Bab 4. Aku Benci Kamu

3136 Words
Sudah seminggu Aisyah mengajar, dia sudah bisa beradaptasi dengan ustazah ustazah yang lain serta murid muridnya. Di sekolah ini para pengajar tidak dipanggil guru melainkan ustad dan ustazah. Dengan mengajar setiap hari wanita itu mampu melupakan problematika kehidupan rumah tangganya yang rumit seperti potongan puzzle. Semenjak Ica mengajar di sekolah ini, Irwan rutin mengunjungi yayasan. Biasanya sebulan sekali pria itu kemari, tapi semenjak Ica hadir Irwan setiap hari menyempatkan diri untuk bisa datang walaupun hanya 30 menit. Hari ini selesai mengajar Ica ingin ke toko buku untuk membeli beberapa buku bacaan supaya dia tidak bosan saat sendiri di apartemen. Reino sudah 2 hari ini tidak pulang ke apartemen mereka, dia beralasan sedang keluar kota karena urusan kerjaan padahal pria itu sedang berduaan di puncak bersama Helen. Selama Reino pergi, pria itu tidak satu kali pun mengirim pesan kepada istrinya. Dia benar-benar melupakan Ica begitu saja. Ica yang merasa selalu diabaikan dan tidak dianggap merasa pasrah, bagaimana nasib rumah tangganya nanti? dia serahkan semuanya kepada Allah. Tapi dia juga berharap keajaiban itu selalu ada, dia akan berjuang untuk mendapatkan cinta Reino. Kadang harapan itu memudar, tapi entah mengapa cinta itu tetap ada. Walaupun Reino dengan jelas menunjukkan bahwa dia akan menceraikan ica setelah tujuannya tercapai, tapi wanita itu tetap tegar. Ica akan berjuang untuk mendapatkan cinta Reino, Ica tahu semua itu tidak lah mudah. Tapi dia harus berusaha. Saat melihat foto Reino dan Helen beberapa hari lalu hatinya merasa hancur, tapi Ica yakin bahwa suatu saat nanti suaminya akan mencintainya. Wanita itu berada di toko buku sendirian, dia sedang memilih milih buku bacaan dan juga buku filsafat. Selain memasak, Ica juga senang sekali membaca. Menurutnya wanita itu harus berwawasan luas sehingga dia bisa memberitahu isi Dunia kepada anaknya kelak. Saat sedang memilih milih buku tiba tiba ponselnya berdering, tertera nama Irwan di layar ponselnya. "Halo Assalamualaikum Wan. Ada apa?" "Waalaikum salam, Ca kamu di mana?" "Hem ...aku sedang di toko buku. Kenapa Wan?" "Di toko buku mana? aku ada perlu sama kamu sebentar. Aku susul ke sana ya?" "Boleh, aku di Gramedia di jalan Sudirman. Tahu kan?" Iya tahu. Aku on the way ya tunggu aku, mungkin 20 menit aku sampai di sana. Jarak ku tidak terlalu jauh kok Ca." "Oke...!" Selesai menerima telepon dia mengecek wa, berharap ada pesan masuk dari suaminya tapi tidak ada. "Mas Reino benar benar tidak menghubungiku? itu artinya dia memang tidak perduli padaku sedikit pun." Ica mengirimkan pesan wa kepada suaminya untuk menanyakan kabarnya, dia merasa khawatir karena sudah 2 hari tidak ada kabar apa pun dari Reino suaminya. "Assalamualaikum. Mas Reino gimana keadaannya di sana? aku khawatir karena mas tidak memberiku kabar apa pun? " Ica mengirimkan pesan tersebut, tak lama pesannya di baca dan terlihat Reino sedang mengetik pesan. Wanita itu sangat bahagia melihat pesannya akan di balas. Dia menunggu balasan dari suaminya. Tak perlu waktu lama menunggu akhirnya Reino membalas pesan tersebut. "Aku baik baik saja! tidak perlu mengkhawatirkan aku karena aku baik baik saja. Lagi pula nanti malam aku pulang." balas Reino. " Alhamdulillah, mas mau aku masakin apa?" "Tidak perlu. Aku akan pergi makan malam dengan Helen sebelum pulang ke apartemen." Wanita itu tidak membalas pesan suaminya. Hatinya sakit membaca pesan itu. Ica tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan, dia kembali memilih buku dan membayarnya. Saat akan keluar dia berpapasan dengan Irwan di depan pintu. "Loh irwan, Kamu sudah sampai?" "Mau ke mana Ca, kan tadi aku bilang tunggu aku!" "Aku sudah selesai, aku berniat menunggumu di luar. Memangnya ada apa sih WAN?" "Jangan bicara di sini, kita cari tempat saja. Bagiamana kalau cafe di sebelah? sepertinya tempatnya enak buat ngobrol." "Boleh WAN." Keduanya berjalan menuju cafe yang berada di samping toko buku tersebut. Mereka berdua duduk tepat di depan kaca sehingga keduanya bisa terlihat dari luar. Setelah melihat menu, mereka pun memesan minuman dan makanan. "Ca, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu." "Apa Wan?" "Apa benar kamu sudah menikah?" ucap Irwan dengan sorot mata penuh kekecewaan. Dia menunggu jawaban, pria itu berharap kabar itu tidaklah benar. "Iya Wan. Aku sudah menikah!" Pria itu memejamkan matanya, lalu meraup wajahnya frustasi. Rasanya lebih sakit dari pada harus kehilangan proyek besar." "Si- siapa pria yang beruntung itu?" "Namanya Mas Reino. Reino Atmajaya." "A-apa, Reino. Pak Reino pemilik perusahaan Advertising?" "Kamu kenal suamiku Wan? iya benar itu orangnya." "Ya Allah, dunia kecil sekali..Aku baru saja menyelesaikan projects iklan dengan dia dan launching awal bulan depan. "Benarkah? Semoga kerjasama kalian long last ya Wan." "Ca. Apa kamu bahagia?" "Kenapa kamu bertanya seperti itu WAN? tentu saja aku bahagia." "Aku ingin memastikan saja. Aku tidak mau sahabatku di sia siakan suaminya!" "Alhamdulillah aku bahagia Wan, kamu tidak perlu risau." Percakapan mereka terhenti ketika pelayan membawa pesanan mereka dan menaruhnya di atas meja. Selanjutnya mereka menyantap makanan tersebut dan kembali berbincang. Kali ini topiknya berbeda, walaupun Irwan merasakan sakit di hatinya tapi dia tetap tenang. Irwan tidak mau Ica menjauh bila mengetahui kenyataan bahwa dia mencintai wanita itu. Perbincangan mereka selesai karena Ica pamit untuk pulang, dia takut suaminya sudah sampai terlebih dahulu di apartemen mereka. Keduanya berpisah, Ica membawa mobilnya sendiri begitu juga Irwan. Di dalam mobil Irwan mengetuk-ngetuk kan dahinya pada setir mobilnya, hilang sudah harapannya untuk mendekati Ica. Ica istri orang jadi untuk kedepannya Irwan harus menjaga jarak dengan wanita itu. *** Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam tapi Reino belum juga pulang. Ica gelisah menunggu suaminya kembali, dia menunggu Reino di sofa sampai dia tertidur di sana. Sekitar pukul 23.30 Reino kembali ke apartemen mereka, pria itu pulang dalam keadaan mabuk. Ica yang mendengar suara segera membuka matanya. Benar saja dia melihat penampakan suaminya berada di depannya, penampilannya berantakan. Rambut dan pakaiannya berantakan, matanya merah dan tercium bau alkohol dari mulutnya. Sangat menyengat hingga membuat Ica menutup hidung dengan kedua tangannya. Reino mendekat ke arah Ica, dia berjalan sempoyongan hingga akhirnya dia ambruk dengan posisi memeluk istrinya. Ica yang tidak kuat menyanggah suaminya ikut ambruk, tubuhnya jatuh di atas sofa. Ica menggeser tubuhnya agar bisa terlepas dari pelukan Reino yang saat ini sedang tak sadarkan diri. Ica berusaha merebahkan tubuh suaminya di sofa, dia membuka sepatu dan kaos kaki yang Reino pakai agar lebih nyaman. Ragu ragu dia membuka kancing kemeja yang dikenakan suaminya. Dia sampai memalingkan wajah saat jemarinya membuka satu demi satu kancing kemeja Reino. Setelah kemeja itu terbuka, Ica menangis, dia menangis melihat banyaknya tanda merah di d**a Reino, bukan itu saja, di sana juga ada lipstik yang menempel di kulit putih itu. Ica menangis dengan menutup mulutnya dengan telapak tangan, tubuhnya terasa lemas. Dia bergegas ke dapur untuk membawa air hangat dan handuk kecil untuk membasuh dadanya. Ica menggosok gosokkan tanda merah dan lipstik itu dengan handuk yang sebelumnya dicelupkan ke air hangat. Awalnya dia menggosok dengan lembut tapi lama lama dia menggosok dengan kasar dan membanting handuk tersebut di atas d**a itu hingga Reino menggerakkan tubuhnya sebentar. Ica masuk ke kamar tanpa mengunci pintunya, dia menangis bersimpuh di lantai. "Ibu aku rindu ibu ...aku ingin di peluk Ibu. Ya Allah tolonglah, tolong hapus dia dari hatiku. Aku menyerah, aku benar benar menyerah mempertahankan rumah tangga ini." "Hiks...hiks...hiks." Ica menangis semalaman sampai matanya bengkak. Dia berhenti menangis pada pukul 3 pagi. Wanita itu memutuskan untuk sholat malam, sekali lagi dia ingin bertanya kepada yang maha kuasa apakah pernikahan ini layak dia pertahanan atau tidak?" Ica sholat dalam keadaan menangis, menumpahkan semuanya dalam setiap alunan doa yang dia ucapkan. Selesai sholat dia bermunajat kepada Allah. "Ya Allah, cukup sampai di sini! aku tidak mau menunggu, untuk apa aku menunggu cinta yang tak kunjung hadir untukku. Ini sungguh menyakitkan untuk kujalani ya Allah. Aku sudah berusaha menahan rasa sakit ini, tapi rasanya aku tak sanggup lagi. Aku berhenti ya Allah." Ica tertidur dengan masih memakai mukenanya, dia tidur di atas sajadahnya. Sajadah yang menjadi saksi bisu curhatan dia kepada Rabb nya. Dia bangun ketika mendengar suara adzan subuh dari ponselnya, wanita itu bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia lupa bahwa di apartemen mereka ada Reino. Reino bangun karena merasa tubuhnya basah oleh keringat. Dia bangkit dan duduk menyandar di sofa, Reino melihat kemejanya terbuka dan ada handuk kecil di sana. Itu artinya Ica membersihkan tubuhnya. Reino menjambak rambutnya, dia merasa menyesal pulang dalam keadaan mabuk. Bagaimana seandainya Ica mengadu kepada Bundanya? pria itu merasa harus membicarakan masalah ini dengan istrinya. Reino berjalan ke kamar dengan kepala yang masih pusing. Saat sampai di kamar dia tidak menemukan istrinya, tapi dia mendengar suara pancuran air dari kamar mandi. Reino menunggu di kamar, dia harus segera membicarakan masalah ini dengan ica. Ica biasanya langsung memakai pakaiannya di dalam kamar mandi, sehingga Reino percaya diri menunggunya di kamar. Wanita itu selesai mandi, dia mengeringkan tubuhnya dengan handuk lalu keluar hanya memakai handuk saja. Wanita itu masih beranggapan suaminya masih di luar kota, oleh sebab itu dia hanya memakai handuk saja karena merasa tidak ada siapa siapa. Dia membuka pintu kamar mandi dan berjalan menuju lemari, dia tidak tahu bahwa ada mata yang mengekor kemana pun dia melangkah dalam kamar itu. Ica menanggalkan handuknya untuk mengeringkan rambut, sehingga tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun. Reino bisa melihat tubuh Ica dari belakang, dia masih belum percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. Reino mengucek matanya berulang kali untuk memastikan apakah ini halusinasi atau tidak?. Reino ingin memberitahu Ica bahwa dirinya berada di sana, tapi entah mengapa dia seakan menikmati pemandangan itu. Ica masih mengeringkan rambutnya dengan handuk, lalu mengambil bra dan celana. Saat hendak memakai bra dan celana dalam dia membalikkan tubuhnya tepat berhadapan dengan Reino. Keduanya sama-sama terdiam untuk beberapa detik sampai akhirnya Ica berteriak dan memakai handuknya kembali. Dia berlari ke kamar mandi, sesampainya di kamar mandi dia menyalahkan dirinya kenapa begitu ceroboh. Reino yang melihat tubuh Ica dari depan merasa takjub dengan bentuk yang dimiliki istrinya, kedua benda itu terlihat penuh dan kencang. Sepertinya belum ada yang menyentuh benda itu, terlihat dari bentuk p****g yang berwarna merah muda. Apalagi area sensitifnya yang mulus tanpa rambut terlihat begitu menggoda. "Ica. Maaf aku tidak bermaksud, aku akan keluar kamar supaya kamu bebas berganti pakaian." Reino berkata dengan berteriak dan langsung meninggalkan kamar. Pria itu tidak mendapat jawaban apa pun dari isterinya, dia keluar sebentar untuk memberikan waktu kepada istrinya berganti pakaian. Ica mengintip dari celah pintu yang dia buka sedikit, dia bisa melihat suaminya tidak ada di sana. Ica buru buru mengambil pakaian ganti dan kembali ke kamar mandi untuk mengenakan pakaiannya dan mengambil wudhu. Ica menunaikan sholat subuh sedangkan Reino menunggunya di ruang berbeda. Setelah 25 menit Reino kembali masuk ke kamarnya, kali ini dia mengetuk terlebih dahulu sebelum masuk. "Tok ...tok ...tok. Ca, boleh aku masuk?" "Iya masuklah." Reino membuka pintu tersebut, keduanya saling memandang satu sama lain. Ica merasa malu, terlebih lagi rasa kesal dan benci dengan kejadian tadi. Sementara Reino merasa tidak enak, ya walaupun dia membayangkan tubuh itu. "Ca, aku minta maaf karena pulang dalam keadaan mabuk. Aku mohon kepadamu jangan beritahu Bunda soal kejadian semalam ya." "Mas ke sini hanya untuk membicarakan itu? kamu tidak perlu khawatir mas, aku sudah tidak perduli. Terserah kamu mau melakukan apa pun aku hanya berharap ini semua segera berakhir agar kita bisa menjalani kehidupan kita masing-masing." "Apa maksud kamu Ca? kamu ingin kita segera bercerai?" "Aku bukan orang yang tidak konsisten. Kalau aku bilang aku akan bertahan selama setahun akan aku lakukan mas. Pokoknya kamu tidak perlu khawatir, aku akan menjadi istrimu sampai urusan kamu selesai!" "Terima kasih banyak Ca." "Jangan berterima kasih padaku mas. Karena saat kamu mengucapkan kata itu hatiku sakit! aku adalah istri yang tidak dianggap oleh suamiku sendiri, bahkan lebih parahnya suamiku tidak menginginkan aku. Jadi jangan pernah ucapkan itu!" Ica berlalu meninggalkan suaminya yang masih duduk di tepi tempat tidur, Ica pergi ke dapur untuk membuat sarapan pagi. Ica tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, tapi mulai hari ini dia bertekad untuk tidak memperdulikan apapun yang suaminya lakukan. Dia tidak perduli apakah Reino tidur dengan Helen atau wanita wanita lain di luar sana, dia akan tutup mata dan telinga. Selama satu jam Ica berkutat di dapur membuat sarapan dan juga puding coklat, dia akan membawa puding tersebut untuk para pengajar di sekolahnya. Satu jam berlalu mereka berdua sedang menikmati sarapan bersama sebelum beraktivitas masing-masing. Ica mengunyah makanannya tanpa berbicara, sesekali Reino melirik Ica namun Ica tidak memperhatikan karena dia mengunyah makanan sembari melihat ponselnya. Setelah selesai sarapan Ica menaruh piring di tempat cucian piring dan pamit pergi kepada suaminya. Ada satu yang Ica lewatkan hari ini? dia tidak bersalaman dan mencium tangan suaminya seperti hari hari sebelumnya. Ica hanya mengucapkan kata "Assalamualaikum" setelah itu dia berlalu meninggalkan Reino yang menatap kepergian istrinya. "Tumben dia tidak mencium tanganku? biasanya selalu begitu. Apa dia marah?" gumam Reino. Ya siapa yang tidak marah melihat suami pulang dalam keadaan mabuk dan ditubuhnya ada banyak bekas bibir wanita. Istri normal pasti akan menikam suaminya dengan pisau atau membakar tubuhnya saat dia sedang tertidur pulas. Beda dengan Ica, dia tahu istri hanyalah status semata, sedangkan di mata suaminya dia tak ubahnya seperti pembantu. *** Hari hari setelah kejadian mabuk waktu itu membuat perlakuan Ica terhadap suaminya berubah. Dia tidak pernah menunggu suaminya pulang kerja, wanita itu bahkan mengurangi frekuensi pertemuan dengan suaminya di apartemen. Selama 2 Minggu ini Ica selalu tidur lebih awal sebelum suaminya pulang dan berangkat ke sekolah sebelum suaminya bangun tidur. Dia tetap menyiapkan kopi dan sarapan seperti biasanya tapi mereka tidak sarapan bersama, Ica membawa bekal sarapannya ke sekolah. Melihat tingkah Ica yang seperti itu membuat Reino bingung? dia merasa kehilangan sosok yang hangat, dia juga merasa merindukan seorang wanita yang tertidur di sofa karena menunggunya pulang kerja. Selama seharian di kantor Reino selalu kepikiran Ica, terlintas di benaknya untuk mengajak Ica makan malam. Tapi untuk apa? dia merasa tidak punya perasaan apa apa kepada istrinya, kenapa dia harus memikirkan perubahan sikap Ica? bukankah lebih baik begini? mereka tidak bertegur sapa dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Reino menyudahi lamunannya dan kembali bekerja, walaupun disela sela itu dia selalu teringat akan tubuh itu, tubuh polos tanpa balutan apa pun. Membayangkan hal itu membuat juniornya menegang di balik celana kerjanya. "Damn...!!! hanya membayangkan nya saja membuat dia tegang." gerutu Reino. Pada pukul 19.00 Reino memutuskan untuk pergi ke Star klub, dia ingin menghabiskan waktu dengan minuman dan juga wanita. Reino meneguk minuman keras sebanyak 3 botol sampai dia benar benar teler lalu menarik salah satu wanita malam yang berada di sana untuk diajak bercinta. Namun entah apa yang terjadi malam ini, dia menganggap wanita itu adalah Ica. Saat sedang bercinta, beberapa kali dia menyebutkan nama Ica, bahkan inti tubuhnya bisa menegang sempurna karena membayangkan wanita yang bugil di depannya saat ini adalah istrinya. Ica Ica dan Ica. Isi kepala Reino dipenuhi oleh penampakan tubuh polos Ica, semakin dia mengusir dari pikirannya semakin sering tubuh itu muncul di pelupuk matanya. Reino kembali pulang ke apartemen dengan mabuk berat, dia berjalan sempoyongan ke kamarnya. Di kamar dia melihat Aisyah yang sedang tertidur pulas di sofa. Reino mendekati wanita itu dan menatapnya, gairahnya kembali memuncak saat dia melihat tubuh Ica terbaring di sofa. Reino menyergap tubuh itu secara tiba tiba membuat tubuh Aisyah berguncang. Pria itu melumat bibir tipis itu saat sang pemilik bibir sedang tertidur pulas. Aisyah yang terkejut berusaha mendorong tubuh Reino namun gagal karena pria itu memegang kedua tangan Aisyah sembari tetap melumat bibir itu. Dia memegang kedua tangan Aisyah dengan satu tangannya sementara tangan yang lain memegang tengkuk supaya Aisyah tidak bergerak. Aisyah yang merasa terancam berusaha keras supaya bisa lepas namun berkali kali di coba tetap tidak berhasil. Puas Melumat bibir bawah, dia melumat bibir atas, tangannya merosot turun menyentuh dua benda berharga milik Aisyah. Reino meremasnya dari balik baju Aisyah, kemudian tangannya turun ke bawah dan masuk dari sela sela kaos yang Ica kenakan sampai menyentuh area itu. Ica terus berontak walaupun sulit, sedangkan Reno berhasil memegang dua benda berharga Aisyah di dalam bra dan memilin puncaknya. Aisyah seketika mendesah, dia merasakan geli campur nikmat dari sentuhan jemari Reino. Ya walaupun dia tetap berusaha berontak. Reino melepaskan ciumannya dan beralih menciumi leher kemudian memberi tanda merah di sana. Tangan Ica masih belum bisa terlepas tapi Aisyah bisa bersuara. "Mas lepasin. Lepasin aku Mas! jangan menyentuhku saat mabuk begini. Aku benci kamu mas, aku benci!" Pria itu tidak menghiraukan teriakan isterinya, dia fokus mengekplorasi tubuh atas Ica, dengan satu tangannya dia menyibak kaos yang dikenakan Ica sampai terlihat kedua benda berharga itu. Dengan beringas Reino meremas salah satu dari benda itu sedangkan yang satunya dia sentuh dengan mulut.. Reino menghisap benda yang terlihat menegang itu sementara tangannya meremas dan memilinnya tanpa ampun. "Lepasin aku. Kamu jahat Mas. Lepasin! Jahat kamu mas. Aku jijik sama kamu mas. Aku jijik!" Ica berteriak namun Reino tetap melakukan aktivitasnya, apa yang dilakukan Reino membuat Ica mendesah sekaligus jijik, dia merasa terhina diperlukan seperti ini. Dengan kekuatan yang tersisa Ica menendang inti tubuh Reino dengan menggunakan lututnya hingga akhirnya Reino melepaskan Ica dan terjungkal ke bawah menahan sakit di area vitalnya. Ica memanfaatkan situasi dengan berlari ke kamar mandi dan mengunci pintu. wanita itu membetulkan bra yang Reino tarik ke atas, Ica menutup kembali benda berharga miliknya kemudian melihat tampilan dirinya di kaca. Dia menangis, dia merasa dilecehkan oleh suaminya sendiri. Entah dari mana dan habis berbuat apa Reino pulang ke rumah menyentuh dirinya. Hiks...hiks...hiks. "Aku benci kamu, Mas. Aku benci! bukan seperti ini seharusnya kamu memperlakukan aku mas. Astaghfirullah hal azim, ya Allah beri aku kekuatan." Ica membasuh wajahnya di wastafel, dia mencuci mulutnya yang tadi di sentuh suaminya. Dia benar benar jijik dengan ciuman itu. Dia juga jijik dengan sentuhan yang dilakukan Reino. Ica berteriak dan melempar cermin dengan botol pencuci wajah hingga cermin itu pecah berhamburan dan mengenai kakinya. Reino yang mendengar teriakkan dan suara cermin pecah berusaha mengetuk pintu kamar mandi berulang kali sembari memanggil nama Ica. "Ca buka Ca, aku minta maaf. Aku khilaf! " "Pergi kamu mas ...pergi!" sahut Ica dengan berteriak. "Aku mohon buka pintunya Ca. Aku benar-benar minta maaf." "Aku bilang pergiii ...pergi kamu mas! pergi. Arrrggghhhh...!" Ica berteriak histeris dari dalam kamar mandi membuat Reino semakin panik. Reino tidak mempunyai pilihan lain selain mendobrak paksa pintu itu. "Brugg" Reino mencoba mendobrak sebanyak 3 kali hingga akhirnya pintu itu terbuka lebar. Dia melihat Ica berdiri di depan cermin yang pecah, kakinya dipenuhi darah segar yang mengalir dari punggung kaki yang tertancap beling. "Pergi kamu mas. Pergi! kamu jahat! kamu tidak punya hati! aku benci kamu!" teriak Ica menggema di dalam kamar mandi. "Maaf Ca, aku minta maaf ya. Ayo kita obati dulu kaki kamu yang berdarah. Aku mohon, maafkan aku." "Jangan mendekat kamu, Mas. Aku benci kamu Reino Atmajaya! Aku benci. Aku benci pernikahan ini!" Tubuh Ica merasa lemas, kepalanya terasa ringan, lama kelamaan tubuh itu mulai goyang dengan mata yang tertutup. Reino yang melihat istrinya akan jatuh pingsan dengan sigap dia meraih tubuh itu kemudian membopongnya ke tempat tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD