Bab 6. Kehilangan

3096 Words
Mengetahui bahwa mereka akan tidur satu ranjang membuat Aisyah takut, wanita itu takut kejadian beberapa hari yang lalu terulang kembali di mana tiba tiba Reino menyentuhnya, bahkan menurut Ica itu masuk kategori pelecehan seksual. Banyak pertanyaan yang mengisi kepalanya tentang Reino. Aisyah tidak mengerti kenapa Reino bisa melakukan hal itu kepadanya? menurut Aisyah, Reino tipe laki laki yang tidak perlu mencintai untuk bisa bercinta dengan wanita, oleh sebab itu dia harus waspada. Aisyah tidak mau Reino melakukan hubungan suami-istri dengannya hanya sekedar untuk menyalurkan hasrat. Dia ingin suaminya melakukan hal itu berdasarkan cinta dan kewajiban nafkah batin yang harus di berikan oleh suami kepada istrinya. Reino kembali ke kamar setelah berdebat dengan Bunda di ruang bawah. Raut wajahnya masih terlihat kesal, Aisyah tidak berani menegur suaminya karena wajah dingin itu terlihat menyeramkan. Wanita itu terlihat sibuk dengan buku yang dia baca untuk mengalihkan rasa takut. Reino menjatuhkan diri di atas tempat tidur, dia berbaring dengan posisi menyamping membelakangi Aisyah yang sedang membaca buku di tepi tempat tidur. Tanpa melihat lawan bicaranya Reino berkata kepada Ica. "Ca. kamu tahukan Bunda melakukan ini supaya kamu cepat hamil dan punya anak? tapi aku minta kepadamu jangan pernah berharap lebih kepadaku. Aku tidak mencintaimu dan aku rasa aku tidak ingin punya keturunan darimu!" "Iya Mas, aku tahu posisiku." "Aku hanya bisa menganggapmu sebatas teman saja, tidak lebih. Aku tidak mau kamu berharap menjadi istri seutuhnya, karena kamu tahu aku tidak bisa memberikan nafkah batin kepadamu. Ya walaupun aku pernah khilaf, bukan berarti itu akan terulang kembali." "Jangan khawatir Mas, aku bukan wanita seperti itu. Aku tidak pernah melakukan aktivitas s*x sebelumnya, jadi s*x bukan prioritas utama bagiku." Reino tercengang mendengar kata kata itu, seorang Aisyah bisa mengatakan kata itu dengan vulgar tanpa kiasan. Ada banyak hal yang tidak Reino ketahui tentang istrinya, dia hanya menganggap Aisyah konvensional dan kaku. Tapi ternyata Aisyah berpikiran modern konservatif. "Ca aku mau tidur, tolong matikan lampunya." "Iya Mas." Aisyah mengakhiri membaca buku, dia menaruh bukunya di laci lalu mematikan lampu kamarnya. Suasana kamar menjadi temaram karena cahaya dari lampu tidur, Aisyah menyibak selimut dan masuk ke dalamnya. Tubuhnya di bungkus oleh selimut tebal hanya menyisakan wajahnya saja. Mendengar perkataan Reino membuat hatinya sakit, pria itu memperjelas semuanya bahwa dia tidak mencintai Aisyah dan tidak akan pernah mau mempunyai keturunan dari wanita itu. Dalam cahaya temaram pikiran Aisyah mengembara, dia tidak tahu harus mulai dari mana untuk membuat suaminya jatuh cinta kepadanya. *** Seminggu sudah keduanya kembali Ke rumah Bunda, dan selama itu pula mereka tidur bersama dalam satu tempat tidur. Pagi ini Aisyah terburu buru, pukul 5 pagi dia mendapat panggilan dadakan dari pihak sekolah yang mengatakan bahwa dia harus ikut ke Bandung untuk menghadiri seminar. Aisyah menggantikan posisi ustazah yang berhalangan karena orang tuanya meninggal dunia. Aisyah berangkat dari rumah sekitar pukul 6 pagi, dia tidak sempat membuatkan kopi dan sarapan untuk suaminya. Bahkan Aisyah pun tidak sempat pamit kepada suaminya karena Reino masih tertidur pulas, Aisyah tidak mau menganggu. Wanita itu hanya menyiapkan baju kerja untuk 2 hari dan sepatu yang dia letakkan di sisi tempat tidur. Bunda Merry melepas kepergian menantunya pagi ini, beliau meminta Angel untuk mengantar Aisyah ke sekolah. Seminar itu dihadiri selama 2 hari, jadi Aisyah tidak membawa mobil ke sekolah. Dia diantar Angel adik iparnya. Sesampainya di sekolah, Aisyah langsung masuk ke dalam mobil yang akan membawa para ustazah ke Bandung. Mereka berangkat ke Bandung sekitar pukul 7 pagi. Bunda membangunkan Reino, biasanya pria itu dibangunkan istrinya setiap pukul 6.30 pagi. Tapi pagi ini tidak ada Aisyah. "Ren, Reino bangun. Sudah siang!" Bunda membuka selimutnya membuat pria itu terpaksa membuka mata. "Loh, kenapa Bunda yang membangunkan aku, Ica mana?" Reino mencari sosok istrinya tapi tidak ditemukan, dia hanya melihat sosok Bunda saja. "Istrimu pergi ke Bandung pagi pagi sekali. Dia harus menghadiri seminar selama 2 hari." "Kenapa dia tidak izin dulu ke Reino Bun? kenapa main pergi saja!" "Kamunya masih tidur, dia tidak mau membangunkan mu, Rein. lagi pula dia mendapat telepon dadakan subuh tadi, jadi dia buru-buru packing." "Ya sudahlah, Reino mau telepon dia dulu!" Reino mengambil ponselnya dan mencari kontak istrinya. Dia lupa bahwa dia belum menyimpan kontak istrinya di ponsel. Dia mengecek wa, Reino ingat beberapa kali Aisyah pernah mengirim pesan wa kepadanya. Pria itu mencari cari pesan chat dari Aisyah, dan ketemu. Dia menyimpan nomor istrinya. Tak berselang lama dia menelepon Ica. "Tut...tut...tut." "Halo Assalamualaikum, ada apa Mas?" tanya Aisyah. "Ca. Kenapa kamu pergi tanpa izin dulu kepadaku! aku tidak mengizinkan kamu pergi, pulang ke rumah sekarang juga!" "Tapi Mas, Ica sudah berada di tol. Ica minta maaf, Ica tidak mau mengganggu tidurnya Mas." "Pokoknya aku tidak mau tahu. Aku mau kamu pulang sekarang!" Reino menutup telepon tersebut, pria itu terlihat marah. Tapi marah untuk apa? bukankah Reino sudah memperjelas status mereka? dia juga mengatakan bahwa dia tidak mencintai istrinya, lalu sekarang pria itu uring uringan di tinggal Aisyah. . Reino selesai mandi, dia memakai baju yang sudah disiapkan Aisyah. Dia memakai pakaiannya dengan menggerutu. "Ca pakaikan sepatuku." Reino berteriak, tapi dia tidak mendapat sahutan. Dia kembali berteriak meminta Aisyah memakaikan sepatunya. Pria itu lupa bahwa istrinya pergi seminar ke Bandung, dia keluar dari kamar mencari istrinya di dapur. "Kamu kenapa Reino?" tanya Bunda. "Ica mana Bun? dia tahu tidak sih aku mau pergi kerja! kenapa tidak mengurusku!" Bunda hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir dengan kelakuan putranya ini. "Istrimu pergi seminar ke Bandung Reino, bukankah tadi Bunda sudah menjelaskan? kamu ini semua semua Ica, dulu sebelum Ica ada kamu biasa menyiapkan keperluanmu sendiri." Reino tercenung, selama 3 bulan menikah Aisyah yang selalu menyiapkan semua keperluannya. Bahkan wanita itu setiap hari memakaikan sepatu dan melepas sepatunya saat dia pulang ke rumah. Dia kembali ke kamar, dengan wajah cemberut dia memakai sepatunya sendiri. Setelah itu Reino ke ruang makan untuk sarapan, pria itu kembali marah saat menyeruput kopi. Rasa kopi itu tidak seperti yang biasa di buat istrinya. "Bun, kopi apa ini? rasanya seperti air sabun!" "Ya kopi seperti biasanya, Reino. Mana ada kopi rasa air sabun!" "Aku mau kopi seperti biasanya. Ini tidak enak Bun." "Kapok ... rasain tuh! gak ada Mbak Ica susah kamu Kak." Teriak Angel. Reino hanya bisa diam dengan wajah masam, dia bahkan tidak menyantap sarapannya. Pria itu memilih pergi ke kantor tanpa sarapan di rumah. Dia mampir ke coffeshop, untuk minum kopi dan sarapan di sana. Tetap saja dia merasa kopinya tidak seenak yang di buat Aisyah. Reino mengambil ponsel di saku jasnya kemudian menelepon istrinya. "Halo, hamu sudah jalan pulang belum?" "Assalamualaikum Mas, Ica tidak bisa pulang. Ica sudah setengah perjalanan." "Aku suami kamu Ca. Aku minta kamu pulang sekarang juga!" "Tapi Mas..." Reino mematikan ponsel sebelum Aisyah menyelesaikan kalimatnya. Pagi ini pria itu sudah di buat kesal entah pada hal apa? Setelah mendapat telepon dari suaminya, Aisyah terlihat panik dan tidak berkonsentrasi. Wanita itu hanya melamun saja di dalam mobil, dia tidak menyimak materi yang disampaikan oleh ustazah lain. Rombongan yayasan Baitul Jannah tiba di Bandung pada pukul 10 pagi, mereka berada di hotel tempat seminar itu diadakan sekaligus tempat mereka tidur. Pikiran Aisyah benar benar tidak tenang karena suaminya terus meminta dia untuk pulang. Aisyah menelepon Bunda, untuk meminta pendapatnya. "Assalamualaikum..." "Waalaikum salam. Sayang, sudah sampai kamu Nak? "Sudah Bun, tapi Ica bingung. Mas Reino terus menerus menelepon meminta Ica pulang ke rumah." "Sudah jangan dengarkan suamimu. Ada baiknya ponsel kamu matikan saja dulu ya, biar dia kelabakan nyariin Ica." "Tapi, Ica takut Mas Reino marah Bun." "Urusan Reino biar Bunda yang handle, kamu fokus saja sama acara di sana. Menurut Bunda ada baiknya juga Ica pergi dulu dari Reino selama 2 hari ini." "Jadi Ica tidak harus pulang ke rumah ya Bun? Ica janji setelah selesai seminar Ica langsung pulang. "Iya Nak, kamu have fun di sana ya, tapi tetap jaga dirimu ya Nak." "Iya Bunda. Jazakillaahu Khoiron ya Bun, assalamualaikum!" Aisyah merasa tenang setelah berkonsultasi dengan Bundanya, dia mengikuti saran Bunda untuk mematikan ponselnya selama 2 hari dia berada di Bandung. Seminar di mulai pukul 1 siang sampai pukul 4 sore, malamnya Ica dan rombongan jalan jalan di alun alun kota Bandung. Mereka juga berwisata berkuliner bersama. Untuk sejenak Aisyah bisa bebas lepas tertawa bersama temen teman yang lainnya. Sementara di rumah ada seorang pria yang sejak pulang ke rumah memasang wajah mengerikan. Awal pulang saja dia sudah kesal karena tidak melihat penampakan wanita cantik, yang selalu duduk di sofa menunggunya pulang. Tidak ada sambutan seperti mencium tangan dan membawakan tas, apalagi membuka sepatunya. Reino naik ke lantai atas menuju kamarnya, dia membuka sepatu lalu merebahkan diri di atas tempat tidur. matanya menatap ke atas, memandangi lampu yang tepat berada di atasnya. Tak lama matanya terpejam, namun setengah jam kemudian dia terbangun karena lapar. Reino terlebih dahulu membersihkan tubuhnya di kamar mandi kemudian turun ke bawah untuk makan malam. Di dapur hanya ada pembantu rumah tangga saja, yang sedang membersihkan dapur. "Mbak siapkan makanan untuk saya, saya mau makan." "Baik Tuan," ucap salah satu pelayan. Tak lama makanan sudah terhidang di meja makan. "Tuan, makanan sudah siap," ucap pelayan yang menemui Reino di ruang keluarga. Reino bangkit dari duduknya menuju ruang makan, dia duduk di kursi menunggu pelayan itu melayaninya seperti istrinya. Tapi bukannya mengambilkan makanan, pelayan itu justru pergi meninggalkan dia. "Mbak, tuangkan makanan ke piring saya. Kalian mau ke mana? tunggu sampai saya selesai makan baru kalian pergi!" "Ba-baik Tuan." Salah satu pelayan menuangkan nasi dan lauk pauk ke piring tuannya sedangkan 2 pelayan lainnya berdiri berjejer di depan tuannya. Reino menyendok nasi lalu memasukkan ke dalam mulutnya tapi tiba tiba dia menyemburkan makanan tersebut ke udara, membuat para pelayan ketakutan. "Apa ini. Kalian bisa masak tidak sih! " Reino membuang piringnya ke lantai hingga menciptakan bunyi piring pecah. Suaranya terdengar sampai ke kamar Bunda, membuat beliau penasaran ada kegaduhan apa di dapur?. "Ada apa ini Reino? tanya Bunda begitu sampai di TKP. "Ini Bun, mereka masak gak becus, masa rasa masakannya seperti racun!" "Mbak Darmi inikan tukang masak di rumah kita sudah 5 tahun lebih Reino, kamu tidak pernah komplain selama ini. Kenapa baru sekarang kamu merasa masakan Mbak Darmi tidak enak? kemarin kemarin kamu lahap lahap saja makannya, tidak ada masalah!" "Bunda cicipi saja tuh makanannya. Lagian kalau tidak bisa masak jangan melamar jadi koki! masakan kok pahit seperti racun." Reino pergi meninggalkan mereka, dia mengambil kunci mobil dan pergi dari rumah. di dalam mobil dia terus menggerutu. "Ini semua gara gara si Ica. Kenapa pula dia pergi tanpa pamit kepadaku! udah gitu pake acara matiin ponselnya! tunggu saja dia pulang, aku akan buat perhitungan dengannya." Reino berkendara, melaju di jalanan yang padat. Dia menuju Star Club tempat dia biasa menghabiskan waktu sampai pagi. Tapi kali ini dia hanya duduk diam di bar, dia juga hanya menenggak beberapa gelas kecil minuman keras. Tidak sampai berbotol botol seperti biasanya. Salah satu temannya yang bernama Devan menghampirinya, pria itu sudah setengah mabuk dan datang dengan merangkul mesra seorang PSK yang sedang bertugas di sana. "Hei bro. Tumben gak ngamar?" tanya Devan, selesai berbicara pria itu asik mencumbu pasangannya di depan Reino. "Ah bosen gue, rasanya itu itu aja. Lagi pula semua perempuan yang ada di sini udah pernah gue coba semua, belum ada stok baru." "Pacar Lo mana bro, kenapa gak sama dia aja? secara si Helen itu kan hot banget, gue rasa Lo pasti puas kalau bercinta dengannya." "Dia lagi pemotretan di Bali, Minggu depan baru pulang. Udah ah jangan bahas perempuan! kepala gue sakit, kalau bahas mereka." "Ya udah deh bro gue ngamar dulu ya, biasalah adek gue minta pelepasan." Reino menatap temannya itu pergi dari hadapannya. Pria itu benar benar sedang tidak ingin bercinta dengan wanita mana pun karena hatinya masih kesal. Tapi dia sendiri bingung sedari pagi apa yang membuat dia kesal?. Malam ini pun berlalu dengan Reino dan Aisyah yang tidur sendiri sendiri. Reino sebenarnya merasa kehilangan tapi hatinya mencoba menyanggah, dia mempertegas bahwa hanya ada Helen wanita satu satunya yang dia cinta. Padahal saat Helen pergi dia tidak pernah seperti ini, pernah suatu ketika Helen pergi selama sebulan penuh ke Afrika untuk pemotretan, Reino tidak pernah meminta wanita itu untuk pulang. Dia juga tidak uring uringan seperti di tinggal Aisyah saat ini. Pagi ini, bunda kembali harus membangunkan anak laki lakinya itu. "Ica pulang ya Bun?" begitu pria itu membuka mata dia langsung menanyakan keberadaan istrinya. "Ica di Bandung Reino, mungkin malam dia baru sampai rumah. Lagian kenapa sih nanyain dia terus? bukannya kamu harusnya senang tidak bertemu dengan istrimu?" "Sudahlah jangan bahas itu. Aku mau mandi dulu!" "Ye...kamu sendiri yang memulainya." Bunda merasa anaknya sudah mulai menerima kehadiran isterinya, mudah mudahan ini hal baik dan kedepannya hubungan mereka seperti suami istri pada umumnya. Pagi ini Reino melewatkan sarapannya. Dia tidak berselera, menurutnya pasti rasanya sama saja seperti hari kemarin. Dia pergi ke kantor tanpa sarapan, seperti kemarin dia mampir ke coffeshop untuk memesan kopi. Ponsel istrinya belum bisa dihubungi, membuatnya semakin murka. "Jangan jangan dia kabur? ah kenapa aku tidak kepikiran ke sana. Apa mungkin dia ingin berpisah? dia berpura pura seminar ke Bandung padahal sebenarnya dia hanya ingin kabur dari pernikahan ini!" gumamnya. Reino berniat untuk mengecek ke sekolah tempat istrinya mengajar, dia harus memastikan keberadaan Ica selama 2 hari ini. Apa wanita itu benar benar seminar atau hanya alasan dia saja. Selesai minum kopi Reino pergi ke sekolah Baitul Jannah untuk memastikan semuanya. Sesampainya di sekolah dia bertemu dengan Irwan yang kebetulan sedang berkunjung. Sudah sebulan dia tidak datang, setelah mendengar sahabatnya sudah menikah. "Pak Reino, sedang apa di sini?" tanya Irwan. "Loh, Pak Irwan juga sedang apa di sini?" "Oh kebetulan saya sedang kunjungan rutin. Bapak ngapain?" " Hem...jadi ini sekolah milik Bapak? Sa-saya mencari Ica. Apa benar dia pergi seminar?" "Aisyah Mujahidah? iya dia pergi seminar dengan ustazah ustazah lainnya." "Pak Reino suaminya Ica ya, kok nikahnya tidak di publish Pak? saya bahkan tidak tahu kalau Bapak sudah menikah." "Iya karena kemarin persiapannya mepet jadi tidak ada pesta, hanya akad saja." "Oh begitu, saya doakan semoga sahabat saya benar benar bahagia." "Siapa...?" "Ica adalah sahabat saya sejak SMP sampai SMA Pak, hanya saja dia akselarasi jadi lulus duluan. Terus kami hilang kontak karena dia kuliah di Kairo dan saya di Amerika. Saya juga tidak menyangka bisa bertemu lagi dengannya. "Berarti Anda tahu banyak tentang dia?" "Yang saya tahu Ica periang, pintar dan senang membaca buku. Dia juga suka sekali memasak, dulu saya sering jadi juru tester semua masakannya. Dia wanita yang baik, saya harap dia bahagia selalu." Entah mengapa Reino bisa menangkap ada rasa kecewa di mata Irwan, ada kesedihan dalam setiap kalimat yang di ucapkan. "Ya sudah Pak, saya harus ke kantor. Yang penting saya sudah mendapat kepastian bahwa Ica benar benar seminar. Saya permisi dulu." Ada banyak hal yang tidak dia ketahui tentang istrinya, dia juga tidak menyangka bahwa Aisyah mengenal Irwan, CEO muda yang sedang melejit karirnya. Bahkan mereka adalah sahabat dekat. "Apa ini pemikiranku saja, kalau Pak Irwan menyukai Ica? kok aku menangkap ada cinta, kesedihan dan kecewa di matanya. Tapi Ica tidak pernah bercerita apa pun tentang dia? apa Ica juga mempunyai perasaan kepada laki laki itu? apa nanti setelah kami bercerai mereka akan bersama?" "Ah terserah. Aku tidak mau ambil pusing! lagi pula aku tidak mencintai Ica, jadi ngapain aku repot-repot memikirkan mereka berdua!" *** Seminar yang panjang itu akhirnya selesai juga, Aisyah dan ustazah lainnya pulang ke Jakarta sekitar pukul 5 sore. Selama 2 jam diperjalanan Aisyah belum menghidupkan ponselnya, dia tidak mengabari mau di jemput atau tidak? karena menurutnya dia bisa naik taksi online. Aisyah sampai di rumah pukul 19.30 malam, saat itu Reino belum pulang ke rumah. "Assalamualaikum. Bunda, Ica pulang." "Waalaikum salam, ya Allah putri Bunda pulang kok tidak memberi kabar?" Bunda memeluk dan menciumi wajah Aisyah berkali kali seperti anak kecil. "Maaf Bun, Ica lupa. Lagi pula jaman sekarang serba canggih Bun, ada taksi online yang siap dipanggil kapan saja. Oh iya mas Reino sudah pulang belum?" "Belum, mungkin sebentar lagi. Dia tuh 2 hari ini marah marah terus. Semua salah, semua di komplain. Kopi rasa sabun lah, masakan seperti racun lah. Aneh!" "Mungkin Mas Reino sedang capek Bun, ya sudah Ica ke kamar dulu ya Bun. Ica mau mandi dulu." "Ya sudah, nanti turun ke bawah temani Bunda makan ya Nak?" "Iya Bun." Aisyah naik ke lantai atas untuk bersih bersih diri dan sholat isya, setelah itu dia kembali ke lantai bawah untuk makan malam bersama. Dia juga memasak untuk suaminya, malam ini dia membuatkan SOP ayam kampung kesukaan Reino. Reino pulang ke rumah pukul 9 malam, dia membuka pintu dan melihat wanita itu sedang duduk di sofa seperti biasanya. Hatinya bereuforia tapi wajahnya tidak. Dia tidak mungkin menunjukkan di depan istrinya, mau taruh di mana wajah dia? dia berpura pura sok jaim. "Mas, sudah pulang?" Aisyah mencium tangan suaminya dan mengambil tas dari tangan Reino. Dia juga membuka sepatunya dan membawa semuanya ke kamar. Sesampainya di kamar, dia mengisi air di bathtub untuk Reino berendam. Aisyah juga menyiapkan pakaian ganti dan menaruhnya di atas bantal. "Mas mandi dulu setelah itu makan malam ya, aku siapkan makanan Mas dulu." "Kenapa ponsel kamu tidak aktif?" "Ah...oh itu aku lupa bawa charger, Mas." "Alasan. Kan bisa pinjam atau beli! terus kenapa kamu tidak pulang saat aku bilang pulang!" "Maaf Mas, lain kali tidak ku ulangi lagi." "Ya sudah, aku mau mandi dulu." "Baik Mas. Aku ke dapur ya?" "Hem..." Selepas istrinya pergi, Reino berjoget gembira, dia senang Aisyah sudah kembali ke rumah. Pria itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu dia turun ke bawah untuk makan malam. Malam ini tidak ada drama, Reino menyantap makanannya dengan lahap sampai dia kenyang. Angel baru saja pulang dari rumah temannya, dia menggoda kakaknya di depan kakak iparnya. "Wah enaknya melihat kakak tercintaku makan setelah 2 hari puasa." Angel terkekeh sehabis mengatakan itu. "Anak kecil bisa diam tidak!" "Bun... Bunda lihat deh Kak Reino makan sampai 2 piring." Angel berteriak-teriak supaya Bundanya mendengar. Tidak lama Bunda Merry keluar dari kamar menghampiri anak dan menantunya di dapur. "Ada apa berisik sekali? eh Reino, sudah enak makan kamu? sudah kamu pastikan rasa masakannya tidak seperti racun kan?" Reino tersedak karena terus di goda oleh bunda dan adiknya, dia tidak mengatakan apa apa, dia hanya fokus makan sampai dia kenyang. Setelah kenyang Reino pamit ke ruang kerja, tak lupa dia meminta Ica membuatkan kopi untuknya. "Eh Reino, mau ke mana?" "Mau ke ruang kerjaku Bun, ada apa?" "Bunda ada surprise untuk kalian berdua." "Untukku dan Ica? apa Bun?" "Kalian akan berbulan madu ke Bali selama seminggu. Lusa kalian berangkat." "A-apa...?" Reino dan Aisyah menjawab bersamaan... Bersambung ❤️❤️❤️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD