Sudah seminggu aku keluar rumah sakit dan menerima lamaran Dave malam itu. Betapa gembiranya Dave saat aku mengiyakan ajakannya untuk menikah, ia bahkan membangunkan Janar memberitahu berita tersebut.
Namun sayang kenyataannya tak seindah yang kami bayangkan, nyonya Geni menolak kedatanganku ke rumahnya dan aku disuruh menunggu setengah jam di luar sementara Dave berdebat di dalam.
"Berani sekali kamu ya!"
Tatapan nyonya Geni begitu menusuk saat Dave meminta ijin untuk menikahiku. Ia mencibirku seakan aku tak pantas untuk anaknya. Aku sadar diri karena aku bukanlah wanita baik kelakuannya di masa lalu.
"Ibu tetap tidak setuju dengan keputusanmu menikahinya, Dave! Dia bukan wanita yang baik untuk mendampingimu. Lebih pantas Sari yang kelakuannya dari keluarga baik-baik," sindir nyonya Geni tak mau menoleh padaku dan lebih memilih memalingkan wajah melihat televisi, tetapi masih bisa mendengarkan kami bicara.
"Dari kemarin Sari yang ibu ceritakan. Apa ibu tidak tahu kalau wanita itu juga tidak sama baiknya dengan aku di masa lalu?" Dave memarahi ibunya walau sudah aku cegah, Dave tetap mengeluarkan suara kerasnya.
"Sari itu wanita baik bukan seperti dia yang punya banyak masalah," ungkit nyonya Geni menunjuk jarinya kepadaku.
"Oh begitu ya, Bu. Memangnya ibu tahu pekerjaan Sari apa?" Aku sudah menggelengkan kepala agar Dave menghentikan perkataannya, aku tak mau memperumit masalah lagi.
"Tentu saja. Dia calon dokter dan akan lulus tahun depan," sahut nyonya Geni dengan bangganya.
"Lalu bagaimana dengan foto ini?"
Tanpa sadar Dave melempar foto tersebut yang menunjukkan kemesraan Sari dengan pria lain. Tak disangka Dave juga menyelidikinya, ternyata bukan aku saja yang tahu tapi Dave juga merasakan kejanggalan.
Aku tak mau berkomentar apapun, biarlah nyonya Geni yang menilai sendiri kalau Sari bukanlah menantu impiannya. Sari wanita penipu, ia bukanlah calon dokter tapi hanya pegawai admin biasa di sebuah rumah sakit. Ia memanfaatkan kecantikannya untuk menggaet orang kaya hanya untuk mengeruk uang mereka.
"Kurang ajar benar ibu Fat memperkenalkan wanita b******n ini!"
Nyonya Geni merobek dan mengumpat pada seseorang yang tak aku kenal. Kurasa mungkin kenalannya dan nyonya Geni tak tahu jika calon menantunya bukanlah wanita yang diinginkanya.
"Kalau begitu ijinkan kami menikah, Bu," desak Dave dan aku hanya diam membiarkan Dave menyelesaikan perkataannya.
"Hanya karena Sari ketahuan belangnya bukan berarti kamu berhak wanita sembarangan, Dave!"
"Pingkan itu bukan wanita sembarangan, Bu. Ia wanita baik untuk Dave dan Janar."
"Wanita baik katamu!" Nyonya Geni menudingkan jarinya kepadaku.
"Jika kamu wanita baik, tak mungkin anakku menderita karena. Jika kamu wanita baik, Nuri tak akan meninggal. Jika kamu wanita baik, kami tak akan bangkrut. Kamu itu iblis berkedok wanita baik."
"Ibu hentikan mengungkit masa lalu!"
"Tapi kenyataan bukan? Sudah berapa kali ibu bilang padamu dulu jauhi wanita ini dan apa yang kamu dapatkan? Kamu kecelakaan dan koma, Dave!" Nyonya Geni bersuara keras sehingga membuat Janar dan Vero terpaksa menyaksikan pertengkaran ini.
"Lalu bagaimana dengan ibu sendiri? Mana ada seorang ibu menginginkan anaknya mati waktu koma?"
"Sudah Dave hentikan! Jangan karena aku, kamu dan ibu kamu bertengkar," pintaku agar tak memperkeruh masalah lagi.
"Kalau bukan karena uangnya Pingkan, Dave tak mungkin ada di sini."
"Itu sudah haknya memberi kamu hidup. Wanita iblis ini yang mencelakaimu jadi dia harus bertanggung jawab akan kesalahannya."
Aku menyuruh Vero membawa Janar keluar agar tak mendengar perkataan kasar ayah maupun neneknya. Ini semua salahku yang begitu cepat menerima lamaran Dave.
"Janar, lebih baik kamu ikut nenek saja daripada kamu dididik wanita p*****r ini! Mana ada wanita yang mau sama kamu kalau tahu masa lalu buruk ibu kamu!"
Aku terkejut mendengar perkataan kasar nyonya Geni yang tak pantas didengar Janar. Aku bukanlah p*****r yang tidur dengan lelaki yang berbeda tiap malam, kuakui diri ini wanita buruk tapi aku tak terima jika nyonya Geni berkata seperti itu pada Janar.
"Lalu bagaimana masa lalu Mas, Bu? Apa menurut ibu sudah baik?"
"Vero, pergilah. Biar mbak yang urus di sini."
Aku sudah menyuruh Vero pergi tapi ia malah memancing amarah ibunya lagi.
"Apa menurut ibu sendiri sudah pantas menjadi nenek Janar? Keluarga kita sama buruknya dengan masa lalu Pingkan. Bagaimana bisa kita bisa mendidik Janar?"
"Hei dengar wanita mandul! Selamanya kamu tak pantas menjadi ibunya. Cepat jauhi keluarga saya, karena saya merasa jijik jika kamu berada di rumah saya."
"Nyonya Geni, hentikan! Saya tidak ingin kata-kata kotor keluar dari seorang nenek yang didengar cucunya." Aku menangis karena kalimat yang dilontarkannya.
"Kamu memang kotor!"
"Ibu!" Dave dan Vero sama-sama berteriak mencoba menghentikan nyonya Geni bicara lagi.
"Janar akan tetap menerima masa lalu buruk ayah dan ibu. Nenek tidak perlu ikut campur dalam urusan hidup Janar, karena selama ini nenek tidak pernah ada untuk Janar."
Janar belari masuk ke kamar Dave lalu membanting pintunya dengan kasar. Aku mencoba untuk mengetuk pintu tersebut, tetapi tanganku ditarik oleh nyonya Geni.
"Ini semua gara-gara kamu wanita setan! Kamu pantas masuk neraka!"
Nyonya Geni menamparku dua kali tanpa bisa aku cegah. Rasa sakit di wajah tak sebanding rasa sakit di hatiku di saat nyonya Geni mengatai aku adalah wanita setan yang pantas masuk neraka dan tak dapat menerima ampunan-Nya.
"Keluar kamu dari rumah saya!"
Nyonya Geni menyeretku keluar meski di luar hujan cukup deras. Dave pun menerima tamparan dari ibunya karena berusaha membantuku. Langkah Dave tak secepat nyonya Geni yang menutup pintu depan dengan kasar.
***
Apakah orang yang pernah melakukan kesalahan dan bertobat, tak ada pintu maaf? Apa seorang pendosa akan tetap berdosa sepanjang hidupnya?
Rasanya perkataan nyonya Geni tadi begitu menghujam hatiku. Tak sadarkah dirinya jika sang anak juga seperti yang ia katakan?
"Ping, apa yang terjadi tadi? Kamu dari rumah siapa?"
Sejak dari gerbang masuk perumahan Dave hingga separuh perjalanan, aku tetap diam meski Bi terus menanyai keadaanku.
"Kamu basah kuyub begini. Kamu akan sakit nanti."
Aku sampai tak memedulikan pakaianku yang membasahi mobilnya. Aku hanya berpikir untuk segera pulang dan menangis di tempat tidurku.
"Bi, aku mohon. Antarkan saja aku sampai rumahku ya. Itu saja permintaanku padamu."
Kembali aku memejamkan mata dan perlahan menangis. Bukan karena meratapi nasibku melainkan menghadapi Janar ke depannya. Bagaimana bisa seorang nenek bermulut tajam?
"Kalau begitu tidak usah pulang ke rumahmu. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat dulu biar kamu bisa agak tenang."
Aku tahu Birendra sedang mengajakku bicara untuk ke suatu tempat, tapi sungguh hari ini aku tak ingin bicara dulu.
"Ini di mana?"
Aku tak sadar kalau aku sudah tertidur di dalam mobil milik Bi cukup lama dan tak menyadari ada suara deburan ombak di depanku. Aku tak melihat keberadaan Bi, di pantai ini juga tak ada pengunjung seperti tempat yang benar-benar sepi.
Terlalu lama duduk dan pakaianku belum kering membuatku ingin keluar dari mobil. Aku ingin menginjakkan kaki di pasir putih tersebut.
"Kamu sudah bangun, Ping?"
Birendra ternyata ada di depan mobil sedang menghangatkan sesuatu atau mungkin ia memasak? Entahlah aku hanya melihat ada panci juga teko.
"Kenapa tidak membangunkanku atau menurunkanku di depan rumah?"
Perjalanan dari rumah Dave ke pantai ini membutuhkan waktu dua jam. Berarti selama itu aku tertidur rupanya.
"Untuk apa? Nanti aku dikira pria tak tahu diri menggendong kamu yang tertidur masuk ke rumahmu sendiri di siang hari dan hujan juga," katanya dengan terkekeh.
"Jadi kamu membawaku sejauh ini?"
"Mau ke mana lagi, Ping? Tempat yang sepi hanya di sini. Asal kamu tempat ini aku yang menemukannya dulu. Ya di sinilah aku kalau lagi stres dengan pekerjaan," sahut Birendra lagi seraya menyerahkan tas kepadaku.
"Ini apa, Bi?"
Aku melihat isinya dan ternyata satu stel pakaian wanita beserta pakaian dalamnya. Kapan ia membelinya?
"Gantilah pakaianmu di mobil. Aku tak mau kamu sakit, Ping."
"Kapan kamu membelinya?"
"Tadi kok sebelum ke sini, ada toko pakaian. Udah sana ganti. Aku nggak bakalan mengintip karena aku mau masak."
Birendra mendorong tubuhku pelan masuk mobil lalu menutupnya. Ia berlalu begitu saja dan sibuk dengan peralatan memasaknya.
Aku membuka isi tas tersebut. Sebuah gaun sederhana bermotif bunga. Aku mencoba memakainya dan ternyata cukup, sesuai dengan bentuk tubuhku.
"Wah cocok ya. Nggak salah aku memilihnya," puji Birendra setelah aku selesai berpakaian yang baru.
"Waktu beli ini kamu bilang apa sama penjualnya, Bi?"
Baru kali ini ada seorang pria yang membelikanku pakaian dan tak menyangka juga kalau Birendra pandai memilih.
"Nggak mungkin aku bilang kamu adikku, kan? Ya sudah terpaksa aku bilang kalau aku sedang menjemput istriku yang kehujanan waktu pulang kerja. Untung saja mbaknya percaya."
"Kapan aku jadi istrimu? Enak saja bilang aku ini istrimu, Bi," ucapku pura-pura marah ingin tahu reaksinya.
"Makanya itu, Ping. Jadilah istriku ya. Aku ingin---"
"Stop Bi. Jangan berkata seperti itu lagi ya. Aku lebih senang dengan keadaan kita yang sekarang."
Birendra diam sesaat dan ia beranjak berdiri menuangkan sesuatu ke gelas lalu menyerahkannya padaku.
"Minumlah susunya, Ping."
Aku tahu Bi menelan kekecewaan karena penolakanku ini. Namun bagiku, lebih baik ia kecewa sekarang daripada menghadapi kenyataan siapa aku sebenarnya.
"Kalau itu yang kamu mau ya nggak apa-apa. Kita bisa bersahabat, tetapi aku tak mau kamu menghindariku terus."
Birendra menyunggingkan senyumannya lalu memalingkan wajah menghadap pantai. Dalam beberapa saat kami terdiam sambil menikmati deburan ombak dan matahari yang hampir terbenam.
"Maaf Bi. Tadi aku malah meneleponmu. Aku tahu kamu sibuk di kantor tapi malah memanggilmu untuk menjemputku." Aku membuka suara setelah kami lama terdiam.
"Aku nggak sibuk kok, Ping. Kebetulan aku lagi makan siang dan jaraknya pun tak jauh jadi dengan senang hati aku menjemputmu."
Aku merepotkan dirinya tadi padahal aku bisa meminta Rita menjemputku menggunakan taksi. Tapi aku tak mau mencari masalah dengan mendatangkan Rita kalau diriku habis ditampar nyonya Geni.
Rita akan menjadi orang pertama yang membelaku jika nyonya Geni memperlakukan aku dengan buruk, tak segan ia ikut memarahi orang tersebut.
Aku hanya butuh seseorang yang menemaniku dan entah kenapa aku tiba-tiba menghubungi Birendra.
"Bagaimana hubunganmu dengan Ditha, Bi? Aku menyukainya karena ia begitu enerjik dan bersemangat menjalani hidupnya."
"Ya seperti biasanya. Kami hanya bertemu lalu makan dan mengantarkannya pulang," jawab Birendra datar seraya memainkan cangkirnya yang sudah kosong.
Bi mengajakku mengitari pantai dan kami bercakap-cakap sambil berjalan kaki. Ada sensasi geli saat tak memakai alas kaki.
"Ibumu sangat menyayangi Ditha dan mereka begitu akrab layaknya ibu anak," lanjutku sambil menikmati butiran pasir lembut di sela-sela jemari.
"Ya mereka memang seperti itu, tapi tidak denganku. Jika boleh memilih lebih baik ibu saja yang menikah daripada mengurusi hidupku," ucap Bi bergurau.
"Ibu mana yang tak mau anaknya bahagia, Bi? Begitu juga dengan ibumu yang ingin kamu membina rumah tangga dan memiliki anak."
"Ibu yang memaksa untuk aku segera menikah daripada mendengar omelan ibu terus menerus akhirnya aku setuju saja. Entah ke depannya, aku malah kasihan dengan Ditha yang tak pernah aku cintai."
"Ditha wanita yang baik, Bi. Aku yakin kamu akan mencintainya kelak."
"Tapi aku tak bisa mencintainya sebesar aku mencintai dirimu, Ping."
Karena masih dalam batas wajar, kubiarkan Bi menggenggam jemariku saat kami berjalan-jalan menyusuri pasir putih. Genggamannya begitu erat, aku wanita normal dan menyukai perlakuan Bi padaku.
"Sudah ah. Jangan bahas mengenai diriku. Aku ingin tahu tentang anakmu, Ping. Apa boleh aku mengajaknya jalan-jalan kelak?"
"Ajak saja. Janar pasti mau jika sudah kenal akrab dengannya."
Birendra memintaku untuk menceritakan mengenai hobi atau kegemaran Janar, ia menyukai Janar waktu pertama kali bertemu dan menganggap layaknya teman.
"Ayo aku antar kamu pulang. Namun sebelumnya kita makan dulu. Lapar aku ini," kata Birendra menertawa dirinya yang mendengar perut keroncongan.
Matahari hampir terbenam dan kami melanjutkan perjalanan menuju tempat makan sebelum Birendra mengantarkanku.
Aku mengucapkan rasa terima kasihku, karena Bi dapat mengembalikan suasana hatiku. Untuk masalah pernikahan dengan Dave akan kupikirkan ulang. Lebih baik sendiri membesarkan Janar.
Aku sadar posisiku ia tak bisa diterima di keluarga manapun. Jadi bukankah hidup melajang lebih baik sambil mendekatkan diri pada Tuhan.
=Bersambung=