Selepas mengantar Janar ke tempat latihan musiknya, aku segera merapat ke salon yang ada di pertengahan kota. Ada pelanggan yang ingin dirias olehku, butuh bertahun-tahun bagiku untuk membangun usaha dari nol dan uang yang digunakan pun hasil sisa penjualan di kota lama.
"Selamat sore, Bu Pingkan," sapa karyawanku di salon.
Segala puji syukur aku panjatkan pada-Nya, aku masih diperbolehkan bekerja dan memiliki usaha. Salonku tak memiliki cabang meski ramai, karena aku takut silap mata jika membangun usaha lainnya selain salon dan rumah kontrakkan. Itu sudah lebih dari cukup membiayai kehidupanku bersama Janar.
"Selamat sore menjelang siang lebih tepatnya, Tari."
Aku melihat jam yang terpasang di dinding, rupanya hari berlalu begitu cepat padahal serasa baru tadi pagi aku bangun.
"Oh, nyonya Meina sudah datang, Tari?"
"Sudah, Bu. Nyonya Meina menunggu di ruang atas," jawab Tari sambil menunjuk ke lantai atas. Tempat tunggu pengunjung salon, aku memang sengaja menyediakan ruangan khusus untuk bersantai agar mereka tetap merasa nyaman.
"Ya sudah saya ke atas dulu ya."
Aku lihat Tari mengangguk, di antara semua karyawan di sini hanya Tari anak magang. Ia sekolah di SMK dan pihak sekolahnya menyuruh untuk bekerja di sini sebagai nilai tugas, awalnya aku tak mau terima tapi tekatnya membuatku mau menerimanya sebagai karyawan.
"Selamat sore, nyonya Meina. Maaf saya agak terlambat."
Aku menyapa seorang wanita yang duduk di ruang santai sambil menikmati secangkir teh, ia lalu tersenyum menyambutku yang baru saja datang dari anak tangga. Orang lain naik tangga dengan mudah, beda halnya denganku.
"Tidak apa-apa, Mbak Pingkan. Saya baru saja datang kok."
"Ada acara apa di malam hari, Nyonya. Biasanya acara yang nyonya hadiri siang atau sore?"
"Kamu memang sudah tahu kebiasaan saya ya. Nggak heran saya ini cocok sama salon di sini, selalu siap melayani," kata nyonya Meina mengacungkan jempolnya.
Memang salonku ini sudah tutup satu jam lalu, tetapi karena nyonya Meina yang menelepon sendiri untuk datang merias diri di salonku maka mau tak mau aku menyanggupinya, aku tak mau kehilangan pelanggan.
"Ah, nyonya bisa saja. Saya senang kalau nyonya menghubungi saya kapanpun asal saya tidak sibuk saja," jawabku sambil menyiapkan peralatan perang yang akan aku gunakan sekarang.
"Saya ini ikut arisan, Mbak. Nah kebetulan acaranya dua jam lagi, tadi siang diberi kabar mendadak kalau jadwalnya berubah. Saya pikir mbak Pingkan nggak mau terima kedatangan saya, eh nyatanya mau," sahut nyonya Meina seraya duduk di kursi siap untuk aku rias.
"Jika nyonya ada acara mendadak, telepon saya saja langsung. Saya bisa datang kok."
"Oh, ya? Kalau saya suruh mbak Pingkan ke rumah, apa mau nih?" tanya nyonya Meina dengan wajah berseri-seri saat aku lihat di cermin.
"Iya, Nyonya. Lagipula saya juga tidak sibuk, Nyonya."
Memang pada kenyataannya aku tidak sesibuk pegawai yang bekerja di perusahaan. Jam delapan pagi hingga sore aku ada di salon, mengawasi para pegawaiku kadang juga turun tangan sendiri melayani customer. Masalah kontrakan yang memiliki sepuluh kamar di dekat kampus, aku hanya datang seminggu sekali.
"Wah saya bersyukur bisa menemukan salon yang mau dipanggil kapan saja. Karena mereka rata-rata menyuruh saya datang ke salonnya padahal kaki saya ini sering sakit, Mbak," keluhnya dengan memegang lutut.
Nyonya Meina sering mencurahkan isi hatinya jika sang anak jarang ada di rumah, ia hanya ditemani oleh pelayan yang setia menunggu ke manapun nyonya Meina pergi. Aku menghabiskan waktu bersamanya hanya satu jam dengan menata rambut dan juga riasannya.
"Terima kasih, Mbak Pingkan. Saya selalu puas dengan hasilnya."
Aku tak pernah mengecewakan customer dengan hasilnya, bagiku mereka adalah raja yang harus dilayani baik dan penuh hormat tak peduli mereka kaya atau miskin. Sepeninggal nyonya Meina, aku mengunci tempat ini karena Tari sudah pulang terlebih dulu. Sebentar lagi Janar pulang dari kursusnya dan aku harus segera menjemput.
****
Aku memarkirkan mobil dan menyandarkan tubuh sejenak melas lelah sebelum Janar keluar dari tempat kursusnya. Di antara semua pilihan yang pernah aku ajukan, ia lebih memilih musik dan karate. Ia dan ayahnya--Dave memang sama-sama menyukai segala jenis musik.
Suara bel menandakan pulang sudah terdengar, sebentar lagi anak tampanku akan muncul dengan wajah ceria sambil bercerita mengenai peristiwa yang ia alami atau sekedar berbincang tentang teman-teman lainnya.
"Bagaimana kursusmu hari ini, Nak?"
Kulihat wajah Janar yang agak kesal dengan seseorang, mungkin ia habis bertengkar dengan teman atau ada sesuatu yang membuatnya mendiamkanku. Aku melanjutkan menyetir dan membiarkan Janar dalam diamnya dulu hingga ia mau membuka suaranya.
Sejak kecil, ia akan berdiam diri dulu sebelum menceritakan semua masalah yang membuat hari-harinya mengesalkan. Aku tak tahu sifatnya dari siapa? Karena Dave bukan tipe orang seperti Janar. Aku berkeyakinan jika Janar memiliki sifat Nuri.
"Janar lagi kesal sama pelatih, ia lebih memilih Dimas yang mewakili lomba tersebut. Padahal Dimas sudah tiga kali mengikuti kompetisi lomba yang sama," sungutnya kesal.
Benar, bukan? Aku tak mau memaksanya untuk bercerita sebelum ia benar-benar membuka suaranya. Dugaanku benar jika ia sedang ada masalah sesuatu di tempat kursusnya.
"Mungkin Dimas yang dipilih, Nak. Suatu saat pasti ada kesempatanmu," ujarku berusaha menenangkan.
"Bukan begitu, Bu. Janar tak masalah jika Dimas yang dipilih tapi harus yang adil dong. Di antara Janar, Jaka dan Dimas. Dimas terus yang dipilih sama pak pelatih," gerutunya menahan marah.
"Dimas yang ayahnya kerja di Pemerintahan itu, Nak?"
"Iya benar, Bu. Ayahnya meminta agar Dimas yang maju terus ke kompetisi lomba. Padahal jelas-jelas cara bermain musiknya tidak mumpuni."
"Kamu mau pindah tempat, Nak? Ibu bisa mencarikan tempat lainnya?"
Aku menawarinya untuk pindah saja, sebagai seorang ibu yang mengetahui kemampuan cara bermain musiknya tentu saja ada perasaan jengkel. Aku tak membanggakan diri karena Janar piawai bermain segala jenis alat musik meskipun bukan Janar yang maju saat ini tak masalah agar pelatihnya bersikap adil.
"Tidak akan, Bu. Janar ingin membuktikan kalau Janar bisa dengan kemampuan sendiri tanpa bantuan uang dari keluarga," katanya dengan mantap.
"Itu baru anak ibu. Tidak pantang menyerah."
Tak ada yang bisa aku lakukan selain tetap memberinya dukungan dan semangat. Aku tahu di balik semua kemenangan Dimas ada campur tangan sang ayah agar ia memenangkan kompetisi demi mengharumkan nama kota kecil ini. Uang dan kekuasaan menjadi pemegang kendali atas segalanya, bukan?
Aku pun pernah merasakannya dulu, tetapi tak mau lagi seperti itu. Aku ingin menghasilkan uang dengan halal dan hasil dari keringat sendiri. Sampai kapanpun, aku tak mau menggunakan uang untuk sesuatu yang tidak halal.
=Bersambung=