bc

I'M YOURS

book_age16+
3.0K
FOLLOW
23.3K
READ
dark
playboy
badboy
badgirl
drama
comedy
sweet
basketball
first love
friendship
like
intro-logo
Blurb

[COMPLETED]

Perjuangan seorang siswa SMA yaitu Alka Geovano untuk mendapatkan cinta seorang gadis kantoran bernama Melda Algeria yang sudah mencuri hatinya sejak pertemuan pertama.

Cover by Pinterest

chap-preview
Free preview
First Sign

Kondisi jalanan malam itu terlihat ramai oleh anak remaja. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan itu artinya, balapan akan segera dimulai. Dari ujung jalan besar, derum mesin mobil sport mewah terdengar saling bersahutan hingga menghasilkan bunyi bising, memasuki indera pendengaran para remaja yang sudah stay sejak dua jam yang lalu.


Kedatangan dua mobil sport berbeda warna itu berhasil mengalihkan semua pandangan. Para remaja cewek sudah memekik girang kala idola mereka telah datang. Kedua mobil yang hendak beradu kecepatan itu, kini sudah berjejer rapi tepat di garis start. 


Kedua pintu mobil terbuka secara bersamaan. Dari mobil berwarna merah, keluar sosok remaja laki-laki bertubuh tinggi tegap dengan model rambut di bagian depan yang acak-acakan. Matanya menyorot tajam, menatap orang-orang di sekeliling. 


Panggil dia, Alka. Terlahir dari keluarga miliarder, membuat Alka bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Alka mengayunkan langkah lebarnya ke depan mobil dan bersandar dengan kedua tangan yang di masukan ke dalam saku celana jeans robek-robek di bagian lutut. Dari segi penampilan saja sudah terlihat jelas bahwa dia adalah seorang bad boy. Lalu datanglah seorang remaja laki-laki yang merupakan sahabat baik Alka. Dia pun berdiri tepat di sebelah Alka.


Sedangkan laki-laki pemilik mobil berwarna hitam, kini tengah menatap ke sisi sebelah kirinya dengan menampilkan seringai sombong. Panggil dia Gio. Laki-laki yang menantang Alka untuk beradu kecepatan malam ini. Dan taruhan kali ini adalah mobil yang di gunakan balapan.


Gadis pembawa bendera melangkah sambil melenggak-lenggokkan tubuh seksinya dan berdiri di antara kedua mobil tersebut. Kedua remaja laki-laki itu pun segera masuk ke dalam mobil.


Gio beserta kesombongannya melempar seringai pada Alka yang membalasnya dengan menaikkan kaca mobil. 


Suasana semakin meriah ketika bendera dilempar ke atas. Kedua mobil langsung melaju dengan kecepatan super melintasi jalur. Keduanya saling tikung menikung untuk meraih kemenangan. Unjuk kelihaian menguasai medan. 


Lima belas menit berlalu, sorak sorai kembali meramaikan arena begitu melihat kedua mobil dari ujung sana. Penonton saling meneriaki nama pemain. Hingga akhirnya, mobil dengan warna merah melesat bagai angin berhembus kencang menembus garis finis. Dan Alka, kembali memenangkan sebuah pertandingan untuk kesekian kalinya. Sementara Gio kerap kali mengumpat kasar karena Alka selalu menjadi pemenang meski ia sudah menikungnya beberapa kali. 


Alka keluar dari dalam mobil dengan senyum kemenangan. Tanpa diminta, para penonton langsung berhamburan mendekatinya untuk mengucapkan selamat. Alka sedikit menaikan kepala, lalu menyisir rambut ke belakang.


“Gue bangga sama lo, Bro!” Kefan merangkul pundak Alka. 


“Sial!” Gio memukul stir mobil, ia benar-benar malu sekarang. Kekalahan selalu berpihak padanya. Entahlah, Alka begitu sulit untuk dikalahkan meski ia sudah menerka-nerka cara cowok itu bermain. 


Alka berjalan angkuh bersama Kefan yang mengekorinya dari belakang. Alka tersenyum remeh pada Gio yang kini sudah berdiri di samping mobil. “Sesuai perjanjian, sekarang mobil lo jadi hak gue,” ucap Alka yang semakin membuat kekesalan dalam diri Gio semakin menggebu.


Gio melempar asal kunci mobilnya. Beruntung, Alka dapat menangkapnya dengan tepat.


“Pertarungan kita belum usai. Ingat itu!” tegas Gio sambil mencengkram kuat kerah baju Alka.


Kefan yang melihat itu langsung mendorong kasar tubuh Gio. “Udah sana balik! Bobo j***k sama tikus-tikus di gudang rumah lo!”


Gio melempar tajam tajam pada Kefan. Mendengus kasar lalu ia berjalan meninggalkan tempat dengan amarah menggebu. 


Kefan mengusap dagu sambil menatap mobil mewah di hadapannya. “Mau lo apain ini mobil, Al?”


Sambil bersidekap, Alka menelisik kendaraan beroda empat yang baru saja berpindah tangan kepadanya. "Jual!"


~❣~


Honda jazz berwarna putih berhenti tepat di pinggir jalan yang sepi. Pintu mobil terbuka, sepasang kaki jenjang muncul dari balik pintu. Angin malam berhembus menerpa wajahnya, membuat rambut panjang yang tergerai bebas itu ikut tertiup angin. 


Melda, begitu orang-orang memanggilnya. Gadis berusia dua puluh tahun yang baru saja kembali ke Jakarta, setelah dua tahun menetap di Purwokerto. 


“Bagaimana, Pak? Apa ada masalah?” Melda bertanya sambil berjalan mendekati supirnya yang tengah mengecek ban mobil di bagian belakang. 


"Aduh, Non. Ternyata ban nya bocor terkena paku."


Melda menghela napas. “Apa gak ada ban serep, Pak?"


"Maaf, Non. Gak ada. Kemarin sudah digunakan untuk ban depan. Biar saya hubungi montir dulu ya, Non.”


Melda berdecak pelan. Ia menatap jam yang melingkar indah di pergelangan tangannya, lalu mengedarkan pandangan hingga menangkap sebuah warung yang terletak di seberang jalan.


"Pak, saya nunggu di warung sana ya."


“Iya, Non. Silahkan."


Melda mengayunkan langkahnya menuju warung. Ia memesan segelas teh hangat sambil menunggu ban selesai diganti. Melda menggigit bibir bawahnya seraya menempelkan benda pipih canggih di telinganya.


"Angkat dong, Sayang," gumamnya penuh harap.


Merasa panggilan pertama tak di respon, Melda kembali mencoba dan berharap sang kekasih mengangkat panggilannya kali ini. Akan tetapi hasilnya tetap nihil, panggilannya tak kunjung di angkat. Melda melirik ke arah mobil yang sedang diganti ban nya. Sebelum pulang ke rumah, Melda sudah membuat janji bersama Ragil untuk bertemu di sebuah kafe l*******n mereka sewaktu SMA. Rencananya sepasang kekasih itu akan melepas rindu setelah dua tahun tak berjumpa langsung. Menjalin hubungan LDR, membuat keduanya hanya bisa berkomunikasi lewat sosial media yang ada.


Setelah lulus dari SMA, Melda mengambil kuliah di Purwokerto. Bukan tanpa alasan, Melda hanya ingin menepati janjinya beberapa tahun yang lalu untuk kuliah di sana. Sewaktu SMP, di mana Melda pertama kali melihat kampus itu, ia langsung tertarik dan berjanji akan kuliah di sana. 


“Kenapa gak diangkat-angkat, sih?” gerutu nya, menatap kesal layar ponsel.


Melda menyeruput teh hangatnya yang masih utuh. Pikirannya melayang-layang, takut kalau Ragil marah kepadanya karena ia datang terlambat dari waktu yang sudah di tentukan. Kemudian ia memilih untuk mengirim pesan kepadaada Ragil agar laki-laki itu tidak pergi sebelum ia datang. 


Melda bangun dari posisi duduknya dan mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu dari dalam saku celana jeans-nya. Lalu menyerahkannya pada sang penjual. “Bu, ini saya bayar tehnya.”


“Sebentar ya, Ibu ambil kembaliannya dulu.”


Melda tersenyum. “Gak usah, Bu. Ambil aja kembaliannya.” 


Saat Melda hendak kembali ke mobil. Tiba-tiba seseorang berlari kencang di melewatinya, membuat Melda terkejut dan mengusap d**a nya yang berdetak kencang karena kaget. Dari belakang, segerombol orang-orang berlari sambil meneriaki orang yang baru saja melintas, menyuruhnya untuk berhenti.


“Berhenti woy! Jambret! Jambret!”


Melda menajamkan telinga. Orang-orang meneriaki jambret pada orang yang baru saja melintas di hadapannya. Tanpa pikir panjang, gadis cantik itu langsung menunjukkan ahli lari maratonnya mengejar orang tersebut. 


“Sial! Tahu kalau orang itu jambret, udah gue seleding tadi.” Melda bergumam dengan tatapan yang menyorot tajam ke depan. 


Di tempat yang berbeda, sebuah mobil sport melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, membelah jalanan yang terlihat lengang. Lalu menghentikan lajuannya tepat di atas jembatan yang membentang di atas sungai. Alka keluar dan menyandarkan tubuhnya di depan mobil. Tangannya mengeluarkan sebungkus permen karet dan mengunyahnya. 


Ia terus memandangi langit malam yang bertabur bintang. Remaja berusia delapan belas tahun itu sangat menyukai langit. Entah itu langit malam yang gelap gulita namun dihiasi taburkan bintang, ataupun langit biru yang di temani gumpalan awan putih. Selain itu, ia juga sangat menyukai permen karet. 


Laki-laki setampan Alka yang sudah berstatus jomlo cukup lama, membuatnya sering di wawancarai "Udah punya pacar, Al?" dan itu adalah pertanyaan yang menyebalkan. Setiap datang ke acara-acara yang menjadi unjuk pasangan, membuatnya harus menebalkan telinga saat ada yang bertanya, "Kapan bawa pacar, Al? Gak kering tuh hati?" Rasanya Alka ingin menjawab. "Nanti tunggu lo putus sama cewek lo."


Setelah cukup puas memandang langit. Alka berjalan untuk kembali masuk ke dalam mobil, saat pintu mobil terbuka secara tiba-tiba seseorang melempar tas berwarna hitam ke arahnya. Alka mengerit bingung, menatap tas yang kini berada di tangannya lalu menatap heran pada orang yang tidak di kenal semakin mengencangkan lariannya. 


“Gak jelas banget itu orang,” gumam Alka. 


“Kena lo!” teriak seseorang dari arah belakang.


Alka sudah akan menoleh untuk melihat siapa pemilik suara itu. Akan tetapi ia dikejutkan saat seseorang itu menyerangnya tiba-tiba.


“Eh! Apa-apaan nih?!” Alka berusaha menangkap sepasang tangan yang memukulinya.


“Diem lo! Jambret kurang ajar!"


Di tengah kebingungannya, Alka meringis saat seseorang itu beralih menggunakan tas nya untuk menyerang tubuh Alka. “Jambret? Siapa yang jambret? Gue bukan jambret.”


“Halah! Mana ada maling ngaku! Gue gak percaya!"


“Sumpah! Gue bukan jambret." Alka masih berusaha menghentikan serangan perempuan berambut panjang itu.


"BAPAK-BAPAK! INI DIA JAMBRETNYA!" seru perempuan itu, membuat Alka terbelalak kaget.


“Woy, jangan sembarangan dong! Gue bukan jambret anjir!" bela Alka yang memang tidak bersalah.


“Dimana jambretnya?” Salah satu warga bertanya.


Alka melotot tajam saat perempuan pendek itu menunjuk ke arahnya. "Lho, ini orangnya, Pak!"


“Bukan! Saya bukan jambret!"


“Diem deh lo! Balikin sini tas nya!”


Melda mengambil paksa tas itu dari tangan Alka. Selanjutnya, Ibu si pemilik tas muncul dari kerumunan. Melda langsung menyerahkan tas tersebut pada Ibu itu. "Ini tasnya, Bu. Lain kali hati-hati ya."


“Terima kasih ya, Mbak."


“Sama-sama, Bu.” Melda tersenyum bangga. “Di cek dulu tasnya, barangkali udah diambil isinya sama orang ini.”


Alka mendengus kesal. Ia yang tidak tahu apa-apa dituduh seperti ini oleh perempuan yang bahkan tidak ia kenali. “Bukan gue yang ngambil. Astagfirullah, bocah prik."


Melda tidak peduli. Bahkan menatap Alka saja ia tidak sudi.


Ibu si pemilik tas tersebut tersenyum lega karena tidak ada yang kurang dari isinya. Begitu mendongak, kening Ibu tersebut mengerut menatap Alka. "Lho, tapi yang ambil tas saya tadi bukan yang ini orangnya."


Melda menjatuhkan rahangnya mendengar ucapan Ibu itu. Lain halnya dengan Alka yang memutar bola mata jengah.


“Ibu yakin?” Salah satu warga bertanya.


Ibu tersebut mengangguk mantap. “Iya. Saya ingat persis wajahnya." Lalu, ia beralih menatap Melda.. “Mbak, terima kasih banyak ya. Sudah menolong Ibu.”


Melda mengangguk dengan tampang cengo nya. Lantas, orang-orang itu melangkah pergi meninggalkan Alka dan Melda berdua.


Alka menatap lurus ke depan dengan tangan bersidekap “Gue bisa aja laporin lo ke pihak kepolisian atas tuduhan pencemaran nama baik.”


Melda menyengir lebar. “Eh, santai, Bro. Lagi pula kan gue juga gak tahu kalau bukan lo yang ngambil tas si Ibu tadi. Apalagi kan, tas itu juga ada sama lo," ucapnya.


Alka mendengus kasar. Ia pun menoleh untuk menatap lawan bicaranya. Baru saja ia hendak berucap, tiba-tiba lidahnya kelu untuk diajak bicara.


"Demi uang jajan gue yang gak kunjung naik. Ini orang atau bidadari? Cantik maksimal!" batinnya berontak.


Melihat laki-laki didepannya diam, Melda mengangkat sebelah alis. Menatap Alka dengan heran yang menatapnya tanpa berkedip. Lalu, ia melambaikan tangan beberapa kali di depan wajah Alka untuk menyadarkan lamunan laki-laki itu.


"Are you okay?"


Alka menggelengkan kepala, memecahkan lamunannya. Senyum lebarnya terbit seketika. Lalu ia mengulurkan tangan ke arah Melda. "Gue Alka. Alka Giovano."


Meski tidak mengerti dengan perubahan sikap ketus Alka, akan tetapi Melda membalas jabatan tangan laki-laki bernama lengkap Alka Giovano tersebut.


“Gue Melda Algeria."


Tangan mereka saling berjabatan dalam beberapa detik lamanya. Di bawah lampu cahaya remang, Alka jatuh ke dalam pesona gadis di hadapannya. Senyum yang terukir dari wajah jelita Melda, berhasil menghadirkan debaran kencang dalam diri Alka. 


"Dear Pakar Cinta, apa ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?"


~❣~


“Kita harus putus!"


Apa katanya? Putus?


Ucapan Ragil seperti petir di siang bolong. Benar-benar tidak terduga sama sekali dan membuat Melda shock setengah mati. Setelah hampir tiga tahun menjalani kasih, kini dengan begitu mudah Ragil mengucapkan kata putus.


“Kamu bercanda kan, Sayang?” Air mata sudah mengepul di pelupuk mata Melda. 


“Aku serius. Kita harus putus," jawab Ragil mantap.


“Tapi kenapa?” cicit Melda. Seingatnya, hubungan mereka baik-baik saja lalu ada angin apa tiba-tiba Ragil memutuskannya? 


“Aku udah nggak ada rasa sama kamu. Kamu terlalu baik, Mel. Dan aku yakin, kamu akan mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dan pantas untuk kamu.” Ragil menggenggam tangan Melda yang berada di atas meja. 

 

"Cih! Alasan klise. Ternyata semua janji-janjimu hanya sampah! Ambyar hati ku, Mas!"


Melda tidak bisa lagi membendung cairan hangat itu. Ia menangis mendengar ucapan Ragil. Ia sudah jatuh terlalu dalam pada laki-laki berusia dua puluh empat tahun itu. Melda masih ingat benar perjuangan Ragil untuk mendapatkan hatinya. Dan sekarang, di saat apa yang dulu ia kejar begitu mudah dilepaskan.


“Tega kamu sama aku."


Melda merasakan sesuatu yang kenyal mendarat di puncak kepalanya. Sebuah kecupan perpisahan. Ragil benar-benar memutuskannya di hari pertama mereka jumpa setelah dua tahun LDR. Setelah itu, Ragil keluar dari kafe dan meninggalkan Melda dengan luka yang menyayat hati. 


"Padahal aku masih sayang sama kamu, Ragil."


Meski bukan April Mop, tapi Melda harap ucapan Ragil hanya gurauan semata. Sudah begitu banyak kenangan yang di lalui bersama. Bahkan rencana pertunangan yang akan di langsungkan dua bulan lagi sudah siap 80%. Namun apa yang terjadi sekarang, hubungan mereka kandas tanpa sebab yang pasti. 


Tatapan mata Melda jatuh pada sisa makanan yang masih berada di atas meja. “Terus siapa yang bayar semua ini?” cicitnya dengan air mata yang semakin deras membanjiri pipi. Seingat Melda, Ragil langsung keluar begitu saja tanpa mampir ke kasir terlebih dahulu.


Melda memanggil salah satu pelayan dan meminta bill atas makanan yang sudah di pesan. Kemudian, Melda keluar dari dalam kafe dan menjadi sorotan beberapa pengunjung yang ada di sana karena tangisannya.


"Mama! Putri cantikmu tersakiti, Ma! Melda butuh ke Meikarta, Ma!"


Sepanjang perjalanan ke rumah. Melda menatap nanar foto-foto dirinya bersama Ragil sambil di temani tangisan bombay ala di nego say. Ia merasa posisinya saat ini seperti para istri yang ditinggal suami, sama seperti sinetron yang gemar teman kosnya tonton. 


Ku menangis.... Melepaskan

Kepergian dirimu dari sisi hidupku

Harus selalu kau tahu

Akulah hati yang telah kau sakiti








editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Twenty VS Thirty

read
1.5M
bc

10 Days with my Hot Boss

read
1.5M
bc

Chandani's Last Love

read
1.4M
bc

Cerita Cinta Ardilla (Abi Family #2)

read
184.2K
bc

DANGEROUS MAN

read
112.6K
bc

Silent Wounds (INDONESIA)

read
228.5K
bc

Cici BenCi Uncle (Benar-benar Cinta)

read
174.6K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play