Part 13 - Perempuan Bercaping dan Kupu-kupu Biru

1010 Words
Lily tertidur begitu saja di atas rerumputan. Rambutnya tergerai panjang. Ikat rambutnya terlepas percuma. Seakan bosan di jerat-jerat rambutnya yang panjang. Bagaimana seorang manusia bisa tertidur dimanapun? Struktur dan molekul apa yang membuatnya bisa merasakan kantuk begitu saja? Hal itu pun tak jarang manusia yang memikirkannya. Beberapa hal di dunia ini memang tak perlu dipikirkan. Justru, dengan banyak memikirkan, akan terjadinya hal buruk lebih berkemungkinan. Contohnya, saat kita terlambat sekolah, kaki kita akan refleks berlari tanpa berpikir. Justru, kalau banyak berpikir saat berlari bisa tersandung dan jatuh. Termasuk bagaimana manusia begitu ajaib bisa merasakan banyak hal di dunia ini. Manusia di kehidupan nyata memiliki berbagai macam indra, salah satunya adalah indra penglihatan, yakni mata kepala. Lewatnya, manusia bisa melihat apa itu pohon, jenis pohon, tingginya, bagaimana ia bisa beradaptasi dengan lingkungannya, pun termasuk binatang apa saja yang bertengger di ranting-rantingnya. Tak hanya itu, lewat mata kepala pula, manusia bisa melihat berbagai bintang di langit dan segala pernak-pernik. Meskipun lewat alat bantuan, tetap saja mereka bisa melihatnya dengan mata kepala. Namun, dari keindahan mata kepala itu, ada mata yang keindahannya tak sama. Mata itu adalah mata batin. Manusia bisa melihat banyak hal dalam mimpi. Seolah-olah benar-benar merasakan apa yang dilihatnya, tapi mata kepalanya tak bisa merasakannya. Lewat mata batin itu pula manusia mengenal intuisi dan segala tautan dari rasa dan persepsi. Kini, agaknya Lily terlelap dalam melihat indah dan misteriusnya mata batin membawanya ke alam mimpi. "Kamu! Kamu siapa? Kenapa di dekatku? Kenapa tahu namaku?" "Adik? Aku bukan adikmu! Aku putri satu-satunya dari Ayah Darren dan Ibu Daisy. Orangtuaku. Ya, itulah aku." "Bukan, Nak. Kamu bukan anak mereka." Perempuan paruh baya itu berkata lembut dan sedikit batuk. "Tidak! Mereka memang orangtuaku! Kamu yang siapa? Ibu ini siapa?" "Kamu Lily Natalie 'kan? Kamu sendiri siapa?" "Apa kamu pernah bertanya kamu ini siapa anak manis?" tutur perempuan paruh baya itu. "Heh! Tunggu!! Kamu siapa?" Lily terus mengejarnya. Perempuan paruh baya. Mengenakan baju kebaya. Dan, caping itu... itu bukankah perempuan yang pernah ia temui? Apakah benar, dia? "Tunggu!! Kamu siapa?" Ia terus berusaha mengejarnya. "Heh!! Tunggu!!" Napasnya terengah-engah mengejarnya. Perempuan yang dikejarnya akhirnya berhenti. Tanpa menoleh. Ia hanya berhenti. Pun, tanpa melepas capingnya. Ia hanya berhenti. "Kamu siapa? Dan... kenapa bilang aku bukan anak ayah dan Ibuku?" Deretan tanya keluar begitu saja. "Kamu pasti akan mengetahuinya, bocah manis." "Maksudnya? Kamu sendiri siapa? Heh!" Perempuan itu kembali berlari. Menjauh pergi. Seolah hilang begitu saja. Tanpa permisi. "Apa maksud perempuan itu?!" "Heh!! Lari kemana?!" Lily setengah kesal dibuatnya. Antara penasaran dan kesal. Kesal dan penasaran. "Apa yang sebenarnya aku lihat tadi? Kenapa dengan perempuan itu? Aku sama sekali tak mengenalnya! Tapi... kenapa ia malah berlari? Bagaimana bisa meninggalkanku sendiri di sini?!" "Hallo... apa ada orang di sini?!" pekik Lily mengitari hutan belantara. "Hallo... apa ada orang di sini?" Lily kembali menyerukan suara. Semakin keras dari sebelumnya. "Hah.... sebenarnya aku dimana? Apa maksud semua ini? Aku sama sekali tak mengerti." Lily duduk sejenak di sebuah bekas pohon yang jatuh. Matanya melihat ke kanan dan kiri. Seolah benar-benar sedang mencari sesuatu. Sesuatu? Apakah ia mencari orang lain atau justru memastikan dirinya sendiri ada di dunia itu? Kicauan burung menyambut ekspresi keheranannya. Tak berapa saat, sebuah kupu-kupu biru hinggap tak jauh dari tempatnya duduk. Lily tersenyum sejenak melihat kupu-kupu biru yang begitu indah coraknya itu. "Aku baru pernah melihat kupu-kupu seindah ini. Apakah di sini masih banyak kawanmu hei kupu-kupu?" tanyanya pada diri sendiri. Perlahan, ia menggeser tubuhnya. Berusaha lebih dekat dengan kupu-kupu yang hinggap tak jauh dari tempatnya duduk itu. Sayap kupu-kupu itu berhenti mengembang. Sejenak kemudian, dikembangkannya lagi. Begitu tangan Lily hendak menyentuhnya, kupu-kupu itu terbang perlahan. Sangat perlahan terbangnya. Seolah hendak mengajak Lily dengan begitu antusiasnya. "Hei, kupu-kupu. Ada apa denganmu? Aku tak boleh memegangmu kah? Tapi... kenapa kau tak terbang jauh dariku?" gumam Lily. Lily mengikuti arah terbang kupu-kupu biru itu. Ia pun berjalan perlahan sekali. Tanpa ia sadari, matanya melihat cahaya berbeda yang sangat menyilaukan mata. Ia pejamkan sejenak matanya. Beberapa saat kemudian, ia malah di tempat berbeda. "Naaak. Akhirnya kamu pulang, sayang. Ibu kawatir sama kamu, Nak." Ia segera mendekati anaknya. "Diciumnya berkali-kali seperti bayi baru lahir yang begitu dirindukannya." "Ibu... udah. Lily nggak apa-apa. Tuh, baik-baik aja. Gaada yang luka, kok." Daisy memerhatikan seluruh tubuh anaknya. Dari kepala sampai mata kakinya. "Sandalmu, sayang? Kenapa bisa hilang? Kamu beneran gapapa? Kamu gak ketemu siapa-siapa di sana 'kan?" "Kok pertanyaan Ibu sama Ayah sama si? Emang ada siapa di hutan?" Lily heran. "Hutan itu misteri. Kamu mesti hati-hati, sayang. Apapun bisa terjadi di sana. Wajar, Ayah dan Ibu tanya seperti itu." "Ouh gitu. Hutan enak ko, Bu. Sejuk. Malah, rencananya Kumala mau ijin sama Ibu main ke hutan tiap sore. Ibu ngebolehin nggak?" "Nggak! Hutan bukan tempat main sayang. Kamu mau main? Kita bisa pergi ke kota. Mau kemana? Mall? Pantai? Kolam renang?" "Nggak. Itumah gak seru. Enakan di hutan. Beda. Lily pokonya mau main kesana!" Ia segera masuk ke rumah meninggalkan cemas di wajah Ibunya. "Ini ada apa sih, Mas? Kenapa dia begitu ingin main ke hutan?" "Kamu yang menemukannya pertama kali atau...," Daisy kembali begitu cemas. "Aku menemukannya sedang jalan sendirian. Udah. Pas aku tanya, dia katanya ketiduran di hutan. Mungkin kecapean." "Trus, kenapa sandalnya gak dipake? Kalau dia baik-baik aja gamungkin 'kan? Gimana kalau dia...," kecemasan memenuhi wajah istrinya. "Sudah, sayang. Kamu kurang tidur. Makanya cemas begini. Mungkin saja sandalnya putus. Dan anak kita lupa membawanya. Kamu tau sendiri kan dia suka lupa." Aksa berusaha menenangkannya. "Sudah. Yang penting sekarang kamu sudah pulang. Ayo, bantu siap-siap berangkat sekolahnya. Mumpung masih ada waktunya." "Tapi, Mas. Gimana kalau dia bertemu...," "Sssstt... udah, nggakpapa." "Apa? Aku kembali? Tidaak! Tidaak!!" *** Pukk!! Sebuah pukulan kecil menimpa tubuhnya yang terbaring. "Aduh!! Sakit tau!! Hah? Aku dimana?" Lily terheran. Ia baru sadar. Ternyata perempuan bercaping dan kupu-kupu biru yang ditemuinya tadi hanya mimpi. Keringat mengucur deras di dahinya. Rambutnya yang tergerai panjang turut basah oleh keringat. "Tadi kita istirahat sebentar. Lagian kamu sok semangat, taunya istirahat bentar, langsung molor. Untung aja gak kutinggal!" celetuk Rosy. "Hah? Aku ketiduran, yah? Cleon mana?" "Jadi, aku hanya mimpi?!" Gumam Lily.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD