Tak disangka nyonya Meina menyuruhku datang lagi ke rumahnya, para sahabatnya merasa iri dengan riasan yang aku berikan pada nyonya Meina dan mereka ingin aku melakukannya lagi. Aku senang karena hasil kerja kerasku membuahkan hasil juga membuat semua orang menyukainya.
"Yakin mau ke sana lagi?" tanya Dave setelah aku menceritakan cemoohan ataupun tatapan tamu nyonya Meina.
"Iya Dave, nyonya Meina sudah menghubungiku berulang kali dan aku menolaknya. Tapi nyonya Meina malah datang sendiri ke rumah dan memintaku untuk datang lusa."
"Apa hanya karena uang yang diberikan wanita itu?"
Ekspresi Dave menunjukkan jika ia tak suka kalau aku menerima tawaran nyonya Meina, tetapi bukan uang melainkan aku harus bersikap profesional. Aku tak mau pelangganku kabur hanya karena diriku menolak orang sekaya nyonya Meina. Wanita itu akan melakukan apapun agar keinginannya tercapai.
"Bukan begitu, Dave. Aku akan menolaknya jika nyonya Meina hanya orang biasa. Wanita itu akan melakukan apapun jika keinginannya tidak terpenuhi. Aku takut, Dave. Aku tak mau ada yang mengungkit masa laluku dan Janar mengetahuinya."
Pernah aku mendengar selentingan kabar jika nyonya Meina membuat salah satu kafe di kota ini tutup sementara waktu hanya karena pelayanannya buruk. Aku yang ingin tahu menghampiri kafe tersebut dan memang benar adanya kabar tersebut. Sehebat itukah pengaruh orang sekaya nyonya Meina?
"Nyonya Meina itu orang kaya. Anaknya pengusaha sukses dan memiliki pengaruh besar di kota ini," sela nyonya Geni tiba-tiba mendekati kami yang berada di teras.
"Kok ibu tahu?" tanya Dave, aku juga penasaran.
"Iya tahu dong. Kami kan satu arisan. Ah sudahlah ibu mau pergi dulu."
Nyonya Geni tak pernah berubah, ia senang dengan kegiatannya yang dulu. Arisan ataupun bergosip tak jelas di kafe bersama teman sosialita-nya meskipun tidak sekaya dulu, nyonya Geni tidak mau dirinya ketinggalan.
"Masih mau pergi arisan, Bu? Apa ibu tidak lihat usaha kita mengalami kemunduran?" Dave marah karena ibunya tak bisa berubah.
"Tenang saja ibu tak akan menghabiskan uang. Ibu juga kan nggak mau jatuh miskin lagi seperti dulu."
"Kalau saja bukan Pingkan dan Vero yang saling bahu membahu membangun usaha kita, tak mungkin sekarang kita hidup seperti ini lagi, Bu."
"Iya ibu tahu, Dave. Makanya ibu tak lagi ikut arisan sebanyak dulu, tapi apa salah jika ibu ingin kumpul-kumpul bersama teman ibu lainnya?"
"Lebih baik nyonya segera berangkat, nanti teman nyonya mengira anda terlambat." Aku melerai pertengkaran mereka, malu didengar tetangga sebelah. Aku menyuruh Pak Sun mengantarkan nyonya Geni.
"Ya lebih segera berangkat daripada di sini mendengarkan anak itu terus mengoceh."
Nyonya Geni menutup pintu mobil dengan kasar dan aku tahu ia pasti mengomel juga menggerutu tak jelas. Nyonya Geni tak suka dilarang jika sudah berkumpul dengan temannya.
"Kenapa kamu malah mengijinkannya pergi, Ping?"
"Sudah biarkan ibu pergi, Dave. Biarkan ibu berkumpul lagi bersama teman-temannya."
"Tapi kamu tahu sendiri kalau ibu akan menghabiskan uang usaha kita," kata Dave kesal.
"Aku sudah memberitahu ibu, Dave. Gunakan uang secukupnya dan ada perjanjiannya juga kok. Kalau kamu tidak percaya, tanyakan Vero."
Aku dan Vero sudah membuat perjanjian dengan nyonya Geni, itu tertulis di atas kertas. Di mana nyonya Geni akan mendapatkan uang bulanan sesuai kebutuhan, bukan aku yang mengaturnya melainkan anaknya sendiri yaitu Vero yang kini menjalankan usaha kafe dan restoran.
"Aku mengucapkan terima kasih karena tanpa uang darimu, usaha kami akan disita bank. Dan ibu tidak sadar diri juga."
"Ah jangan dibahas lagi, Dave. Sudah biarkan ibu dengan kesenangannya. Kasihan juga ibu selama ini."
Aku tak mau lagi membahas peristiwa lalu dan mengajak Dave masuk ke rumah seraya menunggu pulangnya Janar dari kursus. Kami akan makan malam bersama di luar, sesuai permintaan Janar kepada kami.
*****
Aku tak menyangka dipertemukan kembali dengan dia yang pernah menyatakan rasa sukanya padaku dulu dan ternyata dia adalah anaknya nyonya Meina. Aku sempat terkejut saat ia menyapaku.
"Kalian kenal di mana? Kok ibu tidak tahu?"
"Dia ini pernah bantu aku, Bu. Waktu itu aku pernah hampir kecopetan dan dia bantu aku."
"Oh ya? Ya ampun Mbak Ping, nggak sangka ya Mbak ini suka bantu orang sejak dulu."
Nyonya Meina menepuk-nepuk tanganku, aku hanya tersenyum saja. Kapan aku pernah membantunya? Justru dirinya yang berulang kali menolongku bahkan memberi petuah padaku dulu.
"Saya kebetulan lewat di sana, Nyonya." Terpaksa aku mengikuti kebohongannya.
"Terima kasih loh, Mbak. Anak ini memang suka bikin masalah sejak remaja."
"Aduh ibu jangan mengingat masa lalu deh."
"Memang kenyataannya begitu," ucap nyonya Meina seraya berlalu dari hadapan kami.
Dia pemuda yang pernah mengantarkanku pulang tengah malam, dia juga yang memberiku semangat untuk menjalani kehidupan lebih baik. Sepuluh tahun aku tak pernah berjumpa dengannya, dia kini menjadi pria yang sukses dan usahanya maju.
"Kamu apa kabar, Ping?" tanyanya saat kami berdua saja di halaman belakang.
"Aku baik-baik saja. Kamu ke mana saja selama ini, Bi? Aku tak menyangka kamu anaknya nyonya Meina."
"Aku kerja di Jakarta dan membangun usaha tranportasi di sana. Aku jarang pulang ke sini, Ping. Lebih enak di sana."
"Kenapa tidak di sini saja? Kasihan ibu kamu kesepian di rumah sendirian, Bi."
"Aku pergi karena kamu, Ping."
"Kok bisa karena aku?" Aku mengernyitkan dahi dan menatapnya dengan keheranan.
Birendra yang kusangka dulu sopir taksi ternyata anak dari pengusaha transportasi. Aku benar-benar tidak tahu sama sekali jika Bi--begitu aku memanggilnya yang berpenampilan sederhana menyimpan rahasia.
"Kamu sih menolak cintaku," ujarnya dengan tingkah konyolnya.
"Aku tak pantas untuk kamu, Bi. Lagipula waktu itu aku dan kamu masih tidak dekat satu sama lain."
"Tapi aku menyukaimu sejak kamu naik taksiku, Ping."
Aku hanya dapat tersenyum menanggapi pernyataannya. Aku tak mungkin menyukai pria sebaik Birendra, ia berhak menikah dengan wanita yang baik pula kelakuannya. Bukan sepertiku yang memiliki masa kelam.
"Ditha wanita yang baik, Bi. Ia pantas untukmu," sahutku memberi pengertian padanya. Ia masih menyukaiku dan aku tidak bisa menerimanya.
"Aku tidak menyukai atau mencintainya, Ping."
Birendra ingin memegang tanganku, tetapi segera aku tepis. Tak enak diperhatikan tamu ibunya. Mereka akan mengira aku ada hubungan dengan anak pemilik rumah ini. Namun untungnya, nyonya Meina meminta Birendra mengantarkan Ditha ke rumah sakit.
"Ini nomer teleponku. Aku akan menghubungimu nanti," ucap Birendra mengambil ponsel dari tanganku lalu menyimpan nomernya.
Jika boleh memilih aku tak ingin berjumpa atau bertemu dengan orang-orang di masa lalu. Akan tetapi, Tuhan malah ingin aku bertemu dengan mereka dan salah satunya ada Birendra yang sudah banyak memberi semangat ketika aku dalam kondisi tak waras dulu.
"Mbak Pingkan, nggak apa-apa? Saya suruh pak sopir antar pulang ya?"
Nyonya Meina mendapati diriku tak kuat berdiri, beruntung Birendra tak melihat kondisiku tadi. Aku terlalu lama berdiri untuk merias teman-temannya tuan rumah sehingga membuat salah satu kakiku terasa sakit.
"Ada teman saya di depan, Nyonya. Jadi saya pamit dulu."
"Iya Mbak. Hati-hati ya. Uangnya sudah saya transfer."
Aku mengangguk seraya dibantu pelayan di rumah ini untuk berjalan ke depan. Begini ya rasanya menjadi seseorang yang tak sempurna. Aku tak bisa bergerak cepat atau belari lagi.
****
"Makanya kalau dikasih tahu itu jangan keras kepala. Kamu sih ngeyel Ping."
Rita memarahiku seraya membantu melepaskan kaki palsuku. Aku sudah menduga jika ia akan kesal denganku, tetapi aku tetap bersikeras untuk pergi dan berakhir seperti ini.
"Iya kalau kamu dibantu sama asistenmu itu. Lah ini kamu mengerjakannya sendiri dan ibu-ibu genit itu ya nggak tahu diri," ucap Rita ketus. Aku hanya menanggapinya dengan santai, toh yang dikatakannya memang benar.
"Tari nggak bisa ikut, Rit. Aku pikir hanya tiga orang saja tadi."
"Kamu ya juga bodoh. Kok ya mau kamu merias enam orang sekaligus. Itu kesalahanmu."
Aku pikir tadi nyonya Meina dan dua temannya ternyata ia mengajak lainnya juga. Aku tak sangka jika nyonya Meina menyebarkan info jika riasanku itu bagus dan tampak memesona, tetapi aku malah mengganggap hal itu biasa.
"Dan kamu pasti mau merias calon menantunya nanti," tebak Rita dengan wajah seriusnya.
Sekali lagi yang dikatakan Rita benar. Menurut nyonya Meina, jika seseorang dirias oleh tanganku akan tampak berbeda. Aku beruntung memiliki kelebihan ini yang bisa kugunakan mencari penghasilan.
"Oh ya bicara mengenai anaknya nyonya Meina ternyata dia pria yang pernah aku kenal, Rit," ungkitku memberitahunya.
"Siapa maksudmu, Ping?" tanya Rita yang memijit kakiku yang pegal.
"Birendra, sopir taksi yang mengantarkanku itu sewaktu---" Aku tak bisa meneruskan karena tak mau mengucapkan nama pria itu lagi.
"Iya aku tahu tentang kejadian itu jadi nggak usah disebutkan."
"Jadi sopir itu anaknya nyonya Meina? Kok bisa jadi sopir? Bangkrut usahanya dulu?"
Aku menggeleng dan memberitahu kisahnya. Birendra memang sengaja melakukannya karena sedang menunggu sidang skripsi dan sebagai selingan ia menjadi sopir taksi. Namun siapa sangka, jika pria itu anak orang kaya.
"Syukur kamu bertemu dan ditolong dengannya dulu, Ping. Kalau kamu tidak bertemu pria itu bisa-bisa hidupmu berakhir di tangan orang lain," sindirnya seraya beranjak dari kamarku.
"Oh, ya pria itu tentang masa lalu kamu? Ingat jangan sampai terulang peristiwa tiga tahun lalu, Ping."
Aku menggeleng, kulihat Rita mendesah dan menghela napas lalu menutup pintu kamarku. Tiga tahun lalu aku pernah kenal dengan pria yang berprofesi pegawai bank, awalnya ia mau menerima kecacatan ini. Namun saat ia mendengar masa laluku yang buruk, ia perlahan mundur dan menghilang tanpa kabar hingga kini.
"Ibu, apa bisa mengantarkan Janar ke rumah teman?"
Janar anak tampan ini selalu meminta dengan sopan dan bertanya terlebih dulu jika ingin sesuatu. Tak sia-sia aku berlatih menjadi seorang ibu dan melakukan tugasku layaknya ibu yang lain.
"Tentu bisa, Nak. Ayo kita berangkat."
Untuk sejenak aku ingin bersama anakku dan membuang pikiran mengenang masa lalu. Lebih baik aku mengantarkan Janar ke rumah temannya sekaligus berkenalan dengan orang tuanya. Kami segera berangkat menuju rumah temannya.
"Temannya Janar itu perempuan atau laki-laki, Nak?" Sebagai seorang ibu aku ingin tahu ia berteman dengan siapa saja asal mereka anak yang baik.
"Sebenarnya dia bukan teman Janar, Bu. Dia adik kelas Janar dan baru pindah ke sini. Bu Elis meminta Janar memberi pelajaran tambahan matematika karena dia tidak bisa."
"Kenapa tidak yang lain saja, Nak? Kan masih banyak anak-anak lainnya."
"Ibu tidak suka ya?" tanyanya seraya menatapku yang sedang menyetir.
Aku menggeleng,"Tidak Nak. Hanya saja ibu takut kamu kelelahan dengan segala aktifitas kamu sekarang."
Pagi hingga siang hari Janar berada di sekolah, sore hingga malam sebelum jam tujuh ia berada di tempat karate dan latihan musik. Hanya Sabtu aku melarangnya tak melakukan kegiatan apapun agar kami bisa menikmati waktu bersama.
"Janar tidak lelah kok, Bu. Janar senang banyak kegiatan lagipula hanya sebulan dua kali saja kok."
Aku senang jika Janar berkata jujur dan terbuka dalam hal apapun, aku memang mengajarkannya sejak kecil agar dia tak berbohong. Selama perjalanan, Janar bercerita mengenai adik kelasnya yang ternyata kembar. Ia hanya mengajari salah satunya saja.
"Ini rumahnya, Bu."
Setelah berkeliling blok di perumahan mewah ini, kami akhirnya menemukan rumah adik kelas Janar. Meskipun dikelilingi rumah mewah di samping kanan dan kiri, bangunan mungil itu tampak sederhana dengan cat putih.
"Ibu, Janar ke sana dulu ya. Cuma mau antar buku ini sebentar."
Aku mengangguk seraya keluar untuk menyapa tuan rumah jika kedua orang tua teman Janar ada. Di depan pagar kayu sudah ada dua bocah laki-laki dan perempuan, adik kelas Janar. Mereka tersenyum saat melihatku. Aku membalasnya dengan anggukan kepala.
Saat aku hendak masuk ke mobil sepasang suami istri menyapaku, aku tahu dari suaranya. Mereka adalah orang-orang dari masa lalu dan yang pasti tak menyukai kehadiranku di sini. Aku tersenyum dan mengulurkan tanganku untuk bersalaman, tetapi ia menampiknya.
"Sedang apa kamu di sini, Wanita Jahat!"
"Apa kabar, Tuan dan Nona?" Aku menanyai kabar mereka saat berhadapan.
"Tentu saja lebih baik daripada sebelumnya," jawab pria itu dengan ketusnya. Aku memakluminya karena ia masih mengingat perbuatanku terhadap keluarganya.
"Kabar kami baik, Pingkan. Kamu bagaimana kabarnya?"
Hanya Nona Seruni yang masih menyapa dan membalas perkataanku. Nona Seruni dapat menempatkan dirinya saat berhadapan denganku meski aku tahu jauh di dalam hatinya ia menyimpan kebencian padaku.
"Kamu mau apa lagi? Belum cukup ya peristiwa yang dulu?" Tuan Wasa kembali mengeraskan suaranya.
"Wasa, hentikan cara bicaramu yang keras!"
"Tidak apa-apa, Nona."
Aku dapat menerimanya, tak ada sakit hati ataupun kemarahan. Tuan Wasa tampak begitu memandangku rendah dengan tatapannya. Ia melihat kakiku yang berbeda dan hanya diam saja ketika ditegur kembali oleh istrinya.
"Ayah ... ibu ... ada temanku ke sini."
Kami sama-sama menoleh dan terkejut karena ternyata rumah teman Janar adalah milik nona Seruni. Gadis kecil dan kembarannya merupakan anak pasangan yang kini tengah melihatku untuk memberi jawaban.
=Bersambung=