Kehilangan Harga Diri

1091 Words
Ketiganya kini telah tiba di depan mobil sedan milik Ezra. Saat Ezra hendak membuka pintu mobil, Axel meraih kunci mobilnya. "Biar aku yang mengemudi Ez," "Jangan Xel, kau tidak pantas mengendarai mobil jelek seperti ini, memangnya kau tidak malu?" kekeh Ezra. Di tempat yang tak jauh dari Axel dan Ezra berdiri, Rayya hanya bisa mendengus kesal. "Kenapa sih... Ezra selalu aja merendah di depan sahabatnya itu, jelas-jelas mobil ini keluaran terbaru walaupun masih nyicil, apa hebatnya si Axel itu, dia kaya juga karna orangtuanya," batin Rayya. "Kalau ini mobilmu, aku tidak akan malu Ez," Axel melirik ke arah Rayya, dia tahu wanita itu sedang ngedumel dalam hati. "Kecuali ini milik orang lain, mungkin aku tidak sudi menaikinya," sambung Axel terkekeh pelan lalu menekan remote kunci mobil dan langsung masuk ke dalam mobil. Rayya memberi kode melalui lirikan kepada kekasihnya, Ezra hanya mengelus dadanya memberi isyarat agar Rayya bisa bersabar. Rayya pun menyusul masuk ke dalam mobil lalu melempar tas kerja Axel ke sisinya. Sedangkan Ezra, pria itu menggeret koper besar itu lalu memasukkannya ke bagasi mobil. Axel melirik Rayya melalui spion, dan tanpa sengaja Rayya juga menatap Axel melalui spion. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya. "Kau masih sama seperti dulu ya," ucap Axel pelan. "Ha...bapak bilang apa?" tanya Rayya menoleh ke arah Axel. "Bapak? memangnya aku bapak-bapak! kita ini kan seumuran, panggil nama saja!" tegas Axel. "Bu-bukan begitu Pak DIREKTUR, bagaimana pun anda adalah atasan kami, tidak seharusnya kita bisa bicara santai dan kita juga tidak terlalu dekat sejak dulu," sindir Rayya menekan kata direktur dalam ucapannya. Ujung bibirnya sedikit terangkat. Axel terkekeh. "Aku bahkan belum di lantik menjadi Direktur, bagaimana bisa kabar itu sudah tersebar." Tiba-tiba, Ezra masuk ke dalam mobil. Suasana canggung kembali terjadi. Keheningan di dalam mobil membuat Ezra terpaksa bekerja keras untuk mencairkan suasana. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Ezra. "Tidak ada! hanya sedikit berbasa-basi saja," jawab Axel cepat. Axel memutar kunci mobil dan mulai mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. "Sudah lama aku tidak berkendara di Indonesia, ternyata sudah banyak perubahan ya," ujar Axel. "Tentu saja Xel...kau saja yang tidak ingat dengan kampung halaman, pasti karena disana banyak wanita cantik," kekeh Ezra. Rayya berdehem lalu mencubit lengan Ezra yang duduk berada disamping Axel. Ezra menoleh ke belakang, tersenyum kecut ke arah sang kekasih. "Maaf Sayang...itu cuma candaan untuk Axel kok, di mataku kau adalah wanita tercantik di dunia ini," goda Ezra. Rayya hanya tersenyum tersipu malu dan Axel mengamati hal itu dari kaca spion. "Ya...kau benar Ez, disana memang banyak wanita cantik. Itu sebabnya aku bilang kalau kau itu kolot dan sangat menyedihkan karena menghabiskan masa muda mu hanya dengan satu wanita saja," sindir Axel. Rayya mendelik dan menatap tajam ke arah Axel melalui kaca spion. "Memangnya salah menghabiskan waktu yang lama dengan satu orang saja, sepertinya anda belum menemukan seseorang yang tepat Pak Axel makanya anda bisa bicara begitu, saya pikir suatu saat nanti anda juga akan merasakan hal yang sama ketika mencintai seseorang, hidup bersama satu orang yang kita cintai dalam waktu yang lama itu sangat menyenangkan dibandingkan berganti pasangan setiap saat." tegas Rayya. Ezra tersenyum kikuk. Ia tahu suasananya mulai memanas. Karena ia paling mengenali Rayya. Ketika gadis itu mulai banyak bicara panjang lebar, itu artinya kekesalan Rayya sudah mencapai puncaknya. "Sudah...sudah...jangan dibahas lagi masalah gak penting kayak gini, lebih baik kita cari tempat sarapan, gimana?" ujar Ezra mengalihkan pembicaraan. "Gak perlu Ez, aku gak laper kok...kita langsung ke kantor aja." jawab Axel datar. Jujur pria itu sedikit kesal dengan sindiran Rayya. Syukurnya Ezra berhasil memecah suasana itu sebelum semakin buruk. Rayya menggigit bibirnya. "Mungkin kau memang tak lapar, tapi aku dan Ezra, kami bahkan belum sarapan dan makan apapun dari pagi karena buru-buru ingin menjemput mu ke bandara, dasar egois!" maki Rayya dalam hati. Tapi semua itu hanya bisa ia utarakan dalam hati. Kekesalan ataupun kemarahannya pada Axel. Namun Rayya makin kesal karena Ezra selalu mendahulukan ucapan dan perasaan Axel dibandingkan perasaannya sendiri dan itu yang membuat Rayya semakin tidak suka pada Axelo. Mobil melaju dengan kecepatan sedang membela jalanan yang semakin padat merayap. Suara klakson bersahut bergantian. Hingga akhirnya mereka tiba di depan lobby kantor. "Ternyata gedung kantor pusat Papa semakin tinggi ya," kekeh Axelo menatap gedung yang menjulang tinggi itu. Perasaan buruknya karena ulah Rayya mulai sedikit membaik. "Ya Xel...Om Adnan memang sangat hebat, beliau berhasil mengembangkan perusahaan dengan begitu cepat, bahkan kantor cabang kita sudah ada di setiap provinsi yang ada di Indonesia," jelas Ezra. Axel menganggukkan kepalanya. Selama ini ia hanya terus belajar dan memperdalam ilmu bisnisnya di Los Angeles, ia bahkan tidak tahu kalau perusahaan keluarganya sudah sebesar itu. "Kalau begitu, kau turun saja lebih dulu Xel, biar aku saja yang memarkir mobil di basement," ujar Ezra. "Tidak Ez, justru aku hanya ingin mengantarkan mu ke kantor, aku mau pinjam mobilmu karena aku ingin ke mall untuk membeli sesuatu untuk Mama, kalau dia tahu aku pulang ke Indonesia tanpa hadiah untuknya, bisa-bisa mamaku berubah jadi singa, " kekeh Axel. Ezra pun hanya terkekeh menanggapi ucapan Axel, sedangkan Rayya sudah semakin muak dengan percakapan kedua sahabat itu. "Kalau gitu, aku dan Rayya turun ya Xel..." "Tidak Ez, aku mau meminjam kekasihmu, aku tidak tahu hadiah seperti apa yang di sukai wanita," jawab Axel melirik ke arah Rayya. Rayya mendelik. "Meminjam saya, tapi untuk apa ya Pak?" tanya Rayya bingung. Axel menoleh ke belakang, menatap Rayya dengan tatapan tajam. "Kamu kan wanita, kamu pasti tahu hadiah seperti apa yang di sukai oleh wanita, saya butuh kamu untuk memilih hadiah untuk mama saya," Kini tatapan Axel beralih ke Ezra. "Bolehkan aku pinjam kekasih mu Ez, sebentar saja kok... jangan khawatir karena aku akan mengembalikannya secara utuh tanpa kurang apapun," ucap Axel sambil tersenyum tipis ke arah sang sahabat. Ezra menggaruk lehernya yang tak gatal lalu menoleh ke arah Rayya yang tampak sudah melotot ke arahnya, tanda kalau wanita itu tak mau pergi bersama Axel. Tapi seperti biasa, Ezra tidak pernah bisa menolak keinginan Axel. "Tentu saja boleh Xel, lagipula itu kan hadiah untuk Tante Davina, Rayya pasti paham hadiah yang cocok untuk Tante Davina," kekeh Ezra sudah kembali menatap ke depan karena tak berani menatap ke arah Rayya. Rayya hanya bisa meremas roknya. Kini kekesalan yang sejak tadi bertumpuk di d**a untuk Axel, sekarang kemarahan itu ia tujukan pada Ezra sepenuhnya, karena Ezra tidak pernah bisa bersikap tegas pada Axel. "Kalau kau terus memberikan keinginan si b******k ini! apa kau juga akan menyerahkan ku bila dia memintaku padamu!" pekik Rayya dalam hati. Air matanya terasa mau jatuh saja karena melihat Ezra yang semakin kehilangan harga diri di depan Axel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD