Aku tahu masalah yang kemarin tak bisa diselesaikan begitu cepat karena melalui banyak proses sampai benar-benar Janar jatuh ke tanganku meski aku yang harus kulakukan itu membutuhkan bantuan orang lain yaitu Pengacara handal yang menangani kasus hak asuh anak.
["Aku serahkan semuanya padamu, Ping."]
Kemarin lusa aku dan Dave sudah membicarakan hal ini juga mengenai Nuri. Semua keputusan Dave serahkan padaku tentang hak asuh Janar, ia tak mau membuat anaknya menderita hanya karena ibunya yang egois.
Bagi Dave dapat bertemu Janar dalam keadaan sehat itu sudah lebih dari cukup dan ia tak mau Janar sang anak mengetahui kisah hidup kelam ayahnya. Namun sebisa mungkin aku tak mau Janar tahu dari orang lain mengenai kisah hidupku, ia harus tahu tentang aku meski tak seluruhnya.
"Ibu, apa Janar boleh ikut sampai pertigaan jalan? Teman Janar akan menjemput di halte bus."
"Tentu saja. Sebentar lagi ya, ibu akan memasang ini dulu."
Janar mengangguk seraya ia mempersiapkan bekal untuk bertamasya bersama teman-teman sekelasnya. Kebetulan hari ini aku hendak berkunjung ke rumah kontrakan yang kusewakan untuk anak-anak kampus juga pekerja.
Awal bulan adalah waktu mereka membayar kontrakkan dan aku yang selalu menangani mengenai keuangan ataupun melihat kondisi rumah di sana. Apakah ada kerusakan atau air yang tak mengalir lancar? Untung saja selama delapan tahun berdiri tak ada kendala.
Dari salon juga uang bulanan dari penghuni rumah kontrakkan yang berjumlah delapan kamar, aku dapat membiayai kebutuhan kami juga pendidikan Janar. Tak lupa aku memberikan Janar asuransi untuk masa depannya kelak, semua sudah aku persiapkan jika sewaktu-waktu diriku tak lagi bersamanya.
"Ayo Nak kita berangkat."
Janar memakai baju santai putih dengan celana panjang hitam membuatnya mirip sekali dengan Dave, bak pinang dibelah dua itulah mereka hanya mata dan bibir yang sama dengan milik ibunya.
Selama perjalanan sepuluh menit, kami menyempatkan mengobrol bersama walau hanya sebentar tapi sudah membuat hari pagi kami kembali ceria. Janar bercerita sejak kejadian di rumah temannya tempo hari, ia menjauhi anak dari nona Seruni dan tak mau lagi memberi pelajaran tambahan.
Saat aku tanyai alasannya, Janar hanya tersenyum saja dan tak mengatakan sepatah katapun sampai kami tiba di pertigaan perumahan. Ia hanya memberiku ciuman di pipi dan tangan lalu keluar dari mobil. Aku tahu alasannya tanpa Janar memberitahu.
"Maafkan ibu ya, Nak. Karena ibulah kamu menderita."
Kupandangi Janar dan teman setianya Naradipta yang menganggukkan kepala ketika melihatku di dalam mobil. Mereka akan pergi bertamasya bersama yang lainnya. Tak jauh beda dengan Janar, Naradipta hanya memiliki seorang ibu yang bekerja keras siang dan malam. Bedanya dengan Janar, ayahnya meninggal karena sakit dan tidak memiliki masa lalu yang kelam sepertiku.
Aku melanjutkan perjalanan setelah melihat Janar sudah naik bus bersama temannya. Jarak antara rumah dengan rumah kontrakkan memakan waktu satu jam dan memang sengaja kupilih di daerah sana karena ada kampus juga tempat usaha.
Mengingat kembali saat membangunnya sembilan tahun lalu harus mengorbankan banyak hal. Aku meminjam uang dari Bank dengan jaminan salon, untung sekarang sudah kulunasi dibantu Rita juga.
"Selamat pagi, Bu Pingkan."
"Pagi juga, Pak."
Aku menyapa penjaga rumah kontrakkan ini bersama istrinya. Awalnya Pak Suma seorang pekerja di sebelah ruko tempat salonku berdiri, karena pengurangan pegawai dan kebetulan aku sedang mencari penjaga maka kupekerjakan beliau dibantu istrinya.
"Kabar ibu dan bapak, bagaimana?" tanyaku sembari memberikan sembako untuk beliau.
Aku menyempatkan diri untuk mengobrol dan menanyai keadaan mereka yang tinggal di belakang rumah kontrakkanku yang kubangun juga untuk mereka tempati. Mereka tinggal bersama cucu perempuannya karena anak maupun menantunya bekerja di Malaysia dan pulang setahun dua kali.
"Baik, Bu. Terima kasih untuk biaya berobat cucu saya," ucapnya dengan tulus.
"Saya nggak bisa balas apapun kebaikan ibu. Ibu selalu bantu biaya cucu saya," imbuh Pak Suma seraya ia menundukkan kepalanya.
"Sudah nggak apa-apa, Pak. Kalau mau balas, buatkan saya tumis kangkung buatan ibu saja."
"Oh ya ya, Bu. Saya suruh ibu masak."
Sarayu cucu perempuan satu-satunya menderita paru-paru dan harus berobat setiap bulan, itu pun membutuhkan biaya yang tak sedikit. Aku bukan mengasihani kehidupan mereka hanya saja aku tak mau kehidupan ayah terulang kembali pada gadis kecil itu yang memiliki penyakit sama dengan ayah.
Setelah aku dipulihkan dari sakit juga kehidupanku, hanya dengan ini caraku membalas kebaikan-Nya yaitu membantu sesama bagi mereka yang membutuhkan, karena aku pernah berada di posisi mereka.
Aku menghabiskan waktu dua jam di sini sekedar menyapa, berbincang sejenak dengan penghuni lainnya juga menyantap makan siang bersama Pak Suma dan istrinya. Aku menyukai masakan Bu Diah khas sekali.
"Pak, ini gaji juga uang bulan bapak dan ini saya sedikit uang untuk Sarayu. Ini hari ulang tahun, bukan?"
Tak sengaja aku melihat gadis kecil itu diejek oleh temannya karena tak bisa merayakan ulang tahunnya. Tak ada bedanya anak di jamanku dengan sekarang, mereka akan dijauhi jika terlahir dari orang tak mampu.
"Ibu, ini sudah lebih dari cukup. Ini mah kebanyakan," sahut Ibu Diah seraya mengembalikan uang tersebut, tetapi aku tolak secara halus.
Mereka tak kuasa menolak saat aku memberikannya secara langsung pada Sarayu, gadis kecil itu tampak senang dan tersenyum sambil berdendang. Hari semakin terik jadi aku memutuskan untuk ke salon baru pulang.
"Mbak Pingkan ...."
Baru saja aku membuka pintu mobil ada Kina yang memanggilku, ia mengontrak lama di sini setahun setelah rumah ini selesai dibangun. Dari meniti karir hingga menikah, ia dan suami yang juga penghuni sini tetap tinggal. Cinta bersemi di rumah kontrakkan, itulah yang tepat.
"Iya ada apa, Kina?" tanyaku sebelum masuk ke mobil.
"Mbak, kan searah ke kantornya Kina. Apa boleh Kina titip ini di lobby? Kina sudah memberitahu kalau dokumen ini diantar sama suami tapi suami Kina repot juga."
"Kina kemarin lupa, Mbak."
Aku memagutkan kepala dan tersenyum melihat Kina yang dua bulan lagi melahirkan jadi kemarin hari terakhir ia cuti di perusahaannya. Aku memaklumi keadaannya yang tak mungkin ke tempat kerjanya dalam keadaan perut besar.
"Iya nggak apa-apa. Sini mbak anterin."
Senyum sumringah tersungging di bibirnya, ia menyerahkan amplop beserta dokumen kepadaku sebelum pergi. Aku pun melajukan mobil perlahan menuju kantor Kina.
****
Perusahaan taksi yang baru dirintis delapan tahun lalu kini berkembang pesat. Armada mereka begitu banyak hingga keluar kota juga. Setelah cukup puas duduk di lobby karena kakiku yang pegal, aku memutuskan pulang saja ke rumah.
"Ping ..."
Ada yang memanggil namaku dari samping, tak jauh dari tempatku berdiri. Aku menoleh dan melihat Birendra dengan penampilan yang tak biasa, ia memakai jas hitam khas orang kantoran.
"Bi, sedang apa kamu di sini?"
Birendra berbeda dengan penampilannya yang ada di rumahnya saat itu. Mungkin ia pekerja di sini dan tak lagi menjadi sopir taksi makanya ia bisa membeli rumah untuk ibunya. Menurut Rita gaji di sini besar, tetapi seleksinya ketat.
"Bapak Birendra pemilik perusahaan ini, Mbak."
Asisten atau mungkin sekretarisnya menjawab pertanyaanku. Aku hanya dapat tersenyum saja saat Birendra menyangkalnya, tetapi tatapan Bi menyiratkan kebohongan. Aku tahu ia bukan pegawai biasa di sini.
"Lucu ya, Ping. Dulu aku hanya sopir taksi dan sekarang keadaan berubah. Ini semua berkat kamu," ujarnya.
"Kamu bisa membangun ini semua berkat doa dari ibumu dan keuletanmu, Bi. Bukan aku."
"Kalau bukan kamu yang mendesakku untuk merampungkan kuliah tak mungkin aku sesukses ini, Ping."
Aku menertawai diri sendiri kala aku masih sombong dan angkuh, jika aku tak mau berkawan dengan seseorang yang kaya dan pekerjaannya sopir. Kini aku tak sanggup untuk bertemu Birendra yang kuhina dulu.
"Pak, pertemuan dengan wakil perusahaan Key sebentar lagi."
Aku memerhatikan wanita di sebelah Bi yang memegang notes dan sesekali ia melihat arlojinya. Kurasa ini bukan pertemuan yang tepat, Bi sepertinya harus pergi ke pertemuan penting. Jadi aku mengundurkan diri di hadapannya.
"Maaf Bi, aku harus pergi. Kamu harus pergi juga, kan?"
"Boleh tidak aku bertemu denganmu lagi?" tanya Bi sebelum ia melangkah pergi. Biar Bi berlalu dulu dari hadapanku, kakiku terasa pegal sekali dan aku perlu duduk yang agak jauh dari pintu masuk.
Aku memandang punggung Birendra, pria yang selalu menasehatiku jika kami tak sengaja bertemu kini sudah berubah menjadi orang sukses. Nyonya Geni kerap bercerita tempat usaha suaminya hampir disita oleh pihak Bank dan mereka terpaksa menjual vila juga tanah yang dimiliki untuk melunasi hutang. Mungkin karena itulah Birendra sempat menjadi sopir taksi.
["Ibu, kami sudah di dalam bus. Ibu jangan lupa sarapan."
Aku tersenyum ketika Janar mengirimiku pesan juga foto dirinya di bus. Ia tak pernah bosan mengingatkanku untuk sarapan, karena aku selalu lupa. Sembari membalas pesan Janar, aku memijit lutut ini.
"Ping ....!"
Seketika aku berhenti mengetik dan ponsel itu terjatuh di lantai. Sial kenapa juga kaki ini terasa sakit di waktu yang tak tepat? Birendra memandangku penuh keheranan saat melihat kedua kakiku yang tak sama.
"Bi, katanya kamu mau pergi rapat?" tanyaku gugup saat ia merunduk dan mengambil ponselku.
"Kenapa denganmu? Apa yang terjadi, Ping?"
"Maaf Bi, aku harus pergi." Aku berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dari sofa ini meski kesulitan berjalan. Aku tak mau Birendra melihatku dalam keadaan seperti ini.
"Jelaskan padaku baru kamu boleh pergi," kata Birenda mencengkal lenganku. Beberapa orang melihat ke arah kami.
"Aku kecelakaan sepuluh tahun lalu, Bi. Sekarang aku boleh pergi, kan?"
"Andai waktu itu kamu ikut pergi denganku, tak mungkin kamu akan seperti ini," ungkit Birendra menatapku.
Sorot matanya menampakkan kesedihan juga penyesalan. Andai kamu tahu, Bi. Jika Pingkan yang dulu bukan Pingkan yang sekarang. Ia dulu wanita jahat dan aku bersyukur pertemuan kita tak bertahan lama.
Birendra melarangku pergi dan ia hendak mengantarkanku, tetapi aku tolak. Tak enak rasanya saat semua mata memandang ke arah kami dengan tatapan penuh tanda tanya. Aku berjanji akan menghubunginya nanti.
*****
"Tumben kamu ada di rumah, Rit?"
Sepulangnya dari perusahaan Birendra, kudapati Rita bersantai di ruang tengah sambil mengecat kuku lentiknya. Biasanya ia akan pulang sore bahkan malam jika esoknya libur.
"Tugasku sudah kuselesaikan seminggu lalu. Aku mau cuti Senin, Ping."
Aku ikut duduk di sebelahnya sambil melepas kaki yang membuatku sakit sejak tadi. Di meja ada teko es jeruk, Rita tahu saja jika aku mau pulang. Rita itu super cuek dan tidak pernah sekalipun menunjukkan perhatiannya.
"Memangnya kamu mau ke mana, Rit?" tanyaku sembari meminum es buatannya.
"Aku mau mengunjungi makam ayah ibu. Kamu mau ikut? Kalau nggak mau, nggak apa-apa kok, Ping." Rita diam sejenak, ia masih memandangku tanpa memberinya jawaban.
"Aku akan ikut, Rit. Kebetulan Janar libur. Kita naik mobilku saja."
"Benarkah?" Rita terlihat senang dan memelukku.
"Aku tak bisa selamanya bersembunyi, kan Rita?"
Sudah lama rasanya aku tak mengunjungi makam paman dan bibi, ada perasaan bersalah karena membuat mereka menderita akibat ulahku. Mereka menyayangiku dengan tulus, tetapi aku membalasnya dengan kekecewaan.
=Bersambung=