Part 3 - Misteri Perempuan Bertopi

1057 Words
Lily melihat sekitar dinding rumah tua kecil itu. Matanya melihat seluruh isi rumah itu. Kecurigaan dengan sebuah gulungan kertas berisikan namanya, mulai memudar. Lily menyandarkan diri di sebuah kursi. "Sebenarnya ini rumah siapa? Lalu perempuan bertopi itu siapa? Kenapa dia kesini? Kenapa juga seakan tahu namaku? Apakah aku mengenalnya?" Gumam Lily. "Saya tidur duluan. Jangan berisik." Ucap Rosy pada Lily. "Iya. Tidurlah. Aku janji tak akan berisik." Jawab Lily. Ia menghela napasnya. Cahaya dari lampu gantung cukup menerangi malamnya. Meskipun suara hewan dari hutan kian keras, Lily seakan tak begitu peduli. Ia mulai mencoba memejamkan matanya. Kepalanya mulai miring ke kanan. Nampaknya, kantuk sudah melandanya. Matanya terlelap sempurna. Akhirnya, ia tertidur juga. Saat Lily terlelap, seseorang mengendap-endap berusaha masuk ke rumah tua yang kecil itu. Perempuan itu bertopi. Seolah sengaja menutup identitasnya dengan memakai topi. Seorang perempuan itu masuk secara perlahan. Matanya mengawasi Lily agar tak bangun dan melihatnya ada di sana. Perempuan itu mencari sesuatu di sebuah rak buku. Matanya jeli satu per satu mencari buku. Entah, buku apa yang sebenarnya ia cari. "Ah, akhirnya ketemu juga." Ucapnya. Seorang perempuan bertopi itu tersenyum gembira. Ia kembali memastikan kondisi sekitarnya tak mencurigainya. Langkahnya kembali mengendap-ngendap. Namun, bukan untuk kabur, tetapi untuk menuliskan sesuatu di buku yang dicarinya itu. "Aku harus segera menuliskannya!" Gumamnya. Perempuan bertopi itu menuliskannya dengan sangat tekun. Matanya sesekali mengawasi Lily dan Rosy. Ia kawatir Liliy dan Rosy akan melihatnya. Bahkan, ia menyiapkan penanya sendiri. "Bagaimanapun, buku inu harus selesai! Rencanaku harus berhasil!" Gumamnya. Seekor cicak kembali jatuh mengenai kepala Lily. Lily yang sedang tertidur sangat pulas itupun terbangun. Namun, karena masih mengantuk matanya tak melihat perempuan bertopi itu. "Oh... cuma cicak. Aku ngantuk banget. Tidur lagi aja deh. Masih malam juga." Ucapnya setengah menguap. Matanya tak mengawasi hal aneh di selelilingnya. Perempuan bertopi itu kini duduk bersembunyi di ruangan sempit lainnya. Ia masih berada di rumah tua kecil itu. Hanya saja ia mencari tempat yang lebih aman. Ia tak ingin Lily benar-benar melihatnya. Tubuhnya yang tinggi menyebabkan ia mudah menaruh buku itu di rak paling atas. Ya, perempuan bertopi itu nampaknya sudah menyelesaikan buku yang ditulisanya. Tanpa berpikir panjang, ia segera mengendap-ngendap pergi. Sembunyi dan melarikan diri. "Rasakan kau anak malang!!" ucapnya. Perempuan bertopi itu pun lari. Pintu ditutupnya dengan sangat pelan. Tak berapa saat kemudian, sinar matahari pagi masu melalui celah-celah jendela. Lily bangun dari tidurnya. Ia duduk dan melihat-lihat sekelilingnya. Meskipun sudah tanda-tanda pagi akan tiba, tapi hutan belantara itu masih terlihat begitu menyeramkan. Sinar matahari yang masuk hanya sedikit sekali. Lily sebenarnya takut, tapi ia berusaha memaksakan diri agar tetap tenang. "Oh... aku lapar. Bagaiamana aku makan? Apa aku harus pulang sekarang?" "Tidak!! Aku tak boleh pulang! Aku tak mau pulang!" "Nanti yang ada disuruh berangkat sekolah lagi. Disana diledeki teman-teman lagi. Sampai rumah ayah ibu sibuk sendiri dengan bisnisnya. Aku capek hidup begitu." Keluh Lily. Wajahnya cemberut. Ia menarik tubuhnya sendiri agar berusaha berdiri. Meskipun rasa lapar sangat menganggunya. "Aku harus keluar dari rumah tua ini sebentar. Aku harus cari makanan. Pasti di hutan banyak makanan." Ucap Lily. Ia membersihkan baju hijaunya. Pita rambut yang lepas, segera diikatkannya kembali. Rambut yang sebelumnya berantakan kini terlihat lebih rapi. Lily melangkahkan kaki keluar. Pintu rumah tua itu sedikit terbuka. Lily sempat curiga kenapa pintu itu bisa terbuka. Namun, ia teringat kondisi dirinya. Ia sekarang berada di hutan. Bisa saja angin kencang menyebabkan pintu rumah terbuka. "Apa benar ini karena angin? Ya sudahlah. Mendingan aku cari makan." Ucap Lily. Ia melangkahkan kaki keluar rumah tua itu. Rimbun pepohonan sangat lebat seolah menutupi langit yang begitu luasnya. Hutan yang dilihat Lily seperti sebuah hutan tak terjamah tangan manusia satu pun. Lily memejamkan mata. Ia merasakan sejuk yang begitu menentramkan. Ia langkahkan kaki kembali menyusuri hutan itu. Sebuah hutan penyerap air hujan sebenarnya. "Dimana aku harus mencari makanan? Aku tak bisa berburu hewan. Tak mungkin aku mencari hewan liar sendirian seperti ini." "Bagaimana ini? Aku bisa mati kelaparan kalau kaya gini." Ucap Lily menahan rasa laparnya. "Hallo... apa ada orang di sini?" Lily berusaha berteriak di hutan. Namun, ia tak mendengar ada tanda-tanda manusia lain di sekelilingnya. Suara dari hewan-hewan liar di hutan sesekali terdengar oleh Lily. Perasaan takut sempat terlihat di wajahnya. Matanya membulat curig. Ketakutan diam-diam melandanya. "Bagaimana ini? Aku belum bisa juga cari makanan. Apa tak ada buah yang bisa kumakan di sini?" Gumamnya. Lily terus melangkahkan kaki. Matanya mencari-cari sesuatu yang bisa dimakan. Namun, hanya pepohonan lebat yang dilihatnya. "Kenapa tak ada pohon berbuah yang bisa dimakan? Oh... aku sangat lapar." Ucap Lily. Ia duduk di bawah pohon. Tak disadari, ia mendengar suara gemericik air. Ia pun segera mendatangi sumber suara itu. Sebuah air terjun kecil mengalir begitu sejuknya. Lily pun segera mengambil airnya untuk diminum. "Meskipun belum ada makanan. Biarin deh. Yang penting aku ndak haus dan kehilangan cairan tubuh. Tapi bagaimana buat besok? Oh... aku pusing." Lily sangat bingung. Sungguh, tekadnya untuk kabur dari rumah sudah sangat kuat. Ia tak ada keinginan sama sekali untuk kembali pada orangtuanya. "Kalaupun aku harus kembali ke sana, aku tak mau bertemu ayah ibu! Oh... tapi itu akan sulit. Ya sudahlah, aku akan menginap untuk satu malam lagi di rumah tua itu. Biar besok lagi aku pikirin gimana caranya!" Gumamnya. "Air ini sejuk sekali. Oh... segar." Lily mencuci wajahnya sekaligus dengan derasnya air terjun itu. Meskipun suasana hutan nampak menyeramkan, Lily seperti sudah merasa terbiasa. "Cukup. Aku harus kembali ke rumah tua itu. Siapa tahu ada sesuatu juga di sana yang bisa kumakan. Kok aku baru ingat?" Lily berjalan kembali menuju rumah tua itu. Berharap ada makanan apapun yang bisa ia makan. "Oh ya, Rosy! Kenapa sampai aku lupa membangunkannya?" Akhirnya, ia sampai di rumah tua itu lagi. Rumah dengan beberapa rak buku seperti perpustakaan mini. Namun, Lily tak peduli lagi dengan hal-hal yang mengingatkannya pada sekolah dan trauma dari teman-temannya. Ia hanya fokus mencari sesuatu yang bisa dimakan. Lili mencari ke sebuah laci, tapi tak ada apapun. Ia juga mencari ke sela-sela buku barangkali terselip cemilan atau apapun. Namun, ia tak lagi menemukannya. Tangannya kini mencoba mencari di atas rak buku tertinggi. Ia menjinjitkan kakinya. Ia raba rak teratas itu dengan tangannya. Namun, bukannya makanan yang ia dapatkan. Melainkan sebuah buku yang tiba-tiba jatuh dan mengenai kepalanya. "Aw!!" Lily jatuh terduduk. "Buku apa ini?" ucap Lily agak teriak hingga membangunkan Rosy. "Ada apa lagi, sih? Kenapa berisik sekali?" Ucap Rosy kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD