Di dalam mobil sedan hitam yang tengah membawa Rayya dan Ezra, keduanya terlihat sedang menikmati musik dari radio.
Rayya sedang melamun menikmati jalanan dan kesibukan orang-orang yang sedang beraktivitas di jalan seperti mereka sedangkan Ezra tampak fokus mengemudikan mobil.
"Hari ini kita sarapan apa Sayang?" tanya Rayya sambil tersenyum lebar ke arah sang kekasih.
"Maaf Ray...kita ke bandara dulu ya Sayang," ujar Ezra.
"Bandara? pagi-pagi begini ngapain ke bandara? kamu mau pergi dinas? kenapa gak bilang sama aku dari tadi sih!" cecar Rayya.
Ezra terkekeh. "Gak kok, aku bukan mau dinas. Kita mau jemput Axel."
Mata Rayya membola."Jemput si Axel? ngapain kita yang jemput dia sih! memangnya keluarga mereka gak punya Supir pribadi apa! kenapa harus kamu yang jemput dia!"
"Ray...Axel itu sahabat aku. Dan aku sangat merindukan Axel, makanya aku yang menawarkan diri untuk menjemput dia," kekeh Ezra. Wajahnya terlihat sangat riang seperti ingin mendapatkan hadiah.
Rayya berdecak kesal. Berbanding balik dengan Ezra, Rayya malah kesal melihat wajah riang kekasihnya itu. persis seperti sepuluh tahun lalu dimana Ezra lebih bahagia bersama Axel dibanding dirinya.
"Terserah kamu deh!" ketus Rayya menyilangkan kedua tangannya di d**a.
Ezra hanya terkekeh melihat tingkah lucu kekasihnya itu. Dari dulu dia tahu kalau Rayya tidak terlalu menyukai Axel yang notabenenya adalah anak orang kaya karena masa lalu Rayya yang di tinggalkan sang ayah yang juga berasal dari kalangan atas.
Mobil sedan berwarna hitam itu pun melaju cepat menyusuri jalanan ibu kota yang mulai padat merayap. Hingga akhirnya mereka tiba di salah satu bandara terbesar di kota itu.
Ezra turun lebih dulu dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Rayya.
Bagi Ezra tak masalah membawa Rayya menjemput Axel karena Axel juga mengenal Rayya karena mereka satu sekolahan dulunya.
Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam bandara menuju titik jemput penumpang yang akan turun dari pesawat.
Mata Ezra terus mencari keberadaan Axel membuat Rayya hanya bisa berdecak kesal. "Kayak nungguin pacar aja!" sindir Rayya pada sang kekasih. Ezra yang mendengar sindiran itu hanya bisa terkekeh.
Tak lama, seorang pria tampan bertubuh tinggi dengan setelan jas lengkap muncul dari pintu kaca yang terbuka perlahan. Ezra langsung melambaikan tangannya ke arah Axel sambil memanggil nama sahabatnya itu dan Rayya hanya bisa melihat ke arah dimana Ezra sedang melambaikan tangannya.
Mata Rayya membola. Sama seperti dulu, Axelo Hibrizy akan sangat mudah menjadi pusat perhatian.
Pria itu semakin tampan, tinggi bahkan rambut hitamnya yang rapi dan mengkilap membuat semua mata tertuju ke arahnya.
Rayya menelan salivanya sendiri saat mendapati Axel yang berjalan mendekat ke arah mereka. Dan begitu tiba di hadapan Ezra, Axel langsung memeluk sahabatnya itu.
"Aku sangat merindukan mu Ez," ujar Axel.
Rayya hanya bisa bergeming. Bahkan mendengar suara Axel yang berat, dalam namun begitu berkharisma.
"Aku juga merindukan mu, kau tidak pernah pulang selama sepuluh tahun, ku kira kau sudah melupakan Indonesia dan juga aku," kekeh Ezra.
Axel melepaskan pelukannya. "Tidak mungkin aku melupakan mu Ez, kau satu-satunya sahabat ku, aku hanya terlalu fokus belajar di LA, aku..."
Mata Axel menoleh ke arah Rayya yang berdiri gugup di belakang Ezra. Ia tahu itu adalah Rayya, kekasih Ezra dulu sewaktu masih SMA. Namun tatapan Rayya padanya masih sama seperti dulu. Tatapan yang berbeda dari tatapan orang lain pada dirinya. Kalau orang lain selalu menatap dirinya dengan tatapan kagum, berbeda dengan Rayya yang selalu menatapnya dengan tatapan kesal.
Tapi kali ini Axel benar-benar ingin membuat Rayya kesal.
"Siapa wanita ini? Apa dia Sekretaris mu?" tanya Axel pada Ezra.
Rayya terbelalak. Sedangkan Ezra hanya bisa terkekeh.
"Ini Rayya, kau lupa pada Rayya?" tanya Ezra.
"Rayya? sepertinya aku tidak mengingat nama itu," ucap Axel datar.
Rayyana menggertakkan giginya. "Dasar b******n!" umpatnya dalam hati. Tapi ia berusaha sabar karena bagaimanapun Axel adalah calon bosnya.
"Ya ampun Axel...katanya kau sangat pintar dan cerdas, bagaimana bisa kau lupa padanya, ini Rayya kekasihku, teman satu sekolah kita dulu," jelas Ezra.
"Ooo...ya aku ingat sekarang Ez, dia adalah gadis yang dulu selalu mengekorimu kan," kekeh Axel dengan suara beratnya.
Rayya mendelik, ia menyembunyikan tangan yang mengepal kuat di belakang tubuhnya. "Si b******k ini kenapa semakin menyebalkan!" maki Rayya lagi dalam hati.
"Tentu saja Rayya selalu berada di sisiku Xel, dia kan kekasihku, wanita yang akan selalu aku cintai," ujar Ezra merangkul pinggang ramping Rayya.
Rayya tersipu malu sekaligus merasa bangga di hadapan Axel.
Axel hanya mendengus kesal sembari merangkul punggung Ezra seakan-akan ingin merebut Ezra dari Rayya. "Ya...ya...baiklah...aku tahu sahabat ku ini adalah orang yang sangat setia, tapi setia pada satu wanita saja selama sepuluh tahun itu adalah sebuah kekolotan," bisik Axel lalu berjalan lebih dulu meninggalkan koper dan tasnya.
"Menyebalkan!" pekik Rayya melotot ke arah Axel yang mulai menjauh dari mereka, sedangkan Ezra hanya mengelus punggung Rayya. "Sabar sayang...jangan di masukin ke hati, Axel cuma bercanda kok." ucapnya menenangkan Rayya.
Ezra menggeret koper hitam berukuran besar itu, begitu juga tas kantor yang ada di atas koper.
Ezra tampak kesulitan membawa koper dan tas Axel apalagi harus mengejar Axel yang berjalan terus tanpa menunggu mereka.
Melihat hal itu membuat Rayya semakin jengkel. "Seenaknya aja dia ninggalin koper dan tasnya, dia pikir Ezra itu pembantunya apa!" pekik Rayya mengejar Ezra.
"Sayang, sini biar aku yang bawa tas kerjanya," ujar Rayya merebut tas kantor hitam itu dari tangan kiri Ezra.
"Makasih Sayang..." ucap Ezra.
Ezra pun berjalan lebih cepat mengejar Axel, karena Axel tidak tahu dimana mobilnya terparkir.
Begitu Ezra tiba di sisi Axel, Axel merangkul punggung Ezra dan berjalan bersama tanpa menghiraukan kopernya yang sedang dibawah oleh Ezra. Mereka berbicara dan bersenda gurau.
Rayya hanya bisa meremas tas kerja milik Axel seakan-akan ingin mencurahkan kekesalannya pada pria itu . Ia berjalan di belakang kedua pria itu.
Rayya dapat melihat dengan jelas perbedaan tinggi Ezra dan Axel cukup signifikan, padahal dulu Ezra dan Axel memiliki tinggi yang sama sewaktu masih duduk dibangku sekolah. Tetapi sekarang bahu Axel, bahkan jauh lebih bidang dan lebar di banding Ezra yang notabenenya saja sudah memiliki tubuh yang cukup atletis.
"Kenapa si b******n ini bertambah tinggi dan tubuhnya bahkan jauh lebih kekar dari Ezra, padahal Ezra saja sudah sangat rajin berolahraga, apa yang dimakannya selama di luar negeri?" batin Rayya.
Sedari tadi, Rayya hanya berani mengumpat dalam hati, bukan karena ia takut pada Axel tapi dia menghargai Axel sebagai sahabat kekasihnya, apalagi sekarang pria menyebalkan itu akan menjadi Direktur di perusahaan tempat ia dan Ezra bekerja. Untuk saat ini, Rayya hanya bisa mengelus d**a saja melihat kelakuan Axelo Hibrizy.