["Ping, kamu kok nggak ada di rumah?"]
Aku dalam perjalanan ke Surabaya dan berhenti sejenak di tempat peristirahatan saat Birendra mengirimiku pesan. Ini sudah beberapa kalinya dan aku hanya membalas ala kadarnya saja. Entah kenapa aku merasa Bi terus mendekatiku bahkan bunga-bunga terus datang di rumahku.
"Siapa yang mengirimimu pesan terus?" tanya Rita di sampingku sembari menikmati makan siang kami.
Perjalanan ini aku yang menyetir sedangkan Rita tak bisa melakukannya, ia terlalu takut untuk berkemudi menggunakan mobil. Untungnya jarak yang kami tempuh tidak terlalu jauh. Jika tidak ada jalan bebas hambatan, mungkin aku akan memanggil sopir.
"Dave?" Rita memerhatikan ponsel yang aku pegang sedari tadi.
"Bukan, Rit. Birendra ingin ke rumah, tapi aku melarangnya."
"Memangnya kenapa kalau pria itu ingin ke rumah? Ya biarin aja toh. Mungkin sekedar temu kangen," jawab Rita santai.
"Ya nggak enak sama tetangga, Rit. Kamu tahu sendiri selama ini tak ada kunjungan tamu pria di rumah selain tukang paket dan ojek onlin."
Aku menggelengkan kepala melihat Rita kalau bicara tak pernah ada titik komanya dan tidak tahu alasan di balik itu semua. Memang tamu pria kami satu-satunya hanya Dave, sebelum itu tak pernah ada.
"Ya kalau begitu temui saja di teras. Mudah toh?" Rita menaikkan alisnya mencandaiku.
"Kamu perlu membuka diri lagi, Ping. Tidak mungkin kamu selamanya sendiri."
Bicara mudah, tetapi untuk membuka diri pada pria lain? Sungguh aku tak bisa. Aku tak yakin ada yang mau denganku secara tulus jadi lebih baik menjalani kehidupan ini sendirian, jika pun Janar kelak menikah aku tak mau kumpul. Kasihan menantuku nantinya.
"Tak ada alasan untuk aku menemuinya, Rit. Lagipula kamu kan sudah tahu kalau pria itu sudah memiliki tunangan. Cukup satu kali dalam hidupku."
"Maaf, Ping. Aku nggak bermaksud bicara mengenai masa lalu," kata Rita merasa menyesal akan ucapannya meski itu benar semuanya.
"Nggak apa-apa, Rit."
Aku bangun dari kursi kayu dan melangkah pelan menuju meja kasir. Tatapan kasihan tersirat penuh makna ketika pengunjung di sini melihatku berjalan dengan kaki yang terseok. Aku tak memedulikan mereka, sudah biasa bagiku.
"Maaf, Tante. Ai nggak sengaja menumpahkan minuman ke rok tante."
Gadis kecil berkepang dua itu baru saja menjatuhkan soda ke rok yang aku pakai. Ia terlihat merasa bersalah dan mau menangis, takut aku marah. Ia memohon agar tak dimarahi dan diberitahu ibunya yang masih di kamar mandi.
"Iya tidak apa-apa, Nak. Kamu nggak salah kok, tante yang nggak lihat kamu datang," kataku menyunggingkan senyum, rona ketakutan terpancar dari wajah cantiknya. Ia hanya memandangku dengan linangan air mata.
"Ai minta maaf, Tante," ujarnya sesenggukan dan hampir saja menangis.
"Ayo sini duduk sama tante," ajakku menggandeng tangannya lalu duduk di kursi yang kosong sembari aku membersihkan sisa soda di pakaianku
"Nama kamu siapa, Anak Cantik?"
"Nama lengkap Ai, Aisyah. Panggil saja Ai, Tante."
Seketika pikiranku mengembara, Ai sama seperti Eila anak asuhku dulu. Entah apa yang terjadi pada anak itu setelah ibunya memberikan organ tubuhnya. Sekarang aku baru merasakan penderitaan seorang ibu meski Janar tak lahir dari rahimku.
"Ai sama siapa ke sini?"
"Ai sama ibu. Ibu lagi bersihkan adik yang lagi buang air, Tante," jawab Ai yang sudah tidak menangis lagi. Ia tak takut padaku sama sekali.
"Memangnya Ai mau ke mana tadi?" tanyaku pelan sembari membenahi letak duduknya.
"Ai mau naik bus. Itu bus Ai yang mau ke Jakarta," lanjutnya dengan polos ia mengatakan akan pergi tanpa ayahnya karena ayahnya ada di kota besar.
Kami berbincang apapun demi menunggu ibunya datang. Tak berselang lama seorang wanita keluar dari kamar mandi, ia tampak kesusahan membawa bayi dan juga tas. Kenapa tega suaminya menyuruh mereka pergi bertiga naik bus?
"Ya ampun Ai! Kamu menjatuhkan soda ke pakaian tante ini?"
Ai menghamburkan tubuhnya lalu memelukku saat ia dimarahi oleh ibunya. Ia diam tanpa mau menolehkan wajahnya, aku tahu ia takut omelan ibunya.
"Bukan Ai, Mbak. Saya yang salah jalan," jawabku menengahi agar tak terjadi drama tangisan anak kecil.
"Saya tahu kok Mbak. Anak saya ini memang nakal, nggak pernah nurut sama saya."
Dari cara bicaranya yang ketus, aku tahu ia merupakan ibu yang tak melihat sisi kebenaran lain anaknya terlebih dulu. Seharusnya ia menenangkan dulu sang anak dan memberitahu letak kesalahannya bukan membentak di muka umum.
"Sudah Mbak. Jangan dipermasalahkan lagi lebih baik Mbak sama Ai segera masuk ke bus. Busnya sudah mau pergi."
Suara klakson bus menyelamatkan kami, jika tidak kemungkinan saja ibu Ai ini akan terus berlanjut bicaranya. Ai menghapus air matanya dan berharap kita dapat bertemu lagi. Apakah itu mungkin, Nak? Aku hanya memagutkan kepala menjawab permintaannya.
"Kok lama ke kamar mandinya, Ping? Aku kira kamu sakit di dalam eh ternyata malah mengobrol," sahut Rita tiba-tiba menghampiri, aku lupa jika ada Rita di depan. Dasar aku ini pelupa.
"Ayo Rit. Kita segera berangkat ke Surabaya mumpung jalanan sepi."
Dalam perjalanan ini hanya aku dan Rita saja, Janar tak mau ikut dan ia memilih tinggal bersama Dave di rumahku. Aku biarkan saja ayah dan anak itu saling mengakrabkan diri, ada waktu di mana mereka berbincang layaknya pria dewasa.
****
"Paman siapa? Apa salah rumah?"
Janar pikir yang datang adalah temannya, tetapi yang datang malah seorang pria dan ia tak kenal sama sekali. Ia melihat penampilan pria tersebut bukanlah orang jahat, pakaiannya terlihat mewah dan mahal.
"Ini benar rumahnya Pingkan Laksmi?" tanyanya agak ragu karena mendapati seorang anak.
"Iya benar. Untuk apa paman mencari ibu saya?"
Birendra yang bertamu hari ini sampai menajamkan pendengarannya, apa benar bocah di depannya adalah anak Pingkan? Ia terkejut mendapati kenyataan tersebut.
"Siapa Janar?" Dave yang berada di belakang seketika mendekati sang tamu dan Janar.
"Nggak tahu, Yah. Paman ini cari ibu," sahut Janar datar.
Dave berjalan menggunakan tongkatnya menuju mereka berdua di depan pintu. Dave tak mengenali sosok pria dengan membawa bunga juga keranjang buah. Berbanding terbalik dengan Dave maupun Janar, Birendra dibuat bingung karena Janar menyebut ayah.
"Maaf kalau boleh tahu, memangnya anda siapanya Pingkan?" tanya Birendra, sungguh raut wajahnya sekarang menampilkan orang yang kebingungan.
"Suaminya. Kalau anda?" Dave menjawab dengan yakin dan penuh percaya diri.
"Loh ayah? Kok bicara seperti itu sih?" Janar tak terima jika ayahnya berbohong.
Perdebatan anak ayah ini tambah membuat Birendra semakin bingung yang bisa ia lakukan hanya tersenyum kecil sembari melihat mereka berdua yang sedang bicara tanpa mau menyela dan menunggu selesai.
"Maaf, Nak. Saya temannya ibu kamu. Apa paman bisa menemuinya?" tanya Birendra langsung ke intinya.
"Pingkan tidak ada sedang keluar kota. Kalau tidak ada kepentingan apapun, silakan anda pergi, Tuan," usir Dave tak suka akan kehadiran Birendra yang mencari Pingkan.
"Ayah, nggak boleh mengusir tamu. Itu tidak sopan."
Janar-lah yang akhirnya mempersilakan Birendra masuk dan menyiapkan minuman. Pingkan tak mengajari dirinya mengusir tamu jika orang itu kenalan ibunya atau bibinya karena hal tersebut dinilai tak sopan.
"Terima kasih, Nak. Kalau boleh tahu, siapa nama kamu?" tanya Birendra seraya ia meneguk teh buatan Janar.
"Nama saya Janar, Paman. Kalau paman sendiri?"
Sekali lagi Dave tak suka karena Janar bicara akrab dengan Birendra dan ia hanya diam tanpa ingin bertanya, ia membiarkan sang anak yang menanyai kepentingan pria yang tak ia kenal.
"Nama Paman Birendra. Panggil saja paman Bi."
Janar memang mudah akrab dengan siapapun yang ia temui meski jarang bicara pada teman satu sekolahnya, ia lebih nyaman bicara dan berada di tengah-tengah orang yang lebih tua. Hanya Naradiptha temannya yang sudah dikenalinya sejak kecil.
Birendra merasa nyaman mengobrol bersama Janar yang tahu segala hal, tak diragukan memang jika Pingkan yang selalu mengajari anaknya untuk gemar membaca. Ia ingin sekali berbincang cukup lama, tetapi tatapan Dave membuatnya risih dan ia berpamitan untuk pulang.
"Paman tadi menyenangkan ya, Yah? Janar suka sama paman itu, kalau diajak ngomong bisa nyambung," seloroh Janar dengan senangnya. Namun Dave berpikiran sebaliknya, ia takut Birendra ada niat terselebung mendekati Pingkan.
"Ayah, kenapa ayah berbohong sama paman tadi kalau ayah dan ibu menikah? Itu tidak baik, Yah."
Dave tak mendengarkan perkataan Janar, ia mengirim pesan pada Pingkan. Ia mengatakan ada temannya yang mencari dan jangan suruh datang lagi ke rumah. Ia tak mau Janar terpengaruh oleh pria yang belum dikenali secara dekat.
****
Dugaanku benar, Birendra datang ke rumah dan ada Dave di sana. Dave secara terang-terangan tak menyukai kehadiran Bi tadi. Aku hanya membalas pesan secara singkat saja karena Rita sudah menungguku di rumah paman.
"Siapa lagi kali ini yang meneleponmu? Dari berangkat hingga sekarang ponselmu tak berhenti berdering," oceh Rita mengawasiku dari balik pintu kamar.
"Birendra datang ke rumah, Rit. Kebetulan ada Dave di sana dan ia tak suka pada Bi."
"Itu artinya Dave cemburu karena kamu ada teman pria selain dirinya," sambung Rita mencandai diriku saat ini.
"Ah sudahlah, Rit. Jangan membahas mereka lagi. Lebih baik kita bersihkan rumah ini saja."
Aku tak menghiraukan ocehan Rita yang terus menggoda dan menceramahiku. Hal yang utama sekarang adalah membersihkan rumah ini juga berkunjung ke makam paman dan bibi juga ayah ibu yang letak makam mereka berdampingan.
Rita membersihkan bagian ruang tamu sedangkan aku membereskan kamar yang sudah tiga bulan tak dikunjungi Rita. Di kamar paman, terdapat foto Janar sewaktu bayi bersama bibi dan para tetangga. Bibi selalu memperkenalkan Janar sebagai anak yang diadopsi untuk mengisi hari tua.
"Ibu selalu membanggakan Janar dengan para tetangga dan ia tak peduli gunjingan mereka mengenai bayi di luar nikah," sahut Rita duduk di ranjang bersamaku.
Para tetangga di sini membicarakan Janar yang lahir dari Rita atau diriku, tetapi semua itu dipatahkan oleh bibi dengan menunjukkan surat adopsi kepada mereka. Aku terpaksa menitipkan Janar kepada bibi, karena aku harus pengobatan dulu waktu itu.
"Kalau tidak ada paman dan bibi, aku tak tahu harus minta tolong pada siapa, Rit. Ia hampir mau dibawa ke Belanda."
"Sudah nggak apa-apa, Ping. Kami ikhlas melakukannya kok. Lagipula Janar tumbuh penuh cinta yang kita berikan, bukan?"
Janar tak pernah kekurangan kasih sayang. Dari paman bibi juga aku dan Rita. Enam tahun paman merasakan kebahagian tinggal bersama Janar dan sebulan kemudian disusul bibi yang meninggal dalam damai.
Aku dan Rita sudah menuntaskan tugas sebagai seorang anak, rumah ini tak akan pernah kami jual atau sewakan karena memiliki kenangannya tersendiri. Sebulan sekali ada Mang Ujang yang membersihkan.
"Oh, ya bagaimana dengan hak asuh Janar? Kamu sudah mendapatkan pengacara?"
Aku menggeleng, susah mencari pengacara yang benar-benar kompeten dan handal. Aku tak mau mengeluarkan uang banyak lalu tak bisa mengatasi.
"Biar aku bantu cari ya, Ping. Aku tahu sih itu juga tidak mudah," ucap Rita mengenggam tanganku memberi kekuatan.
"Biar bagaimanapun, jangan sampai hak asuh anakmu jatuh ke neneknya. Lagipula aku yakin sekali pengadilan tak bisa melakukannya karena surat adopsi itu legal dan disahkan secara hukum."
"Tidak usah khawatir, Ping. Nyonya Geni nggak mungkin menang," imbuh Rita menyunggingkan senyumannya lalu ia kembali membersihkan kamar paman dan bibi.
Aku yakin sekali jika hak asuh Janar tetap jatuh ke tanganku. Sekeras apapun nyonya Geni ingin merebutnya, itu tak akan bisa karena surat kelengkapan adopsi milik Janar adalah sah.
=Bersambung=