Sabtu pagi ini aku harus mengantarkan Janar kepada ayahnya. Dave yang awalnya dipindahkan ke Jakarta kini ditempatkan di rumah sakit ini sehingga aku maupun Janar bisa mengunjunginya kapan saja. Ya walaupun kedatanganku tak pernah disambut baik oleh nyonya Geni Melani.
"Kamu mau lain kali ke sini, Nak?" Aku bertanya karena Janar sepertinya enggan turun.
"Tidak usah, Bu. Kita kunjungi ayah saja hari ini."
"Kenapa? Ada yang menganggu pikiranmu?"
"Bukannya Janar tak suka mengunjungi ayah tiap akhir pekan melainkan Janar tak suka dengan cara nenek Geni bicara."
Oh itu rupanya. Pertama kali bertemu, Janar sudah menunjukkan rasa tidak sukanya apalagi saat ia tahu jika nyonya Geni adalah neneknya. Ia sadar karena selama ini nyonya Geni memandangnya sebelah mata dan aku tak pernah mengajarkannya untuk membenci sang nenek.
"Nenek Geni memang begitu kalau bicara tapi orangnya baik kok, Nak."
"Baik apanya? Kalau ketemu, ibu yang selalu kena marah padahal ibu tidak tahu apa-apa."
"Ibu nggak apa-apa kok, Nak. Ibu sudah biasa mendengar kata-kata nenek Geni, jadi ibu nggak sakit hati sama sekali."
Sepuluh tahun aku sudah kenyang dengan segala macam hinaan, kalimat kotor dan tatapan menusuk dari nyonya Geni. Semua itu aku terima dengan ikhlas dan tak mempermasalahkan sama sekali.
"Ya sudah kita turun yuk. Ayah pasti menunggumu, Nak."
Dengan wajah cemberut, Janar pun turun dari mobil dan membiarkannya berjalan terlebih dulu. Jalannya gontai meski ia senang bertemu ayahnya, tetapi ia tak suka jika bertemu nyonya Geni.
"Saya kira kamu nggak bakalan datang ke sini."
Aku hanya tersenyum menanggapi, beda dengan Janar. Anak itu malah memalingkan wajah saat nyonya Geni hendak memeluknya. Hal yang tak pernah ia lakukan bertahun-tahun lalu.
"Bocah ini pasti meniru sikapmu!"
"Saya bukan bocah, Nek. Panggil nama saya kalau mau memanggil."
Aku menyenggol lengannya, aku tak mau membuat keributan hari ini. Nanti nyonya Geni malah menuduhku tak bisa mendidiknya selama ini.
"Kamu tuh masih bocah tidak tahu apa-apa," dengkus nyonya Geni.
"Di mata nenek mungkin saya masih bocah, tetapi setidaknya saya dapat membedakan perkataan yang halus dan kasar," sungut Janar sembari berlalu dari hadapan kami lalu masuk ke ruang rawat inap Dave.
"Jangan mendidik cucu saya dengan perilaku-mu yang tidak benar, Pingkan!"
"Saya tidak pernah mengajarkan Janar menjadi anak yang buruk, Nyonya."
"Kalau begitu, kenapa anak itu kurang ajar dengan saya?" Nyonya Geni masih tak terima karena Janar berlaku tak sopan.
"Kamu jangan masuk ke sana. Biarkan Janar bertemu ayahnya sendiri," sambungnya pergi dari hadapanku dan menutup pintu kamar dengan kasar.
Aku hanya mengangguk dan menunggu Janar di depan sini saja. Aku tak menyalahkan Janar jika ia tak menyukai nyonya Geni sebagai neneknya, karena perasaannya terluka mana kala ia mendengar pembicaraan nyonya Geni di depan para perawat jika ia bukan cucunya.
****
["Dasar pelakor."]
["Tukang selingkuh."]
["Pembunuh."]
Aku sudah tak menghitung lagi berapa kali tulisan itu ditempelkan di salonku selama dua bulan ini dengan rentang hari yang berbeda. Aku tahu siapa pelakunya karena hanya dia yang sering berkoar-koar mengenai diriku, Rukma namanya. Ia pemilik salon baru yang berjarak dua gedung dari salonku.
Selama ini aku tak pernah marah atau menghampirinya karena tak mau mencari ribut, tetapi kali ini dia sudah keterlaluan sekali. Tak masalah jika dia menjelekkanku atau menghina diriku asal jangan Janar.
Aku meremas kertas bertulisan ['Anakmu itu anak haram. Silakan pergi dari kota ini.'] ada perasaan marah saat dia menulis kalimat yang akan menyakiti hati Janar.
"Kenapa? Marah ya?"
Rukma datang dengan pongah sambil menyilangkan kedua tangan dan tersenyum penuh kemenangan karena ia berhasil memancing amarahku.
"Marah? Kalau boleh jujur ya aku marah dengan anda, tapi aku terlalu bodoh jika menanggapi orang seperti anda yang tidak tahu diri."
Namanya kota kecil, pasti ada saja yang datang untuk melihat pertengkaran ini. Namun aku tak mau menunjukkan emosiku saat ini, itu akan menguntungkan dirinya. Para pegawaiku bahkan ikut keluar melihat peristiwa ini.
"Memang benar kan anakmu itu anak haram? Mana ayah?" Ia mencebik dan memberi tatapan menghina.
"Hei teman-teman, siapa tahu wanita ini korban pelecehan atau calonnya kabur setelah tahu ia hamil di luar nikah," imbuhnya lagi.
"Mbak Rukma, kalau tidak tahu apapun mengenai saya jangan sok memberitahu orang lain. Urusi saja masalah anda," sahutku mencoba untuk berusaha tenang.
"Lihat kan, wanita itu emosi. Jadi benar dong kata-kata saya?"
"Asal mbak Rukma tahu. Janar bukan anak kandung saya, ia pun sudah tahu siapa ayah dan ibunya yang sesungguhnya. Kalau mbak Rukma mau tahu, ini foto ayah dan ibunya Janar."
Aku memperlihatkan foto pertunangan Dave dan Nuri dulu, untung saja pernah mengambilnya di ponsel Nuri. Semua orang yang berdiri ikut melihat.
"Ibunya adalah sahabat saya yang meninggal karena melahirkan sedangkan ayahnya ada di rumah sakit selama ini karena koma. Jadi saya yang mengurus semuanya. Apa jawaban saya memuaskan anda, Mbak Rukma?"
"Mungkin itu alasan anda semata," ucapnya tak percaya.
"Datanglah ke makam ini dan rumah sakit yang saya tulis di sini. Mbak Rukma bisa datang dan mencari tahu," kataku menyerahkan coretan berisi alamat makam Nuri dan rawat inap Dave.
"Lalu bagaimana dengan kehidupanmu dulu? Bukankah yang saya tulis benar adanya?"
Aku memandang semua orang yang tinggal di sekitar salon, banyak dari mereka yang sudah tahu mengenai diriku makanya mereka tak banyak bicara. Dulu akupun diperlakukan seperti layaknya sampah oleh mereka karena masa laluku, tetapi aku tak mau peduli. Aku di sini untuk memulai kehidupan yang baru dan membersihkan dosa-dosa juga menebus kesalahan dengan menolong mereka yang tak mampu.
"Iya benar semua. Tapi cuma satu yang anda salah. Saya bukan pembunuh. Kalau anda masih ingin mencari kesalahan saya terus, silakan anda melempar batu ini ke arah saya. Itupun kalau anda tidak memiliki dosa sejak kecil."
Aku menyerahkan batu berukuran kecil ke tangannya agar dia puas melampiaskan bentuk rasa irinya kepadaku. Aku tahu dia hanya iri karena salonku lebih ramai daripada miliknya. Rukma menghentakkan kaki dan berlalu dengan sewot.
"Dia hanya iri sama sampeyan, Mbak. Nggak usah dipikirin."
"Iya Mbah. Saya paham."
Butuh bertahun-tahun membuat penduduk sini mau menerima masa laluku dan memberiku sebuah kepercayaan. Mereka tahu dari televisi yang menayangkan kecelakaanku dan Dave dulu, awalnya aku kesusahan karena setiap hari mereka menuliskan kata yang menohok atau melempar batu kerikil ke arahku.
Namun aku selalu ingat perkataan paman, balaslah kejahatan dengan kebaikan. Meskipun sangat menyakitkan dan melukai tetaplah membalasnya dengan hal ataupun tindakan yang baik. Ajaran paman aku tanam dalam pikiranku hingga kini.
Aku membantu mereka dengan tulus, membangun puskesmas terdekat dan mobil ambulance. Tentu saja awalnya menolak, tetapi aku gentar. Aku tahu mereka akan menerimaku tinggal di sini. Perjuanganku tak sia-sia hingga suatu hari mereka datang ke salon dan menyambutku dengan hangat.
=Bersambung=
Note :
Part selanjutnya akan saya update setelah surat kontrak dari Innovel turun ya.