Part 5 Kehadiran Dave Dalam Hidupku

1615 Words
Seharusnya hari ini Janar ditemani oleh kedua orang tua yang lengkap karena ada acara sekolah yang meminta kehadiran ayah dan ibu. Namun Janar menyadari jika hal itu tak mungkin terjadi, Dave tak bisa hadir dan hanya aku yang bisa datang. Ada kalanya aku melihat Janar memandang keakraban antara teman bersama ayahnya. "Apa kamu tidak masalah dengan ini, Nak?" tanyaku saat tanpa sengaja aku melihatnya sedang memandang Dimas bersama ayahnya. Sungguh di saat seperti ini aku merasa bersalah, Nuri dan Dave-lah yang menemani Janar hari ini. Meskipun Dave sudah mulai bisa bicara dengan lancar, tetapi ia belum bisa ke manapun karena harus berada di kursi roda. "Janar tidak masalah kok, Bu. Asal ada ibu sudah cukup buat Janar." Aku tahu ia berbohong. Aku memberinya dekapan hangat dan menepuk punggungnya guna memberinya semangat, aku tahu ia menginginkan Dave ada di sini guna bermain dan belajar bersama. Mungkin tahun depan, Dave bisa ikut bersama kami. "Kalau begitu anak ibu harus tetap semangat hari ini!" Aku memberinya kata-kata penyemangat. Tak ada yang bisa kulakukan selain memberinya energi kebahagiaan. Aku dan Janar turun dari mobil juga tak lupa membawa makanan yang memang harus disiapkan para ibu untuk makan bersama. Janar turut membantuku membawa bakmi goreng sesuai permintaan grup para ibu. Ah, mengenai grup di pesan itu memang sekumpulan para ibu yang ada di sekolah. Sejatinya grup itu untuk sekedar memberi informasi tentang kegiatan kelas Janar dengan teman-teman lainnya, tetapi lama-lama malah merambat urusan gosip. Aku pun sering mengabaikan pesan-pesan mereka. "Hei ada ibu Pingkan. Di mana suaminya?" "Oh ya ampun, kami lupa, Bu Pingkan. Maaf kata-kata kami," timpal ibu Libbi, teman Janar. Entahlah mereka ini padahal sudah tahu tentang kisah hidupku malah bertanya terus. Sebenarnya yang lupa ingatan itu aku atau mereka? Aku hanya mengulas senyum sambil berjalan di samping Janar. ["Nggak sangka dulunya wanita itu pelakor loh."] ["Kok anda tahu, Jeng?"] ["Dulu ia pernah bertetangga dengan adik aku di Surabaya."] Aku dengar pembicaraan mereka yang ada di belakang dan tak mungkin bisa marah ataupun memukul mereka karena itu benar adanya. Aku memilih diam dan lebih memperhatikan Janar saat ini, aku takut ia mendengar gosip menjelekkanku. Suatu saat nanti biarlah ia tahu tentang kisah hidupku dulu. "Ibu, hari ini ada pembacaan surat dari anak untuk orang tua. Ingat loh Janar tidak mau sampai melihat ibu menangis saat Janar membacanya di depan podium." Janar berulang kali memberitahuku mengenai hal ini, ia tak mau melihat aku cengeng. Entahlah surat apa yang akan ia bacakan untukku. Rita pun sudah mewanti-wanti agar aku menyiapkan tissue yang banyak nantinya. "Janar mau antar ini dulu. Ingat loh ya, Bu!" Janar memperingatiku sebelum ia mengantarkan bakmi itu ke ruang kantin. "Harusnya anak anda itu tidak bersekolah di tempat bergengsi ini," sindir seseorang di sampingku dengan lagaknya seperti bos besar. "Karena apa? Ada alasannya, Nyonya Fina?" Aku menyahut dengan tenang pada seorang wanita yang tak lain adalah ibu dari Dimas, saingan Janar di tempat kursus musik. "Anda itu tidak pantas berada di sini. Anak nggak jelas keturunannya masuk ke sekolah sini," katanya dengan ketus. Beberapa teman gengnya menatapku dengan mencemooh. "Saya sanggup membiayai seluruh kegiatan sekolah anak saya. Lalu masalahnya apa, Nyonya Fina? Apa karena ia tidak memiliki orang tua yang utuh?" "Sekolah sini terkenal dengan peraturan ketat dan mereka juga menilai sikap orang tua yang baik sedangkan anda sendiri bagaimana? Dengar-dengar anda itu perebut suami orang demi uang," sindir yang lain seakan aku dihakimi. "Kata anda sekolah sini akan menerima murid jika orang tua memiliki sikap yang baik, lalu apa bedanya dengan kalian semua yang mencibir dan menjelekkan sesamanya?" Aku memang tak marah dan kadang diam jika bertemu dengan mereka yang terus menghina masa laluku, tetapi bukan berarti aku tak bisa tegas dengan mereka. Ada hal di mana mereka sudah melewati batas. Mereka diam seketika, mungkin sadar akan ucapanku. "Sayang, ada apa?" "Dave?" Aku merasakan sentuhan tangan memegang jemariku dan itu ternyata Dave yang datang bersama Vero--adiknya. Aku benar-benar tak menyangka jika ia datang meski harus menggunakan kursi roda. "Maaf aku tadi sedang ada pemeriksaan jadi tidak bisa berangkat bersama, Sayang." Sayang? Aku mengernyitkan dahi. Sejak kapan Dave memanggilku dengan sebutan itu? Apa ini sandiwara yang harus kita mainkan? Karena aku melihat Vero memberi tanda dengan matanya. "Ah iya, Sayang. Tidak apa-apa kok." Aku pun ikut dalam permainannya. "Saya ayah kandung dari Janar, Nyonya. Pasti kalian semua tahu mengenai saya, bukan? Jadi saya tidak perlu menjelaskan lagi." Dave sudah mulai memperbanyak kosa katanya, nada suaranya tidak lagi kaku. Aku tahu ia banyak belajar selama empat bulan ini dengan usaha keras dan ia berhasil melakukannya pelan-pelan. "Oh maafkan kami, Pak. Kami menyangka jika Nyonya Pingkan adalah ibu tirinya yang jahat," kata salah satu dari wanita kumpulan geng Fina dan itu membuatku ingin tertawa. "Memang Pingkan adalah ibu tirinya, tetapi wanita ini adalah segalanya bagi anak saya. Ia sudah tahu siapa ibu kandung dan ibu tirinya," sahut Dave tak terima. Mereka diam hanya melihat keadaan Dave yang tiba-tiba hadir, selama ini mereka hanya mendengar kabar burung jika ayah Janar tak menginginkan kehadirannya padahal bukan seperti itu kenyataannya. Memang ada beberapa manusia itu memiliki sifat bertolak belakang dari sifat aslinya. "Ayah .....!" Untunglah Janar menjadi penyelamat karena jika tidak Dave akan terus memberi nasehat dan pengertian kepada para ibu yang mulai menunjukkan rasa malu, mereka sudah mengejek kehidupan Janar. Mereka boleh menghina masa lalu ataupun hidupku, tetapi jangan pernah menyebut anakku lahir tanpa ayah. "Maaf, Nyonya sekalian. Kami duluan." Aku melewati mereka sembari memberi senyuman sebagai bentuk kemenangan, andai Dave tak datang tepat waktu mungkin saja mereka akan terus mencari celah masa laluku dan Janar sebagai bahan gosipnya. "Ayah katanya nggak bisa datang, tapi Janar bahagia karena ada ayah dan ibu di sini," ujar Janar seraya mendorong kursi roda Dave menuju berlangsungnya acara. Hari ini aku senang bisa melihat keceriaan di wajah anakku meskipun aku tahu posisiku bukan di sini seharusnya ada Nuri yang mendampingi Janar dan Dave. Tahun-tahun tanpa Dave di sisiku dalam membesarkan Janar terasa berat. Perjuanganku memperoleh hak adopsi Janar terbilang susah karena statusku yang belum menikah dan salah satu syarat yang berat adalah tidak adanya tindakan kriminal. Pada akhirnya bibi dan paman yang bersedia menjadi orang tua adopsi Janar, hanya sebagai syarat yang diajukan sedangkan hal lainnya aku yang menjalankannya. ***** ["Aku sebenarnya memiliki tiga orang ibu. Ibu yang mengorbankan nyawanya demi melahirkan, ibu yang memberi namaku di akta keluarganya dan terakhir ibu yang membesarkanku serta mendidikku penuh kasih sayang. Aku menyayangi mereka semua terutama ibu yang bernama Pingkan, aku bangga memilikinya sebagai ibu."] Aku masih saja menangis kalau ingat surat yang dibaca Janar di depan pondium tadi. Bayi yang aku gendong dalam dekapan itu kini tumbuh menjadi bocah bertanggung jawab dan penuh perhatian. "Sudah hentikan tangismu, Ping. Nanti disangka aku menyakitimu," kata Dave memperhatikanku sejak tadi yang memegang bunga pemberian Janar. "Ih Dave. Aku ini terharu karena Janar menulis surat itu dari hatinya sendiri," jawabku tak peduli menjadi tontonan orang-orang. Saat ini aku dan Dave berada di sebuah kafe sebelum pulang ke rumah sakit, Vero sudah aku suruh pergi dulu tadi dan membiarkan diriku yang mengantarkan Dave nanti. "Kamu itu lucu. Kenapa harus pakai acara menangis segala sih?" "Itu karena aku menyayanginya bagaikan anakku sendiri, Dave. Butuh waktu aku untuk bisa bersamanya. Saat semua orang tak menginginkannya, aku yang berjuang untuk mendapatkannya." Aku lihat wajah Dave penuh kesedihan, mungkin aku salah ucap. "Maaf kalau kata-kataku membuatmu sedih, Dave," ralatku memberitahu. Aku menyesal telah mengucapkannya. "Kamu nggak salah, Ping. Kata Vero, kamu yang memperjuangkan Janar hingga bisa diasuh oleh paman dan bibimu. Andai tidak ada kamu, mungkin aku akan terpisah jauh dari anakku, Ping. Aku bersyukur ia bersamamu bukan orang tua asuh lainnya." "Pertama kali saat dokter menaruhnya di gendonganku, aku merasa ada ikatan yang tak bisa aku jelaskan. Matanya yang menatapku seakan bicara kalau aku adalah ibunya kini," timpalku mengingat kelahiran Janar. Aku memang tidak akan pernah bisa melahirkan selamanya, tetapi diri ini bahagia meskipun ini hukuman dari Tuhan. Aku tetap menjalani kehidupanku yang sekarang penuh suka cita dan kebahagian bersama Janar. "Terima kasih, Ping. Tanpa kehadiranmu selama ini, aku tak mungkin berada di sini pada tahun ke lima saat ibu memutuskan untuk melepas semua selang pernapasanku." "Jangan berkata seperti itu, Dave. Lupakan masalah itu sekarang, ya. Aku tak mau mengingatnya lagi. Pada tahun ke lima Dave terbaring koma, nyonya Geni Melani angkat tangan dan membiarkan dokter mengambil keputusan berat yaitu melepas semua alat pernapasan Dave untuk selamanya. Aku menolak dengan keras karena aku tahu suatu saat pria ini akan bangun namun dengan syarat semua biaya rumah sakit kutanggung sampai waktunya Dave terjaga. "Tapi aku sangat berterima kasih padamu, Ping." Aku tak menjawab hanya memberinya genggaman tangan jika aku pun sangat bersyukur Dave bisa sadar walau membutuhkan waktu yang lama. Kami tak memiliki ikatan apapun saat ini, aku menganggapnya sebagai saudara bukan lagi kekasih seperti dulu. Jujur dalam hati ini ada perasaan amat bersalah padanya yang terus menggerogoti pikiranku hingga kadang saat aku kembali mengenang peristiwa tersebut membuat kepalaku sangat sakit. Untuk menebus kesalahanku pada Dave, aku rela memberikan nyawa ini. Dave pria baik dan sudah bertunangan dengan Nuri sebelum aku merebutnya dulu. Ia mencintaiku dan menyayangi tunangannya juga, saat aku memutuskan untuk melepasnya pergi. Dave berniat menikahi Nuri. Sayangnya, aku terus menghubunginya hanya untuk meminta tolong. "Ibu .... ayah sini!" Janar memanggil kami dari tempat duduk seberang, anak itu mirip dengan Dave jika sedang bermain game online yang tak mau diganggu. Bedanya Janar tahu batasan waktunya sedangkan Dave baru aku marah, ia akan berhenti. "Ayo, kita ke sana." Jika dilihat dari pandangan orang lain, kami mungkin pasangan suami istri yang bahagia. Namun pada kenyataannya, aku sudah tak memiliki rasa pada Dave. Dulu aku memang menyukainya, tetapi kini perasaan itu hilang seiringnya waktu berjalan. Aku harap Dave dapat menemukan pengganti Nuri suatu hari nanti. =Bersambung=
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD