Bab 8. Maafkan Aku

3634 Words
Selama di dalam mobil Aisyah hanya diam dan menangis, dia tidak menyadari bahwa di samping Irwan ada Ibunya. Ibu Nela melihat ke arah Aisyah dan menyapanya. "Nak Ica, masih ingat ibu tidak? Ini ibunya Irwan, dulu kalian sering sekali main di rumah." Aisyah menyeka air matanya, dia tidak menyadari bahwa di mobil itu ada orang lain selain Irwan. "Astaghfirullah. Maaf Bu, Ica tidak tahu kalau ada ibu. Tentulah Ica ingat, maaf ya ibu Ica tidak sopan. Ica tidak menyapa ibu." "Iya tidak apa apa Nak. Kamu kenapa Sayang? kok nangis sendirian di pinggir jalan. Ada masalah apa? Lama tidak bertemu Ica, sekalinya bertemu dalam keadaan bersedih begini." "Maaf Bu, Ica belum bisa berkata apa apa sekarang. Ica minta maaf ya Bu." "Iya Ndak apa apa, kamu ke sini dengan siapa, sendiri atau bersama keluarga?" "Sendiri Bu. Hiks...hiks...hiks." Aisyah kembali menangis, membuat Ibu Nela merasa bersalah. "Ya sudah tenangkan dirimu, jangan lupa istighfar. Memohon kepada Allah." Suasana kembali hening, mereka bertiga terdiam sampai mobil yang Irwan kendarai sampai di vila milik keluarga Irwan. Aisyah diantar oleh ibu Nela ke kamar tamu, sesampainya di kamar Aisyah merebahkan dirinya di ranjang, berharap semua ini hanya mimpi tapi ternyata bukan. Apa yang terjadi padanya saat ini adalah nyata. Aisyah merasa bodoh karena merasa bisa membuat Reino mencintainya, sejak awal dia harusnya tahu bahwa dunia dia dan suaminya jauh berbeda. Reino menganut budaya barat. Pria itu terbiasa hidup bebas, dia bebas melakukan hubungan seks dengan wanita manapun tanpa harus terikat pernikahan. Sementara dirinya menganut budaya timur, terlebih lagi dalam agamanya dilarang mendekati zina apalagi sampai melakukannya. Seharusnya pernikahan ini tidak terjadi. Seandainya waktu bisa diputar kembali? aku akan menolak perjodohan ini dan kembali ke Kairo untuk menetap di sana. Aku yang bodoh! aku yang terlalu naif bahwa aku bisa merubahmu tapi ternyata aku salah. Aku terlalu berharap buaya bisa berubah menjadi angsa padahal jelas jelas itu mustahil. Aisyah berbicara sendiri, dia menyalahkan dirinya yang terlalu naif. Puas dia mencaci dirinya sendiri akhirnya Aisyah tertidur. Dalam tidurnya dia kembali bertemu ibunya di dalam mimpi. Dalam mimpinya Aisyah berada di suatu tempat seperti taman, ada air yang mengalir dengan begitu jernih, kupu kupu yang beterbangan dari satu bunga ke bunga lainnya. Harum bunga membuatnya betah berada di sana dan tidak mau kembali. Ica menangis di pangkuan ibunya, ibunya berkata kepadanya di dalam mimpi itu. "Ibu minta maaf ya Nak, ibu tidak bisa mendampingimu. Ibu minta kamu bertahan, ibu yakin Ica anak yang kuat dan tangguh. "Tapi Bu ... Ica sudah tidak kuat lagi. Ica lelah Bu, lelah!" "Sayang, jika surga itu masuknya mudah, orang sudah berbondong bondong memasukinya. Tapi untuk masuk ke sana setiap orang mempunyai tiketnya sendiri sendiri, dan tiketmu ada pada suamimu." "Tapi suami Ica jahat Bu. Bagaimana mungkin dia bisa memberi tiket surga ke Ica? tiket untuk dirinya sendiri saja belum tentu dia dapatkan. Ibunya tersenyum lalu mengecup keningnya. "Kamu tahu harus berbuat apa? Lakukanlah." Mimpi yang indah itu berakhir ketika Aisyah mendengar suara adzan subuh dari aplikasi di ponselnya. Aisyah bangun untuk sholat subuh, selesai sholat Aisyah berdoa dengan khusuk memohon petunjuk kepada Allah SWT. Tidak biasanya selepas subuh Aisyah tertidur, tapi kali ini berbeda. Dia tertidur di atas sajadahnya sampai jam 7 pagi. Aisyah terbangun dengan kaget, dia segera memakai hijabnya lalu keluar kamar. Aisyah keluar kamar mencari keberadaan Irwan dan juga Bu Nela untuk mengucapkan terima kasih dan permintaan maaf karena telah merepotkan mereka. Aisyah bertemu keluarga besar Irwan yang sedang berada di ruang makan. Ibunya menghampiri Aisyah dan mengajaknya sarapan bersama, awalnya Aisyah merasa sungkan, tapi setelah duduk bersama dan keluarga Irwan memperlakukan dirinya dengan sangat baik maka Aisyah pun merasa nyaman. Usai sarapan Irwan mengajak Aisyah duduk santai ke taman belakang, setelah dirasa Aisyah mulai nyaman, Irwan menanyakan perihal semalam. "Ca di mana suamimu? Kenapa kamu menangis sendirian dengan membawa koper besar? "Jangan bahas dia, Wan. Aku tidak ingin membahasnya sekarang!" "Maaf ya Ca, maaf sekali. Kamu wanita yang sudah menikah, bukankah kamu tahu wanita yang sudah menikah itu harus izin suami kalau berpergian. "Suami? apa dia pantas disebut suami? Entahlah Wan, aku rasa dia juga tidak akan peduli." "Ca cerita padaku, pernikahan apa yang sedang kau jalani ini?" "Wan, apa kau akan menganggapku wanita bodoh kalau seandainya aku cerita?" "Insya Allah tidak Ca. Percaya padaku." "Sebenarnya aku dan Mas Reino dijodohkan, suamiku sama sekali tidak mencintaiku Wan. Dia mencintai wanita lain. Dia menikahiku supaya bunda tidak mencoret namanya dari daftar warisan. Pernikahan kami hanya sementara Wan, hanya sampai bunda mewariskan hartanya untuk Mas Reino." "Terus..." "Sebenarnya Mas Reino mempunyai seorang kekasih bernama Helen, dia berprofesi sebagai model terkenal. Sampai detik ini pun mereka masih bersama, Mas Reino bahkan belum menjadikanku istri seutuhnya, dia justru asik dengan wanita itu. Semalam Mas Reino kembali ke kamar dalam keadaan mabuk, tapi bukan itu masalahnya hingga membuat aku pergi. Dia mabuk bersama kekasihnya dan kembali ke kamar dengannya." "A-apa? Jadi, sekarang suamimu sedang bersamanya? Kurang ajar dia!" " Iya Wan. Mereka tidur di ranjang yang seharusnya menjadi tempatku berbulan madu. Tapi aku juga sadar diri, suamiku memang tidak pernah menginginkan aku." Aisyah kembali menangis, hatinya benar-benar sakit. Bercerita dengan Irwan membuat bebannya sedikit berkurang. Dia merasa mempunyai kekuatan sekarang. "Aku harus bicara pada suamimu. Seenaknya saja dia menyakitimu dan membuatmu menderita! aku tidak terima Ca. Aku harus membuat perhitungan dengan Reino." "Wan, jangan terlibat masalah rumah tanggaku! aku yakin suatu saat Mas Reino bisa berubah, dia bisa mencintaiku seperti aku mencintainya." "Apa. Jadi kamu mencintainya Ca? setelah apa yang dia lakukan, kamu memilih tetap mencintainya?" "Dia suamiku Wan, aku harus mencintainya bukan?" "Tapi bukan suami seperti itu Ica! Coba kamu pikirkan lagi. Lebih baik kau tinggalkan dia secepatnya!" "Wan, bukankah tadi kamu berjanji tidak akan menganggapku wanita bodoh? Dengan memintaku meninggalkannya itu sama saja kau menganggapku bodoh!" "Maafkan aku Ca. Aku tidak bermaksud demikian, aku hanya tidak ingin kamu terluka terlalu dalam." "Jazakillaahu Khoiron Wan, jazakillaahu kamu mau mendengarkan curhatanku." "Wa iyakum Ca, semoga rumah tanggamu diridhoi Allah SWT. Aamiin ya rabbal alamin." "Aamiin ya Allah." Keduanya membahas hal lain, Irwan mengenang masa masa indah keduanya saat sekolah dulu. Sementara di tempat berbeda, Reino terbangun dari tidurnya. Kepalanya pusing efek mabuk semalam. Reino melihat ke samping, dengan setengah kesadaran, dia melihat wanita menggunakan gaun pendek merah marun tidur di sebelahnya. Dia mengamati ruangan itu, kemudian dia teringat Aisyah. "Astaga Ica." Reino duduk secara tiba tiba, matanya mencari ke segala arah untuk mencari sosok Aisyah. "Ini kamarku dan Ica, tapi mengapa ada Helen di sini? lalu di mana Ica? kenapa Helen bisa berada di sini bersamaku." Reino menjambak rambutnya sendiri, dia benar-benar tidak mengingat apa pun. Reino bangkit dari tempat tidur lalu mencari keberadaan Ica, Reino sama sekali tidak menemukan jejak apa pun tentang Aisyah. Dia terlihat syok saat melihat koper istrinya tidak ada di kamar, Reino mulai panik. Dia menelepon resepsionis untuk menanyakan apakah ada wanita dengan ciri ciri seperti istrinya pergi meninggalkan vila tersebut. Resepsionis itu mengatakan tidak melihat wanita dengan ciri ciri yang Reino sebutkan. Reino terlihat semakin panik, dia bingung harus mencari ke mana? Bagaimana kalau bundanya tahu soal kejadian ini? tiba tiba dia teringat ponselnya. Dia menelepon Aisyah untuk mencari keberadaannya. Berkali-kali menelepon, tapi Aisyah tidak mengangkat teleponnya. "Ayo angkat Ica, angkat dong Sayang. Aku khawatir." Reino berteriak saat operator yang menjawab teleponnya. Dia melihat Helen di ranjang, entah mengapa dia merasa benci dan jijik melihat wanita itu . Reino menarik kakinya hingga tubuh wanita itu merosot turun dengan kaki yang menjuntai ke bawah. "Helen. Helen bangun! Helen bangun kamu!" Pekik Reino. "Ehm ...ada apa sih, aku masih mengantuk." "HELEN BANGUN!" Reino berteriak kencang membuat Helen terkejut dan membuka matanya. "Ada apa beib? pagi pagi ribut seperti ini!" "Helen, di mana Ica? kenapa kamu bisa berada di kamarku dan Ica?" "Mana aku tahu. Lagi pula peduli amat dengan pembantumu itu! sudahlah jangan pedulikan dia, lebih baik kita senang senang." "Dia Istriku. Dia bukan pembantuku! Dia istriku Helen!" "Oh jadi sekarang kamu sudah memiliki perasaan dengannya? ingat ya Reino. Kau yang bilang padaku di awal kau menikah, kau hanya mencintaiku. Kau akan menceraikan dia setelah urusan harta warisan orang tuamu jatuh ke tanganmu! lalu sekarang apa? apa kau mencintainya?" "Bu-bukan begitu. Aku hanya takut Bunda murka." "Alasan. Bilang saja kalau kau mulai mencintai pembantumu itu!" Reino tidak memperdulikan Helen, dia kembali menelepon istrinya tapi tetap tidak mendapat jawaban. "Arrrgghh ...di mana kamu, Sayang! tolong angkat teleponku please." Berkali kali Reino menelepon, tapi Aisyah mengabaikannya, dia teringat kemarin dia meminta istrinya untuk mengaktifkan GPS di ponselnya. Hal itu untuk memudahkan pencarian kalau tiba tiba Ica tersesat. Reino mengecek GPS istrinya, di sana terlihat titik terakhir keberadaan istrinya sekitar 35 menit dari vila ini. Reino bergegas membersihkan dirinya, Helen yang masih berada di sana melarang kekasihnya pergi, namun Reino bersikukuh untuk pergi. Reino bahkan mengusir Helen dari kamarnya. Dia menyesali perbuatannya semalam, kenapa dia begitu jahat memperlakukan Aisyah? padahal istrinya itu sangat baik dan patuh kepadanya, berbeda jauh dengan Helen. Entah mengapa pagi ini setiap melihat wajah Helen dia membencinya, padahal sebelumnya Reino cinta mati kepada wanita itu. Reino bergegas pergi meninggalkan Helen sendiri di vila, dia tidak mempedulikan rengekan wanita itu yang memintanya untuk tinggal. Reino menuju alamat berdasarkan GPS Aisyah. Setelah 35 menit berkendara sampailah dia di depan sebuah vila milik pribadi. Di depan pagar terdapat nama pemilik vila. "Bambang Sastra Wijaya." Reino seperti familiar dengan nama itu? tapi dia harus memastikan benar atau tidak dugaannya. Reino menekan bel sebanyak 3 kali. Tampak seorang satpam berlari menuju gerbang untuk membukakan pintu. "Cari siapa Pak?" "Saya mencari pemilik vila ini." "Bapak siapanya Pak Bambang?" "Apa irwan Sastra Wijaya ada?" "Oh Tuan Muda. Ada di dalam." Anda siapanya?" Benar dugaannya, bahwa vila ini milik keluarga Irwan. Kenapa Irwan bisa ada di sini? Dan mengapa Aisyah pun bersama Irwan? Hal itu menganggu pikirannya. "Halo, Pak? Anda siapanya Tuan?" Satpam menyentuh pundak Reino yang bengong setelah tahu bahwa dugaannya benar. "Saya temanya, bilang padanya Reino suaminya Ica ingin bertemu." "Baik. Tunggu sebentar saya konfirmasi ke Tuan Muda dulu. Setelah menunggu 10 menit, satpam mempersilahkan Reino untuk masuk. Irwan berjalan dengan marah, dia mengepalkan tangannya. Setibanya di ruang tamu mereka bertemu, tatapan keduanya saling membenci. "Ada apa, Pak Reino? Anda mencari siapa?" tanya Irwan. "Saya mencari Istri saya! kenapa dia bisa bersama anda, Pak Irwan Sastra Wijaya yang terhormat." "Oh, istri pura pura anda? Saya sudah tahu semuanya, Ica sudah menceritakan kepada saya." "Anda tidak punya hak ikut campur masalah rumah tangga saya, Pak Irwan! Di mana istri saya? saya ingin membawanya pulang!" "Istri kata Anda? Suami macam apa yang tega membiarkan istrinya menangis jam 1dini hari, di pinggir jalan. Suami macam apa itu, Bapak Reino yang terhormat!" "Itu bukan urusan Anda!" "Lebih baik anda pulang, Pak Reino. Pulang sana ke wanita Anda! Bukankah semalam anda bersamanya?" "Jangan ikut campur masalah saya!" Reino berdiri, keduanya saling berhadapan dan berbicara dengan intonasi tinggi sehingga Ibu Nela bisa mendengar percakapan mereka berdua. Beliau menghampiri anaknya yang terdengar seperti sedang bertengkar dengan seseorang di ruang tamu. Begitu beliau sampai di sana, terlihat Irwan dan seorang laki laki sedang bersitegang. "Ada apa ini, Wan? Siapa pemuda ini?" tanya Ibu Nela. "Saya suaminya Aisyah, apa istri saya ada?" "Oh, jadi kamu suaminya Nak Ica? ada apa dengan kalian? Kenapa kamu tega membiarkan istrimu menangis tengah malam begitu? Kalau ada masalah, selesaikan baik baik." "Saya minta maaf Tante. Bisakah saya bertemu dengan istri saya? Saya mohon." "Kamu tidak perlu meminta maaf kepada saya. Minta maaflah pada istrimu. Dia ada di kamarnya, Irwan akan mengantarkan mu ke kamarnya." "Tapi Bu, dia bukan suami yang baik!" tegas Irwan. "Wan, kita tidak bisa ikut campur. Bagaimana pun dia suaminya, antar kan dia ke kamar Ica." "Iya Bu!" Irwan tidak bisa membantah Ibunya. Dengan berat hati dia mengantar Reino ke kamar Aisyah. Sesampainya di depan kamar, Irwan meninggalkan Reino tanpa sepatah kata pun. Setelah Irwan pergi, Reino mengetuk pintu kamar itu. "Tok ... tok ...tok." Reino mengetuk pintu kamar Aisyah. "Ya sebentar," terdengar sahutan dari dalam membuat Reino lega karena itu suara istrinya. Aisyah memegang handle pintu dan membukanya, alangkah terkejutnya dia saat melihat penampakan suaminya di depan pintu. Aisyah berusaha menutup kembali pintu itu namun Reino menahannya dengan tangannya. Pintu itu pun terbuka lebar, dan Reino pun masuk ke dalam. Aisyah yang masih marah, malas melihat wajah suaminya. Dia memalingkan wajahnya ke arah berbeda untuk menghindari keduanya bertatapan. "Ca aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf." "Pergi Mas. Aku tidak mau melihatmu di sini!" "Aku tidak akan pergi tanpamu." "Aku pun tidak akan pergi denganmu, Mas. Aku benci kamu, Mas. Aku benci!" " Aku minta maaf Ca, aku mohon maafkan aku." "Enak sekali mulutmu berkata maaf. Apa maksud Mas membawa Helen ke kamar? Apa tidak puas kalian bercinta di luar, sampai sampai harus melakukannya di kamar kita! Mas ingin aku melihatnya, Begitu!" "Semalam aku hanya dugem dan mabuk saja Ca, aku tidak bercinta dengannya. Sudah sebulan ini aku tidak lagi melakukan itu dengan Helen." Reino berlutut dihadapan Aisyah, membuat Aisyah memundurkan langkahnya. "Aku minta maaf Ca, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Sekarang kita pulang ya, aku mohon." "Tidak Mas! aku di sini saja." Reino berdiri, dia mencoba memegang jemari istrinya namun segera ditepis oleh Aisyah. "Ikut aku Ca, kita kembali ke vila." "Tidak mas! lebih baik Mas saja yang kembali ke vila, kasihan kan kekasih Mas menunggu di sana." "Aku bersumpah Ca, aku dan Helen tidak melakukan apa apa. Kami hanya dugem saja. Lagipula aku dan dia sudah tidak pernah melakukan hubungan itu sejak sebulan yang lalu." "Maaf Mas aku tidak percaya padamu. Aku minta kamu ceraikan saja aku, Mas. Aku akan membantu Mas berbicara ke Bunda, bahwa Mas mencintai Helen." "Tidak. Aku mohon jangan katakan itu! aku tidak akan menceraikanmu, Ca." "Setahun itu terasa lama Mas. Aku tidak sanggup! mungkin rasanya tidak sesakit ini kalau aku tidak jatuh cinta padamu." Aisyah keceplosan, dia ingin meralat ucapannya tapi tidak mungkin, suaminya pasti sudah mendengarnya. "Apa? jadi kamu mencintaiku?" "Lupakanlah. Aku hanya asal bicara!" "Tidak mungkin! Ca, aku mohon maafkan aku." Reino berlutut dihadapan Aisyah, dia memohon ampun atas semua yang dia lakukan dan berjanji akan memperlakukan Aisyah dengan baik. "Ini terlalu menyakitkan, Mas. Sangat sakit. Aku minta ceraikan aku! Aku akan kembali ke Kairo." "Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu Ca. Kalau kamu tidak mau memaafkanku, aku akan menunggu. Aku akan berada di sini bersamamu sampai kau memaafkanku." "Jangan berbuat aneh aneh Mas. Ini vila orang! Sebaiknya mas pergi dari sini." "Aku akan pergi kalau kau ikut pergi denganku!" Reino mendekati Aisyah seolah ingin mencium istrinya, Aisyah berjalan mundur sampai langkahnya membentur dinding. Reino mengungkung tubuh Aisyah dengan kedua tangannya. Melihat wajah suaminya yang bergerak maju akhirnya Aisyah mengiyakan ajakan suaminya. "Oke Mas, aku ikut denganmu." Seringai senyum penuh kemenangan menghiasi wajahnya. Reino langsung mengambil koper milik Aisyah, lalu keluar bersama dari kamar itu. Dari jauh Irwan dan ibunya melihat keduanya keluar, Irwan hendak melangkah menuju mereka namun ibunya memegang tangannya. "Jangan ikut campur. Biarkan dia pergi bersama suaminya." "Tapi Bu, dia bukan suami yang baik." "Wan, dia suaminya. Dia berhak atas Ica." Irwan diam, dia menunggu Reino dan Aisyah datang. Reino menggandeng tangan Aisyah, walaupun Aisyah berusaha menepis tapi Reino tidak melepas pegangannya. Sesampainya di hadapan Irwan dan ibunya Aisyah mohon pamit, begitu juga Reino. "Bu, Ica mohon pamit ya. Terima kasih banyak atas bantuannya." "Iya Nak. Kamu sudah ibu anggap seperti anak sendiri, ibu do'akan semoga Ica selalu bahagia." "Iya Bu. Ica pamit ya." Aisyah bersalaman dan memeluk ibu Nela. Setelah itu dia juga berpamitan dengan Irwan. "Saya juga mohon pamit. Terima kasih sudah menjaga istri saya," ucap Reino. "Ingat ya. Jangan sakiti Istrimu!" "Iya Tante." Setelah berpamitan, Reino dan Aisyah pergi dari tempat itu dengan menggunakan taksi online. Mereka kembali ke vila untuk mengambil koper milik Reino dan pergi dari sana. Karena jadwal penerbangan mereka pukul 3 sore, Reino membawa Aisyah pergi ke suatu tempat. Aisyah sangat menyukai pantai, jadi Reino membawanya ke salah satu pantai yang berada di dekat bandara. Beberapa kali Helen menelepon Reino tapi selalu di riject olehnya. Dia tidak mau Helen merusak semuanya. Reino dan Aisyah duduk di cafe yang mengarah ke laut, deburan ombak yang besar menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung cafe. Reino memperhatikan Aisyah yang sejak tadi hanya diam, dia sendiri tidak tahu harus mulai dari mana untuk bisa mengobrol dengan istrinya ini. "Ca apa bunda menelepon?" Reino berusaha memecah keheningan. "Tidak!" jawab Aisyah singkat, tanpa menoleh. "Kamu masih marah?" "Tidak!" "Kamu mau makan?" "Tidak!" "Apa kamu ingin jalan jalan ke pantai?" "Tidak." "Apa kau membenciku?" "Ti..." "Ayolah maafkan aku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi." "Mengulangi apa Mas? Mabuk atau berzina? Atau keduanya?" "Aku akan berusaha Ca, aku janji akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi." "Semoga...?" "Ca boleh aku Bertanya?" "Apa...?" "Kenapa kamu memakai penutup kepala? Padahal rambutmu indah dan wajahmu pun cantik saat tidak mengunakan itu." Aisyah menoleh dan menjawabnya. "Karena itu perintah Allah Mas, semua yang diperintahkan Allah kita wajib mematuhinya. Sama halnya Allah memerintahkan seorang istri untuk patuh dan melayani suami." "Kalau aku memintamu untuk melepaskan penutup kepalamu, kamu bersedia atau tidak? bukankah kamu mengatakan, bahwa mematuhi suami adalah perintah Tuhan." "Tidak semua perintah suami wajib istri patuhi, seorang istri juga harus melihat apakah perintah itu bertentangan dengan perintah Allah atau tidak? Kalau Mas memintaku membuka hijab, maka aku katakan tidak! aku lebih baik bercerai atau mati daripada harus melakukan itu." "Oh, begitu." "Aku punya ilustrasi. Misal ada dua buah permen, yang satu terbungkus rapih, Mas tidak bisa melihat isi di dalamnya. Sementara satunya lagi tergeletak begitu saja di atas meja, warnanya cantik dan menggoda untuk memakannya. Kira kira Mas pilih yang mana?" "Sudah jelas aku pilih permen yang terbungkus dong Ca. Siapa tahu yang terbuka itu bekas orang." "Walaupun Mas tidak tahu isi di dalam Bungkusan itu seperti apa?" "Ya iyalah, nanti juga aku akan tahu saat memasukan permen itu ke dalam mulutku." "Dari ilustrasi itu, apa Mas bisa mengambil kesimpulan? bukankah Mas menyukai segala sesuatu yang tertutup, lalu mengapa Mas mempermasalahkan hijabku? dan kita tidak harus berzina untuk tahu rasanya, karena nantinya kita akan merasakan itu dengan pasangan halal kita setelah menikah." Reino tidak bisa berkata apa apa, dia tahu apa yang diucapkan Aisyah semuanya benar. Reino tidak menyangka Aisyah sedewasa ini, cara dia menyampaikan menyampaikan pun penuh dengan kelembutan. Seharusnya dia menjadi laki laki paling beruntung bisa mendapatkan seorang Aisyah Mujahidah, wanita lemah lembut tapi mempunyai prinsip yang kuat. Hampir 3 jam mereka berada di sana. Setelah itu keduanya pergi ke bandara Ngurah Rai, untuk pulang ke Jakarta menggunakan jet pribadi. Selama di atas udara tidak ada percakapan di antara mereka. Usai makan siang Aisyah sibuk membaca buku, sementara Reino bermain ponsel. Membaca buku selama 30 menit membuat mata Aisyah lelah dan mengantuk. Dia tertidur dengan memegang buku yang masih terbuka. Reino beranjak dari tempatnya untuk merebahkan kursi Aisyah, ditatapnya wanita yang sedang tertidur itu. Reino juga menyelimuti tubuh Aisyah lalu mengelus pipinya. Tanpa dia sadari wajahnya mendekat dan cup... Dia mengecup kening Aisyah, dilanjutkan dengan mengecup singkat bibir tipis itu. "Tidur ya Sayang, aku minta maaf telah melukai hatimu. Tolong maafkan aku." Reino kembali ke tempat duduknya, dia pun memejamkan matanya sampai pesawat mendarat di bandara Halim Perdana kusuma. Bunda dan Angel sudah menunggu keduanya. Pintu pesawat terbuka, Aisyah dan menuruni anak tangga lebih dulu sementara Reino berada di belakangnya. Begitu tiba di bawah, Aisyah langsung disambut oleh Angel yang memeluknya dengan erat. "Mbak Ica, Angel kangen. Rumah sepi tanpa Mbak beberapa hari ini." Setelah Angel, disusul bunda yang memeluk menantunya setelah itu ketiganya pergi ke mobil menyisakan Reino yang melongo karena tidak ada yang menyambutnya. "Sebenarnya aku ini siapa ya? kenapa hanya Ica yang disambut sedangkan aku dicuekin." gumamnya. Di dalam mobil, Angel banyak sekali mengajukan pertanyaan seputar bulan madu. Aisyah kewalahan menjawabnya, karena apa yang ditanyakan berbanding terbalik dengan yang terjadi. Ponsel Reino berdering tak henti henti, sejak pesawat mendarat Helen selalu menelepon Reino padahal pria itu sama sekali tdiak menjawab teleponnya. Mendengar ponsel Reino yang selalu berdering, membuat bunda kesal. Dia meminta Reino mengangkat telepon tersebut tapi Reino beralasan bahwa itu telepon dari orang yang tidak penting. Karena takut mengganggu, Reino mematikan ponselnya hingga tiba di rumah. *** Tiga hari sudah pasca kepulangan keduanya berbulan madu. Reino dan Aisyah masih canggung dan jarang sekali berbincang. Tapi walaupun demikian, Aisyah tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, dia tetap menyiapkan keperluan suaminya, memakaikan sepatu dan menunggunya pulang kerja. Malam ini Reino pulang kerja jam delapan tepat. Begitu sampai di kamar, Aisyah langsung membuka sepatu suaminya setelah itu mengisi air di bathtub. Reino terlihat sangat lelah, dia ingin berendam air hangat untuk melepaskan lelahnya. Aisyah pamit ke dapur untuk menyiapkan makan malam, Aisyah menata piring di meja dan menghidangkan makanan yang sudah dia panaskan sebelumnya. Setelah selesai, Aisyah kembali ke kamar untuk memberitahu suaminya, bahwa makanannya sudah siap. Seperti biasa Aisyah menemani Reino makan malam, setelah itu dia membuatkan kopi. Reino selalu menyelesaikan pekerjaannya di rumah. Dia berada di ruang kerja sampai pukul 1 dini hari. Biasanya dulu dia selalu berada di Club, mabuk dan bercinta dengan Helen atau pun wanita malam di sana. Tapi sudah sebulan ini dia berubah. Reino selalu di rumah, menghabiskan waktu di ruang kerjanya sampai larut malam. Reino sudah sangat mengantuk, dia ke kamarnya untuk tidur. Saat memasuki kamar, lampu sudah berubah menjadi temaram. Di ranjang, Aisyah sudah tertidur pulas di dalam selimutnya. Reino berbaring di samping Aisyah, melihat Aisyah yang tidur menghadap ke arahnya, membuatnya melakukan hal yang sama. Dia menatap wajah Aisyah, membelai rambutnya dan mengelus pipinya. Merasa Aisyah yang tidak merespon sentuhannya itu berarti dia sudah tertidur pulas. "Ca, kamu cantik. Sangat cantik. Kamu juga wanita yang berhati baik, kamu pantas dapat pria yang jauh lebih baik dariku. Selamat malam Ica sayang, maafkan aku yang tidak bisa menjanjikan apa apa padamu. Dan terima kasih karena kau mencintai pria berengsek sepertiku." Setelah mengucapkan itu Reino tertidur, dia menautkan jemari mereka berdua, sehingga keduanya tidur saling berpegangan hingga keesokan pagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD