Waktu terus bergulir, tanpa terasa pernikahan mereka memasuki bulan ke 3. Hubungan Reino dan Aisyah tidak ada perubahan, Reino belum menjalankan kewajibannya sebagai suami seutuhnya bagi Aisyah.
Semenjak Irwan mengetahui soal pernikahan Aisyah dan Reino hanyalah sementara, pria itu kembali mendekati Aisyah. Dia sering sekali datang ke sekolah, bahkan hampir setiap hari Irwan menyempatkan diri datang ke sekolah yang dia bangun dari hasil kerja kerasnya selama ini.
Aisyah tidak pernah menaruh curiga kalau Irwan mencintainya, dia menganggap Irwan adalah sahabat terbaik yang dia punya dalam hidupnya. Aisyah tidak menyadari bahwa tidak ada pertemanan laki laki dan perempuan yang tidak meninggalkan rasa, seperti Irwan yang mencintainya sejak dulu.
Hari ini kedua sahabat itu sedang berada di toko buku ternama, Irwan tahu Aisyah hobi membaca jadi dia berpura pura ingin membeli buku dan minta ditemani Aisyah karena sahabatnya itu banyak sekali referensi bacaan bermutu.
Selesai membeli buku, Irwan mengajak Aisyah duduk santai di cafe. Sebenarnya Aisyah ingin segera pulang tapi Irwan membujuknya. Di tempat yang sama, Reino baru saja tiba bersama asisten pribadinya untuk bertemu klien yang ingin menggunakan jasa perusahaan Reino. Kebetulan dia ingin bertemu di cafe tempat Irwan dan Aisyah menghabiskan waktu bersama.
Reino masuk ke dalam cafe, dia berjalan menuju ruang VIP yang ada di ujung cafe. Tapi saat melewati meja demi meja, di depan ruang VIP dia melihat seragam pengajar berupa gamis yang sangat mirip dengan yang dikenakan Ica tadi pagi. Dia juga tidak asing dengan pria yang bersama si wanita.
Dengan mantap dia mendekati keduanya yang sedang asik tertawa bersama. Meskipun tempat duduk mereka tidak berdampingan tapi tetap saja mereka hanya berdua.
"Ica, ngapain kamu di sini?"
Aisyah menoleh ke samping, dan mendapati suaminya sedang berdiri tegap di sampingnya.
"Mas, kamu di sini? aku baru saja dari toko buku di sebelah cafe ini."
"Berdua dengan dia?" Reino menunjuk ke arah Irwan yang duduk berhadapan dengan Aisyah.
"Iya Mas, tadi Irwan memintaku menemaninya memilih buku. Tapi kami tidak satu mobil Mas, aku naik mobilku sendiri."
"Pak Irwan memangnya tidak sibuk? sampai sampai bisa jalan berduaan dengan istri orang!"
"Mas, aku tidak jalan berdua."
"Lalu ini apa? duduk berduaan di cafe, ketawa ketiwi seperti orang pacaran. Terus kamu bilang kalian tidak jalan berdua!"
"Jangan berlebihan lah pak Reino, seperti anda suami sungguhan saja! kalau anda aja bisa bebas ke sana ke sini dengan wanita, kenapa pak Reino harus marah melihat Ica bersama laki laki lain? bukankah pernikahan kalian hanyalah kamuflase."
"Mau pernikahan kami kamuflase atau apa pun dia tetap istri saya. Sah secara agama dan negara!"
Reino menarik lengan Aisyah dan merangkulnya.
"Dia istri saya. Hanya saya yang bisa menyentuhnya seperti ini!"
"Mas, apa apaan?" Aisyah melayangkan protes tapi tidak menepis rangkulan suaminya karena dia tidak mau membuat suaminya malu.
"Pak Irwan, saya boleh bawa istri saya pergi? saya rasa sudah cukup mengobrolnya!"
Irwan diam, pria itu enggan menjawab pertanyaan Reino.
"Mas, kita mau ke mana?"
"Kamu ikut aku. Aku tidak mau kamu berkeliaran dengan dia." Reino kembali menunjuk Irwan.
"Lalu mobilku?"
"Asisten pribadiku yang akan membawanya."
"Wan, aku pamit duluan ya. Assalamualaikum." ucap Aisyah kepada Irwan yang di balas dengan anggukan dan sebuah salam.
"Waalaikum salam," jawab Irwan.
Reino membawa Aisyah pergi dari hadapan Irwan, pria itu meeting dengan ditemani Aisyah di sampingnya. Ada rasa kesal yang ingin Reino luapkan saat ini, tapi dia menunggu meeting ini selesai. Sorot matanya seakan menusuk, membuat Aisyah bergidik ketakutan.
Klien Reino memerhatikan Aisyah dari atas sampai bawah. Saat Aisyah pamit ke toilet klien tersebut mengatakan sesuatu yang tidak disangka-sangka.
"Pak Reino, saya tidak menyangka anda seorang yang religius. Saya pikir CEO muda seperti anda menyukai wanita berpenampilan seksi dan menganut budaya barat. Tapi saat saya melihat istri anda, saya kagum dengan anda. Saya memutuskan untuk mempercayakan projects saya ke perusahaan bapak.
"Bapak serius? saya bahkan belum mempresentasikan apa pun. Bapak yakin akan bekerja sama dengan perusahaan saya?"
"Iya Pak. Saya mantap bekerja sama dengan anda. Siapkan saja kontrak kerja sama kita dan kirimkan ke perusahaan saya."
Ini di luar ekspektasi Reino, klien yang terkenal susah ditaklukan justru menawarkan diri untuk bekerja sama hanya karena melihat penampilan istrinya.
Aisyah kembali dari toilet, dia melihat wajah cerah suaminya. Dalam hati Aisyah bertanya tanya kenapa suaminya bisa dengan cepat berubah? awalnya dia terlihat menyeramkan tapi sekarang suaminya terlihat tampan maksimal.
Klien itu pamit setelah Ica kembali.
"Senang bisa bertemu dengan nyonya Reino Atmajaya. Anda pasti wanita spesial di kehidupan pak Reino, karena anda membawa aura positif."
"Jazakallaahu Khoiron Pak, terima kasih!"
"Sama sama. Pak Reino, Bu Reino saya permisi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatu." jawab Aisyah.
Setelah klien itu pergi Reino menggenggam jemari Ica dan menciumnya.
"Ca...terima kasih. Terima kasih banyak!"
"Terima kasih untuk apa mas? aku tidak melakukan apa apa?"
"Ya sudah, sekarang aku antar kamu pulang ya."
"Tapi Mas, aku kan bawa mobil."
"Nanti asisten pribadiku yang akan membawanya. Kamu ikut mobilku saja!"
"Baik Mas."
Reino menautkan jemari mereka dan berjalan bersama. Ica bingung apa yang terjadi selama dia ke toilet? Tapi apa pun itu Ica senang melihat suaminya bahagia seperti saat ini.
Selama di perjalanan pulang Reino tak henti-hentinya tersenyum. Dia benar-benar berterima kasih kepada istrinya, tentunya dia mengucapkannya di dalam hati.
Senyum mengembang itu mendadak hilang ketika ponsel Reino berdering dan di layar terlihat nama Naughty girl. Dia malas mengangkat telepon dari Helen, sejak kejadian di Bali dua Minggu lalu Reino tiba tiba hilang perasaan terhadap wanita itu.
"Mas, ponselnya berdering tuh?" Aisyah tahu telepon itu pasti dari Helen, soalnya Reino enggan untuk menjawab.
"Biarkan saja Ca. Aku malas mengangkatnya."
"Mas jangan begitu, kalau ada yang harus diselesaikan ya kamu selesaikan mas. Apa Helen mendesak mas untuk menikahinya? kalau iya, Mas nikahi saja dia. Lagi pula wanita mana yang mau hidup tanpa status."
"Apa maksudmu, Ca?"
"Mas dan Helen selama ini hidup seperti Suami istri, apa mas tidak mau menghalalkan Helen sebagai istrinya mas?"
"Lalu kamu?"
"Aku kenapa Mas? aku akan baik baik saja. Nanti aku bantu bicara kepada Bunda, soal hubungan mas dan Helen. Jadi nantinya kita bisa segera berpisah saat mas dan Helen menikah."
Reino menghentikan mobilnya dan memandangi wajah Aisyah. Bagiamana bisa istrinya berbicara dengan tenang, seolah olah itu obrolan biasa saja.
"Apa kamu yakin? kamu yakin ingin berpisah dariku."
"Aku tahu Mas mencintai Helen, Mas berkali-kali mengatakan Mas tidak mencintaiku. Jadi aku tidak mau menjadi penghalang hubungan kalian berdua. Aku akan membantu menyakinkan Bunda untuk menerima pilihan Mas."
"Ica. Aku tidak tahu apa yang aku inginkan saat ini? aku benar benar bingung. Dulu memang benar aku mencintai Helen tapi sekarang aku bingung dengan perasaanku sendiri."
"Yang membuat Mas bingung apa, Mas? kenapa cinta Mas bisa memudar? pasti ada yang salah Mas."
"Kamu Ca. Kamu yang membuatku bingung!" ucap Reino dalam hati.
"Sudahlah, jangan membahas itu."
Reino melajukan kembali mobilnya sampai di rumah. Bunda terlihat senang melihat Reino dan Ica semakin hari semakin lengket saja. Bunda berharap Ica segera hamil, beliau benar benar tidak sabar ingin menimang cucu.
Sehabis mengantar Aisyah, Reino kembali ke kantor meminta stafnya membuat kontrak kerja sama dengan Perusahaan xx. Saat pikirannya sedang gundah, Reino dikejutkan dengan kedatangan Helen secara tiba tiba.
Wanita itu terlihat marah, karena selama dua Minggu ini Reino terkesan menghindarinya. Helen datang mendekat dan duduk di atas meja kerja, dia mengalungkan kedua tangannya di leher Reino dan mencium bibir pria itu.
Helen Melumat bibir itu tapi Reino tidak membalas. Tahu kekasihnya tidak membalas ciuman tersebut, Helen melepaskan ciumannya dan menatap Reino dengan lekat.
"Kamu berubah. Kamu tidak seperti yang dulu lagi!"
Helen menjauh, dia duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Reino. "Kamu benar benar berubah Reino!"
"Apanya yang berubah? aku masih mencintaimu seperti dulu."
"Bohong! jangan berpura pura? jawab dengan jujur apa kamu mencintai pembantumu itu?"
"Dia bukan pembantuku Helen! sebut namanya, jangan merendahkannya seperti itu."
"Aku tanya apa kamu mencintainya?"
"Tidak...aku hanya menghormatinya."
"Kalau kamu tidak mencintainya, kenapa kamu menghindariku?"
"Aku sibuk Helen!"
"Kamu bohong Reino. Kamu pikir aku bisa kamu bohongi dengan mudah!" teriak Helen.
"Bisa tidak kamu berbicara dengan lembut. Tidak perlu berteriak karena pendengaranku masih normal."
"Kalau kamu mencintaiku, cium aku sekarang!"
"Helen ini kantor."
"Peduli setan! kita sudah berkali kali bercinta di ruangan ini. Apa kamu lupa?"
"Oke akan kulakukan."
Reino mendekati Helen dan mencium bibir wanita itu. Keduanya saling bertarung lidah, tapi ada yang berbeda. Reino tidak merasakan apa-apa, ciuman itu terasa hambar. Pria itu menyudahi pertarungan lidah mereka dan kembali ke kursinya.
"Sudah puas! aku masih harus melakukan apa lagi untuk membuktikan cintaku?"
"Iya aku percaya padamu. Tapi tetap saja aku harus selalu waspada. Aku tidak mau pembantumu itu merebut kamu dari sisiku!"
"Sebut namanya Helen. Dia punya nama!"
"Whatever...!"
"Ya sudah kamu pulanglah. Aku masih banyak pekerjaan!"
"Nanti malam clubbing yuks, sudah 2 Minggu kita tidak dugem."
"Aku tidak bisa Helen. Aku banyak pekerjaan, bukankah tadi sudah aku katakan!"
"Kalau begitu besok malam saja bagaimana?"
"Aku atur waktu dulu ya, nanti aku kabari."
"Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu. Bye darling, cup..." Helen mencium singkat bibir Reino kemudian pergi dari kantor itu.
Reino semakin dibuat bingung oleh perasaanya sendiri. Pria itu ingin menyangkal hatinya, bahwa dia sebenarnya dia sudah tidak mempunyai perasaan apa apa kepada Helen, Reino menyangkalnya karena tidak mau Aisyah masuk ke dalam hatinya.
"Ica bukan tipeku. Dari dulu aku tidak menyukai wanita berhijab! tipeku seperti Helen. Cantik, seksi, tinggi nakal dan populer. Bukan seperti Ica yang sederhana, pendek dan selalu pakai baju kebesaran." gumam Reino.
Mulut Reino bisa menyangkal, tapi tidak hatinya. Hatinya mengakui bahwa dia mencintai Aisyah tapi tidak mulutnya. Reino pulang ke rumah sekitar pukul 8 malam, seperti biasa dia di sambut oleh istrinya yang selalu menunggunya di sofa ruang tamu.
"Mas." Aisyah mencium tangan Reino dan membuka kan sepatunya. Lalu mengikuti suaminya sampai ke kamar untuk mengisi air di bathtub dan menyiapkan baju ganti. Selepas itu dia pergi ke dapur untuk menghangatkan makanan untuk Reino. Setiap hari selalu seperti itu, tidak pernah terlewatkan oleh Aisyah untuk melayani suaminya.
Setelah semua rutinitasnya selesai, wanita itu bisa selonjoran di atas tempat tidur dengan tenang. Dia tidak akan memikirkan suaminya terus. Selama Reino belum pulang, maka dia akan selalu memikirkan suaminya. Dia takut terjadi apa apa dengan Reino saat di perjalanan pulang, doa selalu dia panjatkan disela sela menunggu suaminya datang.
Aisyah sedang membaca buku yang dia beli bersama Irwan tadi siang. Tak lama Reino masuk ke kamar setelah sebelumnya pria itu berada di ruang kerjanya. Melihat suaminya datang, Aisyah menyudahi membaca buku dan mematikan lampu, merubahnya dengan lampu tidur.
Reino berbaring terlentang dengan kedua tangan menjadi penopang kepalanya. Matanya belum bisa terpejam, maklumlah biasanya jam 10 malam Reino baru saja tiba di Club malam, tidak berada di kamar seperti ini. Dia menoleh ke arah samping, mencari teman ngobrol di ranjangnya yaitu Aisyah, istrinya.
"Ca apa kamu sudah mengantuk?"
"Belum terlalu Mas, memangnya kenapa?"
"Temani aku ngobrol. Aku belum mau tidur."
"Iya Mas."
"Ca. Apa yang kamu ucapkan waktu di Bali itu benar, bahwa kamu mencintaiku?"
Aisyah menghela nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Reino.
"Seorang istri itu memang harus mencintai suaminya, Mas."
"Tapi sejak kapan kamu mulai mencintaiku? bukankah di awal awal pernikahan, aku memperlakukanmu dengan sangat buruk."
"Rahasia Mas. Lagi pula untuk apa Mas mempertanyakan masalah ini?"
"Aku hanya ingin tahu saja Ca, tadi siang kamu mengatakan akan membantuku berbicara dengan Bunda masalah Helen. Apakah itu tidak menyakitimu?"
"Hatiku sakit, saat mengetahui kalian bersama. Hatiku sakit, saat melihat Mas pulang dalam keadaan mabuk dengan banyak sekali tanda merah di tubuh Mas. Hatiku juga sakit, saat Mas mengatakan, bahwa Mas tidak akan pernah mencintaiku. Tapi dari sana aku belajar satu hal, aku harus ikhlas merelakanmu, Mas. Dan rasa sakit yang aku alami, lama kelamaan menjadi penguat untukku."
Aisyah membalikkan tubuhnya, kini keduanya tidur menyamping saling berhadapan.
"Apa benar tidak apa apa kalau nanti kita berpisah? kamu tidak akan membenciku kan?"
"Insya Allah tidak, Mas."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan nanti? apa setelah kita berpisah, kamu akan menikah lagi?"
"Aku akan kembali ke Kairo Mas, aku akan kembali ke pekerjaanku yang dulu dan menetap di sana selamanya. Soal jodoh aku serahkan kepada Allah saja Mas.
"Bagaimana dengan Irwan?"
"Memangnya kenapa dengan Irwan Mas? dia sahabatku. Aku bahkan menganggapnya seperti saudaraku sendiri."
"Apakah Irwan juga begitu? menganggap kamu adalah sahabatnya dan tidak punya perasaan apa apa terhadapmu. Karena yang aku lihat, laki laki itu mencintaimu Ca."
Aisyah terdiam, dia mencerna ucapan suaminya, selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya. Bagaimana seandainya ucapan Reino itu benar? bahwa Irwan mencintainya. Apa yang harus Aisyah lakukan.
Reino menunggu jawaban, tapi wanita itu malah terlihat sedang memikirkan sesuatu. Reino menyentuh lengan Aisyah untuk menyadarkan Aisyah dari lamunannya.
"Ca. Mikirin apa? kenapa tidak dijawab."
"Aku tidak tahu mau jawab apa, Mas. Yang jelas semua aku serahkan kepada Allah, jodoh maut rejeki biar Allah saja yang atur. Mas Ica tidur duluan ya, Ica ngantuk."
"Tidurlah, Sayang. Eh maksudnya tidurlah Ca!" Reino keceplosan, dia tidak sengaja menyebut Aisyah dengan kata sayang.
Tak lama hembusan nafas teratur terdengar, wanita itu benar benar sudah tertidur. Reino memandangi wajah Aisyah, bibir tipisnya terlihat sangat menggoda. Bentuknya seperti lambang love saat tidur menyamping seperti ini.
Reino mendekatkan wajahnya, Cup...diam diam dia mencium bibir itu. Dadanya berdegup kencang dan bulu kuduknya meremang, ciuman singkat itu lebih memiliki rasa dari pada ciuman ganasnya tadi siang bersama Helen.
Reino bahkan belum pernah mendapatkan sensasi seperti ini sebelumnya. Untuk memastikan perasaanya, dia kembali mencium bibir itu, dan rasanya tetap sama. Jantungnya pun berdegup kencang seperti tadi.
Dalam cahaya temaram dia memandangi wajah Aisyah, rambut panjang bergelombangnya sangat indah, sesuai dengan bentuk wajahnya yang mungil. Dia bangga karena hanya dia yang menikmatinya.
Satu tahun itu kurang dari 7 bulan lagi, dan setelah semua urusannya selesai mereka berdua akan berpisah. Reino sepertinya tidak rela, dia tidak ingin berpisah dengan Aisyah. Selama ini dia terlalu percaya diri bahwa dia tidak akan jatuh cinta pada wanita ini, dia menganggap tidak mungkin seorang Reino berpindah selera soal wanita.
Ya begitulah kalau terlalu membenci seseorang, ujung ujungnya pasti akan jatuh cinta.
***
Hari ini di sekolah, Irwan mengumumkan kepada para ustad dan ustadzah bahwa sekolah mereka kedatangan guru besar dari Saudi Arabia. Aisyah dan juga salah satu ustazah diminta untuk ikut menjemput beliau di hotel bersama Irwan nanti siang. Aisyah fasih berbahasa Arab, maka dari itu Irwan membawa Aisyah supaya mudah berkomunikasi dengan beliau.
Rencananya dia akan ke hotel tersebut pada pukul 1 siang. Irwan sekarang lebih senang berada di sekolah dari pada di kantornya. Urusan kantor dia serahkan pada orang kepercayaannya sementara dia di sekolah supaya lebih leluasa bertemu Aisyah setiap hari.
Di sela sela jam istirahat, Irwan menghampiri Aisyah yang sedang duduk di perpustakaan sekolah untuk membaca buku yang dia bawa. Irwan duduk di bangku depan berhadapan dengan sahabatnya.
"Ca apa kemarin suamimu marah soal kita pergi bersama?" ucap Irwan."
"Tidak Wan. Dia bahkan tidak membahasnya lagi."
"Syukurlah kalau begitu, aku jadi kepikiran kamu terus. Aku tidak mau kalian bertengkar gara gara aku."
"Tidak Wan, lagi pula untuk apa dia marah?"
Irwan mengalihkan pembicaraan, pria itu membahas apa saja yang akan ditanyakan saat bertemu dengan guru besar nanti. Irwan ingin Aisyah mencatat pertanyaan yang ingin Irwan tanyakan kepada beliau. Setelah jam istirahat berakhir, Aisyah pamit untuk kembali mengajar di kelas 11.
Irwan mempersilahkan Aisyah Kembali ke kelas untuk mengajar, pria itu tidak melepaskan pandangannya sampai wanita itu tidak terlihat lagi.
"Ca, lihatlah aku. Kenapa sedari dulu kamu tidak bisa melihat cinta yang aku berikan untukmu? apa di hatimu tidak ada ruang khusus untukku Ca?" ucap Irwan di dalam hati.
Sekitar pukul 12.30 Irwan dan kedua ustazah pergi menjemput guru besar itu, mereka pergi dengan 2 mobil. Ica bersama ustazah, sedangkan Irwan dengan supirnya.
Mobil mereka melaju beriringan sampai menuju hotel. Supir menunggu Irwan di parkiran sedangkan Irwan dan kedua ustazah mendatangi kamar beliau yang ada di lantai 16. Saat akan memasuki lift tiba tiba Ustazah Husna meminta izin untuk ke toilet sebentar.
"Pak Irwan saya izin ke toilet sebentar, bapak tidak perlu menunggu saya. Bapak dan Ustazah Ica naik duluan saja, nanti saya menyusul."
"Apa tidak sebaiknya kita tunggu kamu saja ust?"
"Tidak perlu Pak, mungkin ini agak lama. Soalnya saya ingin buang air besar."
"Ya sudah kalau begitu, saya dan Ica duluan. Nanti kamu menyusul ke kamar 1120 di lantai 16."
"Baik Pak. Saya permisi dulu!"
Pintu lift pun terbuka berbarengan dengan Ustazah Husna yang pergi meninggalkan Irwan dan Aisyah berdua. di dalam lift jarak mereka berjauhan, Aisyah tidak mau berdiri berdekatan karena Irwan bukan muhrimnya.
Begitu sampai di lantai 16 pintu lift terbuka, keduanya keluar dan mencari nomor kamar tersebut. Di lantai yang sama, Helen baru saja keluar dari kamar. Dia memakai topi, kaca mata hitam dan masker.
Helen melihat Aisyah dan seorang laki laki jalan berdua sedang mencari kamar hotel.
"Apa hari ini aku mendapatkan jackpot? ini kesempatan bagus untuk memberitahu Reino seperti apa kelakuan pembantunya ini. Wajahnya saja sok alim padahal b***t juga." ucapnya.
Helen mengira Ica dan Irwan akan check in. Dia mengikuti keduanya dari belakang, tak lupa dia mengeluarkan ponselnya untuk memotret keduanya. Helen bahkan memvideokan dari belakang, ini kesempatan bagus itu menyingkirkan Ica dari Reino pikirnya.
Begitu sampai di depan kamar yang di tuju, Irwan mengetuk pintu. Tak lama pintu kamar terbuka, Helen buru buru memotret keduanya saat masuk ke dalam kamar. Helen tahu bahwa di kamar itu ada orang lain, bahkan dia juga melihat ada seorang wanita menyusul masuk tak lama setelah Aisyah masuk.
Tapi dia masa bodo, dia akan mempergunakan foto dan video ini untuk menyingkirkan Ica dari hidup Reino. Dia bergegas pergi meninggalkan tempat itu karena wanita itu pun takut ada wartawan yang melihatnya.
Begitu Helen berada di dalam mobil, dia mengeluarkan ponselnya dan melihat galery. Wanita itu memilih foto terbaik untuk dikirimkan ke Reino.
Ada 3 foto yang Helen kirim beserta videonya. Helen menuliskan caption "Istri kebanggaanmu sedang check in." Tak lama pesan wa itu centang biru, itu artinya Reino sudah melihat foto yang dia kirim.
Di kantor, Reino sedang rapat dengan para stafnya untuk membahas konsep projects yang akan mereka garap. "Ting" suara notifikasi pesan wa, dia melihat di layar pesan itu dari Helen, awalnya dia tidak akan membukanya dulu. Tapi entah mengapa dia penasaran dengan foto yang di kirim oleh Helen.
Reino membuka pesan dari Helen dan melihat foto itu. Bola matanya seperti akan keluar saking terkejutnya. Nafasnya menjadi lebih cepat dan jantungnya berdetak kencang. Reino mengebrak meja membuat seisi ruangan terkejut dan takut.
Wajahnya terlihat menyeramkan. Ekspresinya seperti akan membunuh orang, benar benar membuat para stafnya takut. Reino meninggalkan ruangan tanpa berkata apa-apa, dia kembali ke ruangannya dan menelepon Helen.
"Halo, apa maksudnya ini?" tanya Reino marah
"Kamu bisa melihatnya seperti apa kelakuan Istri kamu? kalau tidak percaya datang saja ke hotel xx di lantai 16 no 1220. Tapi aku yakin kamu akan terlambat karena saat ini mungkin mereka sedang bersenang-senang"
"Kurang ajar! apa kamu yakin mereka hanya berdua?"
"100% yakin Reino. Aku sudah memastikan tidak ada siapa siapa selain mereka."
Reino mematikan teleponnya. Amarah menguasai hatinya. Dia mencoba menghubungi istrinya tapi ponselnya tidak aktif, dia juga mencoba menghubungi Irwan. ponsel Irwan aktif tapi tidak ada jawaban? ternyata Irwan mengheningkan ponselnya supaya tidak menganggu.
Reino semakin murka, dia menelepon Bunda untuk menanyakan apakah istrinya sudah pulang atau belum? Reino semakin murka, saat Bunda mengatakan istrinya belum pulang mengajar.
Awalnya dia berniat menyusul ke hotel, tapi dia teringat Helen mengatakan mungkin saat ini istrinya sedang bersenang-senang, jadi percuma saja dia ke sana. Karena pasti keduanya sudah pulang saat Reino sampai.
Reino mengamuk di ruangannya, dia membanting semua yang ada di sana. termasuk kursi tempat dia duduk rusak parah karena di banting dengan keras.
"b*****h kalian berdua. Dasar munafik! w************n! aku akan membuat perhitungan denganmu. Tunggu saja!"
Suara amukan Reino terdengar hingga keluar ruangan membuat para karyawannya bertanya tanya.
Sementara di hotel, Irwan dan guru besar itu pergi meninggalkan hotel sekitar 15 menit kemudian. Aisyah dan Ustazah Husna juga meninggalkan hotel. Mereka kembali ke sekolah untuk menyambut kedatangan guru besar tersebut.
Kunjungan itu memang sering dilakukan, pihak sekolah bisa mengirim proposal ke kedutaan Saudi Arabia yang berada di Indonesia untuk mengundang imam atau guru besar yang ingin mereka undang.
Kunjungan itu berakhir pada pukul 5 sore. Ica kembali ke rumah, wanita itu langsung membuka pakaiannya begitu sampai di kamar. Dia ingin segera mandi sebelum magrib tiba.
Karena merasa Reino tidak mungkin pulang sore hari, jadi Aisyah tidak pernah mengunci pintu kamar mandinya setiap dia berada di dalam, kecuali saat Reino berada di rumah.
Tanpa Aisyah tahu saat ini suaminya sedang murka, Reino pulang dari kantor pukul 4 sore dan tiba di rumah sejam kemudian, 10 menit setelah Aisyah pulang.
Dengan wajah beringas Reino memasuki rumahnya, dia bahkan tidak menyapa Bunda dan adiknya yang terlihat olehnya. Kedua wanita itu pun bertanya-tanya ada apa dengan Reino? kenapa wajahnya begitu menyeramkan.
Reino membuka pintu kamarnya, dia tidak melihat istrinya di sana. Reino mendengar suara gemericik air yang turun dari shower menyentuh lantai, pria itu menoleh ke arah kamar mandi dan melangkah ke sana.
Reino membuka pintu yang sama sekali tidak terkunci, melihat Aisyah sedang mandi dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun. Emosinya meledak saat melihat tubuh polos Aisyah, pikiran kotornya mengembara membayangkan adegan demi adegan yang dilakukan Irwan dan istrinya di hotel itu.
Aisyah tidak mengetahui bahwa saat ini ada 2 pasang mata yang melihat tubuh mulusnya dari belakang. Dengan napas yang memburu Reino mendekat, dia menyentuh bahu istrinya dan memutar tubuhnya hingga mereka berhadapan.
"Mas, apa apaan kamu. Kenapa masuk begitu saja!"
"Apa yang kamu lakukan bersama Irwan di hotel tadi siang?" Reino berteriak kencang membuat Aisyah terkejut sekaligus takut.