Part 4 Kehidupanku 2

1614 Words
"Tante, dibeli dong bunganya saya. Sudah seharian jualan saya tidak laku." Saat bersantai di sebuah kafe sambil mengecek hasil pemasukan hari ini, ada bocah pria yang usianya sama dengan Janar sedang menawariku setangkai bunga mawar putih dan kuning. Aku sudah tahu sejak tadi ia memperhatikan, tetapi memilih diam. "Berapa, Nak?" "Satu tangkai ini harganya 7500, Tante," katanya dengan senang. "Di keranjangmu ada berapa semua bunganya?" Aku melihat masih banyak bunga yang belum laku dan hampir layu. "Ada sepuluh, Tante. Kalau tante mau beli, saya beri diskon jadi 5000 deh." "Tante beli semuanya, ya tapi tante minta tolong. Diikat yang rapi semuanya," sahutku yang membuat anak itu tampak gembira dan mengangguk. Ia melakukan semua yang kuperintahkan, sepuluh ikat bunga itu ia jalin menjadi satu dengan rapi. "Saya nggak punya kembaliannya, Tante. Saya tukarkan dulu ya." Aku menarik tangannya dan menggelengkan kepala. Aku biarkan bunga itu senilai harga yang normal dan membayarnya dengan uang tanpa kembalian, biarlah sisa uangnya bisa ia gunakan untuk keperluan lain. "Kamu sudah makan, Nak?" Tubuh bocah itu tampak kurus dan tak terawat, aku tahu sejak tadi perutnya sudah berbunyi karena lapar. "Belum, Tante. Kan harus nunggu bunga itu laku dulu." Di saat seperti ini, ia masih bisa tertawa ceria. "Di rumahmu ada berapa orang?" "Ada ibu dan dua adik, Tante. Ada apa, Tante?" Ia bingung saat aku ingin tahu mengenai keluarganya. "Tidak apa-apa. Tante hanya ingin tahu saja. Tunggu di sini dulu ya. Jangan ke mana-mana sebelum tante datang." Bocah itu tak paham maksudku tapi ia menganggukkan kepala sambil duduk di sana. Sementara aku masuk ke kafe untuk membeli sepaket ayam goreng, nasi dan lauk lainnya. Selagi pelayan kafe menyiapkan pesananku, aku melihat bocah itu hanya diam saja padahal di sana ada laptop dan kunci mobil. "Ini buat kamu, Nak. Sekarang pulanglah dan makanlah ini bersama keluargamu ya." "Ini benaran buat saya, Tante?" Ia bertanya, aku mengangguk sembari tersenyum. "Terima kasih Tante. Kami jarang makan ayam, hanya saat tetangga merayakan Lebaran dan Natal, kami bisa makan seenak ini." "Sekarang pulang gih. Kasihan adik-adikmu menunggu kamu pulang dan ini hampir malam." Aku menyuruhnya lekas pulang dan ia menunduk penuh hormat padaku seraya menangis. Aku tahu rasanya kelaparan dan tahu bagaimana susahnya mencari uang di saat kanak-kanak dulu. Diabaikan oleh pembeli, diusir oleh pemilik toko dan tidak ada orang yang mau membeli dagangan kita. Masa lalu di masa kecil menjadikan aku menjadi sosok yang penuh kebencian pada kemiskinan. Aku iri pada teman sekolah yang tak bekerja sepulang sekolah sedangkan diriku harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ayah tak mampu bekerja hanya karena sakit sedangkan ibu seorang pembantu rumah tangga. Malu? Tentu saja. Mana ada yang tak merasakan rasa iri di saat yang lainnya bermain dan belajar bersama, aku mengitari jalanan menjajakan kue buatan ibu. Ah, membayangkan itu aku tak lagi membenci keadaan yang dulu justru aku ingin kembali dan meminta ampun pada ibu karena terkadang sikapku membuatnya menangis. Sebenarnya ibu memiliki kehidupan yang baik sebelum menikah dengan ayah. Kakek memiliki toko bangunan yang tidak besar tapi ada sepuluh karyawan. Rata-rata kakak dan adik ibu menikah dengan pegawai negeri sipil. Meskipun tidak kaya keluarga ibu bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga kuliah jenjang D1 saja. Ibu diusir oleh kakek karena menikah dengan seorang sopir di toko bangunan yang tak lain adalah karyawan kakek sendiri. Ibu tak lagi dianggap anak dan saudara oleh keluarganya, ia memilih pergi dari tempat nyamannya selama ini dan tinggal bersama hingga mereka menikah di rumah kontrakan. Ayahku bernama Prambudi, ayah adalah sosok suami dan bapak yang baik, penyayang keluarga juga bertanggung jawab. Ayah tak hanya bekerja sebagai sopir tetapi juga buruh apapun asal menghasilkan uang. Ibu yang semula dimanja harus bekerja sebagai pembantu di sekitar rumah kami, ibu tak malu justru ia senang melakukannya. ["Ingat, Nak! Meski kita ini orang tidak punya apa-apa. Jangan pernah membuat hati dan pikiranmu dipenuhi kebencian akan kemiskinan."] ["Ayah yakin suatu hari nanti kamu jadi orang sukses. Teruslah belajar dan jadi orang baik hati."] Nasehat ayah dan ibu menjelang tidur selalu aku dengar, tetapi aku tak bisa menyimpan di hati maupun pikiran dan melakukannya karena saat ayah jatuh sakit tak ada yang mau menolong. Keluarga ibu menyalahkannya sebab menikah dengan orang miskin. ["Uang saja yang kalian pinjam kepada kami. Pinjaman bulan lalu saja belum lunas masih mau minjam lagi."] ["Coba kamu nikah sama anak Pak RT dulu, kehidupanmu nggak bakal seperti ini."] ["Maaf, Samita. Kami nggak bisa meminjamkan uang sama kalian lagi."] Aku masih ingat dengan jelas saat kakak pertama dan adik ibu mengusir kami saat datang ke rumah mereka. Lebih parahnya lagi, mereka mengatai kami sebagai orang melarat dan kumuh yang tak boleh datang ke rumahnya lagi. Hanya kakak kedua saja yang mau menolong kamu, membiayai rumah sakit hingga pemakaman ayah hingga tuntas. Paman Agus memang memiliki nasib yang sama dengan ibu, ia diusir oleh kakek karena menikah dengan gadis yang berbeda adat. Beruntungnya dari paman Agus adalah ia dan istrinya seorang pekerja kantor meski gaji mereka tidak tinggi. "Hei melamun lagi! Aku panggil sedari tadi nggak didengar. Lagi membayangkan apa sih?" Tepukan tangan Rita yang keras membuat lamunanku terhenti, di sampimgku ada sepupu cantik yang sudah pulang dari tempatnya bekerja. Aku sengaja menjemputnya, kebetulan arah tempat salon dan tempat kerjanya searah dengan jalan pulang ke rumah. "Nggak ada. Asyik aja melamun sambil dengerin lagu kenangan." Saking enaknya mendengar lagu di kafe, aku larut dalam kenangan masa kecil dulu. "Kenapa ada bunga sebanyak ini? Mau kamu buat apa, Ping?" tanya Rita melihat ikatan bunga yang ada di atas meja. "Aku membantu membelinya dari seorang bocah tadi. Kasihan bunganya nggak laku." "Nggak kayak kamu deh. Kamu mana pernah mau bantu orang lain dulu," sindir Rita sembari membawa bunga itu menuju mobilku. "Itu kan dulu, Rit. Sekarang aku berbeda." Itulah Rita yang selalu berbicara tanpa berpikir dulu meski perkataannya memang benar. Dulu saat aku masih memiliki segalanya, aku mencemooh pedagang atau penjual pinggir jalan. Namun Pingkan yang dulu sudah tidak ada lagi, ia berubah seiringnya waktu berjalan. **** "Maaf kami tidak bisa menyelamatkan nyawa ayah anda, Pak." Aku sempat mendengar pembicaraan seorang dokter dengan keluarga pasien saat aku datang ke rumah sakit melakukan uji coba pemasangan kaki palsu yang baru pagi ini. Aku tahu perasaan keluarga yang ditinggal oleh orang yang dicintai begitupun dengan diriku. Sakit ayah yang terlambat dalam penanganan membuatnya meninggal sebelum diperiksa oleh dokter. Hanya ada aku dan ibu yang mengantarkan ayah naik becak ke rumah sakit, di dalam ingatan ini aku melihat ayah tergeletak di lorong tanpa ada seorang dokter atau perawat yang memeriksa. Kami tak bisa menyalahkan mereka karena aku tahu kami bukanlah orang beruang yang dapat langsung masuk begitu saja. Uang adalah kendalanya, ibu tak memiliki cukup uang hingga dengan terpaksa meminta tolong pada paman Agus. Setiap kenangan buruk tersimpan begitu rapi di memori otakku ini meski aku sudah memaafkan semua perbuatan orang-orang di masa lalu, tetapi entah kenapa begitu sulit menghapusnya. Aku tak memiliki kenangan indah yang banyak bersama ayah dan ibu, namun perhatian mereka membuatku tak bisa lupa. Raungan tangisan dari keluarga pasien tadi menyadarkanku betapa hidup ini hanya sementara saja, mereka yang ada di sisimu akan pergi sewaktu-waktu dan meninggalkanmu dalam kesepian. Baik itu sahabat atau keluargamu. Beberapa tahun setelah ayah meninggal, ibu pun turut pergi dari sisiku selamanya karena sakit kanker otak yang dideritanya selama ini. Sekali lagi terlambat untuk ditangani karena kankernya sudah memasuki stadium akhir. Rasanya duniaku gelap dan tak berwarna lagi. ["Pingkan mulai sekarang kamu tinggal di sini bersama paman bibi dan Rita. Paman tidak akan pernah membiarkanmu masuk panti asuhan."] ["Kalau tinggal di sini, jangan merepotkan kami."] Aku tahu dari mana ucapan pedas yang sering terlontar dari bibir Rita, itu dari bibi Mareta. Bibi memang tidak pernah sekalipun membentak, memarahiku atau memukul seperti yang aku dengar dari berita-berita di televisi. Bibi tak banyak bicara, selama aku tinggal di sini hingga dewasa mungkin hanya bisa dihitung jari ia mengajakku bicara lama. Namun aku tahu dengan caranya sendirinya bibi menyayangiku, tanpa aku ketahui di saat teman mengolok-olok penampilanku ini. Bibi segera memarahi orang tua mereka dan langsung membelikanku pakaian juga memotong rambutku. ["Bibi tidak mau kalau orang menganggap bibi ini jahat pada keponakan."] Bibi adalah orang pertama saat aku jatuh pingsan di sekolah karena ada lomba lari meski aku tak menang sama sekali begitu juga dengan Rita yang menangis karena tak juara. ["Jangan cengeng, Rita. Lihat sepupu kamu tuh, ia kuat walau jatuh dan pingsan."] Bibi memang seperti itu orangnya berbeda dengan paman Agus yang mengajak kami jalan-jalan meski naik angkutan umum dan makan di pinggir jalan. Paman mengajari kami mengenai kehidupan jalanan dan tak menginginkan kami untuk menjadi anak nakal. Sayangnya, aku dulu mengabaikan nasehatnya. Hal terakhir yang aku ingat saat bibi meninggal adalah perkataannya yang berbisik di telinga dan untuk pertama kalinya ia menunjukkan senyumannya padaku. ["Maafkan bibi selama ini, Ara. Bibi tidak tahu bagaimana memperlakukanmu dengan baik dulu tapi ingatlah bibi menyayangimu dan jadilah ibu yang baik untuk Janar."] Bibi tidak pernah memanggil nama depanku, kadang menyebut nama belakangku atau hanya dengan 'kamu' saja. Tak masalah bagiku asal bibi tidak pernah berbuat jahat padaku. Namun aku bersyukur di sisa hidupnya, aku bisa membalas budi baiknya selama ini. Jika bukan bibi dan paman yang menyelamatkanku dari penjualan anak untuk dijadikan wanita nakal, mungkin hingga sekarang aku hidup di sarang harimau. "Mbak, sepertinya nama mbak dipanggil." Seseorang di sebelah menepuk bahuku saat aku tak mendengar. Gadis muda yang memanggilku ternyata memiliki kesamaan denganku, tangan kirinya dipasang tangan palsu. Aku ingin berkenalan dengannya, tetapi tak bisa karena ini jadwalku untuk pemeriksaan rutin. Sebelum masuk ke ruang dokter, aku melihat nyonya Meina bersama pria muda. Aku yakin itu pasti anaknya yang pernah ia ceritakan padaku. Nyonya Meina tampak berbinar dan tertawa. Namun sepertinya aku pernah mengenal pria itu? Tapi siapa? Dan di mana aku pernah bertemu? =Bersambung=
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD