Tiga

991 Words
“Sep, ikut kondangan yuk ke acara sunatan keponakan aku?” Ardit mengirim pesan pada Septi sebelum dia pergi tidur. Dalam hitungan detik saja Septi sudah langsung membalas pesan tersebut dengan mengatakan, “Oke.” Keesokan paginya, Septi bersiap-siap untuk pergi kondangan. Dia dandan sangat lama agar terlihat cantik di depan Ardit. Mamanya yang begitu melihat Septi berdandan sangat maksimal langsung menyindirnya dengan kata-kata. “Naik motor saja dandannya secantik itu. Nanti juga jilbabmu kena helm, dressmu kena knalpot motor, dan make up kamu kena debu jalanan.” Mendengar ocehan Mamanya, Septi hanya diam sambil merapatkan dalam kedua matanya. Dia pun menghembuskan nafas kasar seraya mencium tangan Mamanya lalu berpamitan pergi. “Pulangnya jangan terlalu malam. Ingat! Minta diantar pulang sampai ke rumah, jangan mau diturunin di jalanan. Kamu itu kan lahirnya tidak bertelur, masih punya orang tua juga!” “Iya, Ma.” Septi kembali mengabaikan larangan Mamanya yang masih belum mau memberi restu. Meskipun mereka kembali menjalin kasih, tapi ternyata hubungan mereka tidaklah seharmonis dulu, terasa datar dan biasa saja. Suka sih suka, tapi hanya sebatas suka dan ingin bertemu, tidak ada debaran yang berarti ketika kulit mereka saling bersentuhan. Semua rasa itu berlangung selama enam bulan lamanya. Hingga suatu hari, Septi akhirnya memutuskan hubungan jalinan kasihnya dengan Ardit kembali. “Seriusan, Dit. Aku tuh capek banget nunggu kamu. Aku kirain kamu sudah berubah dan mau langsung nikahin aku, tapi ternyata kamu tetap sama seperti dulu, PHP-in aku.” “Ya habis gimana, Sep. Memang adanya aku seperti ini. Kamu sudah lama kenal aku, tapi kamu masih saja menuntut banyak dari aku dan mendesak aku untuk segera nikahin kamu. Mau kasih makan apa kamu dan anak-anak kita nanti kalau setelah nikah pekerjaan aku masih belum stabil?!” “Itu hanya alasan kamu. Ketakutan kamu selalu menjadi tipuan agar aku mau terus bertahan sama kamu. Tapi setelah aku mencoba memberi kesempatan sama kamu, aku memilih untuk menyerah dan berhenti berhubungan seperti ini lagi.” “Ya sudah kalau maunya kamu seperti itu.” Sedih. Sedih sekali. Septi kembali harus merasakan pil pahit dari kisah cintanya dengan laki-laki labil dan tidak konsisten seperti Ardit. Septi berusaha untuk tidak peduli dengan cibiran orang-orang di sekitarnya yang hobi membicarakan tentang kisah cintanya yang selalu berakhir kandas. Mungkin juga memang salah Septi yang mudah sekali mengumbar kebahagiaannya soal pasangannya yang saat itu baru seumur jagung menjalin kasih dengan laki-laki manapun. Makanya, mudah untuk orang lain membicarakannya alih-alih merasa kasihan padahal mereka biasa saja. Hari demi hari Septi lalui tanpa sosok laki-laki manapun selain adiknya yang bernama Bagus. Jarak usia yang dekat di antara mereka membuat mereka mudah berkomunikasi dan sering jalan bareng. Tak jarang Septi juga menghabiskan waktunya bersama si Bu Bidan sekaligus sahabatnya, Jenar. Mereka sering healing ke Puncak dan kulineran. Dua jomblowati itu berusaha menikmati hidup mereka diusia mereka yang mulai melewati masa muda. Sekalipun mereka saling mengatakan santai soal urusan jodoh, tapi tidak bisa dipungkiri kalau mereka menangis sejadi-jadinya di hadapan Tuhan mereka kalau mereka mulai merasa takut dengan kesendirian mereka saat ini. Setiap hari, mereka terus berdoa agar Allah cepat memberikan jodoh yang baik untuk mereka. Rasa takut dan khawatir itulah yang membuat mereka mulai tekun beribadah. Mereka sering janjian untuk puasa sunah bareng, ikut kajian di Masjid saat mereka senggang, dan mendatangi kegiatan-kegiatan yang positif. Suata hari, Mamanya Septi jatuh sakit. Diusianya yang sudah tidak muda lagi, Mamanya meninggal dunia dalam keadaan sakit. Menyedihkannya, kedua anaknya belum sempat dia nikahkan. Dia pun menyusul sang suami yang sudah lebih dulu meninggal sepuluh tahun yang lalu. Septi dan Bagus sangat tegar. Mereka sudah cukup dewasa untuk menerima kepergian kedua orang tua mereka. Sekalipun pernikahan belum bisa Septi berikan pada Mamanya, tapi baktinya Septi pada keinginan Mamanya selama ini setidaknya sudah dia wujudkan hampir semuanya dan hal itu membuat Septi merasa tenang melepas kepergian sang Mama. Beberapa Minggu setelah kepergian sang Mama, Septi bertemu dengan seorang pria bernama Fadli pada sebuah acara kegiatan amal melalui jalan kaki santai di sebuah Alun-Alun Kota. Pertemuan pertamanya dengan Fadli berlangsung biasa saja. Tapi, setelah pertemuan pertama itu, mereka malah jadi sering bertemu pada beberapa moment tak terduga. Hingga akhirnya Fadli mulai memiliki ketertarikannya pada Septi dan memberanikan diri mengajak Septi untuk berkenalan. Perkenalan itu disambut dengan baik oleh Septi. Bahkan, hanya selang beberapa Minggu saja usai mereka berkenalan secara pribadi, hubungan mereka berlanjut ke tahap hubungan pacaran. Kebaikan, kesabaran, dan pengertian luar biasa yang Fadli miliki membuat Septi merasa nyaman. Dia pun bisa menemukan sosok pengganti Papanya yang sudah tiada dari diri Fadli. Tak peduli dengan jarak usianya dengan Fadli yang terpaut jauh, mereka bisa saling mengisi satu sama lain dan Septi pun menjadikan Fadli sebagai pria terbaik yang dia pacari dibandingkan dengan mantan-mantan pacarnya sebelumnya. “Menurut kamu, Mas Fadli gimana orangnya?” Septi iseng bertanya pada Bagus saat mereka sedang bersantai bersama di depan TV. “Baik-baik saja.” Bagus pun menjawab dengan mudah. “Yee, baik-baik sajanya tuh seperti apa? Kakak kan minta pendapat kamu, Gus.” “Kalau buat Bagus, asalkan Kakak bahagia dengan siapapun Kakak menjalin hubungan dan menikah nanti, Bagus setuju saja.” Mendengar jawaban Bagus membuat Septi merasa sangat lega. Kini, memang mereka saling mengandalkan satu sama lain setelah mereka ditinggal pergi untuk selamanya oleh kedua orang tua mereka. Kerukunan di antara kakak beradik itu justru semakin tumbuh setelah mereka hanya tinggal berdua saja. “Andai saja Mama berpikiran sama seperti Bagus dari dulu, pasti aku sudah berkeluarga sekarang.” Septi bergumam di dalam hatinya. Kalimat itu pun muncul secara spontan di dalam benaknya saat ini. Septi mulai mencari tahu tentang kehidupan pribadi Fadli diusia hubungan kasih mereka yang memasuki setengah bulan. Fadli pun terbuka pada Septi untuk setiap pertanyaan yang Septi ajukan padanya selama ini, termasuk statusnya yang ternyata bukanlah seorang perjaka melainkan seorang duda anak 3. Setelah mengetahui itu, Septi mulai mempertimbangkan kelanjutan hubungan kasihnya dengan Fadli, meskipun Fadli sudah mengutarakan niatnya dari awal hubungan untuk menjadikan Septi sebagai istrinya di tahun ini juga. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD