Lily terus melangkahkan kakinya. Tali sandal yang terputus, dibawa dengan tangan kirinya. Kuncir kuda rambutnya, mulai mengendur, karena energinya terkuras. Lemas.
Keringat mulai membasahahi dahi dan pipi. Ia pun semakin menguatkan diri. Berusaha mungkin melangkahkan kaki. Terus berjalan menuju rumah tua kecil dalam pandangannya.
Sekejap, sebuah bayangan sosok binatang keluar dari rumah tua itu.
"Hey!! Tunggu!!" Lily terkaget. Berusaha mengejar binatang itu. Namun, ia tak terburu. Larinya tak terlalu cepat dari binatang berkaki empat itu. Namun, dia malah bertemu perempuan lain yang sedang duduk termenung di sana.
Lily berusaha mendekatinya. "Hallo... maaf, kamu kenapa?" Perempuan itu tak menjawab. Lily kembali bertanya, "Saya Lily. Nama kamu siapa?"
"Rosy." Begitu ia menjawabnya singkat. Baru saja Lily akan duduk di sampingnya, gerimis mulai menerpa. Lily refleks menarik tangan Rosy untuk mencari tempat teduh.
"Ahhh, akhirnya sampai juga." Ucap Lily yang bersandar di pohon besar—tepat di depan rumah tua itu.
"Ini sebenarnya bekas rumah apa?"
"Tapi seperti bukan rumah biasa. Terlihat lebih terawat, meski kelihatan kotor. Tapi aslinya bagus."
"Halo... apa ada orang di dalam?"
"Saya Lily...," Lily menjedakan segera nama belakangnya. Tak jadi mengucapkan. Karena begitu terasa mengecewakan.
"Saya Lily. Dari desa seberang sana. Dekat dari sini. Dan ini teman saya Rosy. Bolehkah saya menginap di sini?"
"Sepertinya memang sepi. Tapi aneh. Tempat ini tak pantas disebut rumah tua. Lebih mirip seperti... perpustakaan di tengah hutan. Ah, perpustakaan? Aku benci tempat seperti itu!" Lily membenci kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri. Perpustakaan membuatnya teringat teman-teman sekolahnya yang sering membullynya.
"Ok, Lily. Anggap saja ini memang rumah tua biasa. Mau di dalamnya banyak buku atau apapun. Ini tetap rumah tua. Bukan perpustakaan!" Ia makin meyakinkan diri.
Hari kian gelap. Senja sudah benar-benar lenyap ditelan masa. Burung-burung mulai pulang ke sarangnya. Suara daun bersama angin, kian menambah sunyi segala nuansa.
"Ish... dingin banget lagi. Aduh, gimana, ya? Aku pulang lagi apa tidak ya?" Ragu. Sempat ragu terbaca dari wajah Lily.
Matanya yang hitam bulat besar sibuk menerka di sekitarnya.
"Ayo masuk, Rosy!" Ucap Lily pada Rosy.
"Aw!! Siapa kamu?"
Ia kaget saat sesuatu menimpanya dari atas. Tapi jatuh tepat di depannya.
"Ah, cuma cicak. Bikin kaget saja!" Lily menenangkan diri.
"Halo... beneran gak ada siapa-siapa disini? Aku ikut nginap dulu, ya?"
"Yasudahlah, rumah tua ini benar-benar sepi." Lily melihat ada kursi panjang. Terbuat dari kayu yang nampak masih begitu kokoh. Hanya debu dan daun kering jatuh yang menutupinya. Ia pun meniup dan membersihkannya.
"Uhukkk... ish... debunya kotor."
Tepat di samping kursi panjang itu, ada sebuah jendela kecil. Jendela yang manis untuk melihat berbagai pemandangan hutan.
Srrrrkkkk!!
"Hei!! Siapa itu?" Lily melihat seorang perempuan bertopi dari jendela. Ia pun segera keluar. Namun, larinya begitu cepat.
"Hei!! Tunggu!! Siapa kamu?" Percuma.
Perempuan bertopi itu seperti bukan manusia saja—lari dalam sekejap mata.
Saat matanya melihat jejak dimana perempuan bercaping itu berdiri, Lily menemukan sesuatu.
"Korek api? Apa yang mau dilakukannya dengan korek api ini?" Lily memungutnya. Dan kembali masuk ke dalam rumah tua.
"Sudahlah. Jangan terlalu memikirkan dan cerewet di hutan ini. Duduk saja." Ucap Rosy setelah dari tadi hanya diam.
Ikat rambutnya yang mengendur, tak dipedulikan Lily. Ia masuk lagi ke ruang tengah, mencari apapun yang bisa menerangi malamnya. Nampak, sebuah lampu gantung tergantung rapi. Bahkan, tak tersentuh debu sama sekali.
"Aneh. Kalau tempat ini tak berpenghuni, kenapa ada petromaks segala? Berarti ada yang jaga disini? Bersih lagi. Atau... jangan-jangan perempuan bertopi itu?" Ia makin bertanya-tanya. Pikirannya yang sempat ragu akan pulang—tak lagi mengiringinya.
"Aku harus cari tau tentang tempat ini!"
"Oh ya, koreknya." Lily pun segera menyalakan lampu gantung itu. Dan menyalakannya.
Rosy hanya memerhatikannya sambil duduk santai. Ia sandarkan tubuhnya di dinding rumah tua itu.
"Sebenarnya ini tempat apa?"
Saat wadah korek apinya akan ditutup, ia melihat sebuah gulungan kertas kecil. Mirip sebuah gulungan petasan korek api.
"Apa ini?"
Karena penasaran, ia langsung membukanya begitu saja.
"Siapa itu Lily Natalie?"
Begitu gulungan kertas itu dibuka, ia terkejut. "Siapa Lily Natalie?"
"Sebenarnya apa ini? Apa yang perempuan itu lakukan? Kenapa dia tahu namaku?"
"Kenapa semua ini terasa begitu misterius?"
Lily menyimpan gulungan kertas itu di saku baju hijaunya. Mencari tempat duduk yang lain.
"Rak buku? Apa benar ini tempat bekas perpustakaan?"
"Ah, stop, Lily. Stop. Ini cuma rumah tua!" Ia menenangkan dirinya sendiri.
"Siapa Lily Natalie?" Ia membuka gulungan kertas itu kembali.
"Korek api, lampu gantung, rak buku. Mustahil ini sebuah kebetulan. Aku harus cari tahu. Siapa Lily Natalie?"
"Ah, bukannya itu yang selama ini kubenci? Apa sebenarnya aku paham apa yang kubenci?" Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.
"Kapan kamu berhenti cerewet? Mendingan kita tidur. Istirahat!" Ucap Rosy mulai terlihat kesal.
Lily akhirnya diam dan duduk di sebelah Rosy.
***
"Gimana? Kamu sudah bertemu Lily?" Daisy—Ibu Lily kian cemas. Melihat suaminya tak pulang bersama anak perempuannya.
"Bagaimana ini, sayang? Ini sudah malam. Lily tidur dimana? Bagaimana kalau ada masalah di luar sana?"
"Ssstt... kamu yang tenang, ya. Pasti dia baik-baik saja."
"Baik-baik saja gimana? Dia perempuan. Dan sampai malam gini belum juga pulang. Bagaimana tak kawatir?"
"Iya, aku tahu. Tapi bahaya juga kalau malam-malam begini kita nekad cari. Sudahlah, nanti juga pulang sendiri."
"Kamu gimana sih. Kamu tak sayang sama anak kita? Atau seperti Lily, membenci namanya? Hah?"
"Kok jadi membenci namanya? Nama itu kan pemberian kita berdua. Bukan cuma pemberian. Tapi amanat besar. Kamu masih ingat 'kan?" Darren menenangkan Daisy. Menyandarkannya pada bahu kirinya.
"Dia itu anak yang spesial. Pemberani. Pasti dia baik-baik saja. Kamu yakinlah. Tenang." Lagi, Darren menenangkan istrinya.
"Sekarang kamu masuk lagi, ya. Besok pasti dia sudah pulang. Oh ya, berkas dari bisnis proyek yang aku sedang jalani sudah ketemu?"
Daisy mengangguk.
"Kamu memang paling bisa diandelin urusan mencari sesuatu. Dimana? Mau kupakai."
"Di meja kerjamu, Sayang. Sudah kutaruh di sana."
"Aku masih kawatir sama Lily."
"Sudah, dia pasti baik-baik saja."
"Kita terlalu berlebihan tidak jadi orangtua?"
"Berlebihan? Berlebihan gimana?"
"Iya, berlebihan. Kenapa tak mengganti namanya saja. Begitu kan langsung menyelesaikan masalah? Bukannya hanya itu permintaan Lily, Sayang?"
"Mengganti nama itu mudah. Tapi pesan dan amanat dibalik nama itu yang kita jaga. Kamu ingat 'kan?" Darren membaca wajah istrinya. Seakan memastikan sebuah amanah—yang mirip rahasia besar itu masih teringat oleh istrinya.
"Semoga Lily baik-baik aja di sana, ya."
"Sudahlah... nanti juga pulang sendiri!!" Darren mulai bosan mendengar istrinya mencemaskan Lily.
"Kamu gimana? Anak kita hilang kenapa cuma bisnis yang dipikirin?" Daisy mulai terpancing emosi.