Part 7 - Pertanda Apa?

1036 Words
"Eh? Nak Cleon? Sudah lama?" "Tidak, Kek. Kebetulan tadi Cleon panggil ndak ada. Terus ada asap, jadi Cleon langsung ke belakang gubug. Maaf, kalau lancang langsung kesini, Kek," tutur Cleon dengan nada begitu rendah. "Ndakpapa. Duduklah." "Oh iya, ini dua perempuan siapa?" "Oh iya, Kek. Kenalin. Ini Lily dan Rosy. Kami bertemu di hutan sana, Kek," jelas Cleon menunjukkan arah hutan yang masih rimbun. Rosy hanya terdiam begitu saja. Wajahnya seakan tak menampakkan begitu berselera mendengarnya. "Oh iya. Mungkin ini pertanda," ucap Kakek itu. "Pertanda? Pertanda apa, Kek?" "Pertanda kalian harus segera memulainya." "Memulai apa, Kek?" tanya Lily begitu nampak penasaran. "Misi suci. Misi berbagai kebaikan untuk bumi ini." "Maksud Kakek?" "Kemarilah. Duduklah. Silakan duduk santai, makanlah singkong ini," Kakek memersilakan mereka bertiga duduk di batu belakang gubug kakek itu. Rumah yang disebut gubug itu meskipun kecil, tapi terasa teduhnya. Terlebih, pemandangan di belakang gubug itu. Membuat mata siapa saja yang melihatnya, akan terkagum luar biasa. Bagaimana tidak? Tak jauh dari tempat duduk mereka bertiga, terdengar suara air terjun dan binatang-binatang dengan suara khasnya. Semuanya terasa seperti sedang memainkan orkestra paling indah. "Kalian sudah melakukan perjalanan jauh kesini. Pasti sudah melihat kondisi hutan yang sangat berbeda bukan?" tanya Kakek. Lily, Cleon, dan Rosy menganggukkan kepala. "Nah, itulah misi kalian. Menyelamatkan bumi dari kerusakan." "Menyelamatkan? Apakah kita harus menanam pohon semua di sini? Harus mengembalikan kesuburan tanah di hutan yang rusak ini?" cecar Lily. "Mustahil," celetuk Rosy. Wajahnya sembari menunjukkan ekspresi tak tertarik dengan bahasan yang akan Kakek itu jelaskan. Kakek hanya tersenyum sekilas. Sejenak, ia memandang jauh ke pemandangan nan hijau di tepian tebing itu. Ya, tak berapa jauh dari belakang gubug itu, pemandangan nan hijau. Kalau beruntung, saat tertentu bisa melihat kabut dari sana. Sungguh, pemandangan yang akan menyejukkan mata siapa saja yang melihatnya. "Lihatlah. Apa kalian tak merasa tenang dengan melihat bumi ini tetap lestari? Hijau pohonnya, subur tanahnya, burung-burung berkicauan bahagia. Apakah kalian tak ingin terus melihatnya?" tutur Kakek. "Tentu. Tentu kami ingin terus melihatnya, Kek." Jawab Lily bersemangat. "Itu. Semangatlah berbuat kebaikan. Berani melawan segala bentuk kerusakan. Perubahan, ada di tangan pemuda seperti kalian," ucap Kakek sembari terbatuk. Uhukkk. "Kek? Minum dulu, Kek." Cleon menyerahkan gelas minuman di depan Kakek. "Terimakasih, Nak." "Kakek sudah tua. Sebentar lagi tiada. Rasanya tak tega melihat bumi ini rusak oleh tangan rakus manusia." Kakek mengucapkannya seraya menahan kesedihan mendalam yang tersembunyi di matanya yang sayu. "Kek, jangan bilang seperti itu, Kek. Cuma Kakek yang Cleon kenal di sini. Kakek sudah seperti Kakek Cleon sendiri," ucap Cleon memeluk Kakek. "Kakek jangan pergi dulu. Jangan bilang seperti tadi." Lily baru melihat laki-laki menangis di hadapannya. Terlebih, hal itu dilakukan oleh Cleon yang menurutnya sangat egois dan menyebalkan. Mata Cleon terisak dan terlihat begitu menyayangi Kakek yang tak mau menyebut namanya itu. "Kek, Kakek janji, ya? Gak bakal pergi sampai Cleon kembali?" tanya Cleon. "Kek, janji, ya?" Kakek itu hanya tersenyum melihat tingkah Cleon yang merengek di hadapannya. "Bangunlah, Nak. Duduk kembalik dengan tenang. Kakek baik-baik saja dan akan baik-baik saja," jawab Kakek nampak lebih tenang dari sebelumnya. "Tapi, Kek... Cleon takut," ucapnya lagi merengek. "Hei, anak muda. Kamu harus kuat!" ucap Kakek seraya menegakkan pundak Cleon sembari menatapnya dengan begitu tenang dan semangat. "Kek? Apa yang harus kami lakukan untuk memulainya? Katakan, Kek!" Ucap Lily kian bersemangat. Menanti petuah dan nasihat dari Kakek. "Sabar. Tenanglah dulu anak muda. Kakek ada sesuatu," tutur Kakek bersorban putih, yang tak mau dikenali namanya itu. Setelah meneguk air, tak berapa lama kemudian dia berdiri. Masuk ke sebuah pintu belakang gubugnya. Sebuah rumah sederhana dari kayu yang ia sebut gubug. "Sebentar, ya. Tunggu di sini," pinta Kakek lalu berjalan masuk ke gubug. "Kira-kira apa ya?" celetuk Rosy. "Gatau juga sih. Aku jadi penasaran," timpa Lily. "Sudah-sudah. Kalian gausah berisik. Kita tunggu saja." "Huhh! Cengeng! Wee!!" ledek Lily. "Apaan!! Itu namanya cowok cool!!" sanggah Cleon. "Cool apaan, masa cowok nangis gitu. Huuh!! Weee!!" ledek Lily kian bersemangat. "Kamu belum tau aja pengorbanan Kakek buatku! Aku yang rasain!!" seru Cleon dengan nada tinggi lalu merendah tenang sendiri. "Uhm, maaf, Cle. Aku gak bermaksud," ucap Lily merasa sedikit bersalah. "Sudahlah. Lupakan." "Kamu mau cerita? Siapa tahu lebih tenang. Apa yang bikin kamu sampai sedih seperti tadi? Hum?" tutur Lily menawarkan diri mendengarkan. Cleon menghadap ke Lily sembari memandang matanya. Ia biarkan mata itu saling berpandangan sejenak. Rosy yang melihatnya, hanya menarik matanya tak melihat. Sebentar kemudian, berceletuk, "Hadeeeh, kalian berdua drama mulu!" "Heh! Apaan?! Kenapa diem!" ucap kesal Lily. "Aku cuma pengin tahu. Matamu lagi ngantuk apa beneran sadar," jawab Cleon menyangkal yang sebenarnya. "Apaan! Yasudah kalau gamau cerita!" "Ngambek?!" "Nggaklah! Ngapain ngambek sama orang nyebelin kek kamu!!" "Yakin, nyebelin?!" "Tau!!" "Nanti kapan-kapan aku pasti cerita. Tapi bukan sekarang. Makasih, ya sudah perhatian," tutur Cleon dengan nada lembut. Lily menahan senyumnya. Ia tundukkan kepala sejenak menyembunyikannya. Tak lama kemudian, ia tegakkan wajahnya kembali. "Ok. Terserah kamu." "Aissh... emang gak ada kata lain selain terserah?" "Ya... terserah aku dong." "Yasudah.... perempuan selalu benar." Ucap Cleon pasrah. Akhirnya, kakek itu keluar. Ia membawa sebuah kotak kayu panjang. Warnanya coklat tua, sedikit berkilat. Entah itu jenis kayu apa. Terlihat sangat elegan. "Nah, ini dia yang mau kakek tunjukkan," ucap Kakek itu dengan suara beratnya. "Apa itu, Kek?" "Bukalah, Nak Cleon." "Saya, Kek?" "Iya. Bukalah." "Gapapa, Kek?" Kakek itu menganggukkan kepala dan tersenyum. Sebuah isyarat agar Cleon segera membuka kotak kayu itu. Tangan Cleon tiba-tiba gemetaran. Barangkali, rasa deg-degannya cukup menguasainya. Apakah kayu itu seperti buku the secret book? Yang begitu dibuka, dia akan masuk dalam dimensi yang berbeda? Atau, justru ini lebih tak terduga? "Bukalah dengan bismillah, Nak." "Bismillah?" "Ya." "Bis-mi-llah." Terbata, Cleon mengucapkan kata itu. Begitu dibukanya, tiga gelang kristal sangat menyilaukan mata. Refleks, Cleon, Rosy, dan Lily pun menutup wajahnya. Tak berapa lama kemudian, kemilau cahaya itu meredup. Berubah menjadi warna yang berbeda. Kristal yang semula begitu bercahaya, kini meredup. Bukan hanya meredup, tapi juga berubah warna menjadi hitam. Wajah Lily yang semula begitu penasaran, kini tampak lebih penasaran. Matanya yang bulat terliat kian membulat begitu melihat perubahan di gelang kristal itu. "Kek? Kenapa gelangnya berubah? Tadi Cleon lihat berwarna putih kemilau. Seperti kristal dan mutiara," ucap Cleon penasaran. "Ya. Itulah simbolik keadaan bumi sekarang ini, Nak," jelas Kakek singkat. "Maksudnya, Kek?" Lily juga tampak begitu penasaran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD