Bab 5. Kembali Ke Rumah.

3108 Words
Reino merebahkan tubuh Aisyah secara perlahan di tempat tidur, pria itu terlihat panik dan bingung harus melakukan apa? dia melihat ada pecahan kaca yang menancap di punggung kaki wanita itu. Awalnya Reino hendak mencabut pecahan kaca itu tapi dia takut. Pria itu malah mondar mandir ke sana ke mari, dia benar benar kalut dan bingung. Tidak mungkin dia menelepon bundanya, karena bisa bisa bunda murka dan langsung mencoret namanya dari daftar ahli waris. Dalam situasi ini Reino merasa kalut, kemudian dia mendapat ide untuk membawa istrinya ke rumah sakit terdekat agar Aisyah dapat penanganan intensif. Reino mengambil hijab istrinya lalu memakaikannya, sehabis itu dia kembali membopong tubuh istrinya dan membawa pergi ke rumah sakit. Dengan langkah tergesa, Reino membawa Aisyah pergi. Sesampainya di parkiran dia merebahkan tubuh istrinya di jok belakang mobilnya sedangkan dia mengemudi di jok depan. Reino segera tancap gas di pagi buta, jalanan masih terlihat gelap karena masih pukul 3 dini hari. Belum ramai kendaraan berlalu lalang. 30 menit kemudian dia tiba di rumah sakit, mobil Reino parkir tepat di depan ruang UGD supaya lebih mudah. Reino keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam ruang UGD, terdapat beberapa perawat jaga dan satu dokter piket. Reino meminta tolong untuk menangani istrinya, dia meletakkan tubuh Aisyah di atas ranjang kemudian perawat mendorong ranjang tersebut ke ruang UGD. Dokter memeriksa keadaan Aisyah menggunakan Stetoskop, dokter juga melihat pecahan beling yang menancap di kaki Ica. Dia segera meminta perawat memasang infusan serta melakukan pembedahan kecil di kaki wanita itu mengeluarkan pecahan kaca yang tertancap cukup dalam. Salah seorang perawat menghampiri Reino untuk mengurus biaya administrasi pasien dan persetujuan rawat inap serta tindakan. "Maaf Pak, pasien ini siapanya Bapak?" "Di-dia...dia Ica." Reino terlihat bingung. "Maksudnya pasien ini istri Bapak, keluarga Bapak atau orang lain? karena Bapak harus mengurus administrasinya sebagai syarat ketentuan rumah sakit. "Dia...di-dia kerabat saya Sus. Eh bukan. dia...dia is-istri saya Sus!" "Baik Pak, ayo ikuti saya ke ruang administrasi untuk mengurus semuanya." "Baik Sus!" Reino mengikuti perawat itu ke ruang administrasi untuk mengurus penanganan Aisyah, dan kamar apa yang akan ditempati oleh pasien. Setelah selesai dia kembali ke ruang UGD untuk mengecek kondisi istrinya. Dokter sedang menjahit kembali kaki Aisyah yang terbuka akibat pecahan kaca tersebut. Setelah selesai, pasien di bawa ke ruang VVIP. Aisyah belum tampak sadarkan diri. Dalam tidurnya dia bermimpi bertemu dengan ibunya. Di mimpi itu ibunya mengusap kepala Aisyah dan memeluknya. "Ikhlas sayang. Ikhlas menjalaninya supaya semuanya lebih ringan, insya Allah semua akan berakhir manis." Mimpi itu berakhir karena Aisyah tersadar, dengan tatapan lemah dia melihat ke samping terlihat Reino yang sedang duduk di sofa dengan mata yang tertutup rapat. Pria itu tak kuasa menahan kantuk, oleh sebab itu dia tertidur. Aisyah melihat wajah itu, tak kuasa air matanya menetes membasahi pipinya. Dia perhatikan wajah itu dengan seksama, menatap suami yang hanya memberinya kepahitan dalam rumah tangga selama 2.5 bulan ini. Pria yang sedang dia tatap ini apakah layak dijadikan imam? di tengah kegundahan dia teringat mimpi tadi, mungkin benar apa yang dikatakan alm ibunya. Selama ini dia hanya menjalani tapi tidak ada keihklasan. Harusnya saat dia menerima perjodohan itu, dia tahu konsekuensinya. Selama ini Aisyah merasa dirinya suci dan bersih dari dosa, dan menganggap Reino laki laki penuh dosa. Lalu kenapa dia tidak berusaha merubahnya menjadi lebih baik? dia justru selalu mengeluh dalam doanya, seolah olah Tuhan memberinya seorang suami yang tidak sepadan akhlaknya dengan dia. "Ya Allah ampuni hamba, ternyata selama ini hamba sombong, hamba selalu mengeluh karena mendapat suami seperti Mas Reino. Padahal hamba yang memilih dia, hamba yang mau menikah dengan dia yang jelas jelas tidak mencintai hamba. Ampuni aku ya Allah. Ampuni hamba mu ini." Aisyah kembali menangis, dia menghirup nafas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak dengan semua ini. Kali ini dia bertekad akan ikhlas dan sabar dalam menghadapi suaminya. Dia juga ikhlas bila harus memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri di tempat tidur jika suaminya menginginkan hal itu. Tapi dia tidak mau Reino memaksanya, dia juga tidak mau pria itu menyentuhnya, saat dalam keadaan mabuk dan habis berbuat maksiat dengan wanita lain. Dia ikhlas sepenuh hati melayani suaminya selama setahun ini, mungkin dengan begitu Reino akan mencintai nya. Tapi jika dalam waktu setahun dia tidak bisa mendapat cinta Reino, dia akan melepaskan suaminya. Aisyah kembali memejamkan matanya sampai pukul 5 pagi, kemudian dia terbangun karena mendengar suara adzan subuh. Dia ingin menunaikan sholat subuh, tapi dia tidak membawa mukenanya, lagi pula kakinya terasa sakit sekali karena anestesinya sudah habis. Reino masih tertidur pulas dengan posisi duduk. Aisyah tidak mungkin membangunkan suaminya, Aisyah teringat kejadian sebelumnya? dia merasa perlu mandi wajib terlebih dahulu dan berganti pakaian. Tidak mungkin dia menghadap Tuhannya dalam keadaan kotor karena semalam Reino menyentuhnya. Akhirnya dengan berat hati dia tidak menunaikan ibadah sholat subuh, dia akan menunggu suaminya bangun dan minta diambilkan pakaian ganti untuknya di apartemen mereka. Pukul 8 pagi perawat datang untuk membawakan sarapan pagi, Reino terbangun saat perawat itu berbicara kepada istrinya. Dengan ragu ragu dia menghampiri Aisyah yang sedang berbicara dengan perawat tersebut. Setelah perawat keluar, Reino jadi salah tingkah dan pastinya merasa bersalah. Dia menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal untuk mengusir rasa gugup, rasa canggung dan tentunya rasa bersalah telah melakukan hal yang tidak senonoh kepada Aisyah. "Ca, a-aku benar benar minta maaf. Sungguh aku benar-benar khilaf semalam, karena kondisiku sedang mabuk berat." "Ya aku tahu, lagi pula kalau tidak mabuk, Mas tidak mungkin menyentuhku kan? Mas saja membenciku, jadi mana mungkin Mas mau melakukan itu dalam keadaan sadar. Aku sadar diri posisiku sebagai istri yang sama sekali tidak diinginkan!" "Bu-bukan begitu Ca, jujur di awal awal aku memang sangat membencimu, bahkan sangat benci. Ya wajar kan aku melakukan itu? kalau kamu di posisi aku juga pasti akan melakukan hal yang sama. Saat kamu sedang cinta cintanya dengan pasanganmu eh tiba tiba kamu dijodohkan." "Iya aku paham. Sudahlah Mas jangan bahas itu lagi! aku ingin meminta tolong pada Mas boleh tidak?" "Apa Ca...?" "Tolong ambilkan pakaian ganti, mukena dan ponsel ku. Aku harus menghubungi pihak sekolah karena hari ini aku tidak bisa mengajar." "Ada lagi yang lain?" "Tidak, jazakallaahu khoiron, Mas." "Apa itu?" "Terima kasih!" "Oh...ya sudah aku pulang ke apartemen dulu. Sekali lagi aku minta maaf atas perbuatanku!" Aisyah hanya mengangguk, Reino pergi meninggalkan Aisyah seorang diri di kamar itu. Selepas Reino pergi Aisyah memakan sarapan yang sudah tersedia di meja. *** Selama dua hari Aisyah di rumah sakit, dia tidak betah dan lagi pula dia tidak sakit apa apa kecuali kakinya yang terluka. Dia ingin segera kembali ke apartemen dan mengajar kembali. Ica merasa dia melalaikan kewajibannya untuk mengajar anak didiknya di sekolah. Pukul 12.30 Reino membawa Aisyah kembali ke apartemen mereka, diperjalanan Reino mencairkan suasana yang kaku dengan mengajak Aisyah berbincang. "Ca, berapa usia kamu?" "Aku, usiaku 22 tahun mas memangnya kenapa?" Tidak apa apa, aku merasa kita perlu saling mengenal satu sama lain agar kita bisa menjadi teman." "Teman...?" "Iya teman, kamu mau kan menjadi temanku?" "Iya Mas." dalam hati Aisyah berkata, aku Istrimu Reino. Aku lebih dari sekedar teman. Bahkan aku berhak atas dirimu. "Hobi kamu apa Ca? selain memasak ya." "Aku hobi membaca buku, Mas. Kalau Mas apa?" "Aku suka fotography, dulu sebelum sibuk di kantor aku sering traveling untuk mencari objek foto yang bagus. Warna favoritku biru, kamu apa Ca?" "Aku sukanya hijau, Mas." Selama diperjalanan, mereka menceritakan tentang diri mereka masing-masing sampai akhirnya mobil berhenti di basement apartemen. Keduanya keluar dari mobil, dan memasuki lift menuju unit apartemen mereka. Setelah sampai di depan pintu apartemen mereka, keduanya dibuat terkejut dengan kehadiran wanita berpenampilan seksi dan memakai kaca mata hitam. Wanita itu tak lain adalah Helen, dia merasa selama 2 hari ini Reino menghindarinya maka dari itu dia nekat mencari ATM berjalannya ini ke apartemen yang dulu sering mereka gunakan untuk menuntaskan hasrat. "Helen ...ngapain kamu ke sini? ucap Reino yang merasa tidak enak kepada Ica. "Kamu menghilang beib? di kantor pun kamu tidak masuk selama 2 hari. Kamu kemana saja?" "Aku menemani Ica di rumah sakit, dia terluka. Kakinya terkena pecahan kaca cukup dalam dan semua karena ulahku." Lalu kenapa harus kamu sih beib? aku kangen tahu!" Helen merapatkan tubuhnya, menempel ketat memeluk pinggang Reino. Ica yang melihat hal itu pamit untuk masuk duluan ke dalam. Dia menekan kombinasi angka untuk membuka pintu tersebut. Dari belakang Helen kembali memanasi Aisyah, dia mengatakan bahwa apartemen ini tempat dia dan Reino menghabiskan waktu bersama. Aisyah tidak mau ucapan Helen mengacaukan pikirannya, dia tidak memperdulikan apa yang wanita itu ucapkan. Selepas Aisyah masuk, Reino menegur Helen yang sengaja memanasi Aisyah. Tapi Helen tidak perduli, dia mengajak Reino pergi dari tempat itu. Helen ingin ditemani belanja tas dan kosmetik salah satu brand ternama. Reino mengiyakan ajakan Helen, keduanya pergi bersama. Reino tidak berpamitan kepada Aisyah, dia langsung pergi begitu saja untuk menemani pacarnya. Menemani sekaligus membayar belanjaan wanita materialistis itu. Aisyah berusaha tetap tenang dengan situasi saat ini, dia bertekad akan bersabar menghadapi Reino. Perlahan lahan dia akan membuat Reino menerima dia sebagai istri seutuhnya dan satu satunya. Untuk mengusir rasa gundah, Ica ingin membuat sesuatu, dia kepikiran membuat pastry dan cup cake untuk kudapan suaminya saat pulang nanti. Aroma harum mentega memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas itu. Saat sedang memanggang, Aisyah mendengar suara bel berbunyi, dia berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang? saat dia mengintip terlihat Bunda dan Angel mengunjunginya. Dengan senang hati Aisyah membuka pintu tersebut. Mereka saling berpelukan dan cium pipi kiri kanan sebelum masuk ke dalam. Kedua wanita itu mencium aroma wangi dari dapur, dengan antusias Angel ke dapur untuk melihat apa yang di buat oleh kakak iparnya itu. "Mbak Ica, sedang membuat apa? wanginya enak." Angel mendekati open untuk melihatnya. "Mbak sedang membuat pastry dan cup cake, kebetulan Bunda dan dek Angel datang. Nanti kalian cicipi ya." "Siap mbak, Angel yakin pasti enak. Secara kakak ipar aku yang cantik inikan jago membuat kue." "Ca, bagaimana sikap Reino ke kamu? apakah dia memperlakukan Ica dengan baik?" tanya bunda. "Mas Reino baik Bun, tidak ada yang perlu di khawatirkan." "Ica tidak bohong kepada Bunda kan? Ica berkata seperti itu bukan untuk menyenangkan hati Bunda saja!" "Tidak Bun, Ica serius. Pokoknya Bunda tidak perlu khawatir." "Ting..." suara open, tandanya pastry itu sudah matang. Aisyah lanjut memanggang cup cake. Angel merasa tidak sabar ingin menyantap pastry buatan kakak iparnya, bahkan dalam keadaan panas Angel mengunyahnya. Membuat ekspresi wajahnya lucu dan siapa pun yang melihatnya tertawa, termasuk Aisyah yang tidak tahan melihat kelucuan adik iparnya itu. Aisyah benar benar bersyukur karena dipertemukan dengan Bunda dan Angel yang sangat baik dan sayang padanya. Dia merasa mempunyai ibu dan adik sekaligus. Maklumlah Aisyah adalah anak tunggal dan keluarganya kebanyakan di Turki, sedangkan keluarga di bandung hanya tersisa paman dan bibinya saja dari pihak ibu karena ibunya Aisyah juga anak tunggal sama dengan dirinya. Lama Bunda dan Angel di apartemen, bunda ingin melihat perlakuan Reino kepada Aisyah. Apakah benar yang dikatakan Aisyah bahwa Reino bersikap baik? atau Aisyah berbohong kepadanya. Aisyah masuk ke kamarnya untuk menelepon suaminya, dia ingin mengabari bahwa bunda dan Angel ada di apartemen. Reino terdengar panik di telepon saat tahu Bunda ada di apartemen mereka. Dia buru buru pamit kepada Helen untuk segera pulang ke apartemennya. "Sayang aku pulang dulu ya, Bunda ada di apartemen." "Sayang mau ke mana? aku belum Selesai. Aku belum membeli tas G***i, topi dan jaket untuk keperluan shooting." Helen bicara sembari menahan lengan Reino. "Maaf sayang aku harus pergi. Kamu belanja saja ya, nanti aku transfer uang ke rekeningmu." "Bener ya? awas kalau bohong!" "Iya, Sayang!" Helen mengecup pipi Reino, sehabis itu Reino pergi meninggalkan Helen di sebuah mall. Reino tidak mengetahui bahwa di pipinya ada lipstik Helen yang menempel. Wanita itu sengaja melakukannya supaya terlihat oleh bunda dan juga Ica. Dengan wajah tanpa dosa Helen berjalan menuju counter tas G***i, wanita itu memilih milih apa yang apa yang mau dia beli. Setelah itu dia menelepon Reino untuk meminta uang, total belanjaannya sebesar 375 juta rupiah. Reino mentransfer uang tersebut ke rekening wanita itu. Reino tiba di apartemen sejam kemudian, dia masuk ke dalam dan bertemu dengan Bundanya. Reino berkilah bahwa dia menemui klien penting untuk meeting projects iklan yang akan dia garap bersama team, Bunda merasa ada yang aneh. Beliau melihat noda lipstik menempel di pipi anaknya. "Reino. Kamu sedang membohongi Bunda ya?" "Maksudnya, Bun?" "Itu lipstik siapa yang menempel di pipi kamu? Helen kan!" "Mana Bun? Reino tidak bertemu Helen Bun, Reino benar benar habis meeting penting dengan klien." Reino mengusap kedua pipinya dengan telapak tangannya. "Bohong kamu! memangnya bunda anak kecil. Ingat ya Reino, kalau kamu sampai menyakiti hati istrimu bunda pastikan kamu menjadi gembel di jalanan. Dan kita lihat, apa wanita itu masih mau menerima kamu atau tidak?" "Apaan sih Bun. Pake ngancam segala! gak lucu ah." "Siapa yang sedang melucu? Bunda serius!" "Iya iya Bun, Reino akan memperlakukan Ica dengan baik bak Putri raja. Puas!" Reino masuk ke kamar untuk berganti pakaian, Aisyah dan Angel berada di kamar. Angel sedang mengajari Aisyah berdandan. Reino melihat keakraban keduanya, pria itu tersenyum melihat Aisyah dan Angel tertawa lepas. "Kalian sedang apa?" "Eh Kak Reino. Kak lihat deh, mba ica cantik kan? wajahnya imut seperti Barbie." Reino menatap wajah Aisyah, Angel memang benar Aisyah terlihat sangat cantik. "Iya cantik. Kamu keluar dek, kakak mau mandi dan berganti pakaian." "Ish, Kak Reino pelit." Angel meninggalkan kamar itu dengan wajah cemberut sedangkan Ica tetap berada di kamar itu. "Kamu tidak ikut keluar, Ca?" "Tidak Mas, kalau aku keluar kamar Bunda pasti curiga." "Iya juga sih. Ya sudah kamu diam di kamar sampai aku selesai mandi, setelah itu kita keluar kamar bersamaan. "Iya Mas..." Aisyah tersenyum manis kepada Reino membuat Reino juga membalas senyuman Ica. Setelah selesai mandi, keduanya keluar dari kamar menemui bunda dan Angel. Sudah waktunya makan malam. Tadi Aisyah memasak SOP ayam, perkedel dan juga balado telur. Mereka makan bersama layaknya keluarga bahagia. Baru kali ini Aisyah melihat suaminya tertawa dan bersenda gurau dengan adiknya Angel. Reino terlihat berbeda, dia sangat tampan dan menyenangkan. "Bunda mau Minggu ini kalian kembali ke rumah." Bunda tiba tiba berbicara serius, membuat Reino mengerutkan dahinya. "Kenapa Bun? kami tinggal di sini saja. Lagi pula Reino kan sudah menikah, masa iya selamanya tinggal di rumah bunda terus." "Bunda mau kalian tinggal di rumah Bunda sampai Ica hamil dan melahirkan." "Uhuk...uhuk...uhuk." terdengar suara Aisyah yang batuk mendengar perkataan bunda. "Ah, Bunda suka seenaknya sendiri!" "Terserah! yang penting Minggu besok kalian kembali ke rumah Bunda. Titik tidak pakai koma." "Ya sudah, nanti kami kembali ke sana." "Mas mau aku buatkan kopi?" tanya Aisyah untuk mencairkan suasana. "Iya boleh deh, aku ke ruang kerja dulu ya nanti bawa saja kopinya ke sana." "Baik mas." Usai makan malam, Aisyah membuatkan suaminya kopi seperti biasa. Bunda Merry bisa melihat betapa menantunya ini sangat patuh dan melayani Reino dengan baik. Beliau hanya berharap Reino bisa terbuka hati dan pikirannya, dia bisa melihat ketulusan dan kebaikan istrinya. Menurut bunda, Aisyah itu paket lengkap. Sudah Cantik, Soleha, baik hati dan pintar masak. Tidak ada yang kurang pada diri menantunya tapi beliau bingung kenapa Reino tidak bisa melihat hal itu?. Menurut bunda, Reino hanya melihat penampilan fisik Helen saja, dia mengesampingkan hal lain seperti perilaku Helen yang dinilai bunda materialistis dan berhati jahat. Pukul 10 malam, bunda dan angel pamit dari apartemen mereka. Sebelum pulang bunda kembali mengingatkan Reino untuk kembali ke rumah hari Minggu nanti. Reino pun mengiyakan permintaan bunda dengan terpaksa. Sepeninggal bunda dan angel mereka kembali berdua di apartemen. "Ca, kamu tidur di ranjang, biar aku yang tidur di sofa." "Loh kenapa Mas? aku kan biasanya tidur di sofa." "Tidak. Malam ini kamu tidur di ranjang! Kamu masih sakit ca, sebagai laki laki aku tidak tega membiarkan kamu tidur di sofa dalam keadaan kaki kamu yang masih luka itu." "Yakin Mas, tidak apa apa kalau aku tidur di tempat tidur? tidak akan marah nih?" "Iya yakin. Sudah sana kamu tidur. Aku masih banyak perkejaan!" "Ya sudah, jazakallaahu Khoiron ya Mas." "Terus aku jawab apa...? "Wa iyakum. Artinya sama sama." "Oh...wa iyakum?" Aisyah terkekeh mendengar suaminya mengucapkan kata itu, semoga itu awal yang baik. Aisyah bertekad akan merubah Reino secara perlahan, dia akan menerima apapun keburukan suaminya. Langkah pertama yang ingin dia lakukan adalah merubah kebiasaan Reino yang sering minum minuman keras, sehabis itu baru yang lainnya. *** Hari Minggu tiba, Reino membawa Aisyah kembali ke rumah Bunda. Angel terlihat girang melihat kedatangan kakak ipar kesayangannya. Angel bahkan berjingkrak layaknya anak kecil yang diberi hadiah oleh orang tuanya, saking bahagianya dia menyambut kakak iparnya itu. Sebelum mereka kembali, bunda menata ulang kamar anaknya. Dia membuang sofa yang berada di kamar Reino, beliau tahu Ica selalu tidur di sofa karena dia melihat ada bantal dan selimut yang terlipat rapih di atas sofa di apartemen mereka. Jadi bunda membuang sofa yang ada di kamar Reino dan membiarkan kamar itu plong tanpa apapun kecuali tempat tidur saja. Reino memasuki kamar saat dia bujangan dulu, dia merasa ada yang aneh? pria itu belum menyadari bahwa sekarang di kamar tersebut tidak sofa, hanya saja Reino belum ingat akan hal itu. Dia hanya merasa ada yang janggal dengan kamarnya. Aisyah mengikuti suaminya, tak lama dia pun masuk ke kamar dan melihat tidak ada penampakan sofa di kamar. "Loh Mas, Sofanya mana ya? kok tidak ada." "Nah iya, benarkan. Dari tadi aku bingung apa yang berbeda dengan kamarku ini? ternyata sofa!" "Kenapa dihilangkan ya?" "Mana aku tahu? aku akan bertanya bunda dulu. Seenaknya saja merubah kamar orang tanpa izin." Reino kembali ke lantai bawah menemui Bundanya. "Bun, sofa di kamar aku ke mana? kenapa tidak ada sofa di kamar Reino Bun?" "Oh, sofa di kamar kamu Bunda kasih ke mang Sarmin untuk dibawa pulang ke rumahnya. Memangnya kenapa? kamu mau menyuruh Istrimu tidur di sofa itu!" "Bu-bukannya begitu Bun, tapi Reino perlu untuk duduk bersantai." "Banyak alasan kamu Reino. Memangnya bunda bodoh! saat Bunda ke apartemen kalian, bunda melihat di sofa ada bantal dan selimut. Tega kamu membiarkan Istrimu tidur di sofa, sementara kamu nyaman tidur di ranjang empuk." "Tidak kok Bun, kami selalu tidur satu ranjang." Reino berusaha menyakinkan bundanya tapi tetap saja bunda tidak percaya. "Pokoknya bunda mau dalam 1 bulan ke depan istrimu harus sudah hamil!" "Apa apaan sih Bun! memangnya kami kucing." "Terserah kalian. Pokoknya bunda mau cucu secepatnya. Mau bagaimana cara kalian melakukannya! Bunda berlalu dari hadapan Reino, beliau malas meladeni anak laki lakinya itu. Pokoknya mulai saat ini mereka harus di kawal sampai Aisyah hamil. Tanpa sepengetahuan pasangan itu, Bunda sudah mempersiapkan tiket bulan madu ke Bali selama seminggu penuh pertengahan bulan depan. Beliau tahu awal bulan Reino sibuk, Bunda selalu mendapat laporan tentang kegiatan anaknya di kantor melalui asisten pribadi Reino. Dia juga diam diam meminta asistennya untuk mengosongkan jadwal Reino di tanggal 15 -22 Oktober.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD