Part 10 Jangan Ambil Anakku

1753 Words
Bunga itu masih tergeletak di meja makan dan aku tak niatan untuk membalas pesannya saat ini. Aku pikir ia tahu alamat maupun nomer ponsel melalui tunangannya. Ingin rasanya aku membuang bunga tersebut, tetapi Rita melarangnya. "Jangan memandangi bunganya saja, Ping. Telepon sana sama orangnya," kata Rita mengambil ponselku lalu menyuruhku untuk menelepon Birendra. "Pria itu sudah memiliki tunangan, Rit. Aku nggak mau merusak hubungan mereka hanya karena kehadiranku." Aku meletakkan kembali ponsel di kasur, lebih baik seperti ini tidak membalas pesannya. Aku pun menghiraukan permintaan Rita yang ingin menaruh bunga itu di meja makan dan memilih ke kamar mandi, baru berdiri aku mendengar suara bel di depan rumah menandakan ada seseorang bertamu. "Siapa yang datang sepagi ini sih?" tanya Rita yang memang hari ini masih pagi dan kami sedang libur. "Biar aku saja yang buka. Mungkin temannya Janar." Rita mengikuti langkahku, aku pikir ada teman Rita atau Janar yang datang sekarang. Namun yang kami temui seorang pria berjas hitam lengkap dengan tas di tangannya, ia tersenyum sambil mengulurkan ke arahku. "Maaf, anda siapa?" tanya Rita agak bingung. Kami mengira pria ini salah alamat. "Apa anda nyonya Pingkan Laksmi?" tanya pria itu pada Rita. "Oh bukan. Saya yang bernama Pingkan. Ada apa ya, Pak?" Aku menjawabnya dengan rasa penasaran. "Perkenalkan saya asisten pengacara dari nyonya Geni. Anda pasti kenal dengan beliau, bukan? Kebetulan atasan saya yang mengatasi kasus ini sedang ada persidangan jadi saya yang mengantarkan berkas kepada anda." Aku dan Rita saling berpandangan, karena merasa heran akan kedatangan pengacara atas nama ibunya Dave. Apa yang diinginkan wanita itu kepadaku? Apa urusan harta lagi? "Iya tentu kami kenal. Beliau kan orang tua yang serakah. Anda mau apa ke sini, Pak Pengacara?" Rita membalas ketus perkataan pria tersebut. "Mari silakan masuk dulu, Pak." Aku memintanya masuk daripada berada di luar terkesan mengabaikan tamu meski aku tak menyukai kedatangan seorang pengacara. "Tidak usah, Bu. Saya hanya mau mengantarkan surat ini saja, Bu." Pengacara muda itu menyerahkan berkas dan kami mengambilnya. Aku benar-benar tidak tahu isi di dalamnya tampak seperti surat penting. Aku berharap isinya tidak mengejutkanku. "Loh ini apa maksudnya, Pak?" tanya Rita menatap tak percaya isi surat putih tersebut saat kami membacanya. ['Pengalihan Hak Asuh Anak Kepada Ayah Kandungnya'] Aku sampai membalik kertas ini berharap bukan nama Dave yang tertera di sana. Namun dugaanku keliru, ada tanda tangan nyonya Geni di atas materai. "Kalau urusan lebih lanjut anda hubungi saja atasan saya. Ini kartu namanya, silakan anda mau bertanya. Maaf saya permisi dulu." "Kenapa sih nyonya tua itu mau merebut Janar. Bukannya dia sudah memberikan Janar padamu sejak bayi? Kok mau diambil lagi? Memangnya anak itu barang? Seenaknya saja." Aku menyuruh Rita diam dan tak mau Janar sampai mengetahui surat ini. Aku tak paham jalan pikiran nyonya Geni sekarang, dulu ia bersikukuh tidak mau mengasuh Janar sewaktu bayi. Namun kenapa sekarang nyonya Geni menginginkan hak asuh itu? "Aku akan ke rumah nyonya Geni dulu, Rit. Kalau Janar tanya, bilang aku ke salon ya." Aku segera mengambil kunci mobil untuk ke rumah nyonya Geni. Aku ingin meminta penjelasan mengenai kedatangan surat tersebut. Sebelumnya aku harus menelepon Dave dulu agar ia tidak terkejut akan kedatanganku ke rumahnya. **** "Pengacara saya sudah datang ya?" Dengan santainya nyonya Geni menyambutku sembari menanyakan perihal surat tersebut. Aku tak habis mengerti jalan pikiran nyonya Geni. Untuk apa ia mau mengambil Janar kembali? Apa ia tidak tahu perjuanganku untuk bisa mengadopsinya? "Maaf nyonya. Saya tidak paham kenapa nyonya ingin mengambil hak asuh anak saya kembali." Aku berusaha sabar setiap kali bertemu dengannya yang tak pernah menyukaiku. "Anakmu? Memangnya Janar lahir dari rahim kamu? Bukan toh?" Nyonya Geni menyahut ketus, ia memandangku dari atas ke bawah lalu mendecih. "Tapi Pingkan tetap ibu dari Janar, Bu. Tidak bisa melakukan hal tersebut," kata Dave menghampiri kami di ruang tamu. "Ya ibu di atas kertas bukan ibu sesungguhnya," jawab nyonya Geni melirikku dengan memiringkan senyumannya. "Kalau ibu menginginkan Janar, kenapa tidak sewaktu ia bayi? Kenapa justru Pingkan yang berusaha mati-matian memperjuangkan Janar agar tidak diadopsi oleh pasangan Belanda itu?" Dave membelaku di hadapan nyonya Geni dan hal itu semakin menuai kebenciannya padaku. Jika bukan karena usaha paman dan bibi yang menjadi orang tua adopsinya tak mungkin Janar ada di sampingku. Aku tak diperbolehkan mengadopsi atas nama sendiri karena belum menikah. Janar sempat mau dibawa ke negara Belanda, untung saja hal itu tak pernah terjadi. "Karena kondisi kita waktu itu tak memungkinkan, Dav. Kamu koma sedangkan adikmu masih kuliah. Mana bisa ibu menjalankan usaha ayahmu semuanya? Ibu terpaksa menjual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kalau Janar di sini waktu itu. Kasihan dia. Jadi ibu titipkan ke panti asuhan." Nyonya Geni membela dirinya, ia tetap tak disalahkan. "Apa menurut nyonya tindakan itu sudah benar?" Aku balik bertanya. "Apa maksudmu?" Ia membalas pertanyaanku dengan ketus. "Ibu, apa ibu tidak berpikir atau memang sengaja melakukannya? Jika ibu menitipkan Janar di panti asuhan maka ibu sudah membuat keputusan kalau ibu siap jika Janar diadopsi orang lain. Benar kata Dave, kan Bu?" Nyonya Geni bungkam namun tetap melihatku dengan sinisnya. Aku tidak bisa menganalisa sendiri pemikiran nyonya Geni, apa ia memang sengaja membuang Janar hingga mau dibawa ke luar negeri atau tak mau membuat Janar menderita? "Nyonya, saya akui Janar tetap menjadi anak kandung Dave. Namun nyonya, sampai kapanpun Janar akan tetap menjadi anak saya sampai kapanpun. Jika nyonya bersikeras mau mengambil hak asuh Janar, silakan saja. Tapi saya akan tetap memperjuangkan hak saya." "Kamu tak pantas menjadi ibunya? Bagaimana kalau anak itu tahu kamu pernah hampir membunuh istri dari selingkuhanmu dan kamu juga berpacaran dengan Dave saat Dave bersama Nuri. Apa kamu tidak berpikir jika jiwanya akan terguncang?" Aku meremas kertas di pangkuanku dan menunduk. Apakah aku tak pantas menjadi seorang ibu? Aku sudah berubah dan bertobat dari kesalahan masa lalu. Kenapa nyonya Geni terus membahas peristiwa itu. Sebencinya itukah ia padaku? "Benar kata ibu, kan? Wanita ini tak pantas menjadi ibunya Janar, Dave. Seharusnya ibu Janar itu Nuri selamanya." "Ibu, hentikan perkataan ibu mengenai Pingkan." "Nyonya Geni ..." Aku mengangkat kepala lalu menatap nyonya Geni, tanpa terasa air mataku jatuh menetes. "Jika nyonya menginginkan Nuri sebagai ibu kandungnya, kenapa nyonya mengusirnya dan tak mau ia menjaga Dave saat koma? Apa karena keluarga Nuri bangkrut dan tak bisa membiayai pengobatan Dave?" Sungguh aku tak mau menceritakannya dan membuat Dave mendengar. Namun aku tak bisa jika menyangkut soal Janar, semua akan kulakukan demi anakku tetap berada di bawah pengasuhanku. "Jadi ibu--- Ah ibu kenapa berbuat itu pada Nuri?" "Jangan memercayai ucapan wanita sialan ini, Dave!" Nyonya Geni membentak sembari menudingkan jarinya ke arahku. Tatapan marahnya membuat Dave yakin jika ibunya telah melakukan sesuatu pada Nuri. "Yang dikatakan Mbak Pingkan benar, Mas. Ibu melarang Mbak Mina mengunjungimu sewaktu koma padahal ia susah payah ke sini dengan kehamilannya yang besar. Jika bukan Mbak Pingkan yang merawatnya, Vero tak yakin jika Mbak Mina mau hidup." Vero memiliki panggilan lain kepada Nuri yang bernama lengkap Nuri Mina. Vero amat dekat dengan calon iparnya, itu yang selalu ia ceritakan padaku ketika membahas mengenai ibu kandung Janar. "Kamu ini dengar dari mana ibu mengatakan itu!" Nyonya Geni menyangkalnya. "Vero dan Mbak Pingkan mendengar sendiri. Apa ibu lupa jika kami ada di sana saat ibu memarahi Mbak Nuri?" "Tunggu dulu, Vero. Mas tidak mengerti. Kenapa ibu mengatakan jika Nuri yang pergi meninggalkan Mas lalu menyerahkan bayinya kepada kita?" "Tanya sama ibu sendiri, Mas. Vero ataupun Mbak Pingkan tak punya hak untuk mengatakan yang sebenarnya." Vero melewatiku tanpa mengatakan apapun, ia pergi dan tidak mau menjelaskan pada Dave mengenai Nuri. Aku dan Vero yang menjadi saksi saat nyonya Geni mengusir Nuri saat ia tengah hamil. "Ping, katakan sejujurnya. Ada apa dengan Nuri saat aku koma?" Dave menatapku mencari jawabannya. "Salahkan wanita ini yang membuatmu pingsan. Jika tidak maka---" "Ibu! Diamlah dulu. Aku hanya ingin mendengarkan dari Pingkan," desak Dave. Aku tak ingin hal ini terjadi, tetapi bibirku keceplosan karena nyonya Geni selalu saja mempersalahkan masa lalu. "Maaf Dave. Benar kata Vero, lebih baik ibumu yang bercerita." "Saya ke sini hanya untuk masalah hak asuh Janar. Mengenai hal lain, nyonya Geni saja yang menceritakannya. Saya tidak mau terjadi keributan di sini." Aku meninggalkan ibu dan anak itu yang berdebat. Bukannya aku tak mau menengahi mereka, tetapi nyonya Geni akan semakin menggila dan kasar ketika aku membela Dave meski pada kenyataannya nyonya Geni-lah yang salah. **** Sepuluh tahun lalu aku dipertemukan dengan Nuri di rumah sakit saat aku melakukan pemeriksaan. Sebelum Dave dan aku kecelakaan, aku tak mengenal Nuri jika wanita baik hati itu adalah tunangan Dave. Karena pada dasarnya aku tak mau bertemu. Di sini memang aku yang salah dan terus berdekatan dengan Dave meski sudah bertunangan. Aku hanya meminta pertolongannya saja pada Dave di saat aku membutuhkannya. Rasa bersalahku kian menjadi ketika kuketahui Dave koma karena aku. Nuri tak memiliki keluarga setelah kematian orang tuanya selain keluarga Dave. Namun karena usaha keluarganya yang bangkrut, nyonya Geni tak mau lagi berhubungan. Aku tahu berkat usaha yang dimiliki calon menantunya dapat menunjang kekayaan nyonya Geni pada masa itu. Setelah bangkrut, nyonya Geni memutuskan ikatan pertunangan mereka di saat kondisi terpuruk dan rapuh. Rasa bersalahku padanya dan juga Dave membuatku ikhlas menemani juga menjaga Nuri hingga akhir hidupnya. "Aku titip anak ini ya, Mbak. Jika Dave sadar, jangan pernah katakan tentang kejadian yang dulu." Bahkan sebelum ia menutup mata untuk selamanya, ia menyuruhku menjaga anaknya dan merahasiakan mengenai dirinya yang diusir oleh nyonya Geni. ["Kita perlu bicara, Ping. Besok jemput aku!"] Ponselku berdering sejak tadi, aku tahu itu pesan dari Dave. Ia tak akan berhenti bertanya sebelum rasa penasarannya terjawab. Mungkin Dave juga perlu tahu mengenai kehidupan yang dijalani Nuri setelah ditinggal oleh orang tuanya. "Ibu, dipanggil dari tadi nggak dengar." Janar menghampiriku di mobil lalu ia ikut duduk di samping. Terkadang jika aku ingin menyendiri, mobil inilah yang menjadi keluh kesahku sambil memutari perumahan sampai reda tangis maupun emosiku. "Apa nenek mencari masalah lagi?" tanya Janar memandangku dari temaram lampu mobil. "Tidak Nak. Ibu hanya pusing dengan pekerjaan di salon." "Kata bibi Rita tadi, nenek mencari masalah sama ibu." Dasar Rita nggak pernah bisa menjaga perkataannya, ia selalu saja bicara jujur pada Janar. Sungguh aku tak mau Janar menilai keburukan neneknya selama ini. "Bu, apapun yang terjadi. Janar tetap mendukung ibu dan berada di sisi ibu." "Terima kasih, Nak. Ibu dan nenek tidak ada masalah kok," sanggahku. "Ayo Bu. Mumpung belum malam, kita jajan di luar. Janar ingin berduaan sama ibu." Aku mengangguk, Janar selalu bisa membuat orang nyaman di dekatnya. Ia dapat memahami isi pikiran orang terdekatnya, aku bersyukur karena Janar aku bisa kembali bangkit dan tak akan kubiarkan siapapun merebutnya. =Bersambung=
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD