Part 17 Birendra Terus Mengikuti

1805 Words
Birendra mengajakku kembali untuk bertemu di tempat yang sama. Namun aku enggan untuk bertemu dengannya, aku memilih menyibukkan diri di salon daripada harus bertemu dengannya. Sayangnya usahaku sia-sia untuk menghindar, Bi datang ke salon bersama ibu dan Ditha. Kedua wanita itu ingin potong rambut juga memghias diri sementara itu Bi menunggu mereka di ruang santai. "Ini pertama kalinya aku dirias sama mbak Pingkan loh." "Kalau di tangan mbak Pingkan, kamu akan semakin cantik, Dith." Perbincangan nyonya Meina dan Ditha akan membuat iri siapa saja yang melihatnya. Calon menantu dan calon ibu mertua yang cocok layaknya sahabat. Beberapa pengunjung di salon juga memerhatikan mereka yang akrab. "Nyonya mau di bawah atau di lantai atas," kata pegawaiku mempersilakan nyonya Meina memilih tempat. "Kalau di atas saja. Bisa nggak, Ping?" Nyonya Meina meminta ijin dan aku mengangguk. Untung saja lantai atas sudah kusuruh pegawai lainnya bersihkan menjaga jika sewaktu-waktu ada tamu yang memilih berada di lantai atas, karena di sana memang sengaja kusiapkan ruangan khusus. "Ini loh yang ibu suka dari salonnya mbak Pingkan. Ia memahami keinginan ibu." Nyonya Meina memberitahu pelayanan salonku pada calon menantunya yang kelak akan menemaninya ke sini terus. "Bu, Mas Bi nggak kerja? Kok malah duduk di sana." Kami saling melihat Birendra yang duduk santai di kursi sambil main ponselnya. Aku merasa tak nyaman dengan kehadirannya di sini karena sesekali ia menatapku dan mengirimiku pesan terus menerus hingga aku harus membalasnya. "Biarin anak itu di sana, Mbak Pingkan. Sesekali mbok yo ajak calon istrinya keluar gitu. Kalau bukan karena saya yang memaksa nggak bakalan mau," omel nyonya Meina sembari naik untuk ia bersiap dipotong rambutnya. Selagi nyonya Meina dan Ditha dipijat kepalanya, aku mengambil peralatan dari ruanganku yang terletak di belakang. Peralatan ini hanya digunakan saat nyonya Meina ke sini saja, beliau tidak mau memakai yang lain jadi aku menyimpan khusus untuknya. "Tari, kamu tahu di mana aku meletakkan gunting rambutnya?" Aku kira yang menutup pintu itu Tari yang mengikutiku sejak tadi ternyata datang adalah Birendra dengan tersenyum seakan-akan mendapatkan sebuah hadiah. "Apa yang kamu lakukan di sini, Bi? Bagaimana kalau pegawaiku tahu kamu ada di sini?" Aku terkejut saat ia mengunci pintunya. "Aku hanya minta ijin ke kamar mandi dan mengikutimu sampai sini," ucapnya santai dengan mendekatiku pelan. "Cepat keluar, Bi! Di sini masih ada ibu dan calon istrimu." "Kembalikan kuncinya padaku sekarang!" Aku mengusirnya dan berusaha berjalan menuju pintu yang kuncinya masih ada di tangan Birendra. Namun ia segera mencengkal lenganku, mendekapku dalam pelukannya. Seketika tubuhku tak dapat bergerak. "Aku rindu sama kamu, Ping. Kenapa kamu selalu menghindar dariku?" Aku tidak bisa merindukan seseorang yang bukan milikku, Bi. Aku tak mau mengulang kesalahan sama seperti kehidupanku yang lalu. "Bi, tolong lepaskan aku. Ini tidak boleh kita lakukan." Sekuat tenaga aku melepaskan dari pelukannya tetap saja ia tak mau melakukannya. Bi semakin mendekapku dengan erat dan posesif bagaikan seorang ibu yang menggendong anaknya. Aku tak mau membalas pelukannya biar hatiku tak tergoda. "Aku hanya ingin bersamamu. Selama sepuluh tahun ini bayanganmu tidak mau hilang di pikiranku. Aku sudah mencarimu di rumah kamu yang dulu dan tempat kerja Dave, tapi kamu seolah-olah ditelan bumi." "Bi, aku bukanlah sosok wanita yang pantas untukmu. Ada Ditha yang lebih baik daripada diriku sendiri." "Tapi aku maunya sama kamu, Ping. Aku ingin kamu menjadi istriku bukan Ditha," ucapnya merenggangkan pelukannya dan menangkup wajahku. "Maaf, Bi. Aku tak bisa menerimamu, Bi." Akhirnya aku dapat lolos dari pelukannya dan berusaha membuka pintu setelah aku berhasil mengambil kunci dari tangan Bi. "Tapi aku tidak bisa melepasmu, Ping." Bukannya keluar dari ruangan ini secepatnya, Bi malah berbuat kasar. Ia berusaha menciumku dan mencari celah agar aku membalas ciumannya. Aku berontak dan mendorong tubuhnya lalu menamparnya. "Kamu gila, Bi! Seharusnya kamu tak melakukan ini!" Aku membentaknya meski ia memohon maaf karena sudah khilaf melakukan hal yang tak aku sukai. Tak ingin berlama-lama melihatnya, aku segera membuka pintu dan mengusirnya. Semoga tak ada yang menyadari keberadaan Bi di ruangan ini. Birendra sudah benar-benar gila. Bagaimana jika ada yang mengetahui peristiwa tadi? Aku tak mau lagi disebut wanita perebut, cukup yang dulu dan tak ingin terulang di kehidupanku yang sekarang. Setelah cukup menahan emosi, aku bergegas mengambil peralatan make up dan gunting. Nyonya Meina tak suka dengan kata lama, beliau orang yang gesit dan harus segera dituntaskan saat ini juga. "Maaf, Ping. Aku nggak sengaja tadi." Birendra ternyata masih ada di depan pintu, ia menungguku untuk keluar dan meminta maaf. "Bi, aku mohon. Pergilah, aku tak mau ada yang mencurigai kita," pintaku dengan suara pelan. "Aku akan menunggu jawaban darimu," ucapnya sebelum melangkah pergi. Kenapa aku harus dipertemukan kembali dengan pria tersebut? Dua kali penolakanku yang dulu tak lantas ia menyerah begitu saja. Ia masih mencariku bahkan sepuluh tahun lalu sebelum dirinya pergi ke luar negeri. **** Rumah terasa sepi tanpa adanya Janar, ia menginap di rumah temannya daripada bersama Dave. Katanya ia akan pulang jika suasana hatinya membaik jadi kubiarkan ia melakukan sesukanya asal aku diberitahu. "Mbak, kita ketemuan d depot nasi campur yang baru ya. Nanti aku traktir." Tari yang sudah hampir tiga bulan bekerja magang bersamaku sudah akan lulus beberapa bulan lagi dan ia mengajakku makan malam bersama untuk terakhir kalinya. Aku mengiyakan ajaknnya karena Rita belum datang dari luar kota. "Aku pergi dulu mau pesan kursi biar mbak nggak antri." Tari begitu antusias kalau urusan makan, ia seperti youtuber makanan yang selalu tahu mengenai tempat makan yang enak maupun nyaman. Jika tidak ada Tari, suasana di salon terasa sepi. Ia senang bergaul dan rajin cara kerjanya. ["Mbak, ayo ke sini. Aku sudah pesan makanan."] Setelah menunggu pesan Tari masuk akhirnya aku mematikan semua lampu di salon dan menutupnya. Perjalanan ke depot Tanjung tidaklah lama hanya beberapa gedung dari salonku berdiri. Sepanjang perjalanan menuju ke sana, aku menelusuri tiap jejak trotoar ini yang selalu mengingatkanku sepuluh tahun lalu saat mencari tempat untuk salon yang mau aku buka di sekitaran ruko-ruko sini. Di tempat ini aku mengenal seorang wanita paruh baya berjualan jagung bakar bernama ibu Farida. Tak sengaja aku berjumpa kala itu di tengah guyuran hujan deras, aku dan ibu Farida berteduh di bawah atap toko milik seseorang dan kebetulan sedang tutup. Sebelumnya kami sempat diusir oleh pemilik toko sebelumnya, mungkin mereka mengira kami adalah ibu dan anak yang sedang berjualan. Kami terpaksa pindah ke toko sebelahnya, tetapi ibu Farida tetap tersenyum meski sudah diusir kasar. ["Sifat seseorang itu seperti hujan, Nduk."] ["Kadang mendung gelap tiba-tiba kemudian terang. Lalu mendadak hujan deras lalu muncul pelangi."] ["Seperti itulah sifat manusia. Kita tidak pernah tahu sifat seseorang hanya karena melihat luarnya saja. Kita juga tidak tahu apakah kebaikan seseorang itu ada maunya atau memang tulus."] Selama menunggu hujan waktu itu, aku diberi pelajaran kehidupan oleh ibu Farida yang tak mengenal lelah untuk mencari nafkah. Menurut beliau, sudah banyak sifat-sifat manusia yang ia temui sepanjang hidupnya. ["Makanya itu Nduk. Jangan percaya pada manusia, tetapi pada Tuhanlah kamu harus percaya."] Perjalanan hidup ibu Farida mampu membuat aku bersemangat kala itu dalam membangun bisnis salonku. Sayangnya pertemuan itu adalah awal dan akhir aku berjumpa. Beliau seakan menjadi kaki tangan Tuhan untuk memperingatkan diriku. ["Mbak, udah di jalan?"] Ah gara-gara melamunkan masa lalu, aku sampai lupa janjiku pada Tari yang mengajakku makan malam. Aku segera melangkah cepat dan berharap tidak terlambat. Kasihan Tari yang sudah menungguku lama. Namun seketika rasa sakit mendera di kepala ini dan aku merasa berada di tempat asing, aku jadi merasa kebingungan. "Aduh ini gara-gara aku nggak makan siang jadi hilang konsentrasiku." Untung saja ada Tari yang menungguku di depan pintu masuk, kalau ia tidak memanggil aku bagaikan orang bodoh yang melamun di pinggir jalan. "Mbak sakit? Kok keringat dingin, Mbak?" tanya Tari melihat rupaku setelah kami sampai di dalam depot. "Mungkin mbak tadi melewatkan jam makan siang jadi agak pusing, Tar." Dalam seminggu ini kedua kalinya aku didera sakit kepala dengan kepala berputar akan reda jika aku meminum obat yang diresepkan dokter. "Ya sudah mbak. Ayo cepat makan dan pilih sesukanya, karena aku yang traktir." Aku pun memilih makanan kesukaan dan menghabiskan waktu berdua bersama Tari yang sebentar lagi akan lulus sekolah. Kami mengobrol soal keluarganya dan kekasihnya. Aku memberi nasihat pada Tari agar dapat menjaga dirinya sebagai seorang gadis. Satu jam setengah kami habiskan hanya untuk mengobrol dan makan. Tak terasa pengunjung semakin ramai karena jam makan malam sudah tiba. "Mbak dijemput sama siapa?" tanya Tari saat kami hendak pulang. "Sama teman, Tari. Kamu pulang dulu biar ibu kamu nggak khawatir." Aku bersyukur ternyata kekasih Tari adalah seorang pemuda yang sopan dan hormat pada orang yang lebih tua, pemuda itu bahkan mau menungguku hingga dapat taksi. Namun aku menolaknya. "Sampai ketemu besok, Mbak." Setelah didesak akhirnya Tari mau juga pulang dan sekarang giliran aku yang menunggu Dave. Kebetulan Dave meminjam mobilku untuk ia gunakan latihan menyetir lagi. "Ping, ayo pulang!" Dari jarak beberapa meter tak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat Dave menunjukkan senyumannya sambil melambaikan tangan. **** "Maaf ya aku menyetirnya pelan. Nggak seperti dulu lagi." Dave kesal karena kemampuan menyetirnya lebih lamban dan tak seperti sepuluh tahun lalu saat ia menyetir dengan kecepatan tinggi. "Iya udah nggak apa-apa, Dave. Lagian ini kan sudah malam." Setidaknya Dave sudah banyak kemajuan beberapa bulan ini dan menurutku penyembuhannya lebih cepat dibanding diriku yang dulu. "Ibu kira aku sudah pandai menyetir dan menyuruhku mengantarkannya ke tempat arisan. Bukannya berterima kasih ibu malah memarahiku karena mengemudi terlalu pelan." Aku menyunggingkan senyuman pada Dave, nyonya Geni selama penyembuhan dan pengobatan Dave tak pernah ada seakan-akan beliau memiliki dunianya sendiri. "Makanan tadi enak deh, Dave." Aku berucap sembari memejamkan mata, rasa sakit di kepala kembali menyerang saat aku melihat kilauan lampu mobil yang berlalu lalang. "Lain kali kita makan bersama lagi di luar bersama Janar ya, Ping." "Urusan Janar biar aku yang tangani. Dia pasti mau memahami keadaan kita dulu." Aku mendengar suara Dave, tetapi aku sulit menangkap kalimat yang ia lontarkan. Aku mengusap perutku dengan minyak angin yang selalu ada di tas. "Ada apa, Ping? Kamu salah makan apa?" "Berhenti dulu, Dave. Perutku mual dan pusing." Dave menghentikan mobil di tepi jalan dan kebetulan bukan rumah penduduk, lahan kosong milik Pemerintah. Aku segera membuka pintu dengan tergesa-gesa lalu tanpa sadar aku mengeluarkan semua makanan. "Kamu sakit, Ping? Ini pasti asam lambung kamu kambuh karena salah makan." Dave menggosokkan minyak angin di leherku lalu memijatnya. Aku memang ada asam lambung parah jika telat makan atau salah dalam memilih makanan. Namun yang kurasakan kali ini berbeda, ada seperti tusukan di bagian dalam kepala ini. "Dave, aku pusing sekali," keluhku padanya sambil duduk sementara Dave tetap berdiri sambil memijit keningku ini. "Tidur saja dulu, Ping. Nanti aku bangunkan kalau sudah sampai rumahmu," anjur Dave menggosokkan minyak tersebut ke pelipis juga leherku lagi. "Ping, kamu kenapa?" Aku benar-benar lemas dan tak ada tenaga sama sekali hingga menyandarkan kepalaku ke bahu Dave. Setelah itu aku merasakan cairan hangat keluar dari hidung dan setengah sadar aku mendengar Dave memanggil namaku. =Bersambung=
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD