“Septi, kamu mau tidak menikah sama aku?”
Pertanyaan itu memang cukup ditunggu-tunggu oleh Septi, tapi Septi tidak menyangka kalau Rio akan bertanya hal itu padanya secepat ini, saat usia pacaran mereka baru memasuki bulan kedua.
“Kalau kamu mau menikah sama aku, aku ingin kamu tinggal bersama Ibuku karena aku kan anak tunggal. Selain itu, pekerjaan aku sebagai Pelayar mengharuskan aku pergi sampai berbulan-bulan lamanya dan kesendirian Ibuku membuatnya jadi merasa selalu kesepian. Kamu mau kan tinggal di rumah orang tua aku?”
“Iya, mau. Rumah orang tua kita untungnya berdekatan jadi aku bisa kapanpun bertemu dengan Mamaku.”
“Iya, kamu benar. Satu lagi, soal uang nafkah nanti aku belum bisa kasih kamu banyak karena ada beberapa cicilan yang harus aku lunasi dulu. Nanti kalau semua cicilan aku sudah lunas aku akan tambahin uang nafkah untuk kamu, tapi kamu tidak boleh ya melarang aku kasih uang atau apapun ke Ibu aku, termasuk suruh aku kurangi jatah uang yang rutin setiap bulan aku kasih ke Ibu aku. Karena kalau bukan dari aku, Ibu aku tidak punya uang.”
“Iya, aku ngerti kok. Aku juga ingin kamu jadi anak yang berbakti sama Ibu kamu.”
“Syukurlah kalau kamu bisa mengerti semua itu. Aku merasa lega sekarang dan tidak ragu lagi untuk segera menikahi kamu.”
“Jadi, kapan keluarga kamu akan datang ke rumah aku untuk melamar aku?”
“Dua Minggu lagi. Tolong persiapkan sebaik mungkin, terutama jamuannya untuk keluarga besar aku nanti.”
“Oke, siap.”
Septi memang terlalu awam untuk memahami arti dari sebuah hubungan positif yang sebenarnya. Meski tidak dibius apapun oleh Rio, tapi semua ucapan Rio pada Septi selama ini selalu mampu membuat Septi mudah patuh padanya. Septi juga menjadi orang yang berubah dan tidak lagi menjadi dirinya sendiri. Tanpa Septi sadari kalau dirinya telah dikemudikan oleh Rio secara tidak langsung. Namun, keinginan Septi yang sangat ingin segera menikah membuatnya mengabaikan semua itu. Yang ada dipikirannya selalu hanyalah Rio sedang mengubahnya menjadi orang yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Dua Minggu kemudian Rio benar menepati janjinya. Dia datang bersama keluarga besarnya ke kediaman rumah Septi yang sangat sederhana sekali. Rio datang untuk melamar Septi. Dua keluarga pun langsung menentukan tanggal pernikahan.
Setelah hari lamaran itu, Septi mulai mempersiapkan segalanya untuk acara pernikahannya nanti. Dia dan Rio sepakat untuk mengadakan pernikahan yang sederhana dan hanya mengundang beberapa kerabat terdekat saja.
Saking bahagianya akan segera menikah, Septi pun sudah lebih dulu mengumumkan pernikahannya pada semua orang yang dia kenal sebelum undangan pernikahannya jadi.
Seminggu sebelum hari pernikahan dilangsungkan dan undangan masih belum selesai juga dicetak, Rio meminta izin pada Septi untuk pergi bekerja selama tiga hari saja. Septi pun langsung mengizinkannya mengingat pekerjaan itu sudah menjadi tanggung jawabnya.
Tapi, sehari setelah Rio pergi untuk bekerja, tanpa sengaja Septi menemukan sosial media Rio saat dia sedang stalking sosial media calon suaminya itu.
Septi pun semakin menelusuri sosial media Rio ketika salah satu akun seorang wanita yang berteman dengan sosial media Rio membuatnya curiga.
Penelusuran Septi selama 15 menit lamanya tidaklah sia-sia karena tanpa disangka-sangka olehnya sebuah kebobrokan Rio terungkap olehnya tentang siapa Rio yang sebenarnya.
**
“Masa iya gue jadi perawan tua sih nantinya?”
“Hush. Jangan ngomong sembarangan ah. Lo kan tidak sendirian Sep, ada gue yang juga masih jomblo diusia 30 tahun, sama seperti elo!”
“Tapi gue sudah kebelet nikah, sedangkan elo masih bodo amat.”
Jenar pun hanya bisa menghembuskan nafas kasar karena turut prihatin atas batalnya pernikahan sahabatnya itu dengan Pelayar tersebut.
Hanya kata sabar yang bisa Jenar ucapkan untuk memberi semangat Septi.
Pernikahan Septi dan Rio pun akhirnya benar-benar batal setelah Septi menangkap basah Rio sedang pergi berlibur bersama seorang wanita berusia 40 tahunan di sebuah Pantai, dan bukan sedang pergi bekerja. Rio pun telah membohonginya.
Meski Rio tidak memposting foto-foto liburannya dengan wanita itu tapi wanita itulah yang memposting foto-foto kebersamaan mereka, sehingga Septi bisa mengetahui sosok asli Rio sebelum dia benar-benar sah menjadi istrinya.
Pernikahan itu gagal begitu saja, tanpa ada kata permintaan maaf dari pihak Rio. Hubungan mereka yang hampir menjadi keluarga dalam sekejap malah menjadi orang yang tidak lagi saling mengenal seperti dulu lagi.
Diantara rasa bersyukur dan juga sebaliknya, Septi yang rajin sholat tepat waktu, rajin sholat sunah, rajin baca Al-Qur’an, rajin puasa sunah, dan juga anak yang berbakti pada kedua orang tuanya. Dirinya diselamatkan dari laki-laki seperti Rio berkat ibadahnya yang cukup tekun, meskipun dengan cara yang sangat menyakitkan di mana dia harus menanggung malu pada semua orang yang sudah mengetahui soal gagalnya menikah.
Gagalnya pernikahannya itu ternyata nembus hingga ke telinga Ardit, yang ternyata masih mengharapkannya.
Suatu hari, Ardit menghubungi Septi kembali. Dengan setengah keraguannya Septi menerima jalinan komunikasi dengan mantan pacarnya itu lagi. Tapi, Septi tidak ingin sebaper dulu. Dia bertekad untuk menjadikan komunikasi mereka yang terjalin kembali itu hanyalah sebatas teman saja, tidak ingin lebih.
Ardit datang bertamu ke rumah Septi dan kedatangannya kali ini diterima oleh Mamanya Septi, meski dengan sambutan biasa. Dia pun datang tanpa tangan kososng, melainkan sambil membawakan kue yang harganya sangat mahal.
Alih-alih mau mencoba mengambil hati Mamanya Septi agar mau menerima kehadirannya, tapi Mamanya Septi tidak juga mau menerima Ardit. Kehadiran Ardit yang kembali datang di hidup Septi membuat Septi malah harus berdebat dengan Mamanya sepulang Ardit siang tadi.
“Pokoknya, kalau Mama bilang tidak ya berarti tetap tidak!”
“Ma! Septi dan Ardit hanyalah berteman saja sekarang. Masa pertemanan saja masih juga Mama tolak? Apa jangan-jangan Mama memang menginginkan Septi melajang seumur hidup Septi?”
“Astaghfirullahaladzim. Kamu bicara apa sih, Sep? Apa hubungannya pertemanan kamu dengan Ardit dan soal jodoh untuk menikah dengan kamu nanti?”
“Adalah, Ma. Selama ini Septi selalu menuruti permintaan Mama soal jodoh untuk Septi. Mama selalu menolak Ardit dan juga pacar Septi sebelumnya. Tidak tahu apa yang Mama cari untuk kriteria calon menantu Mama. Tapi yang pasti, pilihan Mama juga tidak tepat. Rio jauh lebih menyakiti hati Septi daripada Ardit!”
“Itu artinya kamu masih mengharapkan Ardit agar kembali lagi sama kamu?”
“Karena Septi tidak punya pilihan lain. Septi sudah sangat putus asa untuk urusan jodoh Septi!”
***