Tepat tengah malam kemarin Dave meneleponku dan perkataannya urung membuatku menutup teleponnya. Ia memintaku untuk menjadi istrinya, lamaran yang mendadak itu sempat aku tertawa mendengarnya. Lamaran macam apa yang dilakukan Dave tadi malam?
"Kamu benar yakin itu Dave? Bukan makhluk yang menyaru jadi ayahnya Janar, kan?" Rita malah menakuti dengan perkataannya. Benar-benar Rita ini bercandanya keterlaluan.
"Tentu saja itu Dave, Rit. Lah jelas-jelas kita melakukan panggilan video kok. Kamu ini jangan menakutiku deh."
"Salahnya Dave juga, melamar kamu malah di tengah malam bukan menunggu esoknya," kata Rita tertawa melihat raut wajahku yang kesal akan ucapannya.
"Lalu kamu bagaimana memberinya jawaban?" tanya Rita ingin segera tahu jawaban dariku sampai-sampai ia mencondongkan tubuhnya menghadapku saat kami sarapan pagi di meja makan.
"Aku belum bisa memberinya jawaban, Rit."
"Kenapa memangnya? Seharusnya kamu bisa langsung mengiyakan, bukan? Daripada Dave menikah sama wanita nggak jelas," timpal Rita, ia kuberitahu kemarin saat nyonya Geni memaksaku untuk menemuinya.
"Rit, kamu tahu sendiri kalau nyonya Geni tak pernah menyukai kehadiranku. Lagipula benar kata nyonya Geni kalau Dave butuh seorang istri yang kelak mendampinginya, tetapi aku tak akan sudi jika wanita itu, Rit. Wanita tersebut harus memiliki akhlak baik dan terutama takut akan Tuhan."
Aku ingin Dave memiliki istri yang baik kelakuannya dan mendampingi mendidik juga mengasuh Janar penuh cinta kasih. Tak mungkin selamanya Janar harus hidup terpisah dengan ayahnya. Kelak jika semua berjalan sesuai harapanku, hak asuh Janar kulepas.
"Namanya Sarita Mumtaz keturunan India dari ayahnya. Ayahnya membuka usaha toko pakaian dan memiliki tiga cabang di kota ini."
"Kok kamu tahu, Rit?" Aku yang tak tahu apapun tentang calon istri Dave malah Rita yang tahu. Rita itu bagaikan informan.
"Aku tanya Dave nama lengkapnya si wanita itu. Lalu aku cari deh di sini," sahutnya sembari memperlihatkan fotonya di salah satu aplikasi yang trend sekarang.
"Kenapa melihatnya seperti itu? Teringat sama seperti kamu dulu ya?"
Ucapan Rita benar dan aku tak sakit hati, gaya pakaiannya terlihat seksi dan cukup membuat kaum pria melirik dengan tidak sopan karena menggoda. Aku memang berpakaian seksi dulu, tetapi tak sampai ada menampilkan anggota tubuh.
"Karena itulah Rita. Aku ingin Dave menikahi wanita yang tidak sepertiku."
"Coba kamu pikirkan lagi, Ping. Bagaimana jika yang dipilih Dave sudah merupakan wanita baik, tetapi Janar tak mau menerimanya? Bukankah lebih kamu menikah dengan Dave?"
"Loh Ping, mau ke mana? Malah pergi begitu saja?"
Aku diam, tak ingin dulu membahas pernikahan. Aku memilih melangkahkan kaki ke teras. Suara keributan kecil sejak tadi membuatku penasaran. Sedang meributkan apa Janar dan Dave saat ini?
"Kalian lagi mengerjakan apa? Sejak tadi ibu dengar kalian membahas sepeda."
Aku hampiri ayah dan anak itu, Janar cemberut karena sang ayah tak bisa mengecat sepedanya dengan benar. Ia akan mengikuti lomba seni rupa besok di sekolah dengan mengecat benda kesayangannya.
"Ini loh ayah, Bu. Nggak mau kalau Janar kasih tahu," omel Janar meski ia tak bisa marah pada ayahnya yang telah salah memberi warna cat. Dave menunjukkan jarinya ke arah warna cat di lantai batako.
"Aku jadi ingat kamu Dave, apa kamu nggak ingat ibumu marah saat kamu memodifikasi mobil sport kamu?"
"Memangnya ayah punya mobil sport, Bu? Lalu di mana sekarang mobilnya, Yah?"
Kalau urusan otomotif, Janar dan Dave sama-sama menyukainya jadi aku tak heran ketika Janar sejak kecil selalu merusak mainannya lalu dibetulkan sesuai keinginannya.
"Nenekmu menjualnya, Nak. Ya untuk biaya ayah selama di rumah sakit," ungkit Dave mengenang masa sulitnya dulu.
"Oh begitu, Yah. Ya udah kapan-kapan kita beli lagi dari hasil kerja Janar nanti," kata Janar dengan bangga ia akan membelikan mobil yang baru untuk Dave.
Dave akhirnya menyerah menolong Janar, ia rombak sendiri sepeda yang dibelinya dari hasil tabungan. Dari uang jajan yang kuberikan, ia sisihkan untuk ditabung.
"Kita seperti sepasang suami istri jika begini, ya Ping," ucap Dave yang duduk di sebelahku menemani Janar.
"Coba kamu menikah denganku, Ping. Kita akan menjadi keluarga yang bahagia," imbuh Dave mengenggam jemariku dan kubiarkan ia melakukannya.
"Aku sudah mengatakan kemarin Dave. Aku belum siap menikah denganmu," ucapku pelan.
"Apa karena ibuku, Ping?"
"Jika memang kalian tidak cocok, aku bisa pindah ke sini dan Vero yang akan menemani ibu di rumah. Kita bisa mengunjunginya setiap akhir pekan," desak Dave sekali lagi. Perkataannya sama seperti tadi malam
"Dave, menikah itu tidak semudah apa yang kamu pikirkan saat ini. Masalahnya bukan karena ibumu, banyak hal yang harus kita pikirkan termasuk masa lalu kita."
"Aku tak mau Janar menjadi anak yang jahat nantinya. Kita harus memberitahunya mengenai masa lalu kita, Dave. Meskipun ke depannya ia tak mau menerima kita, itu lebih baik daripada ia tahu dari orang lain."
"Jika Janar bisa menerima masa laluku yang kelam, aku akan menikah denganmu."
Dari semalam inilah yang kupikirkan. Bagaimana jika Janar tahu masa laluku setelah menikah dengan Dave? Aku tak mau menyakiti perasaan Janar dan perlahan aku akan memberitahu Janar siapa aku sebenarnya.
"Ibu, aku mendapat telepon dari bibi Ditha nih!" teriak Janar secara tiba-tiba sehingga membuat kami berhentu sejenak.
"Memangnya ada apa, Nak?" tanya Dave bangkit berdiri dan menghampiri Janar dengan ponselnya.
"Ayah kita diajak kencan nih sama bibi Ditha. Bibi Ditha mengajak ibu, ayah dan Janar makan malam bersama paman Bi dan bibi."
"Tapi ayah kan harus pulang, Nak. Kita tunda saja ya," kataku yang melihat wajah Dave berubah.
"Ayah bisa kok, Janar. Habis ini antar ayah pulang ya mau ganti baju."
Tanpa diduga Dave mengiyakan ajakan Ditha dan Bi untuk kencan ganda dengan mengajak Janar. Kata Ditha ada restoran yang bagus. Melihat raut wajah Janar yang senang akhirnya aku pun menuruti ajakan tersebut.
*****
Sesuai janji Janar dan Birendra akhirnya di sinilah kami berada sekarang. Bi mengajak Ditha sedangkan Janar mengajak aku juga ayahnya untuk kencan ganda. Bi dan Janar secara diam-diam memilih tempat yang benar-benar bagus.
"Bagaimana Mbak tempat ini? Aku suka sama pemandangannya," puji Ditha merasa kagum dengan tempat yang dipilih Janar.
"Terima kasih, Janar. Tante suka loh dengan pilihan kamu," imbuh Ditha memberi Janar ulasan senyuman manisnya.
Sepuluh tahun yang lalu tempat ini tidak sebagus sekarang masih restoran biasa saja dan di tempat ini pula Bi pernah mengajakku meski waktu itu dengan terpaksa aku datang, ia memintaku untuk ikut bersamanya ke luar negeri.
Andai waktu itu berputar kembali, mungkin aku akan mengiyakan jawabannya tanpa berpikir ulang. Aku tahu Bi orang yang tulus dan bersungguh-sungguh waktu itu. Dua kali menerima penolakan dariku, ia akhirnya menyerah.
"Dulu ayah pernah ke sini, Janar. Tapi nggak sebagus sekarang. Benar kan, Ping?"
"Iya Nak benar kata ayahmu."
"Dengan siapa kamu ke sini, Ping? Kan dari sini ke rumahmu yang lama jauh sekali." Dave tak pernah tahu mengenai hubunganku dengan Birendra dulu. Ia mengira kami berteman baru-baru ini.
"Nggak ada. Hanya seorang diri untuk menghilangkan kepenatan," jawabku tak jujur.
Aku tahu sedari tadi Bi melihatku terus dan hanya diam saja sejak kami sampai di sini. Kami sama-sama memiliki kenangan di tempat ini, kenangan yang tak patut untuk diingat lagi dan biarlah hanya kami mengenangnya.
"Romantis tempat ini ya, Mas Bi?" tanya Ditha menyikut lengan Bi yang tak mendengarnya.
"Iya Dit." Hanya jawaban pendek yang membuat Ditha sedih. Aku paham bagi wanita seusia Ditha, ia ingin calon suaminya bersikap romantis bukannya diam seperti patung.
"Ih kamu nggak seru kalau diajak ke tempat romantis, Mas," sungut Ditha sembari beranjak dari meja makan.
"Ayo Janar. Temani tante lihat taman di sana," lanjut Ditha mengajak Janar turun untuk melihat pemandangan, aku mengangguk saat Janar meminta persetujuan dariku.
"Anak kalian itu dewasa di usianya ya. Kalau aku menikah sepuluh tahun lalu, mungkin anakku sudah sebesar Janar," kata Bi menatap aku dan Dave yang ada di sebelahku sembari menyelesaikan makannya.
"Oh, ya? Siapa calonnya? Nggak mungkin Ditha, kan?" gurau Dave.
"Tentu saja bukan, Dave. Ia adalah wanita pertama yang kucintai," sahut Birendra sembari melirikku. Tatapannya membuatku memalingkan wajah.
"Kalian bertemu di mana?" tanya Dave padahal aku sudah memberinya tanda agar tak banyak bertanya.
"Waktu itu aku hanya seorang biasa, Dave. Aku kuliah juga bekerja sambilan sebagai sopir taksi dan wanita itu yang pertama kali naik ke taksiku tepat tengah malam."
"Tengah malam? Memangnya pekerjaannya wanita itu apa? Kok pulang kerja malam."
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi di saat itulah aku merasakan getar di sini untuk pertama kalinya, wanita itu mengoceh nggak jelas dan membuatku ingin mengenal jauh," ungkit Birendra dengan tersenyum menatapku.
"Kalau kamu menyukainya, kenapa tidak mengatakan perasaanmu padanya, Bi?" Bukannya berhenti bertanya, Dave terus menanyai Birendra.
"Sudah, Dave. Tapi dia menolakku dua kali padahal aku ingin mengajaknya hidup bersamaku di luar negeri."
"Wah wanita bodoh mana itu sampai nggak mau diajak pindah."
Ya wanita bodoh itu sekarang ada di sebelahmu, Dave. Wanita bodoh yang tak tahu caranya berterima kasih pada Tuhan, karena ada penolong yang menyelamatkannya dari lubang nista. Sayangnya wanita itu tidak sadar dulunya.
"Oh, ya Bi. Terima kasih untuk pengacara yang hebat kemarin dan berkatmu, aku melamar Pingkan kemarin malam. Akhirnya kami bisa menjadi ayah dan ibu yang sempurna bagi Janar."
Birendra yang semula hendak berdiri, duduk kembali dan menyuruh Dave mengulang perkataannya barusan. Ia menatapku tajam seakan ingin mengetahui jawabannya.
"Maaf aku ke belakang dulu. Ping, lanjutkan makanmu."
"Apa benar yang dikatakannya, Ping?" tanya Bi setelah Dave pergi sebentar.
"Iya seperti yang kamu dengar, Bi," jawabku walau ada nada keraguan saat mengatakannya.
"Aku tidak setuju kamu menikah dengannya, Ping."
"Loh apa hubungannya denganmu, Bi?" Entah apa yang ada di pikiran Birendra saat ini. Apa aku harus meminta ijin padanya kalau mau menikah?
"Aku ingin bersama kamu. Apa kamu tidak menyadari perasaanku sejak dulu?" Bi berusaha menggenggam jemariku, aku langsung menepisnya.
"Tidak bisa Bi. Bagaimana dengan Ditha? Ia wanita yang sempurna untuk mendampingimu bukan aku!" Aku bersuara pelan tapi tegas padanya.
"Aku tak pernah mencintainya. Ibu yang selalu berusaha menjodohkanku dengannya. Aku bisa memutuskannya jika kamu mau, Ping."
"Aku bukan wanita baik-baik, Bi. Aku yakin ibumu juga tak akan menyetujui hubungan kita."
"Aku tak peduli dengan masa lalumu. Aku mencintaimu dulu hingga sekarang."
Percuma bicara dengan Bi yang keras kepala. Aku berharap ia akan mundur setelah mengetahui masa laluku.
"Jangan bicara lagi, Bi. Aku tak mau mereka curiga dengan kita."
Aku menyudahi perbincangan ini sebab Ditha dan Janar diikuti Dave di belakang sedang berjalan menghampiri kami. Aku bersikap biasa sementara Birendra terdiam sembari memainkan ponselnya. Aku tahu ia sedang mengirimiku sebuah pesan.
"Maaf, Bi. Aku tak pantas untukmu."
Aku bergumam sendiri dan berusaha bersikap tak mencurigakan saat Ditha mencandaiku mengenai Bi yang tak mudah didekati oleh wanita manapun. Aku berharap Ditha yang kelak menjadi istrinya.
=Bersambung=