Part 18 Menerima Lamaran Dave

1820 Words
Aku merasakan kehadiran ibu di saat ini seolah-olah ibu masih hidup dan menjagaku saat diriku sakit. Terasa nyata sekali walau aku tahu ini hanyalah sebuah mimpi, tetapi tak masalah bagiku karena rasa rindu ini begitu mendera. Aku banyak salah kepada beliau dulu dan jarang sekali menghabisan waktu bersamanya karena kami sama-sama sibuk mencari sesuap nasi. Aku menjadi pengamen kecil sedangkan ibu buruh serabutan. Kami hanya bertemu di malam hari di saat pekerjaan kami selesai. ["Jadilah orang baik, Nak. Jalani hidupmu tanpa dipenuhi dosa."] Pesan yang terus ibu dengungkan di telingaku setiap hari, mungkin ibu sudah memiliki firasat jika kelak dewasa aku akan tumbuh menjadi wanita yang hidupnya penuh dosa duniawi dan aku tak pernah mendengar nasihatnya. "Ibu ..." tanpa sadar aku memanggil namanya ketika aku pertama kali membuka mata. "Pingkan, kamu sudah bangun? Ping, kamu kenal sama aku kan?" Suara teriakan Rita memaksaku untuk membuka mata lebar, ia tampak cemas sembari memegang erat tangannya sendiri. Sedangkan di sampingnya beberapa perawat dan dokter Zhalim yang merawat sakit kepalaku selama ini. "Ping, kamu mengenali aku, kan?" tanya Rita dengan panik dan aku mengangguk memberi tanda agar ia tenang. "Ibu Pingkan, anda ingat kenapa ada di sini sekarang?" Giliran dokter Zhalim yang bertanya sembari memeriksa kedua mata dan nadiku. Sekali lagi aku mengangguk, tentu saja aku ingat. Kemarin waktu aku pulang bersama Dave setelah makan malam bersama Tari tiba-tiba aku merasa mual dan aku meminta Dave menurunkanku di jalan. Aku mengeluarkan semua makanan dan entah kenapa kepalaku waktu itu berputar hebat. "Bagaimana keadaan saudara saya, Dok?" "Apa selama ini saudari anda pernah mengalami pingsan? Atau muntah?" Rita menggeleng begitu juga dengan aku. Baru kemarin malam aku mengalaminya. Apakah aku salah makan? Tapi waktu makan makan kemarin tak ada yang salah. Aku memesan nasi campur seperti kebanyakan yang lain. "Kalau pingsan atau muntah tidak pernah, Dok. Hanya saja saudari saya ini sering mengalami pusing." Biar Rita yang menjawab, sedikit banyak dia juga tahu tentang sakitku selama ini. "Seberapa sering dalam sebulan mengalami sakit kepalanya?" tanya dokter Zhalim lagi yang membuat Rita bingung. "Sebulan saya bisa mengalami tiga atau empat kali serangan, Dok. Saya sudah minum obat yang dokter resepkan hanya bertahan sampai seminggu saja," sahutku kemudian menjelaskan perihal kondisiku yang sebenarnya. "Jadi begini Bu Pingkan. Saya menganjurkan anda untuk melakukan tes darah lengkap dan pemeriksaan di bagian kepala anda beberapa bulan lalu. Apa anda sudah melakukannya?" "Belum, Dok." "Nanti setelah anda baikan, perawat saya akan membawa anda untuk pemeriksaan lanjutan." Aku lupa saking sibuknya di salon juga masalah Janar sehingga tak sempat memeriksa diri lagi. Padahal menurut dokter Zhalim akibat kecelakaan itu, di bagian dalam otakku ada sedikit luka dan itulah penyebab aku sering mengalami pusing. "Kalau begitu kami permisi dulu." Sepeninggal dokter dan perawat, Rita memelukku dan menangis. Aku yang baik-baik saja malah bersikap tenang, Rita menangis terus karena begitu mencemaskanku yang baru sadar siang ini. Ia merasa ketakutan kalau aku mengalami hal yang sama seperti dulu. "Kamu membuatku takut, Ping. Waktu dibawa ke sini dan Dave mengabari kalau hidung kamu mengeluarkan darah. Aku langsung ke sini." "Apa Janar tahu kalau aku di rumah sakit?" Aku tak peduli soal salon, di sana sudah Prapti yang mengurusnya. Aku lebih mencemaskan keadaan Janar saat ini, apa ia sudah kembali dari rumah temannya atau masihkah ia mendiamkan aku? "Anakmu sama keras kepalanya denganmu padahal kamu nggak melahirkannya. Sifat kalian sama. Si bocah itu masih nggak mau pulang," dengkusnya kesal. Iya aku tahu Rita dan Janar selalu adu mulut dalam segala hal walau pada dasarnya mereka saling menyayangi dengan cara yang mereka tunjukkan beda. "Ya udah kalau Janar nggak mau pulang. Biar nanti aku yang bicara padanya." "Nanti ya dia ke sini kok. Nggak usah khawatir sama bocah itu," tambah Rita berusaha menyakinkan jika Janar akan datang hari ini. "Bagaimana kamu meyakinkan Janar? Kalian tahu sendiri kalau kalian selalu beradu mulut." Aku menyindir seraya mencandai Rita yang cemberut. "Aku bilang saja kalau kamu masuk rumah sakit dan kalau nggak mau kehilangan kamu ya harus datang," jawab Rita dengan santainya sambil memakan keripiknya. "Rita kamu kok bicara seperti itu sih? Memangnya aku ini sekarat?" Tak terima aku dikatakan jika diri ini sekarat. "Karena aku kesal sama sikap Janar yang nggak mau bertemu sama ibunya sendiri padahal sebenarnya ia malu. Ada-ada saja bocah itu!" Aku menepuk dahiku sendiri. Bukannya memberi pengertian pada Janar, Rita malah memarahinya juga menegur. Bagaimana jika aku tak ada nantinya? Apakah mereka akan cocok satu sama lainnya? "Boleh masuk nggak?" Terdengar sapaan dari arah pintu dan ada Dave yang tersenyum. "Ya masuklah sajalah Dave. Memangnya ini rumahmu yang minta ijin dulu sama ibu kamu yang super judes itu?" ucap Rita ketus, aku menyuruhnya masuk tanpa mendengarkan omelan Rita. "Lah masih di situ. Masuklah Dave, jangan seperti pengamen," ulang Rita lagi. Aku menutup mulut Rita untuk diam sesaat. Di belakang Dave ada sepasang sepatu yang kukenal yang bersembunyi dengan perasaan malu sesekali mengintip. Aku tersenyum karena aku tahu siapa bocah itu. "Ngapain sembunyi di belakang ayahmu, Janar? Mau sampai kapan kamu akan seperti itu?" Rita orang tak sabaran. Wajar memang kalau Janar bersembunyi di belakang Dave. Hampir tiga hari kami tak saling menyapa dan bicara. Di saat Dave mendekatiku, Janar masih berada di belakang ayahnya. "Aku yang menjemput bersamam Vero. Untung saja dia mau aku ajak ke sini," kata Dave memberitahu hal yang sebenarnya. "Ayo Nak. Katanya kamu rindu sama ibu. Kenapa malah bersembunyi di punggung ayah?" Dave berusaha membalikkan tubuh Janar. Di saat aku melihat wajahnya, ia tampak kurusan. Apa selama tiga hari ini ia makan? Aduh perasaanku sebagai seorang ibu malah meracau, padahal aku tahu ibu temannya tak seperti itu. "Ibu ...." Janar berhambur dalam dekapanku, ia menangis sesenggukan seraya berkata tak jelas. Aku tak tahu apa yang ia ucapkan, tetapi aku paham apa yang ia rasakan saat ini. Jadi kami membiarkan ia menangis sampai selesai. "Namanya bocah akan tetap mencari ibunya." Dave dan Rita memilih keluar dari ruangan ini dan membiarkan kami bicara berdua saja. Kami akan menyelesaikan masalah yang kemarin. Apapun keputusan Janar, aku akan menerimanya dengan ikhlas. **** Malam ini aku ditemani Dave juga Janar yang menginap walau nyonya Geni melarang anaknya. Namun Dave tetap bersikukuh untuk menjagaku hingga besok, jadi kami bisa pulang bersama-sama. "Apa yang kamu bicarakan pada Janar sampai ia mau datang ke sini dan berbaikan denganku, Dave?" tanyaku setelah Janar sudah tertidur sedangkan Dave masih terjaga. Seharian aku dan Janar saling bicara, ia memang tidak bisa melupakan begitu saja masa lalu yang aku miliki. Namun, ia tetap menyayangiku dan menerima aku sebagai ibunya sampai kapanpun. Usianya begitu muda, tetapi pemikirannya jauh dewasa dibandingkan diriku. "Bukan aku yang bicara tapi Vero tadi, Ping." "Jangan bercanda, Dave. Mana mungkin Vero." Vero yang aku kenal adalah orang cuek dan tidak suka mencampuri urusan orang atau kakaknya. "Iya benar, Ping. Tanya saja sama Janar deh besok." "Kamu tahu apa yang mereka bicarakan?" Aku penasaran apa yang dikatakan Vero. "Aku tidak tahu, Ping. Vero melarangku untuk mengikutinya di kafe, ia membiarkanku berada di luar kafe sedangkan mereka masuk ke ruangan VIP." Aku ingin tertawa melihat raut wajah Dave yang kesal dengan adiknya. Kata Dave, satu jam lebih ia hanya berada di luar sampai makanannya habis dan setelah selesai pun Vero tak mau memberitahu. "Padahal aku ini ayahnya? Masa aku nggak boleh ikuta bicara?" "Sudahlah Dave. Jika bukan karena Vero, mungkin saja Janar masih mendiamkanku. Aku tak tahu apa yang Vero katakan pada Janar, tetapi aku berterima kasih padanya sudah menyelesaikan masalah ini. "Aku jadi penasaran apa yang dikatakan Vero pada Janar tadi ya?" Dave masih bertanya-tanya, aku pun juga ingin tahu tapi karena itu hak Vero maka kubiarkan saja. "Dave, lihat cara tidur Janar mengingatkanku padamu dulu. Kalian sama-sama mirip." Dave mengarahkan pandangannya di dekat sofa di mana Janar menggelar kasur untuk tidur di sana bersama Dave nanti. Mereka memiliki gaya tidur yang sama yaitu senang menutup mata menggunakan selimut. "Kamu masih ingat saja. Aku saja lupa cara tidurku yang lama. Mungkin aku kebanyakan tidur sepuluh tahun ya," kata Dave sambil tertawa. "Untung Tuhan belum memanggilku." Bagi Dave itu mungkin terdengar lucu karena dirinya tertidur lama. Namun tidak bagi aku maupun Vero yang selalu merawatnya, saking tidak kuatnya membiayai perawatan dan pengobatannya sang ibu ingin mencabut selang kehidupannya. Aku tak pernah mengijinkan hal itu terjadi dan percaya jika Dave akan sadar meski biaya semuanya ditanggung olehku. "Jangan bicara seperti itu Dave. Selama sepuluh tahun silam aku dan Vero berjuang agar kamu tetap hidup." "Maaf Ping. Vero sudah menceritakan perihal ibu dan kalian yang berjuang agar aku tetap hidup sampai sekarang." "Aku takut kehilanganmu, Dave. Jika bukan adanya anakmu, aku tak mungkin bisa bertahan dan menyerah terhadapmu. Janar yang menjadi kekuatanku hingga sekarang." "Jika kamu takut kehilanganku maka menikahlah denganku, Ping," ujar Dave meraih tanganku lalu memberi ciuman. "Kita bangun keluarga yang bahagia bersama Janar. Tak peduli ibu memarahiku atau membenciku karena memilihmu, aku tetap bersamamu." Menikah? Tak pernah terbersit dalam angan maupun impianku selama ini. Sebab bagiku memiliki Janar sudah lebih dari cukup. "Tapi aku tidak bisa, Dave." Aku menolaknya lagi. "Kenapa kamu menolak lamaranku? Apa kamu tidak kasihan pada Janar yang ingin memiliki keluarga utuh?" Tentu saja aku mengingini kebahagiaan untuk anakku, tetapi bukan aku yang dinikahi Dave melainkan seorang wanita lain yang tak memiliki masa lalu buruk. "Apa karena masa lalu kita?" tanya Dave menatapku lama. "Janar sudah tahu semuanya, bukan? Karena itulah mari kita membuat hubungan ini semakin jelas, Ping. Aku ingin kita bisa bekerjasama dalam merawat, membimbing dan mendidik Janar dengan baik." "Apa karena masalah ibu yang tak menyukai kehadiranmu?" "Bukan Dave. Aku tak bisa bersamamu." "Jika kamu keberatan tinggal bersama ibu maka aku yang akan tinggal bersamamu dan aku akan kembali bekerja," ucap Dave penuh percaya diri. "Tapi Dave bukan itu maksudku---" Perkataanku terpotong saat Dave mencium bibirku sekilas lalu merangkul diriku. Beberapa saat ia hanya terdiam tanpa bicara. "Aku tahu kamu mungkin tidak ada cinta di hatimu untukku. Aku tahu aku egois, Ping. Tapi demi Janar menikahlah denganku. Aku ingin mempunyai keluarga kecil yang bahagia." Perasaanku pada Dave masih sama seperti dulu. Ia hanya tempat pelarian di saat aku butuh teman untuk berbagi cerita, tak pernah ada cinta yang bercokol di hati ini untuknya. Aku hanya menganggapnya saudara. "Jika aku pasangkan cincin ini ke jarimu dan kamu tidak menolak itu artinya kamu setuju," ucap Dave agak memaksa. Dave merenggangkan pelukannya lalu mengambil sebuah cincin di saku celananya. Ia membawa tanganku ke pangkuannya dan mengangkatnya, memasang cincin bermata satu ke jari ini. "Kamu setuju, Ping?" Dave begitu gembira saat cincin yang dibelinya berhasil ia pasangkan ke jariku tanpa adanya penolakan dariku. "Terima kasih, Ping." Aku tidak tahu keputusan ini apa sudah benar kulakukan atau tidak. Aku bimbang dan bingung menerima lamaran Dave. Aku ragu dapatkah diri ini mencintai Dave? Namun saat melihat rona kebahagian terpancar di wajah Janar karena Dave langsung membangunkannya, aku jadi merasa tak tega menolak lamaran ayahnya. "Benarkah tindakanku ini, Tuhan?" Kenapa hatiku tak bahagia? Seperti ada ruang kosong di hati ini, tak ada kesenangan di pikiran. Aku berharap keputusan ini tidaklah keliru. =Bersambung=
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD