PROLOG
"Pelan-pelan aja dek". Ucap seorang ayah pada anak gadisnya yang sedang belajar menyetir mobil dijalanan yang cukup lenggang.
" Iya yah, ini kan udah pelan banget". Jawab perempuan bernama Adhara itu.
Jalanan komplek yang cukup sepi jadi pilihan ayah dan anak itu untuk memenuhi keinginan sang anak belajar menyetir mobil. Adhara yang baru lulus kuliah menagih janji ayahnya agar segera mengajarinya menyetir. Ia ingin menyetir sendiri jika suatu saat sudah bekerja.
Saat mobil dengan tenang dikendarai, Tiba-tiba ada motor yang laju dari arah belakang dan menyalip kedepan mobil yang dikendarai Adhara. Adhara yang gelagapan disalip begitu saja, berniat menginjak rem untuk mengurangi kecepatannya. Namun sialnya, tanpa sadar yang ia injak adalah gas, sehingga kecepatan mobil bertambah laju. Adhara yang panik dan tidak mampu mengontrol setir, tanpa sengaja membelokkan mobil kearah trotoar.
"Rem, dek. Rem.. ". Panik sang ayah
"Mbak awas mbak.. ". Teriak Adhara sembari bingung antara rem dan gas.
Bugh!
Mobil berhenti menabrak dinding pembatas jalan. Motor yang di kendarai seorang wanita muda itu terseret ke trotoar dan menghantam tembok pembatas jalan. Adhara diam termangu, seketika pikirannya menjadi linglung, air matanya luruh jatuh kebawah. Sampai suara Ayah mengembalikan kesadarannya.
" Dek, dek. Kita nabrak orang". Terdengar suara Ayah yang panik kemudian keluar mobil disusul Adhara dibelakangnya
Warga yang menyaksikan kejadian itu sontak berkerumun mengelilingi TKP.
Adhara memangku wanita yang sudah tak sadarkan diri itu, darah segar mengucur deras dari atas tengkuk kepala wanita itu.
"Bangun mbak... ". Teriak histeris Adhara mengguncang tubuh sang wanita, tangisnya pecah sejadi-jadinya.
" Tolong... ". Ucapnya lagi memohon pada siapapun yang berkenan
" Ayo masuk mobil, tolong bantu pak...". Ayah yang datang ternyata bergerak cepat mencari mobil yang bisa ditumpangi untuk membawa si wanita kerumah sakit, karena tak mungkin menggunakan mobil mereka yang telah hancur pada bagian depannya.
Diperjalanan menuju rumah sakit, Adhara tak kunjung berhenti menangis. Ia juga tak memperdulikan rasa sesak didadanya akibat hantaman keras pada setir. Dahinya yang terluka juga mengalirnya darah, namun tak membuat Adhara peduli pada rasa sakitnya. Ia hanya berfikir untuk keselamatan wanita yang ada dipangkuannya ini.
***
Rumah sakit bergerak cepat saat ada pasien kritis yang datang. Wanita yang dibawa Adhara tersebut langsung dibawa ke ruang UGD untuk mendapatkan perawatan medis.
Adhara dan Ayah yang tidak di perbolehkan masuk menunggu di kursi tunggu yang tersedia di sekitar koridor rumah sakit.
"Dek sebaiknya kita pulang dulu, serahkan semua sama dokter dan perawat disini. Nanti kita kesini lagi". Ucap Ayah yang melihat keadaan putrinya yang kacau dengan pakaian bersimbah darah
"Nggak Yah, aku disini aja. Aku khawatir sama mbak tadi. Kalau dia mati gimana?". Tangisan Adhara pecah kembali
" Yah, sakit". Rengeknya sembari memegangi dada
"Yaudah kalo gitu, kamu sekalian dirawat disini aja, tuh keningnya juga berdarah". Timpal Ayah lagi
Beberapa jam kemudian setelah Adhara mendapat perawatan, ia kembali menghampiri ruangan tempat wanita itu dirawat. Terlihat seorang wanita paruh baya duduk termenung di kursi tunggu dengan mata yang sembab. Adhara yang meyakini bahwa itu ibu sang wanita, langsung menghampiri wanita itu dan bersujud dikakinya.
"Bu, maaf. Dhara nggak sengaja". Ucapnya dengan linangan air mata
" Maaf Bu.. ". Lanjutnya sambil memeluk kaki Ibu tersebut
Tangis wanita itu pun pecah, mengingat anak asuhnya sedang berjuang bertaruh nyawa diruang operasi. Ya, wanita yang tertabrak tadi langsung dioperasi oleh pihak dokter untuk menyelamatkan nyawanya.
"Ini bukan salah kamu, ini sudah takdir Maya. Kamu sudah bertanggung jawab atas ini, sekarang serahkan semua sama Allah".
" Hiks.. Hiks...Ta-tapi mbak Maya begini karena saya bu". Isaknya tak kunjung berhenti
"Kalo begitu, ayo kita ke mesjid, sholat dan berdoa minta sama Allah supaya diberi kesembuhan untuk Maya". Bujuk sang Ibu saat tangis mulai mereda
Adhara pun menyetujui ajakan si Ibu, ia ingin merengek kepada Allah untuk kesembuhan wanita yang tak sengaja ia tabrak. Berharap sang Maha Penolong memberi pertolongan pada wanita yang terkapar lemah itu.
Diperjalanan ke mesjid si Ibu bercerita bahwa namanya Lasmi, ia sebenarnya bukanlah Ibu kandung Maya, melainkan Ibu panti di Panti Asuhan tempat tinggal Maya. Maya adalah gadis yatim piatu yang di rawat oleh Bu Lasmi sejak kecil di Panti Asuhan tersebut. Tangis Adhara kian jatuh saat mengetahui kenyataan tersebut, ia merasa sangat bersalah kepada Maya.
Selesai shalat Bu Lasmi menunggu Adhara di luar, lama sekali ia menunggu Adhara selesai berdoa. Bu Lasmi paham, gadis berhati lembut seperti Adhara pasti sedang merayu Allah saat ini. Tetapi anehnya, Bu Lasmi merasa ada ikatan bathin yang kuat antara Adhara dan Maya. Enggan berprasangka, Bu Lasmi juga merapalkan doa pada sang Khalik untuk kesembuhan Maya.
Setelah dari mesjid Bu Lasmi dan Adhara duduk sambil menunggu operasinya selesai. Ayah yang sedari tadi mengurus administrasi baru kembali setelah sebelumnya mampir ke mesjid terlebih dahulu.
Adhara yang duduk bersebelahan dengan Ayah lantas menyandarkan kepalanya di pundak sang Ayah. Ia masih berharap bahwa yang terjadi saat ini adalah mimpi.
Bu Lasmi yang duduk di kursi bersebrangan dengan mereka, memperhatikan kedekatan ayah dan anaknya itu.
"Kalau Ibu perhatikan, kamu mirip dengan Maya, Adhara". Tanpa sadar Bu Lasmi nyeletuk demikian
Adhara bangkit dan menegakkan kepalanya. Iya tersenyum mendengar penuturan Bu Lasmi.
"Saya memang sangat ingin punya kakak, setelah mbak Maya sembuh, saya berjanji akan menganggap ia sebagai kakak untuk saya". Ia bertekad melakukan apa saja untuk Maya, setelah Maya sembuh.
" Maya itu..... ". Belum selesai Bu Lasmi berbicara pintu ruang operasi berderit, kemudian seorang dokter keluar. Sontak mereka bertiga bangkit menghampiri sang dokter.
" Gimana dok, gimana keadaan mbak Maya?". Cecar Adhara pada dokter wanita berusia senja itu
"Operasinya sudah selesai, namun pasien masih dalam keadaan koma. Kita akan tunggu beberapa jam lagi sampai pasien siuman". Terang dokter.
" Ya Allah Maya... ". Suara Bu Lasmi terisak
Saat dokter ingin beranjak pergi, seorang perawat memanggil dengan tergesa-gesa.
" Dok, dok pasien kejang dok". Teriak perawat tersebut
Dokter langsung berlari kembali kedalam ruangan, sedangkan Adhara dan Bu Lasmi saling memeluk menguatkan. Dan Ayah, kembali duduk bersandar. Mereka bertiga kembali menunggu dalam keadaan gusar.
Tak lama kemudian, dokter dan perawat keluar bersamaan. Keduanya berjalan menghampiri mereka. Kemudian dokter berkata "maaf Pak, Bu, pasien tak dapat tertolong. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada jam 22.41 WIB".
"Mbaak........ ". Teriak Adhara sekencang-kencangnya.