Part 7 Janar Terkena Masalah
Pagi ini aku mendapat telepon dari wali kelas Janar dan mengharuskan aku datang ke sekolahnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Janar, karena selama ini anak itu tidak pernah berbuat salah.
"Tumben wali kelas anak tampanmu itu menelepon? Apa anakmu ada masalah di sekolahnya?" Rita mencercaku saat aku menceritakan perihal gurunya yang meneleponku.
"Mana aku tahu, Rit. Mungkin nilai Janar turun," sahutku segera bergegas ke sana. Tak lupa aku berpenampilan rapi dan sopan, aku sudah meninggalkan pakaian yang seksi ketika memiliki Janar dalam hidupku.
"Apa ia dirundung? Ya, kamu tahu sendiri jaman sekarang banyak kasus seperti itu."
Aku yang mencari kunci mobil menatapnya dengan sungguh-sungguh, tetapi itu tak mungkin. Janar selalu bercerita apapun mengenai kegiatan di sekolahnya walaupun dirundung oleh temannya, aku akan tahu.
"Rita, jangan bicara seperti itu. Kamu membuat aku khawatir." Aku menyela dan berharap perkataannya tidak benar.
"Semoga saja. Ya sudah sana cepat pergi, keburu siang nanti," usir Rita sambil membuka pintu depan dan melambaikan tangannya.
Sesungguhnya ada perasaan khawatir, aku takut terjadi sesuatu pada Janar di sekolahnya. Janar itu memang bercerita banyak sepulang sekolah mengenai kegiatan sehari-harinya, tetapi mungkin saja ia menyembunyikan sesuatu. Ini perasaanku sebagai seorang ibu.
Tak membutuhkan waktu lama dan jalanan tidak begitu ramai, aku sudah sampai di sekolah Permata. Jantungku berdebar namun bisa aku kuasai dan berusaha kuat walau apapun yang terjadi. Aku melangkah masuk dan menuju ruang kepala sekolah.
"Oh ibu Pingkan, silakan masuk," sapa kepala sekolah.
Di sana sudah ada Janar, temannya dan seorang wanita yang menurutku ibu dari anak itu. Aku memberinya senyuman, tetapi dibalas dengan decihan.
"Ada apa, Nak?" tanyaku saat aku duduk di sebelah Janar, tetapi Janar malah diam.
"Jadi begini Bu Pingkan. Anak anda memukul temannya hanya karena masalah sepele," kata kepala sekolah memberitahu.
"Memukul? Maksudnya bagaimana ya, Pak? Selama ini saya tidak pernah melihat Janar memukul teman-temannya di luar sekolah."
Tentu saja aku terkejut, Janar bukan tipe anak yang memukul atau merundung. Ia malah cenderung pendiam dan tak suka ikut campur dalam masalah apapun.
"Iya anak anda itu. Lihat nih wajah anak saya lebam gara-gara anak anda memukulnya," ucap wanita itu tak terima dan sewot.
"Pasti ada alasannya kenapa anak saya sampai memukul, Bu---"
"Ibu Rahma namanya, Bu Pingkan," timpal kepala sekolah.
"Mana saya tahu! Mungkin anak anda iri dengan anak saya yang punya segalanya," sahut wanita bernama Rahma itu dengan angkuh.
"Apa benar itu, Nak?"
Aku tak menjawab perkataannya melainkan bertanya pada Janar terlebih dulu. Janar menggeleng sembari menatap temannya dengan tatapan tajam. Ini bukan seperti anakku. Pasti ada yang salah di antara mereka.
"Ayo mengaku saja. Kamu kan yang pernah mengambil barang Anto dulu, saya ini sudah bersabar setiap kali barang anak saya hilang. Namun melihat kamu memukul anak saya, jadi saya tahu kelakuanmu."
"Tunggu dulu, Bu. Ibu menuduh anak saya pencuri? Perlu ibu tahu, saya tidak pernah mengajari anak saya sebagai seorang pencuri. Jangan berkata seperti itu seakan-akan anda tahu kehidupan keluarga saya," kataku tegas dan tak suka dengan perkataannya.
"Heh! Memang anak dan ibu sama saja sifatnya. Anaknya pencuri barang sedangkan ibunya pencuri suami orang," sindirnya pelan namun terdengar jelas sekali.
"Maaf, Bu. Tak pantas rasanya anda berucap seperti itu di saat ada anak-anak di sini," sahutku mencoba bersabar.
"Tapi benar kan?" Ia menyunggingkan senyuman mengejek.
Untungnya perdebatan ini tak panjang karena kepala sekolah menengahi perkataan kasar Bu Rahma. Aku yakin sekali jika semua hal yang ia katakan didapat dari ibunya Dimas. Adik dari ibunya Dimas pernah tinggal di Surabaya dan berteman dengan nona Seruni.
"Pokoknya anda harus mengeluarkan anak ini dari sekolah, Pak!"
Enak saja ia mengatakan itu, apa ini sekolah nenek moyangnya? Belum tahu siapa yang salah malah menuduh Janar yang berbuat masalah.
"Katakan pada ibu yang sebenarnya. Ibu tidak akan marah atau menghukum Janar kalau salah. Janar tahu kan kalau ibu tidak ada kebohongan?"
Aku mencoba mengajaknya bicara, menatapnya tanpa menghakimi dan menepuk bahunya. Dari hatiku yang paling dalam, aku tahu Janar tak melakukan kesalahan. Matanya yang mengatakan itu.
"Iya Nak. Katakan pada bapak apa yang membuatmu sampai seperti itu?" Kini giliran kepala sekolah yang bertanya.
Janar diam lalu mengeluarkan sebuah benda yang pernah aku berikan padanya saat ia berulang tahun. Alat rekam karena ia ingin menjadi polisi kelak. Ia memutarnya dan membuat aku terkejut ketika mendengar.
["Hei anak haram. Kata ibuku, kamu itu anak yang tidak pernah diinginkan dan ibumu sekarang itu yang merebut ayahmu dari ibu kandungmu."]
Seketika aku paham kenapa Janar memukul temannya. Ternyata ini yang ia dengar dan batas kesabarannya sudah habis, aku tak menyalahkan atas tindakannya saat ini. Anak itu perlu diberi pelajaran.
"Jadi siapa yang salah di sini, Ibu Rahma?"
Kulihat Ibu Rahma tampak kesal dan mencubit lengan anaknya. Ia malu karena yang salah adalah anaknya sendiri. Aku tahu anakku seperti apa sifatnya dan Janar bukan anak yang suka mencari masalah.
"Ayo kita pulang!"
Tanpa meminta maaf, Ibu Rahma langsung melesat pergi dan menyeret anaknya meninggalkan ruangan ini. Aku menghela napas lega dan sudah berakhir masalahnya. Namun yang aku sesali, kenapa ada seorang ibu yang memberitahu kejelekan orang lain seperti itu pada anaknya?
"Nah masalah sudah selesai, Bu Pingkan. Jadi maafkan saya telah memanggil anda datang ke sini mengingat kesibukan anda," kata pak kepala sekolah.
"Tidak apa-apa, Pak."
"Sekarang kamu boleh kembali ke kelas, Nak. Satu jam lagi jam pulang sekolah."
Janar kembali ke kelasnya, ini hari Jumat dan para murid pulang lebih cepat daripada hari biasanya. Aku lebih baik menunggunya di mobil dan mengajak makan siang.
"Ara ...."
Di saat tak ada seorangpun, kepala sekolah akan memanggil nama kecilku. Pak Rusdi tak lain adalah adik kandung ayah, selain paman Agus yang sering membantuku. Paman Rusdi juga yang menjadi penolong di saat kami kesusahan.
"Iya Paman."
"Seseringnya mampir ke rumah, bibi Intan merindukanmu."
"Iya nanti awal bulan saat ulang tahun ayah, Ara dan Janar akan datang berkunjung," sahutku sebelum membuka pintu.
Paman Rusdi dan bibi Intan sebenarnya ingin mengajakku tinggal bersama dulu sewaktu masih kecil, tetapi mengingat perekonomian keluarga mereka yang terbilang sulit karena Paman masih guru honorer maka Paman Agus yang mengasuhku. Kini Paman sudah berhasil menjadi kepala sekolah setelah berjuang keras mendapatkan gelar guru tetap.
****
"Apa lagi masalah yang diperbuat anak itu?"
Inilah yang aku tak suka ketika berkunjung ke rumah Dave, nyonya Geni menunjukkan kekesalannya ketika aku datang mengantarkam Janar menemui ayahnya. Tadi pagi sebelum berangkat, aku menelepon Dave dan memberitahunya.
"Tidak ada masalah apapun, Nek. Hanya masalah salah paham saja antara Janar dan teman."
"Kamu ini ikutan jawab saja! Sana ke kamar ayahmu," usir nyonya Geni kasar.
Janar melenggang masuk, sebenarnya ia enggan ke sini jika bukan Dave yang memanggil. Janar lebih suka Dave yang menemui kami.
"Yang dikatakan Janar benar, Nyonya. Saya ke sekolahnya untuk menengahi pertengkaran antara Janar dan temannya." Aku sedikit berbohong agar nyonya Geni tak bertambah marah.
"Oh begitu. Ya sudah nanti biar Vero yang mengantarkam Janar pulang."
Dari perkataannya, nyonya Geni mengusirku secara kasar. Ia dari dulu tak pernah menginginkan kehadiranku, benar aku pernah salah namun apakah tak ada maaf untukku? Nyonya Geni menuup pintunya sebelum aku berpamitan. Ya sudahlah, mencari masalah dengannya sama saja menambah luka.
"Ping, kok pulang sih?"
"Ibumu menyuruhku pulang biar Janar bersamamu sampai malam nanti," jawabku dengan jujur. Toh Dave sudah tahu mengenai hubungan ibunya denganku tak pernah akur.
"Sudah jangan dengerin kata ibu. Ayo masuk dan temani kami nonton," ajak Dave sembari menggandeng tanganku sedangkan tangan satunya memegang tongkat.
"Tapi Dave---"
"Aku lapar, Ping."
Heh? Kok Dave nggak nyambung ya? Apa aku salah dengar? Aku memerhatikan raut wajahnya yang seakan tak berdosa.
"Ya udah makan toh, Dave. Kok bilang sama aku?" Aku jadi bingung sendiri.
"Aku pengen soto buatanmu. Ayo buatin."
Aku tertawa, ada-ada saja kelakuan Dave ini yang bisa membuat suasana hatiku kembali berubah. Ah Dave, andai saja aku yang pertama kali bertemu dengannya bukan dengan Janu, mungkin kita akan menjadi keluarga bahagia. Namun aku tak pernah bisa menerima Dave, ia sudah aku anggap saudara.
****
"Ibu, apa ibu bahagia tadi?" tanya Janar setelah kami sampai di rumah.
Seharusnya ia menginap di rumah sang ayah, tetapi ia beralasan mau pergi esok bersama teman-temannya padahal itu semua bohong.
"Tentu saja, Nak. Ada apa memangnya?"
Kutatap wajahnya dari temaram lampu karena ia hendak tidur. Aku senantiasa mengajaknya berdoa sebelum kami tidur malam.
"Kenapa nenek tidak pernah menyukaimu, Bu? Apa ada sesuatu yang membuat nenek melakukannya?" tanya Janar sembari ia duduk kembali.
"Nenek Geni memang seperti itu, Nak. Tapi orangnya baik kok. Nanti kalau kamu sering dekat dengannya, kamu bisa merasakan."
Aku tak mau menjelekkan tabiat nyonya Geni di depan cucunya sendiri, biarlah Janar mengetahuinya sendiri nanti.
"Tapi Janar tak merasakan kasih sayang nenek yang tulus pada ibu atau Janar."
"Ah sudahlah, Bu. Kita jangan bahas nenek. Janar nggak suka."
Janar menyunggingkan senyumannya lalu ia ingin tidur karena besok ada sesuatu yang ia ingin kerjakan. Aku mematikan lampu kamar berdekorasi pahlawan Nusantara yang menjadi kebanggannya.
"Pasti nyonya tua itu mengejekmu lagi ya?"
Rita sudah ada di belakangku, rupanya ia mendengar percakapan tadi. Dari dulu hingga detik ini Rita tahu kalau nyonya Geni memperlakukan diriku seperti apa.
"Kamu udah tahu kok masih tanya, Rit. Heran aku sama kamu," jawabku sambil melepas sepatu juga kaki palsu. Jika di rumah saja aku menggunakan tongkat.
"Oh ya Paman Rusdi meminta kita mampir ke rumahnya, Rit."
Aku menyampaikan pesan paman tadi di sekolah. Sudah lama rasanya kami tak mengunjungi beliau. Bukan karena kami lupa melainkan kesibukan kami yang tak bisa ditinggal.
"Akhir pekan saja kita ke sana. Aku ada pekerjaan di dekat rumahnya paman."
"Bagaimana tadi dengan pertemuannya, Ping?"
"Aku tak habis pikir anak jaman sekarang itu senang sekali merundung temannya." Aku menghela napas sebelum melanjutkan cerita selanjutnya.
"Temannya mengatai kalau Janar anak haram dan aku yang merebut ibunya."
"Itu karena ajaran orang tuanya yang tak tahu diri dan suka bergosip nggak jelas. Untung bukan aku yang ke sekolahnya, kalau aku di sana sudah kupastikan mulutnya kutampar."
Aku tertawa, Rita memang tak pernah menunjukkan perhatiannya kepada Janar secara langsung. Ia senang melakukannya diam-diam dan mendukung cita-cita Janar menjadi seorang polisi.
"Lalu bagaimana kalian bisa mengatasinya?" tanya Rita penasaran.
"Janar sengaja merekam waktu temannya merundung dan mengatakan hal tersebut. Kamu tahu kan alat rekam yang kita beli dulu?"
"Untunglah semua bisa diatasi. Aku tak yakin juga kalau anakmu itu memukul orang tanpa sebab."
"Dasar mulut ibu itu perlu dijahit," imbuh Rita sembari menuju dapur menghangatkan soto yang kubawa dari rumah Dave tadi.
Satu perkataan dari ibu Rahma tadi membuatku tersinggung. Aku tak mempermasalahkan ia mengatakan aku perebut suami orang, Janar pun sering mendengar tetangga berkata seperti itu. Namun aku tak mau Janar disebut anak haram, ia anak dari Dave dan Mina Nuri.
=Bersambung=