Tepat pukul lima pagi aku terbangun, seakan tak percaya bahwa aku baru saja melakukannya dengan om Hans. Melihatnya sedang tertidur pulas disampingku, membuat moodku menjafi sangat bagus.
"Hmm.. Udah bangun sayang?", ujar om Hans
"Udah om...",
"Hmm.. Panggil nama aja gapapa sayang...",
"Iya, masih canggung kalo panggil nama aja...",
"Ya udah... Aku antar kamu mandi ya, sini...",
"Eh eh... Aku bisa sendiri om...",
"Aku tau area bawahmu pasti masih nyeri... Sudah nurut aja..",
Aku hanya mengangguk pasrah,om Hans menggendongku menuju kamar mandi. Padahal aku sudah membersihkan diri semalam. Ia Meletakkanku secara perlahan di bath up, memutar air dan memastikan bahwa airnya hangat.
"Gimana? Enak?",
"Iya..",
"Habis mandi kita keluar makan ya!, aku laper, kamu pasti juga sama",
"Okay...tapi ini masih pagi buta om, mau makan dimana coba? ",
"Ada,tenang aja okay",
Selesai dengan kegiatan mandi, aku bersiap dengan minidress berwarna biru, mengimbangi tinggi om Hans aku pakai high-heels 7cm.
"Cantik...",ucap om Hans
Seketika membuat pipiku memerah seperti tomat.
Kami pergi kesebuah warung kecil penjual bubur ayam, bukan hanya hari ini saja kami kesini. Sebelumnya juga sudah pernah, karena ini salah satu makanan favorite om Hans.
Aku sangat hafal makanan yang selalu di pesannya bubur ayam tanpa kuah. Setelah memesan tak perlu menunggu terlalu lama, pesanan kamipun datang. Buru-buru aku menyantap habis makanan di depanku.
Sadar dengan cara makanku yang sedikit barbar, om Hans tersenyum.
"Coba lihat, kau makan saja masih seperti bayi... Seperti ini sekarang kau menggodaku sayang...",
Sadar dengan bibir yang berantakan Buru-buru aku mengambil tisu dan membersihkannya. Aku tersenyum malu di buatnya.
"Kau mau kemana lagi, sayang?", pertanyaan yang aku tunggu
"ehm.. Bagaimana jika kita pulang saja..",
"Baiklah...",
Selesai dengan sarapan kami, om Hans membawaku pulang ke apartemennya.
"Aku ke kamar dulu ya om, mau siapin buat pendaftaran minggu depan", pamitku
"Iya... Jika mencari om ada di ruang kerja",
Aku hanya mengangguk menjawabnya, dan berlanjut masuk kedalam kamarku.
Didalam kamar aku melompat kegirangan, layaknya balita yang mendapatkan permen. Hingga aku lupa kalau di bagian bawahku masih terasa perih karena persetubuhan itu.
'Astaga... Apa ini mimpi? Aku bisa mendapatkan om Hans dengan mudah', batinku
Setelah selesai menyiapkan beberapa berkas untuk pendaftaran . Aku berganti baju, sekarang aku memakai hotpants dengan tanktop, dan tanpa memakai bra.
Kebiasaanku jika tidur atau tidak sedang melkukan aapun memang tidak pernah memakai bra dan dalaman. Itu membuatku risih.
Aku merasa haus sekali, aku memutuskan untuk pergi ke dapur. Meneguk air es dan menuang sedikit jus. Aku lihat ada sepotong kue, aku tak peduli siapa pemiliknya, aku putuskan untuk mengeluarkannya dan melahapnya.
Hampir selesai dengan kue yang ku makan, aku tersentak ketika om Hans tiba-tiba memelukku dari belakang.
"Ehmm.... Om Hans...",
"Sudah kubilang panggil nama saja... Apa kau mau kuhukum?", katanya sembari menciumi leherku
"Ahh... Kalo hukumannya ena ena... Mau dong Hans... Ahh..",
"Kau yang minta sayang...",
"Papa....", suara Chris membuyarkan aksi om Hans dengan seketika
"Chris...",
"Ingat pa... Chris masih tinggal disini!! Besok Chris berangkat Bali, puasin deh ena ena nya...!!", kata Chris sembari berlalu mengambil air minum dan kembali lagi kekamarnya
"Shit...", umpat om Hans
"Salah Belinda... Maaf...",
"No no no... Kamu ga salah sayang... Udah jangan dengerin Chris... Dia akan baik-baik saja.. Okay?",
Aku mengangguk dan pergi masuk kedalam kamar. Kulempar tubuhku keatas ranjangku, kututup dengan bantal dan berharap segera terlelap.
"Aahh...", aku mendesah karena sepertinya seseorang sedang menciumi leher dan dadaku
Sontak aku membuka mata dan mendapati om Hans sedang sibuk menciumi leherku.
"Hans... Ahh.. Apa... Gimana... Kalo Chris.. Aahh... Hans...",
"Chris sedang di kamarnya, ia sibuk dengan game nya",
Om Hans dengan cepat melucuti kain yang menutupi tubuhku. Kini ia menindihku, menggesekkan juniornya di vaginaku.
Aku kesusahan menelan saliva melihat juniornya yang besar dan panjang sedang tegak berdiri di bawah sana.
"Kau mau?", tanyanya sembari menunjuk ke arah juniornya
Aku hanya mengangguk
"Kulum sayang",
Om Hans berpindah posisi telentang dengan memijat juniornya perlahan. Ia menyuruhku untuk mengulumnya, dengan tenaga penuh aku memberanikan diri memegang juniornya. Membuat om Hans sedikit mengerang, aku mencoba menjilati kepala juniornya dan perlahan kumasukkan kedalam mulutku. Aku memompanya dan mendengar desahan demi desahan keluar dari mulut om Hans.
"Oh God... Terus sayang.. Seperti itu... Ahh... Nikmat sekali.. Aahh...",
Aku merasakan juniornya yang semakin mengeras dan menegang. Om Hans menyuruhku untuk berhenti dan membuatku berada di atasnya. Ku masukkan perlahan juniornya, sedikit terasa sakit. Namun setelah masuk sepenuhnya, aku merasakan kenikmatan yang tiada tara.
"Ahh... Hans... Enak sekali... Aahh...",
Ku goyangkan tubuhku, bergerak maju mundur dan juga memompa. Hingga aku mendapatkan orgasmeku.
"Ahh. .. Aahh....",
"Sayang... Kau hebat... Aahh.... Nikmat...",
Tubuhku terasa lemas aku tidur di atas d**a bidang om Hans. Namun om Hans tak membiarkanku untuk istirahat. Ia membalikkan posisi kami tanpa menanggalkan tautannya.
Kini om Hans menguasai permainannya, memompa tubuhku dengan kasar namun sangat nikmat kurasa. Hingga ia mencapai klimaks dan lagi-lagi kutahan dia untuk mengeluarkannya di dalam rahimku.
Cup...
"Terima kasih sayang... Kau hebat... Kau bisa mengimbangi gaya seks ku yang sudah berumur ini...",
"Ehm.. Sama-sama Hans... Itu karena aku mencintaimu",
"Aku juga mencintaimu...",
om Hans menutupi tubuh kami dengan selimut. Dan kami tidur dengan posisi om Hans memelukku.
"Hans... Kau bilang akan pergi bekerja", ujarku lembut
"Aku masih ingin bersamamu di atas ranjang", ujarnya sembari mempererat pelukannya
"Hmm... Apa kau suka saat melakukannya bersamaku, Hans? Jika di bandingkan dengan wanita yang biasa kau bawa pulang....", Hans menutup bibirku dengan jari tangannya
"Ssstt.. Jangan kau bandingkan dirimu dengan mereka... Kau itu istimewa sayang.. Saat ini dan sampai kapanpun, aku akan bersamamu..",
Ucapan Hans membuatku lega , namun aku harus tetap waspada. Karena ucapan lelaki tak sepenuhnya selalu ia buktikan. Meski aku sudah mengenal Hans sejak kecil, namun aku baru mengerti bagaimana sifatnya beberapa bulan lalu.
***
Seminggu kemudian
Pagi ini aku akan pergi ke UI untuk daftar ulang, om Hans memberikan kunci mobil untukku.
"Apa ini om?",
Cup..
"Buat kamu.. Ada di basement.. Mini cooper berwarna merah",
"Beneran? Aahhh... Makasih sayangku...",
Cup...
"Maaf ya sayang, aku tidak bisa mengantar. Ada meeting pagi ini...", ujarnya
"Iya sayang, gapapa... Aku bisa sendiri kok",
Flashback on
"Sayang sayangan nih sekarang... Chris mau pamit... Dah lanjutin deh mesra-mesraannya...", suara Chris yang baru saja keluar kamar
"Chris...",
"Kamu baik-baik di Bali.. Jangan bikin onar disana! Patuh sama om Anthony!!", pesan om Hans pada Chris
"Okay pa...",jawab Chris
"Bel, gue pergi dulu! Jagain bokap ye...", lanjutnya
"Kamu juga hati-hati disana.. Aku bakal kangen sama kamu nih... Rumah jadi sepi deh..", ujarku
"Kan enak sepi, lo bisa ena ena ma bokap bebas...",
"Chris!!",
"Ya pa... Sorry... Bye all... Love you...",
Chris pergi dengan membawa sekoper penuh pakaian dan barangnya. Selanjutnya om Hans juga berpamitan padaku untuk pergi bekerja.
"Aku berangkat dulu ya sayang",
"Iya, hati-hati di jalan",
Ceklek... Brakk..
Itulah pertemuan terakhir sebelum Chris ke Bali.
Flashback off
"Sendirian deh.. Mandi ah.. Terus siap-siap berangkat...", gumamku
Aku memakai tunik dengan celana Jeans ketat. Dengan tas selempang merk Gucci terbaru dan juga high heels lima centi berwarna hitam.
Sekarang aku berada di basement, mencari mobil yang di hadiahkan untukku. Dan akhirnya aku menemukan mini cooper merah dengan aksen hitam.
"Yeeeaaayyyy... Mobil baru... Mobil baru...", teriakku kegirangan
Aku masuk kedalam mobil dan melihat ada buket bunga dengan kotak merah berisi gelang dengan lambang nama B dan H yang artinya Belinda Hans. Mulutku tak berhenti berteriak kegirangan, aku sangat bersyukur memiliki om Hans.
Ddrrtt... Dddrrtt...
Hans is Calling...
'Sayang... Bagaimana hadiahnya?',
'Hans... Aku senang sekali.. Terima kasih, sayang..',
'Apapun akan ku berikn untukmu sayang, jangan sungkan untuk meminta sesuatu padaku',
'Jangan terlalu memanjakanku Hans.. Aku tak ingin kau cepat bangkrut jika menuruti setiap keinginanku!',
'coba saja jika kau bisa membuatku bangkrut...',
'Hahahahaha... Kau menantangku sayang...??',
'Baiklah, aku harus kembali bekerja... Hati-hati dijalan sayang.. Kabari aku jika ada masalah...',
'Tentu sayang...',
Tut tut tut
Aku melajukan mobilku menuju UI. Namun sebelum sampai disana aku menepikan mobil untuk sekedar membeli makan di Drive thru.
"Mbak, paket kenyang satu, dan mocca float, hmmm sama kentangnya juga yang medium satu",
"Baik silahkan tunggu sebentar, pesanan anda segera di buatkan",
"Oke",
Kuparkirkan mobilku di area tunggu, tak perlu waktu lama seorang waitress datang membawakan pesananku.
"Permisi kak.. Ini pesanan anda, selamat menikmati",
"Iya, terima kasih", ujarku
Ku lajukan lagi mobilku hingga sampai di sebuah taman. Aku berhenti sejenak dan memakan makanan yang sudah aku pesan tadi.
"Akhir-akhir ini aku sering sekali merasa lapar",gumamku
Aku meliht ke arah ponselku, ternyata ada pesan dari Kiki. Ia berkata bahwa akan berkunjung ke rumahku saat pulang dari kegiatan jalan-jalannya di eropa. Aku hanya tersenyum tak membalasnya, pasti ia hanya ingin pamer dengan kegiatan yang ia lakukan. Dibilang iri, tidak juga. Bahkan aku juga bisa seperti dia, hanya saja aku yang malas dan tak hobi kemana-mana.
Ddrrtt... Ddrrtt...
Hans is Calling...
'Sayang... Apa terjadi sesuatu?',
'Tidak Hans.. Aku hanya sedang makan.. Ada apa?',
'Ya sudah.. Aku kira kamu kenapa napa..',
'Hans, jika terjadi sesuatu bukannya kau orang pertama yang tau?!',
'Ya sayang.. Pikiranku sedang kacau saja dengan pekerjaan ini...',
'Hmm... Sebaiknya kamu beristirahat saja dulu Hans... Jangan sampai kamu jatuh sakit, aku tak ingin melihatmu terbaring lemas di atas ranjang, itu bisa membuatku panik',
'tenng saja, sayang.. Jika bersamamu aku tak akan pernah lemas.. Yang ada kamu yang akan lemas karena perbutanku',
'Kau ini memang nakal, baiklah.. Aku akan melanjutkan perjalananku menuju kampus...',
'Ya sayang, hati-hati',
Tut tut tut