"Siapa kamu?" Awalnya Lily refleks, Lily sempat kaget melihat seorang laki-laki berpakaian hitam dan bertopeng itu.
Namun, karena laki-laki di depannya itu tak kunjung menjawabnya, Lily mulai terlihat sungkan menanyainya lagi.
"Hah, yasudahlah terserah kau! Mau jawab atau tidak. Bodo amat!!"
"Aku gak akan peduli. Tapi sekali aku tahu kamu macam-macam. Awas saja!!" Seru Lily sembari mengepalkan tangannya menghadap ke laki-laki di depannya itu.
"Hah... aku sangat capek. Kita istirahat dulu, Ros?" tanya Lily pada Rosy.
"Iyah. Kupikir kamu lupa apa itu istirahat."
"Hah? Maksudmu, Ros?"
"Daritadi kamu berisik banget! Gabisa diem."
"Aku cuma mau pastiin dia laki-laki yang baik atau jahat, Rosy. Itu saja. Apa kau salah?"
Rosy mengangkat bahunya sejenak dan menggelengkan kepala. Seolah ingin berkata terserah kedua kalinya.
"Ah, yasudahlah. Aku akan bersandar sejenak di pohon itu. Capek sekali," gumam Lily membiarkan laki-laki asing di depannya terdiam.
Pepohonan nampak begitu rimbunnya. Semilir angin pun hadir seperti pelipur tersendiri. Entah itu dimana, tapi Lily bisa merasakan aroma ketenangannya.
Sesekali, ia pejamkan mata. Anak rambut yang basah oleh keringat pun, seolah begitu riang tertiup angin yang mengajaknya menari.
"Sebenarnya kita dimana, Ros?" tanya Rosy perlahan dan menengoknya yang sedang duduk membenarkan tali sepatunya.
"Kau bertanya padaku?"
"Ya. Siapa lagi? Masa aku harus tanya dengan laki-laki gak jelas ini?" ucap Lily seraya pandangannya tertuju pada laki-laki bertopeng di depannya itu.
"Kamu bertanya pada orang yang salah. Bukankah kita sekarang sedang terjebak sama-sama di tempat berbeda? Kenapa kamu bertanya?" ucap Rosy tanpa ekspresi sama sekali.
"Ah, kamu benar, Ros. Tapi... sebenarnya kita dimana?" Gumam Rosy.
"Apa kamu lihat-lihat? Hah?!" Pekik Lily pada laki-laki yang masih di depannya itu.
"Lagian kenapa kamu gak pergi dari sini, hah?!"
"Mau apa?!" Pekik Lily.
Semilir angin kembali menyapa Lily.
Beberapa rambut yang mulai bosan dari kuncirnya pun tak ingin tertinggal. Mereka seperti begitu menikmati udara sejuk itu.
Tiba-tiba, suara berat tapi tetap terdengar lembut itu datang.
"Aku Cleon. Kamu?" Laki-laki itu membuka topengnya dan mengulurkan tangannya ke depan Lily. Lily masih tak begitu percaya dengan laki-laki di depannya.
"Kamu tak percaya denganku?" Tanya Cleon.
Lily terkejut karena laki-laki di depannya seolah bisa memahami isi hati dan pikirannya. Lily memerhatikan laki-laki di depannya itu lebih detail.
"Kamu? Kamu benar laki-laki yang aku temui tadi itu? Yang sedang tertidur pulas?" Lily berusaha mengingatnya.
"Benarkah itu kamu? Kamu tidak sedang melakukan trik jahat denganku, kan?" Lily nampak curiga.
"Iya. Dia yang nolong kamu tadi pas mau kegigit ular." Rosy yang menjawabnya dengan kesal.
"Ya. Aku laki-laki itu. Tadi aku memanggil kalian, tapi malah berlari kesini. Kebetulan saat menemukan kalian, aku lihat kamu hampir digigit ular," ucap Cleon.
"Oh... maaf. Aku hanya kaget makanya lari. Terima kasih."
"Maaf, aku sempat mengomelimu. Aku hanya sedikit kesal dengan sikapmu."
"Tidak apa-apa. Maaf juga kalau mengagetkanmu. Aku hanya coba menebak karaktermu."
"Apa? Untuk apa?"
Laki-laki itu menunduk sekilas dan menyembunyikan senyuman.
Seorang laki-laki yang mungkin lebih dewasa beberapa tahun di atasnya. Tubuh tinggi dengan wajah tampan sempurna.
Kulitnya tangannya sangat bersih, meskipun ia memakai pakaian serba hitam yang sangat menakutkan. Membuatnya sangat kontras dengan wajahnya yang tampan.
Lily mulai bisa menerima Cleon setelah memerhatikannya lebih detail. Itupun karena ia mulai merasa berterima kasih pada Cleon.
"Kamu benar yang menolongku dari gigitan ular?" Lily bertanya kembali pada Cleon.
"Ya. Seperti yang sudah saya katakan. Kamu tak percaya?"
"Maaf. Aku hanya memastikan ingatanku."
"Sudah... memang dia yang menolongmu. Lebih baik sekarang kita pikirkan bersama jalan keluarnya." Usul Rosy.
"Lalu, sebenarnya kamu siapa? Tempat ini juga dimana?" Ucap Lily.
Cleon tak langsung menjawab semua pertanyaan Lily. Ia membuatkan minuman dan menyerahkannya pada Lily.
"Ini. Minumlah terlebih dahulu. Kau akan melewati hari yang sangat panjang di sini. Jadi, minum dan istirahatlah yang cukup."
"Apa maksudmu?"
"Apa kalian tak ingat kenapa masuk ke tempat ini? Apa yang kalian lakukan sebelum masuk ke tempat ini?" Cleon berusaha mengingatkan Lily dan Rosy tentang apa yang mereka lakukan.
"Oh... buku. Buku itu menimpa kepalaku. Saat aku membukanya, dan... aku tersedot ke dalamnya." Ucap Lily berusaha keras mengingatnya.
"Ya. Kamu benar. Buku itulah yang telah membawamu ke sini. Jadi nikmatilah perjalanan yang melelahkan di hari esok."
"Apa maksudmu?"
"Apa yang kamu baca dari buku itu? Masih ingat?"
"Baca?"
"Ya. Apa kamu tak membacanya judulnya?" Tanya Cleon.
Lily mencoba mengingat sesuatu. Tak berapa saat kemudian, ia baru teringat.
"The Secret Book." Ucap Lily.
"Lalu? Apalagi yang kamu lakukan? Kamu membuka halaman selanjutnya karena tak percaya?"
Lily mengangguk. "Ya. Aku membukanya dan tersedot ke tempat ini bersama Rosy. Kamu juga sama sepertiku?"
"Ya. Aku tak sama sepertimu."
"Benarkah? Lalu kamu sudah lama di sini?" Lily kembali bertanya.
"Ya. Tapi aku gagal."
"Serius? Kenapa gagal?"
"Sudahlah. Jangan cerewet. Itu urusanku."
"Kenapa kamu tahu tentang buku itu? Apa kamu yang menuliskannya?"
"Ngarang!! Aku kan sudah bilang. Aku juga terjebak terlebih dahulu seperti kalian. Bedanya aku gagal menyelesaikan seluruh misi di buku itu. Makanya aku tetap di sini. Menunggu orang lain masuk."
"Misi?"
"Ya. Buku itu bukan buku biasa. Di dalamnya kau akan ditantang menyelamatkan berbagai misi tentang kemanusiaan. Apa saja? Itu masih jadi misteri. Seperti nama bukunya. The Secret Book." Jelas Cleon
"Oh ya, kamu belum memperkenalkan diri. Siapa namamu?" Tanya Cleon.
"Maaf, lupa. Aku Lily. Lily .... " Lily ragu menyebutkan nama lengkapnya. Ia teringat sangat membenci namanya sendiri.
"Lily. Namaku Lily. Cukup panggil Lily saja." Jawab Lily dengan sedikit gugup.
"Oh... Lily. Baiklah, Lily. Anggap saja sekarang kita berteman. Bagaimana?"
Lily bingung harus menjawab apa. Sebenarnya ia sama sekali tak ada keinginan untuk berteman dengan siapapun di tempat asing itu. Selain Rosy, itu pun karena memang sejak awal dia bertemu dengannya di dunia nyata. Ia hanya ingin keluar dari tempat aneh itu. Namun, Lily tak punya pilihan lain.
"Oh ya, ini siapa?" Tanya Cleon.
"Aku Rosy." ucap Rosy singkat. Matanya terus memandangi wajah Cleon yang tampan.
"Bagaimana Lily? Rosy? Kalian bersedia bekerjasama denganku? Kita bertiga akan melewati semua misi dari awal. Bagaimana?"
"Kenapa? Kamu masih curiga sama aku?" Tanya Cleon.
"Tidak. Ya. Kita berteman." Lily menjabat tangan Cleon. Ia berusaha memaksakannya tersenyum ramah.
"Apa yang akan kita lakukan selama di hutan ini? Ini benar sebuah hutan?" tanya Lily.
"Ya. Hutan yang tercemar. Aku juga tak tahu bagaimana bisa mengembalikannya normal."
"Apa kamu punya rencana besok?" Ucap Lily penasaran. Sementara, Rosy masih bersikap cuek dan sesekali memerhatikan Cleon asyik berbicara dengan Lily.