bc

Love In The Secret Book

book_age12+
54
FOLLOW
1K
READ
goodgirl
drama
bxg
mystery
scary
magical world
friendship
friends
sacrifice
like
intro-logo
Blurb

Lily Natalie tak pernah menyangka bahwa ia akan tersesat di hutan belantara. Diapun bertemu Rosy. Rosy mengatakan dirinya sengaja ke hutan untuk melarikan diri dari kejaran ibu tirinya yang k***m. Sedangkan Lily? Dia ingin melarikan diri dari depresi. Merasa sependeritaan, mereka berdua pun mulai akrab.

Tak disangka, hujan menerpa. Mereka berteduh di sebuah rumah kecil yang tua. Tanpa sengaja, Lily dan Rosy menemukan sebuah buku yang tersembunyi di antara rak buku di rumah tua kecil itu. 'The Secret Book', itulah nama buku tersebut—sebuah buku yang setiap babnya berisi petualangan yang akan membawa Lily dan Rosy masuk dalam misi suci— menyelamatkan berbagai misi kemanusiaan dan menemukan makna rahasia tersembunyi.

Awalnya, Rosy dan Lily hanya penasaran, tapi saat Lily membukanya, tanpa sadar, Lily dan Rosy tersedot ke dalam buku itu, tepat di depan Cleon. Laki-laki yang sudah terlebih dahulu di alam berbeda itu.

Kisah cinta pun terjalin di sana. Namun, ada satu resiko mengkawatirkan yang harus mereka lalui. Yaitu Lily dan Rosy hanya dibekali sebuah gelang berhiaskan kristal mutiara. Dimana itu seperti nyawa bagi mereka. Saat mereka kalah melewati masalah atau rintangan yang ada, kristal mutiara itu akan satu per satu menghilang dengan sendirinya.

Apakah Lily dan Rosy mampu menyelesaikan semua misi? Bagaimana kisah cinta Cleon dengan Rosy dan Lily? Lalu, apa sebenarnya makna buku 'the secret book' itu? Akankah mereka kembali ke dunia nyata dengan selamat dan bahagia?

Sebuah kisah tentang petualangan, mimpi-mimpi, dan bagaimana menjemput kemurnian hakikat diri.

chap-preview
Free preview
Part 1 - Kebencian Lily
"L-I-L-Y N-A-T-A-L-I-E. Aku benci nama itu!!" Gadis tinggi itu mengeja namanya sendiri. Sesaat kemudian wajahnya merah. Bukan memerah malu. Melainkan nampak begitu kesal. Sangat marah mendengar ejaan namanya sendiri. "Kenapa Ayah dan Ibu menamaiku itu? Aku benci!!" "Kenapa harus pakai nama bunga?" "Lily? Apa indahnya bunga Lily? Aku benci! Aku benci bunga Lily!!" Gadis itulah sendiri bernama Lily Natalie. Puteri satu-satunya dari pasangan seorang pebisnis ternama di suatu kota. Daisy Ibunya menamainya itu karena kecintaannya pada bunga. Lily berlari ke arah pekarangan di belakang rumahnya. Karena kesal, ia terus berlari mengikuti cahaya sore di pekarangan belakang rumah. Entah apa yang ditujunya. Entah apa yang dicarinya. Sesekali terhenti karena tak kuat lagi berlari. Berlari sambil memeriksa di belakangnya. Apakah Ayah dan Ibunya mengikutinya atau tidak. Melihat bayangan Ayah Ibunya tak nampak lagi di matanya, ia cukup lega. Lily menjedakan sejenak napasnya yang tersendat. Ia arahkan pandangannya ke sekelilingnya. Rimbun pohon besar mulai memenuhi pandangan di depannya. Suara bambu yang dimainkan oleh angin, kian menambah sunyi dan dingin. Namun, sepertinya tak mengurungkan niat Lily untuk pergi. Ia tak gentar melanjutkan perjalanannya kabur dari rumah—ayah dan ibunya. "Hah? Aku dimana, ya? Sudah masuk hutankah? Memangnya pekarangan belakang rumah bisa tembus ke hutan?" "Ehmm, tapi kayaknya seru. Aku harus tetap berjalan menyusurinya. Gak peduli ada apapun di sana!" Ucap Lily yakin. Namun, sepertinya Lily tak gentar. Meskipun ia kini tak berlari lagi. Namun, berjalan sekuat diri. Daun-daun kering yang terinjak, turut jadi bunyi yang menemani. Nyanyian suara bambu yang diketuk-ketukkan oleh angin, kian menambah dingin. Cahaya sore yang mulai reda, tak tertebak apa yang akan menghampirinya. Apakah seorang penjahat? Binatang buas? Sejenis makhluk mengerikan dari dunia lain? Sreeeekkk... Lagi, suara daun yang terinjak oleh sandalnya kian menambah sunyi. Pepohonan besar mulai dijumpai. Tak ada kehidupan manusia lagi. Lily pun baru pertama kali sampai sejauh itu berlari. Ia memang sering melarikan diri ke pekarangan belakang rumah, tapi tak pernah sejauh ini. Awan gelap yang kian mencekam, sempat membuat wajah takut tersurat dari wajah Lily. Namun, ia tak gentar. Terus berjalan mengikiti nalurinya. "Aku gak boleh takut! Mending aku tinggal di sini, dari pada harus kembali! Aku benci ayah dan Ibu! Aku benci namaku!! Lagian ayah dan ibu sibuk!" Sontak, ia berlari kecil kembali. Menyelusuri jalan yang entah akan membawanya kemana. Berlari. Terus berlari. Jauh. Di tengah perjalanan, sandalnya terputus. Langkahnya pun terhenti. Ia membawa sandalnya sendiri. "Ada-ada saja, sandal! Gimana ini? Masa ke hutan tak memakai sepatu? Hutan? Apa benar aku sekarang di hutan? Bukannya tadi aku cuma ke pekarangan belakang rumah?" Lily makin terheran. Ribuan tanya mulai menghampiri pikirannya. Matanya yang bulat dan berbola mata hitam lekat itu, kian menyiratkan cemas. Ia mulai menengok kanan kiri sekelilingnya. "Halo.... ada siapa di sana? Apakah ada orang?" Entah, ada perasaan apa dia tiba-tiba bertanya. Ketakutankah? Cemaskah? Atau justru keyakinan yang berusaha ia palingkan dari cemas? "Aku harus tetap di sini. Aku gamau kembali ke rumah. Gapeduli ayah Ibu cariin aku. Aku kesal!" Lily kembali merutuki dirinya sendiri. "Lily Natalie. Aku benci nama itu!! Aku benci orangtuaku!! Aku tak suka bunga Lily! Aku tak suka orangtuaku bekerja terus!! Memangnya aku bukan anak mereka? hah?!" Kesalnya. Sekuat tenaga. Ia teriakkan kebencian pada namanya sendiri. Napasnya sampai terburu. Menunduk, dan seperti mendapat energi baru. Wajahnya tak lagi cemas melanjutkan langkah. Iapun mulai menyusuri perjalanannya kembali. Perjalanan tak terarah dan tanpa tujuan. Entah, jenis perjalanan seperti apa yang akan ia temukan darinya. *** Nama adalah do'a. Setidaknya, ada harapan tersendiri Daisy menyematkan nama bunga Lily di nama putrinya. Namun, bukan berarti ia tak mau menjelaskan. Putrinya masih terlalu dini untuk mengerti. Pun, ia ingin Lily mengetahuinya sendiri. Tak jauh berbeda dari Ayahnya: Darren. Iapun setuju saat Daisy mengusulkan nama untuk putrinya. Namun, semakin beranjak usia, Lily makin membenci namanya. "Gimana ini? Lily pergi lagi!" Daisy cemas. "Sstt, biarin dulu tenangin diri, ya. Dia masih shock." Darren berusaha menenangkannya. "Apa aku salah, Mas? Maafin aku anak kita jadi begitu bencinya dengan namanya sendiri." Keluh Daisy. "Tidak, sayang. Kamu gak salah. Kumala hanya belum mengerti saja. Kita jangan bosan bimbing dia." Darren menenangkan Daisy. "Gimana kalau dia tetap kesal?" "Apa kita ganti aja namanya?" "Gimana? Aku tak tega melihat Lily seperti itu." Daisy cemas. "Ssstt... kamu inget kan alasan kita menamainya demikian? Menyematkan nama bunga Lily di namanya." Darren memerhatikan wajah istrinya. Seperti mencari potongan kenangan yang dalam di wajahnya. Daisy hanya mengangguk. "Aku sama sekali gak bermaksud membebaninya, Sayang." Daisy kian cemas. "Iya. Aku juga. Nama itu kita niatkan bukan untuk beban. Bukan pula sederet kata semoga berlebihan agar ia mencintai bunga Lily. Tidak. Bunga Lily memiliki sejarahnya sendiri bagi kita. Kita doakan saja, semoga Tuhan senantiasa menuntunnya mengetahui semuanya." "Gimana kalau Lily tetep tak mau mengerti?" "Dari awal, kita tak ada ambisi apa-apa dengan nama itu. Niat kita baik, dan tak pernah kan sedikitpun memaksa Lily tahu tentang maksud namanya itu kan? Aku pikir kita yang kurang memperhatikannya saja." "Iya. Tapi aku takut. Dia sepanjang hidupnya merasa terbebani, Sayang. Dia sangat tidak suka bunga. Dia merasa berat dengan nama Lily padanya." Ucap Daisy. "Lily masih enam belas tahun. Dia masih remaja. Masih berproses. Kenapa kamu yakin dia terbebani dengan nama Lily?" "Kamu inget kan, Mas? Hampir setiap kali pulang sekolah dia cemberut. Memang dia tak mengatakan kenapa. Namun, pembantu kita bilang itu karena diledekin teman-temannya. Katanya Lily seharusnya bersikap lebih lembut seperti filosofi bunga Lily, bukan tomboi dan bandel." "Sudah, ya. Sudah... biarin dulu Lily nenangin diri. Kamu masih ada yang perlu dikerjain 'kan?" "Masih." "Yaudah, ayo masuk. Nanti biar Lily aku yang cari." "Kamu yakin?" "Iya. Kamu tenang aja, ya." "Gimana kalau dia gak pulang?" "Aku akan tetap cari." "Gimana kalau tetap gak ketemu?" "Aku akan tetap cari, sayang. Kamu masuk dulu, ya. Tenangin diri." Deretan awan gelap memenuhi langit sore. Seperti rasa cemas yang kian menyelimuti Daisy. Mencemasi putri satu-satunya yang tiba-tiba pergi: Lily Natalie. "Lily Natalie. Apa aku bersalah menamaimu itu, Nak? Kamu sungguh masih membencinya?" Ucap Daisy. Ia duduk memeluk lutut. Cemas dan takut. "Sudah, Sayang. Kita masuk saja! Sudah hampir hujan. Kamu bisa sakit kehujanan!" pinta suaminya itu. "Tapi, Mas. Aku harus tetap cari. Bagaimanapun dia anak kita!" pekiknya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
199.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.7K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.3K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
70.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook