Bab 7. Honeymoon Kelabu

3754 Words
"Iya, kalian akan berbulan madu ke Bali. Ini hadiah pernikahan dari Bunda untuk kalian berdua, Bunda harap selepas berbulan madu Ica segera hamil." "Tapi Bun, Reino banyak perkejaan di kantor. Mana bisa main tinggal begitu saja!" "Iya Bun Ica juga, Ica kan baru mengajar 1.5 bulan. Masa iya Ica langsung minta cuti seminggu Bun? sepertinya di tunda saja dulu ya." "Semua Bunda yang atur, pokoknya lusa kalian berangkat. Bunda sudah siapkan semua dari penginapan dan jet pribadi, kalian tinggal melenggang saja ke Bali." "Bunda tuh suka seenaknya sendiri! lagi pula ngapain harus berbulan madu? perkara buat anak di mana saja bisa!" protes Reino. "Ya tapi buktinya sampai saat ini Ica belum juga hamil, Bunda sudah tidak sabar ingin menimang cucu." Reino tidak memberi komentar apa pun, pria itu pergi meninggalkan para wanita itu di dapur. Ica yang sedang membuat kopi membawa kopi panas tersebut ke ruang kerja suaminya. "Assalamualaikum. Mas, Ica masuk ya?" "Iya masuklah." "Mas ini kopinya, awas masih panas." Aisyah berbalik badan bermaksud untuk keluar dari ruangan, tapi Reino memanggilnya. "Ca duduk dulu sebentar, aku mau bicara!" "Iya Mas." Aisyah duduk di sofa menanti suaminya membuka suara, wanita itu yakin Reino pasti akan membahas masalah bulan madu. "Ca, coba kamu bujuk Bunda untuk membatalkan bulan madu itu. Aku tidak bisa mempunyai anak denganmu sekarang, aku tidak mencintaimu Ca. Aku tidak mau nantinya kamu semakin terikat padaku." "Mas tidak perlu mempertegas seperti itu. Aku paham Mas tidak mencintaiku! tapi tidak perlu di ulang ulang bicaranya." "Ya tapi memang itu kenyataannya. Aku harus selalu memberitahu supaya kita punya batasan." "Maksud Mas apa ya, apa selama ini Ica pernah menggoda Mas? apa pernah dengan sengaja Ica menyodorkan tubuh Ica ke Mas? tidak kan Mas!" "Ya bukan begitu maksudku!" "Lucu ya, Mas tidak pernah merasa risih bila berdekatan dengan p*****r. Mas bisa melakukan itu tanpa cinta, bahkan tanpa merasa jijik. Apa aku sebegitu menjijikkannya? apa di mata Mas, derajatku lebih hina dari mereka!" Aisyah berdiri seketika, hatinya terlalu sakit. Dia tak kuasa menahan air matanya, tapi dia tidak mau menangis di hadapan Reino. "Ca tunggu, bukan begitu maksudku!" Aisyah tidak menghiraukan panggilan suaminya, dia berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sebenernya di rumah ini terdapat lift, tapi mereka lebih senang menggunakan tangga. Sesampainya di kamar dia menangis, ini suatu penghinaan untuknya. Andai saja dia tidak mencintai suaminya mungkin rasanya tidak akan sesakit ini. Dengan berurai air mata Aisyah berusaha untuk memejamkan matanya, dia ingin melupakan semua perkataan Reino kepadanya. Reino yang berada di ruang kerja tampak sedang berpikir, dia merasa bersalah kepada Aisyah. Kalau Reino pikir, apa yang dikatakan Aisyah ada benarnya. Kenapa dia harus sebegitu takut Aisyah akan menuntut untuk menjadi istri seutuhnya padahal selama ini wanita itu bisa menjaga sikapnya, justru dialah yang beberapa kali berbuat tidak senonoh kepada istrinya. Aisyah wanita yang sopan dan lemah lembut, dia juga selalu menuruti apa yang dia katakan. Setelah menyeruput kopi buatan Aisyah, Reino mendatangi Bunda ke kamarnya. Dia setuju untuk berbulan madu dengan Aisyah, ya hitung hitung ucapan terima kasih karena Aisyah selalu mengurusnya selama ini. Setelah dari kamar Bunda, Reino naik ke lantai atas. Dia melihat istrinya sudah tertidur dengan posisi mempunggungi dirinya. Semarah- marahnya Aisyah, dia tetap menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya serta menyediakan air minum yang diletakkan di atas nakas. Kali ini Reino merasa bersalah, apa yang dilakukannya sudah sangat menyakiti hati istrinya. Tapi dia tidak mungkin meminta maaf, pria itu gengsi kalau harus meminta maaf kepada Aisyah. Besok pagi seperti biasa Aisyah bangun pukul 4.30 pagi, dia bergegas mandi lalu menunaikan sholat subuh. Setelah itu dia ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan. Bunda tidak mengizinkan Aisyah mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tapi dia di bebaskan memasak untuk suaminya saja. Untuk mengusir gundah, Aisyah membuat puding coklat. Tepat pukul 6.30 dia kembali ke kamar, dia menyalakan kran untuk mengisi air di bathtub, memilih pakaian kantor untuk suaminya, dan menyemir sepatu. Setelah selesai dia membangunkan Reino dengan lembut. "Mas, bangun. Mas, bangun Mas. Sudah pagi," ucapnya sembari menggoyangkan lengan suaminya. Cara membangunkan Ica berbeda jauh dengan Bunda, kalau Bunda langsung membuka selimut dan meneriakinya, sedangkan Aisyah benar benar lembut seperti membangunkan anak umur 2 tahun. Selesai Reino mandi dan memakai kemejanya, Aisyah memakaikan sepatu suaminya. Reino duduk di atas tempat tidur sedangkan Ica berjongkok di bawah, Reino bisa melihat wajah Aisyah dari jarak dekat. Bulu mata istrinya sangat panjang dan lentik, alisnya pun tebal dan rapih. Aisyah tidak bersuara sama sekali, dia masih marah dengan ucapan Reino semalam. Pria itu pun tidak berani bertanya apa pun , dia hanya memandangi wajah Aisyah saja. Rutinitas setiap pagi adalah sarapan bersama, pagi ini Ica membuat nasi goreng untuk semuanya. Aisyah tetap melayani suaminya dengan baik, dia membuatkan kopi dan menuangkan nasi goreng ke piring suaminya. Tidak ada satu pun yang Aisyah lewatkan walaupun hatinya sedang terluka gara gara pria itu. Susana masih hening ketika Reino mulai membuka suara. "Ca aku antar kamu ke sekolah sekalian aku mau minta izin kepada yayasan untuk memberimu cuti seminggu." "Tidak perlu Mas. Kita tidak usah berbulan madu. Benar kata Mas, tidak perlu jauh jauh untuk membuat anak, di rumah pun bisa yang penting mau!" "Ayolah Nak, masa Ica tidak menghargai pemberian Bunda. Pergilah berlibur dengan suamimu, kalian bisa saling mengenal satu sama lain di sana," sahut Bunda. "Tapi Bun, Ica punya kewajiban. Ica harus mengajar anak anak di sekolah." "Sudahlah, pokoknya kita honeymoon ke Bali besok. Tidak ada protes! sekarang kamu siap siap, kita pergi bersama ke sekolahmu." "Iya Mas." Dengan berat hati Aisyah mengikuti suaminya, mereka pergi bersama ke sekolah tempat Aisyah mengajar. Sesampainya di sana lagi lagi Reino bertemu Irwan, kali ini mereka bertemu saat ada Aisyah. "Ca, tumben diantar?" tanya Irwan penuh selidik. "Assalamualaikum Wan, kemana saja kamu? kenapa selama hampir sebulan tidak terlihat ke sekolah." " Waalaikum salam. Aku sibuk Ca, ada projects besar yang sedang aku tangani." Irwan menoleh ke arah Reino yang sedang membuka pintu mobilnya. Irwan tersenyum saat melihat Reino yang datang menghampiri mereka. "Apa kabar Pak Irwan?" tanya Reino sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Alhamdulillah kabar baik Pak Reino. Tumben nganter istri ke sekolah?" "Memangnya di sekolah ini ada larangan suami antar istri ya Pak?" Reino tersenyum sinis. "Tidak ada Pak, hehe...saya hanya bercanda saja!" "Oh iya Pak, boleh saya bicara? saya kemari memang ada maksud." "Oh ya sudah kalau begitu kita ke ruangan saya saja. Mari ikuti saya." Ketiganya berjalan bersama menuju ruangan Irwan, sesampainya di sana Irwan mempersilahkan Reino dan Ica untuk duduk. " Apa yang ingin bapak bicarakan dengan saya? sepertinya serius?" "Begini Pak, saya dan istri saya mendapat hadiah bulan madu ke Bali selama seminggu dari orang tua saya. Nah kebetulan perginya kan besok, jadi saya mau minta izin ke Bapak supaya istri saya dibolehkan cuti seminggu." "Aduh bagaimana ya pak, masalahnya kan ini peraturan sekolah, dan Ica juga belum ada 2 bulan mengajar. Saya tidak enak dengan pengajar lain kalau harus memberi izin cuti selama seminggu. Mungkin kalau 3 hari bisa saya pertimbangkan." "Tolonglah Pak, ini permintaan Bunda saya. Saya dan Ica tidak bisa menolak permintaan Bunda." "Iya saya mengerti Pak Reino, tapi inikan peraturan. Saya tidak mau pengajar lain menganggap saya mengistimewakan Aisyah." "Jadi bagaimana keputusannya?" "Saya hanya bisa kasih cuti 3-4 hari, lebih dari itu mohon maaf saya tidak bisa." "Ya sudah kalau begitu saya permisi. Terima kasih banyak Pak Irwan." Reino menjabat tangan Irwan kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ica mengikuti suaminya sampai ke mobil kemudian disa mencium tangan dan meminta izin untuk mengajar hari ini. Ica kembali masuk ke sekolah setelah mengantar Reino ke parkiran. Di dalam mobil pria itu tidak menyukai sikap Irwan, Reino menaruh curiga Irwan sengaja tidak memberi izin karena pria itu menyukai istrinya. "Awas saya kalau ternyata dia menyukai istriku!" Entah dari mana Reino mempunyai pemikiran seperti itu? ya walaupun pemikiran itu ada benarnya tapi untuk apa dia melarang Irwan mendekati istrinya? bukankah Reino berniat akan menceraikan ica setelah urusannya selesai. *** Malam harinya Aisyah packing pakaian dan barang yang akan dibawa ke Bali, ada 2 koper besar masing-masing punya dia dan Reino. Sebelum tidur, Reino mengajak Aisyah berbincang sejenak, ya semacam obrolan sebelum tidur di atas ranjang. "Ca apa kamu pernah mempunyai perasaan khusus kepada Irwan? Reino menoleh ke samping menghadap Ica. "Maksudnya Mas?" Aisyah berbicara membelakangi suaminya. "Maksudku apa kalian pernah berpacaran selama sekolah dulu." "Tidak Mas. Aku belum pernah jatuh cinta! Irwan itu hanya sahabatku saja, dulu ke mana mana dia selalu menemaniku." "Hanya sebatas itu, masa selama mengenalnya kamu tidak punya perasaan apa apa? atau mungkin Irwan yang menyukaimu." "Aku tidak tahu Mas, aku rasa sih tidak. Aku belum terpikir ke arah sana Mas, Lagi pula belum wayahnya mengenal cinta. "Lalu siapa cinta pertama kamu, Ca?" Aisyah membalikkan tubuhnya menghadap Reino. "Tumben, Mas nanya seperti itu? kenapa?" "Hanya ingin tahu saja, siapa laki laki pertama yang ada di hati kamu? bukan yang menyentuhmu ya, kalau itu aku tahu siapa orangnya. "Rahasia Mas, sudah ah aku tidak mau membicarakan hal itu. Aku tidur duluan ya Mas." Aisyah kembali membalikkan tubuhnya, membelakangi suaminya, Reino menatap punggung itu beberapa menit sampai akhirnya dia pun membalikkan badannya. "Kamu mas. Kamulah laki laki pertama yang aku cintai. Entah mengapa aku jatuh cinta kepadamu? aku pun tidak bisa menjawabnya." Ica berucap dalam hati, setelah itu dia tertidur sampai pagi. Pagi ini setelah sarapan, Bunda dan Angel mengantar pasangan itu ke bandara Halim perdana Kusuma untuk menaiki jet pribadi, Bunda memeluk Ica erat erat sebelum menantunya itu masuk ke dalam pesawat. Ada 4 Kru di dalam jet pribadi tersebut. Pilot, co pilot dan 2 pramugari. Jarak tempuh Jakarta Bali kurang lebih 1 jam 50 menit tergantung cuaca. Selama di atas udara tidak ada kemesraan layaknya pasangan honeymoon, mereka sibuk sendiri sendiri. Ica dengan buku bacaannya sedangkan Reino bermain game. Ada yang berbeda dengan penampilan Ica saat ini, wanita itu tidak menggunakan gamis kebesarannya. Dia memakai long tunik dipadukan dengan celana sehingga membuat tampilannya sesuai umurnya. Ica tampil elegan berkat Angel yang membelikan banyak sekali tunik dan syar'i untuk anak muda seperti Ica. *** Sehari sebelum ke Bali Angel menjemput kakak iparnya di sekolah, dia hendak membawa Ica ke butik busana muslim terkenal. Seperti biasa Ica selalu menolak tapi Angel memaksa. "Mbak Ica harus merubah penampilan, jangan pakai gamis kebesaran seperti ini. Pakai gamis yang sesuai ukuran tubuh mbak saja," ucap Angel saat sampai di butik yang di tuju. "Tapi Dek, mbak tidak percaya diri. Mbak malu ah dek." Aisyah tampak ingin pulang, tapi Angel menariknya dan mengajak dia masuk ke dalam. Di dalam butik Angel meminta desainer memilih pakaian yang cocok untuk kakak iparnya itu. "Mbak Dian, aku mau kakak iparku tampil cantik tapi tetap syar'i "Oke, saya pilihkan ya. Sebenarnya mbaknya cantik sekali tapi karena salah memilih pakaian dan hijab, jadi terlihat lebih dewasa. Saya coba pilihkan ya," ucap desainer muslimah tersebut. Ada banyak pilihan untuk Ica dan semuanya sesuai dengan ukurannya tapi tidak pres body. Saat mencoba Ica terlihat jauh lebih muda, lebih modis dan fresh. Angel memborong beberapa potong pakaian dan gamis untuk kakak iparnya kenakan agar Reino terpukau. Usaha Angel tidak sia sia, selama diperjalanan menuju bandara, Reino tak henti-hentinya memandangi istrinya yang terlihat sangat cantik dan terlihat muda. Aisyah tertidur di pesawat dengan memegang buku. Reino merebahkan kursinya dan mengambil buku tersebut dari tangannya. Pria itu juga menyelimuti tubuh istrinya supaya lebih nyenyak. Tak lama Reino juga ikut tertidur, dia bosan setelah 40 menit bermain game. Keduanya sama sama tertidur hingga jet mendarat di bandara. Kedua pramugari membangunkan pasangan bulan madu itu dan mengatakan bahwa mereka sudah sampai di tujuan. Mereka di jemput mobil hotel menuju Uluwatu, Bunda memesan kamar di villa terkenal yang ada di Uluwatu. Perjalanan di tempuh sekitar 35 menit. Begitu sampai di villa, Aisyah tampak terpukau melihat penampakan villa tersebut. Suasana romantis tercipta di sepanjang perjalanan menuju kamar. Saat memasuki kamar mereka, lagi lagi Ica dibuat tercengang melihat hamparan lautan luas di depan kamarnya. Ada kolam renang lengkap dengan kolam spa Jacuzzi super besar. "Masya Allah indah sekali Mas. Tapi apa tidak terlihat orang kalau kita berenang di sini?" tanya Aisyah polos. "Ya tidaklah, kan ini privat. Jadi aman, tidak untuk umum." "Oh begitu. Keren sekali ya Mas. Dan itu tempat tidurnya ada banyak taburan bunga mawar, untuk apa mas?" "Ah mana aku tahu, mungkin untuk menciptakan suasana romantis." "Mas, aku mau ke pinggir kolam renang ya, aku ingin bermain air." "Terserah kamu, aku mau lanjut tidur." Reino tertidur pulas sedangkan Aisyah melihat lihat pemandangan di tepi kolam renang yang menghadap ke laut lepas. Harusnya ini menjadi momen romantis bagi keduanya, tapi justru mereka seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal. Pukul 7 malam pintu kamar di ketuk, tour guide mereka memberitahukan saatnya makan malam. Mereka akan makan malam di restoran Klapa, selain dengan berbagai menu makanan ala Carte yang disediakan, pesona alam cantik pantai pasir putih dan pemandangan alam laut biru, membuat Bunda memilih salah satu tempat ini. "Mas ini halal tidak? ada tulisan bar di sana." Aisyah menunjuk plang restoran tersebut, tertera bar dan restoran. "Halal, selagi tidak pesan minuman ya tidak apa apa. Ayo duduk di sana. Tuh ada nama kita di meja." Aisyah merasa aman setelah Reino memastikan bahwa restoran ini halal. Mereka makan malam berdua layaknya pasangan yang sedang berbulan madu. Reino terlihat lebih friendly, dia bahkan bisa tertawa saat menceritakan hal lucu. Begitu juga Ica, wanita itu pertama kalinya tertawa lepas memperlihatkan giginya yang rapih dan putih bersih. "So beautiful. Kenapa aku baru menyadari bahwa wanita ini cantik sekali," ucap Reino dalam hati. "Mas sehabis ini kita jalan jalan ke pantai itu ya, aku ingin bermain pasir." "Tapi ini malam Ca, besok saja ya." "Sebentar saja mas, nanggung sudah sampai sini. Oh iya fotoin aku dong mas." Ica menyerahkan ponselnya, meminta Reino mengambil gambarnya. "Pakai kameraku saja, hasilnya akan jauh lebih bagus." Reino mengarahkan kameranya, mengambil foto beberapa kali hingga Aisyah bilang stop. Reino juga meminta tour guide untuk mengambil foto mereka berdua. Reino dan Aisyah berdiri berjauhan membuat tour guide itu bingung. "Kak rangkul dong istrinya, masa foto berjauhan begitu." Reino dan Aisyah mendekat tapi tetap menjaga jarak membuat tour guide itu gemas. Pria itu menghampiri pasangan itu dan merapatkan posisi mereka, dia juga mengambil tangan Reino kemudian menaruhnya di pinggang Ica. Wajah keduanya terlihat tegang, ketika pria itu membidik kameranya tak sengaja keduanya saling bertatapan. Sehingga menciptakan hasil foto yang romantis. Sehabis makan malam keduanya jalan jalan di tepi pantai atas permintaan Ica, pada pukul 10 malam Reino dan Ica kembali ke vila mereka. Besok pagi mereka akan di jemput kembali pada pukul 8 pagi untuk sarapan dan terus berlanjut sampai pukul 6 sore sehabis itu kembali ke vila. Aisyah berganti pakaian dengan pakaian santai, lalu membuatkan kopi untuk suaminya. Setelah itu Ica menunaikan sholat isya kemudian dia pamit untuk tidur. Reino sedang menikmati kopinya di tepi kolam, angin malam yang berhembus terasa menyejukkan hatinya yang sedang bingung. Entah bingung pada hal apa? hanya Reino yang tahu. Saat sedang melamun, ponselnya berdering. Di layar tertera Naughty girl itu artinya Helen menelpon. "Halo...?" "Beib where are you?" "Aku di Uluwatu, ada apa Hon?" "Apa! kamu di Uluwatu. Sama siapa?" tanya Helen dengan berteriak. "Sama Ica, tapi kamu tenang saja kami tidak berbuat apa apa kok. Ini semua karena ulah Bunda." "Kalian berbulan madu ya, katamu tidak akan ada kontak fisik tapi nyatanya apa? kamu bohong ya beib!" "Tidak seperti itu Honey, kamu jangan salah sangka. Kami tidak melakukan apa pun." "Besok aku ke sana, kalian menginap di mana? "Vila xx, tapi besok pagi jam 8 kami akan pergi sampai jam 6 sore." "Aku tidak akan membiarkan kalian berduaan. Awas saja wanita itu kalau mencoba mengambil keuntungan darimu!" "Tapi hon, kamu tidak perlu ke sini, aku cuma 3 hari saja di Bali, lusa kami juga pulang." "I don't care. Tut ... tut ..tut." Helen menutup teleponnya. Reino merasa cemas kalau seandainya Helen sampai mendatanginya. *** Tepat pukul 8 pagi tour guide menjemput mereka kembali. Setelah keduanya sarapan di vila, mereka pergi ke pantai, menghabiskan waktu di cafe dan mengunjungi beberapa pura. Sore hari Ica meminta diantar ke pusat oleh oleh khas Bali dan memborong beberapa makanan khas pulau Dewata untuk keluarga dan para ustazah. Sebelum jam 6 sore Ica minta kembali ke vila, tubuhnya lelah seharian berwisata. Dia ingin berendam di dalam kolam spa yang ada di kamarnya. Aisyah berendam di kolam dengan tetap menggunakan pakaian, baru kali ini Reino melihat wanita berpakaian lengkap berendam di kolam spa. Namun Reino tidak mau ambil pusing, tujuan dia kemari untuk menyenangkan hati Aisyah. Jadi suka suka Aisyah mau berbuat apa, Reino tidak akan protes. Selepas mandi Aisyah, mengatakan tidak akan makan malam di luar, dia makan malam di kamar saja. Tubuhnya masih sangat lelah karena seharian jalan ke sana ke mari. Ada banyak foto yang diambil, Aisyah sangat senang melihat foto itu satu persatu di ponselnya. Tapi kebahagiaan mereka terusik ketika Helen tiba tiba datang ke kamar mereka. Awalnya ada yang mengetuk pintu kamar sekitar pukul 8 malam, Aisyah pikir itu tour guide mereka. Tapi saat Aisyah membuka pintu matanya terbelalak, dia tidak menyangka Helen ada di Bali. Tepatnya ada di depannya. "Mana Reino? di mana dia, aku ingin bertemu!" "Mau apa kamu ke sini?" Helen bertolak pinggang, dia jengah mendapat pertanyaan seperti itu. "Minggir..." Helen mendorong tubuh Ica kemudian dia masuk ke dalam kamar memacari Reino. "Ren, Reino di mana kamu?" Reino keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Pria itu tidak menyangka Helen benar benar datang menemuinya. "Kenapa kamu ke sini? aku kan sudah bilang jangan! "Cepat pakai pakaianmu kita pergi dari sini." "Tunggu sebentar, aku pakai baju dulu." "Kalian mau ke mana? jangan bawa suamiku pergi. Jangan ganggu dia mbak!" "Hey tahu diri dong. Kamu itu siapa? kamu itu hanya istri sementara. Ingat ya sementara! Reino tidak pernah mencintaimu, dia hanya mencintaiku. Terbukti dia lebih memilih bercinta denganku dari pada dengan kamu istrinya." Reino keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapih dan wangi. Helen mendekat dan merangkul pinggang Reino di depan Ica. "Mas kamu mau ke mana?" Aisyah meraih lengan Reino, mencoba menahannya. Tapi Helen menghempaskan tangan Ica dari lengan Reino. "Ca aku pergi sebentar, nanti aku kembali lagi." Aisyah hanya bisa menyaksikan suaminya pergi dengan Helen. Hatinya seperti tertancap belati, sakitnya teramat sakit. wanita itu hanya bisa menangis, dia tidak habis pikir dengan wanita itu, kenapa bisa bisanya dia ada di Bali dan menjemput suaminya. "Ya Allah kuatkan aku. Aku mohon kuatkan aku menerima semua cobaan ini." Di tempat berbeda, Reino dan Helen berada di Club malam, mereka dugem dan menikmati minuman keras, Reino sudah tampak mabuk. Pria itu bahkan tidak sadarkan diri karena terlalu mabuk. Selama Reino mabuk, Helen dugem ditemani para pria bule tanpa sepengetahuan Reino. Wanita itu bahkan pergi ke toilet bersama salah satu bule dari Australia yang mempunyai postur tubuh tinggi besar. Reino terbaring di sofa, sementara Helen sedang dinikmati pria bule di dalam toilet. Keduanya keluar dari toilet 30 menit kemudian. Mereka berdua berpisah begitu saja setelah mendapat kepuasan masing-masing. Andai Reino tahu seperti apa wanita yang dia puja ini, wanita ini tak ubahnya dengan p*****r yang sering dia pakai di Club malam saat sedang mabuk. Helen membawa Reino pergi dari Club sekitar pukul 1 pagi. Helen meminta bantuan para pria untuk memapah tubuh Reino hingga masuk ke dalam mobil. Wanita itu melajukan mobilnya ke vila tempat Reino menginap. Aisyah terperanjat dari tidurnya saat mendengar suara ketukan pintu yang cukup keras dan terus menerus. Aisyah buru buru memakai hijabnya dan membuka pintu. Matanya kembali terbelalak Ketika melihat suaminya dan wanita itu dalam keadaan mabuk. Ica melihat tampilan Helen seperti Psk yang baru saja melayani pelanggannya. Lipstik yang belepotan, rambut yang berantakan serta tali bra yang menjuntai di lengan atasnya. Sudah sangat jelas wanita itu baru saja melakukan aktivitas sek, itu berarti Reino dan Helen melakukan itu pikir Ica. Air mata Aisyah menetes dengan sendirinya, dia tidak bisa berkata apa apa lagi sekarang. Bahkan dia tidak sadar saat Helen membawa Reino masuk ke dalam kamar. Aisyah masih bengong menatap pintu dengan air mata yang mengalir deras tanpa dikomando. Setelah dia tersadar dari lamunannya, Ica mengikuti keduanya. Mulutnya tetap tanpa suara, hanya ada tangisan. Reino yang awalnya teler tersadar ketika melihat istrinya. Dia berjalan sempoyongan mendekat. "Ica istriku. Kenapa kamu terlalu baik kepadaku, hehe ... jangan terlalu baik, nanti aku bisa cinta. Bagiamana kalau aku cinta kamu? hussttt ... itu tidak boleh terjadi. Ica terlalu baik untukku. Hoek." Pria itu mual karena terlalu banyak minum. Helen yang sudah sangat mabok menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur, menyisakan Ica yang hanya bisa menangis melihat Reino yang meracau tidak jelas. Reino berusaha memegang lengan ica, namun Aisyah menghindar. Wanita itu merasa jijik dengan suaminya. "Plak..." Aisyah menampar pipi Reino yang mencoba mendekat untuk kedua kalinya. Aisyah tak kuasa melihat tingkah suaminya, batas kesabarannya sudah berada di ambang batas. Aisyah mengambil koper dan tasnya lalu pergi meninggalkan Reino dan juga kekasih kesayangannya Helen. Pukul 1 pagi di kota nan jauh dari rumah, dia mau ke mana? Aisyah tidak punya tujuan. Wanita itu hanya berjalan sembari menyeret kopernya. Air matanya tidak mau berhenti mengalir. "Tega kamu Mas. Aku tahu kamu tidak mencintaiku, tapi bisa tidak kamu bersikap baik. Hanya bersikap baik saja kamu tidak bisa Mas. Hatiku sakit mas! aku mengukir namamu di puncak hatiku, tapi kamu menginjakku Mas." Kakinya terasa lemas, dia duduk bersimpuh di tepi jalan raya, menangis dan hanya menangis. Dia tidak peduli bila ada yang memperhatikan, dia sudah tidak peduli pada apa pun lagi. Irwan yang sedang menyetir melintas, dia seperti melihat sosok yang dia kenal. Pria itu menginjak pedal rem dan menoleh ke belakang. "Nak kenapa berhenti?" tanya Ibu Irwan. "Itu Bu, sepertinya Irwan melihat Ica." "Ica, teman sekolahmu dulu?" "Tunggu sebentar ya, Buk. Irwan cek dulu ke belakang." Pria itu berlari mendekati wanita yang sedang menangis di tepi jalan itu, saat semakin dekat Irwan bisa memastikan 100% bahwa itu sahabatnya. "Ica...?" "Irwan , ngapain kamu di sini?" "Kamu yang ngapain di sini? kenapa menangis, dan di mana suami kamu?" "Bawa aku Wan. Bawa aku pergi! Aku mohon bawa aku pergi dari sini." "I-iya, ayo ikut aku ke villa. Tidak baik malam-malam di jalanan." Irwan membawa koper sedangkan Ica mengikutinya dari belakang. Wanita duduk di jok belakang seseorang diri sementara di samping kemudi ada Ibunya Irwan yang memperhatikan Ica tapi tidak berani menegurnya. Aisyah dibawa Irwan ke vila pribadi miliknya yang berada di Uluwatu. Pria itu baru saja sampai tadi siang, malam ini harusnya Irwan dan ibunya menginap di Villa milik sepupunya yang akan menikah besok sore. Tapi karena ada keperluan, ibunya meminta kembali ke villa pada pukul 3 dini hari. Ada banyak pertanyaan yang ingin Irwan tanyakan kepada Aisyah, tapi dia harus menundanya hingga esok hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD