Part 14 Rencana Gagal Nyonya Geni

1709 Words
Tak disangka memang nyonya Geni begitu berani membayar hakim untuk menggagalkan rencana hak asuh Janar agar jatuh di tangannya. Aku tak tahu alasan nyonya Geni sebenarnya, jika ia ingin mengasuh cucunya kenapa tidak dari dulu saja? Kalau bukan Birendra dan pengacaranya, mungkin saja aku akan kalah meskipun pada dasarnya hak asuh milikku legal dan sah. Kita tidak pernah tahu tentang hukum, bukan? Kadang bisa saja hukum membela kita atau malah sebaliknya. "Apa aku bilang? Mereka tidak mungkin menang, Ping. Jadi kamu tetap pegang kendali atas hak asuh Janar. Selamat ya." Birendra terus saja mengikutiku dari kemarin hingga hari ini ke persidangan. Tentu juga dengan Dave walau Dave terlihat kurang menyukai kehadiran Birendra di sini. Seharusnya Janar ikut serta, tetapi aku tak mau memaksanya. "Terima kasih, Paman. Janar senang tetap menjadi anak ibu Pingkan dan tinggal di rumah daripada di rumah ayah. Janar tidak suka." "Nak, nggak boleh berkata seperti itu. Nggak baik, biar bagaimanapun nyonya Geni tetap nenek kandung Janar." Di usia Janar sebisa mungkin aku memberitahu sesuatu tidak dengan membentak, tetapi nada pelan dan memberinya jawaban yang dapat dipahami oleh dirinya. Aku tahu tak mudah mengurus anak yang akan beranjak dewasa. "Iya Nak. Paman juga senang akhirnya keputusan tetap jatuh ke tangan ibu kamu." Birendra merangkul serta mengelus rambut Janar layaknya sahabat. Jika bukan karena Bi, Janar mungkin akan merasa tertekan harus memilih tetap tinggal bersama siapa. Aku melihat nyonya Geni keluar dari ruang persidangan dengan wajah yang ditekuk dan menatapku tajam. Nyonya Geni bersama Dave mendekati kami yang masih ada di depan pintu, ia melihat Birendra dari bawah hingga ke atas wajahnya lalu mendecih. "Enak ya punya teman kaya jadi bisa dimanfaatkan," sindir nyonya Geni memiringkan senyumannya. "Wah saya nggak kaya kok, Nyonya. Hanya saja punya kenalan pengacara hebat," balas Birendra masih tetap tersenyum. "Ingat perjanjian di depan hakim tadi. Sabtu dan Minggu biarkan Janar bersama ayahnya. Paham kamu!" "Nenek, jangan menuding jari kepada ibu, itu tidak sopan. Nenek benar-benar membuat Janar tidak suka sama sifat nenek." "Lihat anakmu itu, Dave! Didikan dari wanita sialan ini membuatnya kurang ajar pada orang tua," omel nyonya Geni lagi. Sama seperti sebelumnya. "Bukan kurang ajar, Nyonya. Yang dikatakan Janar benar adanya, bicaralah dengan sopan tanpa menudingkan jari kepada lawan bicaranya," celetuk Birendra yang semakin membuat nyonya Geni geram. Untung saja Dave menengahi perdebatan ini dan mengajak ibunya pulang meski nyonya Geni masih mengomel di sepanjang lorong. Aku melihat Bi terlihat santai saja padahal justru aku yang tak nyaman karena Bi baru pertama kali berjumpa dengan neneknya Janar. "Maafkan nenek ya, Paman. Memang nenek begitu orangnya tapi baik kok." Baik kalau ada maunya. Aku bisa mendengar perkataan Janar meski pelan. Aku tak pernah mengajari Janar mengatai neneknya seperti itu. Janar sudah dewasa dapat membedakan mana yang benar dan salah juga menilai seseorang dari sifatnya. "Bagaimana kita makan di luar? Merayakan kemenangan ini?" tanya Birendra yang langsung disetujui oleh Janar. "Nak, kita harus pulang. Bibi Rita sudah masak kesukaanmu. Kita makan di rumah saja ya." Aku tak ingin Bi mengajak kami keluar meskipun hanya untuk makan saja. Banyak mata yang mengawasi apalagi wajah Bi sudah bermunculan di televisi dan koran. Aku tak mau ada gosip yang aneh-aneh. "Ya ibu ..." "Kasihan tunangannya Paman Bi karena kita mereka akan terlambat menghadiri pesta." Aku punya alasan yang tepat, karena Bi sempat bercerita tadi kalau ia dan Ditha akan ke pesta perayaan ulang tahun sahabat mereka. Awalnya ia tak mau dan bersikeras untuk tetap tinggal hingga mengantarkan kembali ke rumah. "Kalau begitu lain kali saja ya, Paman. Ajak juga tunangannya Paman dan Janar akan mengajak ayah ibu sebagai ucapan terima kasih." Kami berpisah di tempat parkiran. Birendra kupaksa untuk segera berangkat sementara aku dan Janar melanjutkan perjalanan kami dengan menggunakan taksi. Janar begitu senang hari ini karena ia tak harus selamanya tinggal bersama sang nenek hanya akhir pekan saja. Belum sempat aku memanggil taksi online, ada pesan masuk dari nyonya Geni menyuruhku untuk ke rumahnya tanpa Janar. Aku tahu betul apa yang akan ia ocehkan nanti jadi lebih baik memasangkan telinga tebal untuk mendengarkan ceramahnya tiada henti. **** "Oke kamu menang dalam hal ini, Pingkan. Tapi ibu akan turut campur tangan dalam mendidik Janar ke depannya. Dengan atau tanpa persetujuan kamu." "Ibu kok bicara seperti itu? Selama Janar masih bayi hingga sekarang, yang mendidiknya adalah Pingkan. Jadi ibu tidak bisa seenaknya campur tangan dalam mendidik," sela Dave di tengah perdebatan antara aku dan nyonya Geni. "Loh jadi ibu salah?" Kini nyonya Geni yang membentak Dave. "Maksud Dave bukan seperti itu, Bu. Tolong jangan salah paham." Aku memegang tangan nyonya Geni dan menggelengkan kepala saat nyonya Geni ingin memarahi Dave lagi. Hanya karena masalah Janar, aku tak mau ada pertengkaran antara ibu dan anak hari ini. "Nyonya, jika itu keinginan nyonya silakan. Tapi Pingkan mohon, didiklah Janar dengan baik." Daripada mendengar nyonya Geni dengan omelannya yang tiada henti, akhirnya aku mengalah. Aku serahkan nyonya Geni untuk ikut campur tangan dalam mendidik, Janar sudah cukup tahu membedakan mana yang benar dan salah nantinya. "Nah ya begitu. Masalah kan jadi beres kan? Ibu tak ingin Janar itu menjadi anak yang tak baik dan kurang sopan santun." Setelah puas berkata-kata bersama omelannya, nyonya Geni melenggang pergi dengan santainya meninggalkan Dave yang terlihat kesal akan sikap ibunya yang sedari dulu tak pernah bisa diubah. "Maaf Ping. Aku nggak bisa berbuat apapun sebagai ayahnya Janar," kata Dave menyesali keputusan ibunya yang suka ikut campur. "Jangan dipikir terlalu keras, Dave. Aku lakukan ini agar ibu kamu juga mau mengasuh dan mendidik Janar juga." "Tapi Ping kamu tahu sendiri kalau ibu---" "Sudah hentikan sampai di sini saja ya, Dave. Jangan diperdebatkan lagi." Aku memilih pulang setelah menyelesaikan perdebatan masalah didikan tersebut. Entah kenapa kepalaku tiba-tiba saja terasa berat dan pusing sekali. Minum obat pereda ternyata tak cukup mampu menyembuhkan. Mungkin jalan satu-satunya adalah beristirahat. ***** "Masih pusing, Ping?" Rita memijit kepalaku dengan jari jemarinya, jika pusing menyerangku membutuhkan waktu lama untuk hilang. Obat pun diresepkan dari dokter, rasa sakit di kepala ini disebabkan kecelakaan sepuluh tahun silam dan berdampak di bagian otakku. "Sudah lumayan, Rit. Maaf aku merepotkanmu terus." Tanpa kehadiran Rita, aku tak mungkin di sini. Baik Rita maupun kedua orang tuanya memberi dukungan tiada henti terhadapku, mereka selalu ada di saat aku butuhkan. Aku tak bisa membalas kebaikan paman dan bibi sewaktu mereka masih hidup selain membenahi juga merawat makam mereka. "Ais kamu ini bicara apa toh, Ping? Kamu nggak merepotkan aku sama sekali." "Kamu udah lama nggak cek up rutin ke dokter, Ping. Kamu harus ke sana lagi untuk memastikan sakitmu lagi," anjur Rita yang terus memijit keningku. Setiap sebulan sekali aku rutin memeriksa kondisiku di rumah sakit. Namun hampir setengah tahun aku tak melakukan pemeriksaan rutin, kupikir rasa sakit di kepalaku sudah hilang ternyata kambuh lagi. "Ibu, ada di mana? Ada Paman Bi di sini, Bu." "Ibu kamu ada di kamar, Janar!" Pria itu keras kepala sekali, kenapa ia harus datang ke sini? Kalau ia terus datang ke sini, aku kasihan dengan tunangannya Ditha. Bukannya mereka harus pergi hari ini lalu untuk apa Bi ke rumahku tanpa menghadiri pesta. "Coba kamu temui dulu pria itu, Ping. Beri alasan yang mudah ia cerna agar tak mengunjungimu. Katamu kan kamu tidak mau ia terus menghubungimu," celetuk Rita mengambil tongkatku lalu membantuku berdiri. Dari arah ruang tamu aku mendengar suara perempuan yang berbicara dengan Janar. Semakin kudekati ternyata ada Ditha duduk bersama anakku dan Birendra. Kenapa mereka malah ada di sini bukannya pergi berdua? "Mbak Ping sakit?" Malu juga rasanya melihat penampilanku yang hanya memakai piyama saja dengan rambut berantakan. Birendra tersenyum seraya menggodaku, katanya penampilanku ini seperti orang yang kecebur got. "Iya nih Dit, agak pusing. Kok kalian ada di sini? Katanya Birendra kalian ada acara." "Malas kami ke sana, Mbak. Benar kan, Mas? Karena gedungnya searah dengan rumah mbak. Aku minta sama Mas Bi untuk mampir sebentar." Pasangan yang aneh menurutku. Bukannya mementingkan pergi ke acara tersebut malah mengunjungiku di sini dengan membawa seperangkat alat untuk membakar daging. Saat ditanyai, Ditha malah tersenyum tak jelas sembari melirik Janar. "Kamu kenal sama tunangannya Paman Bi, Janar?" tanya Rita yang duduk di belakangku. "Iya dari kemarin, Bi. Paman dan Janar saling teleponan kemarin terus ada bibi Ditha jadi kami akrab deh." "Benar itu, Bi?" tanyaku, aku tak sangka jika Janar ternyata sering menghubungi Birendra di belakangku. "Ya tentu saja. Kita kan sudah jadi teman." Aku tak tahu apa lagi yang mau kukatakan, aku ingin perlahan menjauhi Birendra tapi nyatanya pria ini datang sesuka hati. Aku menghindar nyatanya ia malah berhubungan dengan Janar. Biremdra memiliki seribu cara agar aku tak bisa menghindar. Dalam sehari ini sudah kedua kalinya aku disuruh ke rumah nyonya Geni. Apalagi yang beliau inginkan dariku? Dengan terpaksa aku melakukan perintahnya meskipun sudah sore. "Ada apa ibumu memanggilku lagi ke sini, Dave?" Aku segera mendekati Dave yang sudah menungguku di depan pintu. "Aku tak tahu lagi dengan pemikiran ibu, Ping. Aku benar-benar stres dibuatnya." Masalah apa lagi yang ditimbulkan nyonya Geni? Masalah uang dengan rentenir atau perkelahian antar sesama teman arisannya yang sama seperti tiga bulan lalu? "Oh kamu udah datang." Aku dan Dave masuk, di ruang tengah aku mendapati nyonya Geni sedang berbincang dengan seorang wanita yang gaya pakaiannya menyilaukan mata. Cantik, tetapi sayang tidak dengan perilakunya. Seketika mengingatkanku dulu. "Perkenalkan ini Sarita, calon ibu dari Janar." Aku terperangah sekaligus terkejut mendengar penuturan nyonya Geni. Beliau akan menjodohkan Dave dengan wanita yang tak tahu dan tak kukenal, wanita yang menatapku di balik wajah sombongnya. "Janar sudah tahu kok kalau Sari akan menjadi ibunya kelak." "Benarkan, Dave?" Aku menoleh pada Dave dan ia mengangguk menjawab pertanyaan ibunya. Aku bukannya tak sudi Dave akan menikah dan Janar memiliki ibu sambung, tetapi bukan wanita seperti ini. "Bagaimana kamu setuju tidak?" tanya nyonya Geni menuntut untuk segera diberi jawaban. "Bagi Pingkan sekarang, apa pendapat Janar mengenai calon ibunya?" "Anak itu tidak mau. Enak saja anak sekecil itu ikut mengatur pernikahan ayahnya. Jadi ibu nggak mau ambil pusing dengan pendapatnya." Nyonya Geni mengomel lagi. "Maaf nyonya. Jika Janar berkata seperti itu maka saya setuju. Biarkan Janar sendiri yang mencarikan istri untuk ayahnya," tolakku dan menyetujui ucapan Janar. "Ibu dan anak sama saja. Sudah sana pulang saja kamu." Tadi aku disuruh ke sini dan sekarang nyonya Geni mengusirku. Jadi serba salah menghadapi nyonya Geni yang selalu menganggapku salah. Aku akan bicara pada Janar nanti. =Bersambung=
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD