Hari yang menyenangkan untukku dan Janar saat ini. Kami menghabiskan waktu bersama di taman, bukan untuk bermain melainkan sekedar mengobrol sambil membawa makanan kecil.
Itu sudah menjadi kebiasaan kami ketika akhir pekan, tetapi kali ini berbeda karena ada Dave. Sejak pagi, aku dan Janar sudah sibuk di dapur untuk menyiapkan bekal.
"Janar itu serupa dengan Nuri. Senyum dan matanya mirip sekali dengannya," sahut Dave tiba-tiba setelah kami makan siang.
"Memang benar. Tapi perawakannya mirip denganmu," ujarku menjawab perkataannya. Janar dan Dave memang pantas menjadi ayah anak.
"Hatinya selembut Nuri, Ping. Wanita itu penyabar dan ramah pada setiap orang. Ah, aku merindukannya saat ini," kata Dave teringat masa lalunya.
Aku mengangguk dan tersenyum, Janar memang berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia memiliki hati yang rapuh meski di luarnya tampak tegar dan sok kuat, itu karena ia tak mau semua orang tahu tentang kesedihannya terutama kepadaku.
Janar akan menelan semua masalahnya sendiri jika aku tak memaksanya untuk bercerita. Pernah aku jumpai sedang meneteskan air mata di bawah selimutnya sembari bergumam yang tak kumengerti.
"Kamu mencintai Nuri sebelum bertemu aku, Dave?"
Dave terdiam, tak seharusnya aku mengatakan kalimat tersebut. Sudah pasti Dave pernah mencintai Nuri. Tidak seperti aku yang hanya menjadi bagian cinta orang lain, tidak ada yang tulus memcintaiku.
"Aku pernah mencintai satu wanita dulu, hingga sekarang dan itu bukan Nuri. Aku hanya menyukainya. Bedakan antara cinta dan suka, Ping."
"Siapa wanita beruntung itu, Dave?" tanyaku penasaran. Dave selama ini hanya bersamaku dan Nuri, tidak ada wanita ketiga di antara kami.
"Kamu tahu jawabannya, Ping," sahutnya sembari mendorong kursi rodanya menghampiri Janar yang bermain bola.
Apa wanita yang dimaksud Dave adalah aku? Tak mungkin Dave mencintaiku. Aku bukanlah wanita baik-baik, banyak kekurangan dalam diri ini yang tak sepadan dengan pria sebaik dirinya.
"Permisi, boleh saya duduk sini?"
Aku mendengar suara dari samping dan mendapati seorang gadis berpayung putih sedang membawa sekantung kresek makanan juga minuman. Apa ia menunggu teman-temannya datang?
"Ya, silakan duduk. Masih banyak kursi kosong di sini," kataku mempersilahkan.
Di taman ini memang disediakan enam kursi kayu disertai dengan meja panjang di tengah-tengah. Ada juga yang lesehan di rerumputan menggelar tikar sedangkan aku dan Dave memilih duduk di kursi saja mengingat kaki kami yang sulit untuk digerakkan.
"Maaf Mbak, apa kita pernah bertemu ya?" tanya gadis muda itu tiba-tiba sembari menatapku.
Aku balas menatapnya, jika dilihat aku memang pernah bertemu dengannya namun lupa persisnya di mana. Ah, otak ini memang susah untuk mengingat hal yang kecil.
"Mungkin ya, Dik. Saya lupa," jawabku memberinya senyuman.
"Itu suami dan anaknya ya, Mbak?" tanyanya lagi seraya memandang Dave dan Janar yang sedang melambaikan tangan padaku.
Aku hanya tersenyum, tidak tahu memberi jawaban apa. Aneh rasanya bertemu orang baru langsung berkata jujur, biar gadis muda ini memiliki pemikirannya sendiri.
"Saya iri sama Mbak. Pasti menikah muda lalu punya anak udah sebesar dia," sahutnya sembari memakan camilan di dalam kreseknya.
Kami diam sejenak, ia menawariku camilannya namun aku menolaknya secara halus. Kami sudah menghabiskan makanan yang aku masak dari rumah tadi lagipula Janar jarang sekali mau jajan di luar.
"Maaf ya Mbak. Saya ini kalau stres suka makanan yang banyak."
"Iya nggak apa-apa. Silakan kalau mau makan, Dik."
Aku jadi ingat Rita, kala stres dengan pekerjaannya di kantor. Sepupu manisku itu akan mengemil es krim hingga lima cup. Beruntungnya mereka jika makan sebanyak apapun, tubuh mereka tetap langsing.
"Aku stress menjelang pernikahan, Mbak. Aku ini dijodohkan loh," katanya ramah seakan kami sudah kenal lama.
"Kapan menikahnya, Dik?" Aku turut menimbrung perkataannya. Lumayan mengisi waktu selagi Janar bermain bersama ayahnya, aku tak ada teman bicara.
"Masih lama, Mbak. Lima bulan lagi tapi masalahnya calon suami saya tidak tahu kalau saya ini memiliki kekurangan. Nanti kalau dia tahu tentang saya malah kabur," ucapnya yang kesal seraya menggigit cokelatnya.
"Kamu cantik begini kok malah berkata memiliki kekurangan." Aku tak melihat yang kurang darinya, semua tampak baik-baik saja apa yang ada di tubuhnya.
"Ini loh Mbak. Maksud saya, apa dia mau memiliki istri yang seperti ini?"
Gadis itu menyingkap baju lengan panjangnya dan tampaklah sebuah tangan palsu yang nyaris sempurna menyerupai ciptaan-Nya. Bedanya tangan itu terbuat dari bahan silikon halus dan mirip kulit manusia.
"Kalau pria itu mencintaimu secara tulus maka ia akan menerima semua kekuranganmu, Dik. Lihat kaki Mbak ini juga."
Aku menunjukkan kaki palsu ini padanya, ia terkejut dan tak menyangka jika aku dan dirinya memiliki kekurangan di tubuh kami masing-masing.
"Eh tunggu Mbak. Apa kita bertemu di rumah sakit ya? Waktu kita sama-sama menunggu di depan ruang praktek dokter? Dan ada kejadian seorang ibu yang kehilangan suaminya?"
Aku mencoba mengingat kembali beberapa hari lalu dan benar katanya. Ia adalah gadis yang duduk di sebelahku, pantas rasanya tak asing saat melihatnya.
"Oh ya Mbak ingat sekarang," ucapku senang pada akhirnya aku bisa mengingat.
"Maaf nih Mbak. Kakinya mbak udah dari lahir seperti itu?" Gadis itu bertanya dengan hati-hati, takut menyinggung perasaanku.
Aku menggeleng dan menceritakan mengenai kecelakaan yang menyebabkan salah satu kaki ini harus diamputasi karena mengalami infeksi parah.
"Kalau saya sejak lahir, Mbak. Ayah saya tahu anaknya lahir dalam keadaan seperti ini, ia mencari cara agar saya bisa memiliki kehidupan normal dengan cara memberikan alat palsu ini."
"Bersyukurlah memiliki ayah sepertinya, Dik. Mbak lihat adik ini pasti mempunyai kehidupan yang bahagia."
"Ah Mbak bisa saja."
Aku tahu dari senyumannya, ia tampak seperti anak yang sangat disayangi dan dimanja oleh keluarganya terlihat dari tingkahnya yang masih kanak-kanak.
"Oh ya Mbak sampai lupa. Saya Ditha Judistia Mahanta, Mbak siapa namanya?" Ia mengulurkan tangannya dan menjabat tanganku memperkenalkan diri.
"Nama saya Pingkan Laksmi Niswara. Panggil saja Pingkan," sahutku.
"Kalau begitu, kita berkenalan dan berteman ya, Mbak. Boleh saya pinta nomer ponselnya? Ya, untuk sekedar berbincang saja. Boleh ya, Mbak?"
Aku mengangguk dan memberikan nomer ponselku kepadanya. Ia amat senang karena baginya aku sudah dianggap temannya. Ia tak memiliki banyak teman, sang ayah membatasi pergaulannya. Jelas aku tahu sebabnya, Ditha anak dari pengusaha kayu terkenal di kota ini. Siapa yang tak kenal dengan nama Mahanta?
"Kalau begitu, saya pamit dulu ya Mbak. Itu pesuruh ayah sudah datang."
Ditha menunjuk dua pria berseragam sama, ia terlihat kesal saat diperintah pulang setelah menerima pesan. Setelah Ditha berpamitan, aku segera menghampiri Dave dan Janar.
*****
"Siapa tadi yang berbincang denganmu?" tanya Dave saat kami berada di mobil.
"Namanya Ditha, kebetulan kami bertemu di rumah sakit saat aku memasang kaki palsu." Aku menjawab sambil menyetir, Dave belum bisa mengendarai mobil saat ini.
"Aku lihat dari kejauhan kalian tampak akrab meski baru bertemu."
"Namanya juga wanita. Pastinya akrab dong," sahutku.
"Kenapa? Kau iri ya karena aku punya teman baru?" Aku mengejek seraya bercanda dengannya. Dave mendengkus kesal seraya mendekap tangannya.
"Aku tak suka kamu bertemu orang baru dan akan mengakrabkan diri."
Aku tertawa, Dave seperti anak kecil yang iri ketika temannya memiliki teman baru. Lucu sekali tingkahnya.
"Itu artinya ayah ingin berdekatan dengan ibu terus," sela Janar di belakang yang sedari tadi mendengar pembicaraan kami.
"Ya ampun Dave. Jangan seperti anak kecil, aku tidak akan melupakanmu meski aku punya teman baru. Aduh ... ayahmu ini sedang cemburu, Janar."
Ada-ada saja kelakuan Dave yang baru kembali dari dunianya. Kadang di tengah malam ia memintaku untuk memasak untuknya besok, kadang juga datang tiba-tiba ke rumahku dengan membawa sekotak pizza kesukaanku.
"Ayah seperti anak kecil saja."
Janar memandang Dave lalu melempar senyum nakal dan mengedipkan mata. Janar hanya berlaku seperti itu jika ada aku dan Dave saja.
Aku sengaja mendekatkan Janar pada Dave, ia butuh ayahnya untuk saling berbagi cerita mengenai hal yang berhubungan dengan apapun sebagai pria.
"Ih kok anak ayah malah bicara seperti itu. Ayah ini bukan anak kecil," balas Dave menyentil kening Janar.
Mereka saling bersenda gurau di belakang sedangkan aku fokus menyetir saja. Aku tersenyum melihat Janar yang sudah mulai akrab dengan ayahnya.
Bagiku sendiri kehidupan sekarang jauh lebih menyenangkan. Ada Janar yang mengisi keseharianku dan juga Dave yang perlahan mulai menunjukkan kesembuhan.
****
"Janar, turun dulu menyapa nenek ya Nak. Ayah mau bicara sama ibu sebentar."
"Iya ayah. Tapi jangan lama-lama."
Dave belum bisa mengemudi karena kakinya yang belum kuat sehingga aku yang melakukannya meski membutuhkan waktu tiga tahun aku dapat menyetir.
Saat ini aku yang mengantar Dave ke rumah dan ia menyuruh Janar turun karena ada hal yang ia ingin katakan kepadaku.
"Ada apa, Dave?"
"Aku ingin kamu dan Janar tinggal di sini, Ping," pinta Dave secara langsung.
"Bagaimana bisa Dave? Aku dan kamu tidak terikat pernikahan."
Permintaan Dave menurutku konyol. Aku dan Janar diminta tinggal bersamanya di rumah itu. Tentu saja aku menolaknya secara halus.
"Kalau Janar ingin tinggal bergantian di rumahmu, itu tak masalah. Janar anakmu jadi kamu bebas menemuinya."
Aku memang yang merawat Janar sejak masih bayi, tetapi aku juga tak boleh egois jika ia ingin menemui ayahnya kapapun itu.
"Janar tak pernah mau, Ping. Kecuali jika ada kamu yang tinggal bersama di rumah ini," katanya menatapku penuh makna.
"Aku tak memintamu untuk menikah denganku. Kamu dan Janar bisa tinggal di lantai atas bersama Vero," tambah Dave berusaha meyakinkanku.
"Dave, iya aku tahu maksudmu baik menyuruhku tinggal di rumahmu agar Janar dan aku bisa dekat denganmu setiap hari. Tapi Dave aku tidak bisa." Aku menolak permintaannya.
"Apa karena ibu, Ping?"
"Bukan karena ibumu, Dave. Tapi memang dari diriku sendiri yang tidak menginginkannya. Aku butuh waktu, Dave."
Aku memang butuh waktu untuk memulai lembaran baru bersama yang lain meski itu bukan Dave. Aku tahu maksudnya bertujuan agar ibunya dapat menerimaku sebagai istrinya.
"Aku akan menunggu kamu, Ping. Sampai kamu mau menerima permintaanku," ujar Dave berusaha tersenyum sembari keluar dari mobil.
"Aku akan panggil Janar dulu," sambungnya sebelum menutup pintu mobilku.
Dari dalam mobil, aku memandang tubuh Dave yang sudah tak sebugar dulu. Jalannya tertatih menggunakan tongkat. Andai saja ia tidak pernah bertemu denganku, ia bisa menikahi Nuri dan hidup bersama Janar bukan aku.
=Bersambung=