Ari menuju ke ruangannya setelah mengantar Rista ke line produksi, tentu saja tadi ia menjadi pusat perhatian karyawan karena sebentar lagi jam kerja akan dimulai. "Mas Ari," suara cempreng itu begitu memekakkan telinga, Ari sampai berhenti di depan pintu ruangannya. Ia menoleh ke arah suara, Dira tengah kesusahan berlari dengan sepatu hak tinggi yang dikenakannya. "Maaf aku terlambat, Mas," katanya, Ari memutar bola matanya malas, apalagi mendengar panggilan Dira kepadanya. Lelaki itu sebenarnya sangar enggan meladeni Dira, tetapi terpaksa harus menjalaninya karena mereka bekerja dibagian yang sama dan saling bergantung satu sama lain. "Masuk, dan bekerjalah," ujar Ari dingin, menghiraukan sikap Dira yang dibuat semanja mungkin untuk menarik perhatian Ari. Seperti kemarin, hari ini jug

