Part 16 Janar Tahu Masa Lalu Kelam Pingkan

1861 Words
Kalau dulu aku memiliki emosi tingkat tinggi jika ada yang memandangku sebelah mata disertai sindiran tajam. Namun kini berbeda, cara pandangku juga berubah. Aku tidak akan meladeni mereka yang melakukan hal itu padaku dan memilih mengabaikannya. Begitu juga dengan situasi saat ini ketika Sarita--calon istri Dave menemuiku di rumah. Tak ingin Janar mendengar percakapan di antara kami, aku memutuskan mengajak wanita ini ke kafe seberang. "Aku pikir kamu nggak bisa menyetir." Usianya lebih muda dariku dan beraninya ia menyebut dengan nama panggilan. Aku perkirakan ia masih berusia dua puluh lima tahun, tetapi pemikirannya belumlah dewasa dan cenderung kekanak-kanakan. Ah, Sari andai kamu itu wanita baik-baik dengan senang hati kuserahkan Janar diasuh olehmu nantinya. "Aku bukan wanita lemah yang hanya berdiam diri saja di rumah meski kakiku seperti ini, Sari." "Jadi apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" Aku langsung bertanya keperluan dirinya yang ingin menemui tanpa harus Dave tahu. "Aku sudah dengar masa lalumu dengan Dave juga pria itu yang menjadi selingkuhanmu," beritahunya lancar tanpa jeda. "Pasti nyonya Geni yang memberitahu semuanya?" Tak mungkin Sari mendengarnya dari orang lain apalagi Vero yang juga tak menyukai kehadirannya sebagai ipar. Satu-satunya orang yang tega melakukannya tentu saja nyonya Geni. "Tentu saja. Nyonya Geni tak mau kamu menjadi istri Dave dengan masa lalu kamu yang buruk jadi beliau memintaku menemuimu agar menjauhi Dave juga membawa Janar ke rumahnya. Aku dan ibu yang akan mendidiknya." Belum juga menjadi tunangan Dave, Sari sudah sok kuasa mengatur kehidupan Janar. Apalagi saat ia kelak menjadi bagian dari keluarga Dave. Aku tak sanggup menghadapinya, mungkin inilah yang dirasakan nona Arletta saat menemuiku untuk melepas suaminya. Sari dan aku sama-sama bebal. "Bagaimana bisa seorang wanita yang suka keluar kamar hotel dengan lelaki berbeda dapat mendidik seorang anak, Sari?" "Apa maksudmu? Kalau bicara itu hati-hati. Memangnya aku itu kamu yang seorang wanita panggilan?" Sari menyahut dengan suara yang gugup. "Lalu wanita di foto ini siapa? Kembaranmu? Kamu hanya memiliki seorang kakak perempuan yang juga menjadi simpanan, bukan?" Katakanlah sifat jahatku muncul saat ini, karena aku harus benar-benar mencarikan istri untuk Dave yang baik luhurnya maupun latar belakang keluarganya. Sari melihat foto yang memperlihatkan dirinya sedang berduaan dengan pria berbeda tiap malam. Tak usah disebutkan pekerjaannya apa. "Kamu benar-benar wanita sialan, Pingkan!" Hampir saja aku kena siram air seperti sinetron kebanyakan di televisi. Aku sudah terbiasa diperlakukan layaknya bintang film yang disiram dari atas hingga membasahi pakaian jadi bisa kutangkis serangannya sebelum ia mengambil gelas di meja. "Mau menyiramku agar semua orang bersimpati padamu? Aku pernah disiram berulang kali, Sari. Jadi aku tahu cara menangkisnya." Terus terang aku senang melihat mimik wajahnya yang memerah menahan marah. "Apa nyonya Geni tahu mengenai perilakumu di luar sana?" tanyaku seraya mengambil gelas yang Sari hendak tuangkan tadi. "Ibu tidak tahu karena aku pandai menutupinya." Aku tak habis pikir dengan nyonya Geni, apa beliau tidak melihat latar belakang wanita yang akan menjadi menantunya? Aku kenal betul nyonya Geni itu adalah orang tua yang mementingkan bibit dalam satu keluarga. "Tunggu saja waktunya, Sari. Kamu akan tahu seperti apa ibu mertuamu nantinya." Aku yang sudah kenal lebih dari sepuluh tahun masih kesusahan memahami pikiran nyonya Geni bahkan anak-anaknya juga tak mampu menyelami sikap ibunya apalagi Sari yang baru dikenal beberapa bulan. "Lalu apa yang kamu inginkan, Sari? Kamu ingin aku melepas Dave dan menyerahkan Janar ke tanganmu? Aku akan melakukannya jika kamu adalah wanita baik-baik." "Dan untungnya kamu menikah dengan Dave apa? Apa untuk menutupi aib kamu?" "Bagaimana kalau aku menjawab ya? Apa yang bisa kamu lakukan?" Sari mengejekku dengan nada sinisnya. "Kamu akan mengaku hamil anak Dave, bukan?" "Kamu ini---" Dugaanku benar, ia memanfaatkan Dave untuk menjadikan Dave sebagai ayah dari anak yang dikandungnya kini. Sebuah lagu lawas yang selalu terdengar jika ada wanita yang ingin memanfaatkan kepoloson seorang pria. Sayangnya, ia tidak tahu kalau Dave adalah pria yang b******n dan memahami isi pikiran wanita. "Dengarkan aku, Sari. Sebelum semuanya terlambat maka pergilah sejauh mungkin dari keluarga Dave. Jika mereka tahu siapa kamu maka nyonya Geni tak akan melepasmu dengan mudah." Nyonya Geni bukanlah tipe wanita yang 'nrimo' jika calon menantunya tak baik. Beliau akan terus saja mencari kesalahan orang tersebut bahkan sampai ke akar-akarnya, mengungkitnya tiap kali bertemu dan dijadikan sindiran. "Aku tak percaya dengan ucapanmu. Buktinya ibu mau menjodohkanku dengan anaknya," sanggah Sari tak tahu diri. "Terserah kamu mau percaya atau tidak, aku sudah mengenalnya bertahun-tahun lebih lama dibandingkan dirimu, Sari." "Maaf aku harus pergi, aku harus menjemput Janar pulang dari kursusnya." Aku memilih berdiri dan beranjak dari hadapan Sari daripada berlama-lama di sini membahas hal yang tak penting masih ada urusan yang belum kuselesaikan tadi. "Kamu tahu tidak kalau Janar sudah tahu masa lalumu? Bagaimana ya reaksinya? Jadi ingin tahu deh," katanya dengan senyuman mengejek. "Apa maksudmu?" Aku berhenti sebentar sebelum benar-benar pergi. "Kamu akan tahu sendiri nanti setelah sampai rumah." Sari bangkit dari kursinya lalu berjalan sambil menyenggolku yang hanpir saja terjatuh jika tidak ada salah satu pelayan yang memegangi tanganku. "Ibu tidak apa-apa?" "Iya saya baik-baik saja. Terima kasih ya." Aku mengucapkan rasa terima kasih padanya karena membantuku tak jatuh ke lantai. Aku harus segera pulang dan memastikan perkataan wanita tersebut tidaklah benar. **** "Janar, kala sudah selesai dengan makanmu. Kemarilah, ada hal yang ingin ibu katakan padamu." Dua hari sudah Janar mendiamkanku, ia sudah tahu masa laluku dari mulut kotor Sari yang mengatai aku adalah p*****r dan simpanan orang kaya dulu. Aku bukanlah wanita nakal dan bukanlah istri simpanan. Dave sudah berusaha membujuk agar mau berbaikan denganku, tetapi ia tak menjawab perkataan ayahnya dan hanya menatapku tajam lalu mengurung dirinya di kamar. Ia keluar untuk makan, sekolah dan juga ke kamar mandi. "Nak ...." Ingin kusentuh punggung tangannya saat ia duduk di sebelahku, tetapi aku tahu ia akan menepis seolah-olah aku adalah wanita yang menjijikkan. "Ibu memang memiliki masa lalu yang kelam dan ibu ingin kamu mengetahuinya, Nak. Terserah Janar mau memaafkan ibu atau membenci. Ibu akan menerimanya." Aku menyerahkan surat kabar memberitakan diriku dan Dave sepuluh tahun lalu yang masih tersimpan rapi meski warnanya sudah pudar. Surat kabar ini juga mengingatkan lagi tentang sikap diriku yang buruk. "Lalu apa yang ingin ibu sampaikan?" tanya Janar dengan wajah datarnya menatapku. "Ibu memiliki banyak dosa dan tak mungkin bisa diampuni. Ibu hampir membuat suatu keluarga hancur rumah tanggannya, ibu pernah menculik seorang anak demi ambisi tapi semua hal yang ibu lakukan dihukum oleh Tuhan. Ibu hampir kehilangan nyawa jika bukan bibi Rita yang berusaha mencari uang demi kesembuhan ibu." "Ibu bukanlah wanita yang baik dulunya, Nak. Karena masa kecil ibu yang sering dihina dan dijauhi menjadikan ibu seorang wanita yang berambisi untuk memiliki kekayaan tanpa bekerja. Salah satu cara yang mudah adalah menjadi kaki tangan seseorang dan juga kekasihnya meski ia sudah memiliki istri." Aku memerhatikan Janar yang tak mau menghadapku, ia lebih memilih memandang dinding. Aku membeberkan semua hal yang ingin diketahui oleh Janar, terserah nantinya kalau Janar tak menginginkan aku sebagai ibu lagi. "Apa ibu bahagia setelah melakukan semuanya?" "Jika ibu jawab jujur, itu tidak mungkin. Ibu tidak pernah bahagia yang ada justru ketakutan dan kecemasan sepanjang hari. Takut kalau perbuatan ibu diketahui dan cemas kalau nantinya pria itu pergi lalu ibu tidak akan punya apa-apa lagi." "Tapi sepuluh tahun lalu di saat Tuhan mengubah hidup ibu, ibu menemukan arti damai setelah melepas semuanya dan ibu benar-benar bahagia ketika kamu lahir. Waktu pertama kali ibu lihat dirimu hadir di dunia ini dan berada di gendongan, itulah pertama kalinya ibu merasakan kebahagian yang sesungguhnya." "Mereka tidak menghukum ibu? Kenapa ibu tidak berada dalam penjara? Bukankah orang jahat harus masuk ke sana?" Benar katanya, aku adalah orang jahat dan harus masuk penjara karena kesalahan yang telah kuperbuat. Aku sudah menanti-nanti kedatangan petugas kepolisian untuk menangkapku dulu, tetapi mereka tak kunjung membawaku ke pengadilan. "Mereka tidak mau melakukan. Mereka memilih membebaskan ibu karena menurut mereka ibu sudah menerima hukuman yang paling berat dari Tuhan." "Hukuman apa yang Tuhan berikan pada ibu? Ibu baik-baik saja, bukan?" Aku tersenyum saat ia menatapku meski ia buru-buru memalingkan wajahnya lagi. "Kamu lihat sendiri kan kalau sehabis kecelakan itu, ibu kehilangan salah satu kaki dan satu hal hukuman yang paling berat adalah ibu tidak memiliki rahim sejak dulu. Ibu selamanya tak akan pernah bisa mempunyai anak. Di kepala ibu masih ada luka yang tak tahu kapan kambuhnya." Aku memerhatikan tubuh Janar yang bergetar, pria kecilku sedang menangis sekarang. Ia jarang sekali menunjukkan emosinya kecuali saat ini. Aku tahu perasaannya terluka yang disebabkan oleh diriku sebagai ibunya. "Janar mau ke kamar dulu. Untuk saat ini cukup hari ini saja, jangan diteruskan lagi mengenai masa lalu ibu." Janar beranjak dari hadapanku dan memilih masuk ke kamarnya. Butuh waktu untuk Janar dapat menerima masa lalu ibu dan ayahnya. Aku benar-benar marah pada Sari yang melebih-lebihkan cerita mengenaiku dan Dave. **** ["Bagaimana dengan Janar? Apa ia bisa menerima keadaan kita?"] "Dia masih marah dengan kita, Dave. Aku rasa biarkan saja dulu baru kita buat keputusan untuknya." ["Maaf Ping. Ini semua perbuatan Sari dan ibu juga tidak tahu."] Sebenarnya ini juga salah nyonya Geni dengan mulut embernya yang suka sekali mengadu domba hubungan anak-anaknya. Bukan hanya Dave saja melainkan juga Vero. ["Aku sudah memarahi ibu dan ia memang tidak tahu."] Tak percaya nyonya Geni tak tahu apapun akan perbuatan Sari pada Janar. Kenapa ada seorang nenek yang begitu tega membeberkan keburukan anaknya kepada orang lain? "Ya sudah Dave, jangan bicara lagi. Kita tunggu saja Janar sampai ia benar-benar memahami ini semua." Aku menutup telepon dari Dave dan beranjak ke dapur. Setidaknya aku sudah cukup senang jika Janar masih mau makan masakanku. "Besok Janar mau ke rumah teman beberapa hari," ucapnya di meja makan sambil menyendokkan sayur ke piringnya tanpa melihatku. "Untuk apa kamu ke sana? Bukannya---" Aku melarang Rita untuk menyahut dalam bentuk apapun. Janar akan semakin tak menyukai kami nantinya jika melawan. Sengaja kubiarkan seperti ini. "Iya menginaplah di sana, Nak. Ibu akan meminta ijin pada ibu Santi kalau kamu ada kerja kelompok." Tak ada sahutan, Janar memilih meninggalkan aku di meja makan dan membawa piringnya masuk ke kamar. Ia ingin menghindariku sementara waktu. "Ih anak itu keras kepala sekali sih? Pasti sifat itu turunan dari neneknya," gerutu Rita merasa sebal. "Rita, biarkan saja! Jangan cari perkara di malam hari." Pernah Janar bertengkar dengan Rita hanya masalah teman-temannya Rita yang datang dan membuat berisik saat ia ada ujian esoknya. Janar marah karena sudah menganggu dirinya. "Jangan salahkan Janar, Rita. Yang salah adalah orang dewasa di sekitarnya dan membuat Janar harus menanggungnya." "Nyonya Geni ya begitu nggak bisa menjaga kelakuan di masa tuanya. Kok tega-teganya anak sendiri dipergunjingkan." Ada baiknya juga Janar mengetahui lebih dini siapa aku dan ayahnya meski caranya yang salah. Padahal aku dan Dave sudah berjanji akan menceritakan kehidupan kami nanti tepat Janar berusia dua belas tahun. "Sudah jangan membahas lagi, Rita. Cukup sampai di sini saja ya." Aku menyelanya saat Rita hendak bicara lagi. "Lalu bagaimana kalau Janar memilih tinggal bersama nyonya Geni?" "Itu haknya, Rita. Aku akan melepasnya." "Dengan kerelaan hati? Itu tidak mungkin terjadi padamu, Ping. Mana mau kamu melepaskan Janar jika belum waktunya?" Kendati berat untuk merelakan Janar kembali kepada keluarga aslinya, aku harus rela melakukannya demi kebaikan Janar sendiri. Ia juga butuh keluarga yang lengkap dan penuh kasih sayang agar bisa membentuk pribadi yang baik. =Bersambung=
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD