ramai. Jangan tanya dimana teman atau para partner bisnisnya, ia tak akan sudi memberi tahu mereka pernikahan sial ini. Baginya pernikahan ini adalah aib. Terlihat jam ditangan sudah menunjukkan pukul 21.31 WIB. Ryan bergegas bangkit menuju kamar pengantin yang sudah disiapkan. "Kamu mau kemana?". Tanya perempuan disebelahnya seraya menahan lengan sang pria saat ingin bangkit. Ryan menarik kasar lengannya tanpa menghiraukan pertanyaan wanita di sebelahnya, ia langsung menuju kamar. Kamar yang dihias sedemikian indah, tak lantas membuat hati Ryan luluh atas pernikahan ini. Bunga-bunga yang bertebaran di atas ranjang membuat Ryan muak. Lampu-lampu mewah yang menghiasi kamar ini memang membawa suasana romantis, tapi jika itu pernikahan yang didasari oleh cinta, bukan dendam. Ryan muak dengan segala kemeriahan pernikahannya. Karena seharusnya, yang bersanding dengannya adalah Maya. Seharusnya, yang ia ucapkan saat ijab kabul adalah nama Maya. Dan seharusnya, ia berada dalam kamar ini bersama Maya. Sebegitu cintanya Ryan terhadap Maya. Sampai hatinya mati terkubur bersama Maya, menyisahkan dendam untuk satu nama, Adhara--istrinya. Rasa lelah mengalahkan semua kekesalan hatinya, "lebih baik aku membersihkan diri dan lekas beristirahat, agar esok tenagaku kembali pulih dan bisa sepuasnya menyiksa perempuan yang sekarang bergelar istri dari Ryan Bhuana''. Pekiknya dalam hati Ia lepas semua pakaian yang dikenakan, menyisakan celana pendek diatas lutut sebagai penutup. Bergegas masuk ke kamar mandi yang letaknya bersebelahan dengan pintu kamar. Saat akan berjalan kekamar mandi pintu kamar terbuka. Krieeek!! Terlihat Adhara yang sedang berjalan masuk, namun urung kemudian dan berbalik kearah pintu yang sudah tertutup seraya menutup wajahnya. "Maaf, aku nggak sengaja". Ucapnya pelan nyaris tak terdengar. Adhara memang sekaku dan sepolos itu. Ia tak pernah mengenal lelaki lain, selain ayahnya. Kalau ada yang lain juga, pasti hanya kang ojol, kang galon, atau kang-kang yang lain. Bahkan teman sekolahnya saja ia tak kenal, karena dari tamat SMP ia langsung mondok di pesantren. Perihal pernikahannya adalah perjodohan ayahnya dan Bagas--ayah Ryan yang sama-sama jamaah mesjid di tempat mereka selalu menunaikan sholat subuh berjamaah. Ketika itu, saat selesai sholat subuh dengan Bagas, Ryan mengatakan ingin menikah. Ayahnya langsung mengenalkan Ryan kepada Hardana--ayah Adhara. Tanpa melihat bagaimana rupa calonnya, Ryan langsung menyetujui pernikahan ini. Begitulah Hardana menjelaskan kepada putrinya bagaimana perjodohan ini bisa terjadi. Tak ada yang tahu bahwa sebenarnya ini adalah rencana Ryan. Padahal saat itu, Ryan sudah mengenal betul siapa Adhara. Dengan pertimbangan dan bujukan ayahnya, Adhara pun menyetujuinya. Saat khitbah dilaksanakan, Ia mengajukan syarat pada Ryan untuk tetap tinggal bersama ayahnya setelah menikah. Ryan pun menyetujui syarat itu dengan mudah. Ryan tak menghiraukan keterkejutan Adhara saat melihatnya bertelanjang d**a. Semenjak kepergian Maya, ia sudah terbiasa dilihat wanita. Bahkan lebih dari d**a juga sering ia perlihatkan pada wanita-wanita simpanannya. Ia tetap berjalan santai menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak butuh waktu lama untuk membersihkan diri, kini ia telah mengenakan kaos dan celana boxer diatas lutut. 'Perempuan jorok'. Gumamnya dalam hati melihat Adhara yang telah mengganti pakaian tanpa mandi. Adhara sendiri sudah berbaring dengan selimut menutup tubuhnya sampai ke d**a. Matanya terpejam, ada dengkuran halus yang terdengar dari mulutnya. Sebenarnya ia belum tidur, ia bingung harus melakukan apa. Ia cukup gugup karena ini adalah malam pertamanya sebagai istri. Alhasil, ia berpura-pura tidur untuk menutupi kegugupannya. Setidaknya, Ryan tak mungkin membangunkan hanya untuk meminta haknya jika Adhara sudah tertidur begini. Begitulah pikirnya untuk menghindari malam pertama dengan suaminya. Tapi Adhara salah! "Heh, bangun". Ryan mengguncang bahu Adhara untuk membangunkannya. Ia tahu kalau Adhara hanya pura-pura. Karena sedari tadi ia perhatikan, wanita itu tidur dengan gelisah. Adhara meringis dan memejamkan mata rapat-rapat. Ia tak mau malam ini terjadi apa-apa dengan dirinya. Ia mengeratkan pinggiran selimut yang sedari tadi ia pegang. "Kalo gak mau bangun, gue telanjangin lo sekarang juga.. " Matanya membulat sempurna kala mendengar ucapan frontal dari suaminya. Dengan cepat ia duduk, masih dengan mengeratkan selimut dibadannya. "Minggir lo" "Kemana?". Tanyanya polos "Ya terserah" "Maksudnya?". Tak paham dengan ucapan suaminya ia terus bertanya. Pasalnya, mereka kan pengantin baru, kenapa sikapnya sangat berbeda sejak ijab kabul selesai. Mana Ryan yang hangat dan lembut seperti saat lamaran waktu itu. "Ya pergi, gue nggak mau sekamar sama lo". Nada Ryan naik satu oktaf. Mengingat saat ini sedang berada di hotel tempat pernikahannya diselenggarakan, Adhara bingung harus kemana. Ia mendengkus pasrah. Ada ngilu di hatinya. Ia memang orang yang perasa. Setiap orang yang bersikap tidak baik padanya, ia langsung melihat diri dan bertanya dalam hati 'apa yang salah denganku?' Akhirnya, Ia memaklumi. Baginya pernikahan ini adalah perjodohan. Maka harus ada adaptasi terlebih dahulu, untuk lebih mengenal sifat baik dan buruk suaminya. Mungkin berkata ketus seperti ini adalah salah satu sifat yang harus ia pahami. Sampai akhirnya mereka berdua bisa saling mengerti dan menghargai pribadi satu sama lain. Hingga tumbuh rasa saling membutuhkan. Berbeda dengan Ryan, pernikahan ini adalah murni kemauannya, kemauan untuk membalas dendam. Maka, ia tak perlu mengenal pasangannya, karena yang ingin ia bangun bukanlah kebahagiaan, melainkan kehancuran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD